The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 44: IDE YANG MENAKUTKAN



Ketika kedua orang ini masuk, Heros dengan suara terpukau bertanya. “Wah, apa yang sedang kamu lakukan sekarang?”


“Eksperimen.”


Dia melihat batu-batu yang ada di atas meja beralas kain putih, batu yang berkilauan dengan sangat cantik seperti ada bintang di dalamnya. Di dalam mata Heros juga seperti ada kerlipan bintang saat dia terpukau.


Yohan yang menyentuh sedikit batunya dengan jari bertanya juga “Apa yang akan kamu lakukan dengan ini?”


Mari kita lihat jawaban apa yang sebaiknya saya katakan. Melihat batu-batu murni ini sayang jika tidak digunakan dengan baik. Lagipula tingkat batu ini mengandung sihir yang besar milik saya dan juga kelangkaannya hampir mencapai angka 0.06% di dunia ini. Kata monitor.


“Aku berniat menjualnya, tapi...” saya kemudian melihat Yohan yang menelengkan kepalanya penasaran dan Heros yang terpaku pada ucapan saya yang berhenti.


Saya tersenyum melihat keduanya. Sepertinya saya harus mengurungkan niat menjual batu ini. Memang benar saya akan mendapatkan banyak keuntungan. Tapi, mari kita berpikir sisi positif lain yang bisa di dapatkan.


“Tapi, pertama-tama...” saya menoleh ke arah jendela yang terbuka yang sedang menfertilisasi udara agar masuk ke ruangan ini agar tidak pengap, lalu bicara enggan. “Kenapa kamu tidak keluar dan menampakkan dirimu dulu... Veronica.”


Pada saat itu angin yang masuk sedikit menerpa ke dalam ruangan. Dan rambut hitam kelam dan wajah cantik muncul di sana, Veronica sedang duduk santai di atas jendela setelah menonaktifkan [Phantom Fantasy]. Entah berapa lama dia berada disana saya sendiri tidak merasakan kehadirannya.


Veronica lalu terkikik ringan “Ah, ketahuan.” dan tersenyum arogan.


Yohan mengerutkan kening begitu melihatnya, tapi kali ini dia tidak bertindak. Namun, apa yang terjadi dengan satu orang lainnya.


“Senior?”


Heros terpaku, dia seperti di bekukan oleh waktu. Ekspresinya kaku dan dia menatap Veronica dengan lebar.


‘Apa dia terpesona dengan Veronica?’


Saya tidak bisa mengelak. Faktanya Veronica memang bisa dikatakan cantik, jika saya harus menilai antara 0 sampai 10. Saya akan memberikan 11 untuknya, ini murni. Tapi, saya tidak jatuh cinta dengannya. Jujur saja, hati saya hanya tidak tergerak.


Tetapi, perkiraan tentang Heros jatuh cinta salah. Dia bergumam kacau, “Aku tidak bisa merasakan kehadirannya...!”


Jadi itu yang dia permasalahkan.


“Kenapa kamu ada disini?” tanya saya mengerutkan kening.


“Kamu sendiri yang bilang kalau aku adalah bayanganmu jadi aku datang untuk mengawasi dan menjagamu layaknya bayangan. Ah, aku ucapkan terima kasih, berkat kemampuan yang kamu tingkatkan aku bisa mencuri buah diam-diam dari penjual pasar.”


Veronica dengan senyum sombong yang memperlihatkan giginya menyeringai seolah bangga mengatakan itu. Saya menarik napas dan mengalihkan perhatian saya darinya. Lalu dia melemparkan sesuatu dan saya reflek menangkapnya.


Buah berkulit merah? Apel? Kenapa dia memberi saya ini?


“Kamu harus banyak makan bajingan kecil, tubuhmu kurus sekali. Akan jadi masalah sampai kamu kurang sehat.”


“Pikirkan urusanmu sendiri.” lalu saya mengutuk ringan ‘Sialan!’ dan menggosok apel pemberiannya lalu memakannya.


Veronica yang melihat saya begitu saja memakan buah darinya kaget.


“Tunggu, Kamu benar-benar memakannya?! Bagaimana jika aku berniat meracunimu?”


“Aku punya resistensi terhadap racun yang tinggi.”


Santai dengan memakan apelnya saya mengatakannya.


“Apa yang kau lakukan disini? Ini bukanlah tempat bermain bagimu.” Beberapa detik kemudian Yohan yang masih melirik tajam Veronica seperti akan ada pertarungan mental disini dan dalam batinnya dia mengutuk ‘Jika saja tidak ada Alvius aku akan membunuhnya, sekarang adalah kesempatan terbaik.’


“Ayolah kawan, kamu terlalu terpaku pada masa lalu, hm... Mari kita lupakan masa lalu dan perbaiki hubungan.” jawab penuh seringai licik Veronica. Dia juga menggerutu dalam batinnya, ‘Sabar Veronica dia adalah saudara dari bosmu. Jika saja dia bukan, malam itu aku akan merobek bibirnya.’


Saya melihat ada percikan kilat di antara tatapan mereka dan mengigit apel kemudian sedikit terlibat. “Kalian ternyata akrab.”


“Siapa yang akrab!” reflek secara fantastis mereka menjawab bersama dengan kosakata yang sama pula.


‘Lihatlah...’


Yohan mendengus memalingkan kepalanya dengan kesal, “Aku tidak sudi harus akrab dengan seorang pembunuh yang mencoba membunuh adikku.”


Mendengar itu Veronica mendesis dan mendecikkan lidah. Namun, tiba-tiba ruangan terasa begitu mencekam dan menusuk dengan aura dingin yang kelam.


“Apa yang kau bilang tadi? Membunuh Saint Alvius? Siapa? Apakah perempuan itu?”


Saya terbelalak, saya lupa pada yang satu ini yang dari tadi memperhatikan. Aura hitam berkabut gelap keluar deras dari tubuh Heros dari bawah kakinya sedikit demi sedikit dia tidak menginjak lantai lagi. Apa dia akan menggunakan itu?!


“Tunggu, senior tenanglah!” Saya segera mencengkeram tangan Heros dan merasa aneh setelah itu. Tunggu kenapa saya seperti pernah melakukan ini?


“Apa benar dia ingin membunuh Saint, Yohan?”


Yohan sedikit tegang namun dia menjawabnya dengan sedikit gugup. Entah kenapa tapi dia merasa harus menjawabnya “Y-ya, itu benar. Tapi, tenangkanlah dirimu.”


“Apa kau tidak akan melakukan sesuatu terhadapnya?”


Saya melirik Yohan dan memberinya sinyal untuk tidak menjawab lagi. Mereka berdua sedikit mirip dalam artian tertentu. Tapi bukan berarti harus disini. Saya menekan pelipis saya dan menghela napas.


“Masalah itu sudah selesai senior, jadi tenanglah.” Mendengar saya berbicara dengan *******, Heros segera menarik kembali auranya dan menatap saya dengan tegang.


“Aku tidak tahu apa yang sebenarnya kalian pikirkan. Jika kalian ingin beradu kekuatan tolong menjauhlah dari hadapanku dan selesaikan masalah tanpa ada yang terbunuh. Mengerti?”


Semuanya tidak berani ada yang melirik saya perhatian mereka teralihkan ke arah yang berbeda-beda. Veronica menggaruk kepalanya dan mengutuk “Ck, sial!”


“Dan kamu Veronica. Tolong jangan memancing.”


“Aku tidak memancing. Mereka yang memulai.”


‘Ya itu masalahnya. Mereka tahu identitasmu sebagai pembunuh karena itu mereka waspada. Dasar.’


“Mulai sekarang aku ingin kalian akrab. Karena kalian semua sama di depanku. Jika aku melihat ada yang berkelahi meskipun adu mulut....” Saya menyipitkan mata dan menatap tajam kepada mereka dengan seringai nada iblis. “Aku akan mengusir kalian dari hadapanku.”


Tanpa menjawab, Veronica, Heros, serta Yohan bersama mengangguk canggung.


Masalah ini akhirnya selesai. Saya mengalihkan pandangan pada batu-batu di atas meja ini dan berpikir untuk menggunakan semuanya sebagai material mentah.


“Apa yang akan kamu lakukan dengan itu bajingan kecil?”


Diam-diam saya mengernyitkan dahi, dengan panggilan itu... “Haa... Aku masih belum yakin.” dan membiarkannya.


Ada banyak yang ingin aku ketahui termasuk apa yang menjadi masalah utama yang sedikit membuat saya terus terpikirkan.


“Aku ingin bertanya padamu karena mungkin kamu yang paling paham dalam bidang ini.”


“Ya, katakan apapun padaku. Informasi adalah keahlianku.” Veronica menjawabnya dengan penuh percaya diri.


“Menurutmu bagaimana cara seseorang untuk mengektras batu baja ini sebagai bahan material mentah?”


“Ada ahli yang pandai dalam bidang ini. Seperti blacksmith dan pembuat kerajinan perlengkapan senjata. Menggunakan material jenis sihir di dalamnya itu sudah biasa dikalangan ini.”


Itu adalah jawaban teliti dari Veronica ahli informasi, namun saya semakin tidak paham dalam satu hal dan melebarkan mata saya.


“Apakah itu Dwarf?”


Sesuatu mengguncang ekspresi Veronica. “Apa?” nadanya sedikit pecah disana.


“Aku tidak berbicara tentang perlengkapan sihir atau sebagainya. Aku berbicara tentang pembuatan item yang dibuat oleh ras Dwarf.”


Dengan meletakkan [Replica-Mass Pocket Dimension] di atas meja Veronica mengambilnya dan memperhatikan dengan sangat serius.


“Ini sama seperti yang kebanyakan orang miliki dan yah distributor ini dari ras Dwarf. Mereka dikenal sebagai pengrajin item yang luar biasa hebat.” meletakkan item kantung itu kembali di meja dan melanjutkan. “Tapi, hampir semua orang tidak pernah ada yang melihat mereka.”


“Apa maksudnya itu?”


Veronica mengangkat pundaknya “Entahlah aku tidak tahu dalam informasi itu. Karena ada rumor beredar bahwa ras Dwarf terlibat dalam pasar gelap atau dia yang menjual item mereka secara ilegal. Tapi itu hanya rumor yang kurang karena faktanya belum jelas. Ada juga yang mengatakan para Dwarf diam-diam memperjual belikan item mereka dengan harga yang setimpal.”


‘Apakah itu semacam hubungan timbal balik? Artinya para Dwarf pasti bekerja sama dengan seseorang dan berkomunikasi dengan mereka lewat barang dagang mereka. Tapi tidak mungkin...’


“Tapi, hei sepertinya kamu melupakan satu hal.”


“Hm, apa?”


“Apa aku sudah bilang jika item ini berasal dari milik seorang iblis?”


“Apa katamu?” raut wajah Veronica terdistorsi.


Ini menjelaskan jika informasi ini juga dia tidak mengetahuinya dengan pasti. Meskipun dia adalah seorang agen gelap yang sangat profesional tetapi ada sesuatu yang tidak bisa dia jangkau dengan informasi kecilnya. Terutama yang berurusan dengan hal seperti ini.


“Menurutmu dimana aku bisa mendapatkan batu-batu ini?”


“Yah, aku pikir kamu memungutnya ketika terjebak di dungeon waktu itu. Apa aku salah?”


“Sampah apa yang kamu bicarakan, huh!” dalam sekejap saya kehilangan minat atas candaannya yang terlihat serius. “Ini bukan milikku, ini adalah sesuatu yang kudapatkan dari dalam dungeon.”


“Hm, drop item kah. Jadi itu bisa masuk akal, tapi kenapa iblis bisa memiliki item yang dibuat oleh Dwarf?”


“Itulah inti permasalahan itu. Apa ada kemungkinan jika ras Dwarf bekerja sama dengan iblis?”


“Jika itu benar maka itu akan melanggar hukum yang tertulis dalam perjanjian kuno. Ras Dwarf akan bermasalah dengan ras lainnya jika sampai fakta itu nyata. Dwarf dikenal sebagai pengrajin terhebat dan juga dikatakan mereka dibutakan dengan harta, jadi masuk akal jika mereka terlibat dengan iblis.”


Ucapan Veronica ada benarnya dalam kasus yang melibatkan hukum internasional untuk menjaga keseimbangan antar ras lainnya, jika salah satu ras diketahui telah menyimpang dan bisa membahayakan ras lainnya. Maka hukum itu menyatakan, bahwa ras lain di perbolehkan menyatakan perang secara sepihak.


Bukankah itu tidak menguntungkan untuk para Dwarf. Dan lagi apa kata Veronica, mereka dibutakan dengan harta?


Saya menyeringai dengan sebuah ide yang kebetulan masuk ke dalam kepala saya layaknya sebuah hujan emas menyirami kepala saya.


“Aku punya ide. Ide yang bisa membuat kita mengetahui semuanya. Keheheh~ termasuk cara dalam memanfaatkan batu-batu ini.”


Saat saya terkekeh dan tertawa mengerikan perasaan akan sebuah ide buruk membuat merinding mereka bertiga.


“Mari kita buat para Dwarf tua itu bekerja untuk kita.”