
Tiada pemandangan yang lebih suram dari ini. Aroma darah yang menusuk ke dalam hidung, mayat monster bertubuh besar tergeletak di lantai, tempat yang hampir seutuhnya di hancurkan.
Kemudian dua pedang ada disana, satu tertancap di tanah dan satu lagi tidak ada yang mampu mengangkatnya lagi.
“Hei, bertahanlah.”
Tubuh penuh luka Yohan termasuk parah. Meskipun begitu, dia tidak bisa untuk tidak mengkhawatirkan partner bertarungnya dari pendarahan dari perutnya. Dia tidak bisa berpikir hal yang lebih buruk dari ini semua, untuk bernapas saja sulit.
“Maaf...” Heros berkata. “Pada akhirnya aku terlalu bodoh dan lengah...” tatapan mata yang bahkan setengah terbuka, tidak yakin berapa lama lagi dia akan bertahan dalam visinya.
Suara yang sangat lemas seakan perlahan suaranya akan menghilang, tubuh Heros terguling ke samping, lalu itu Yohan menangkap tubuhnya.
“Bodoh. Jangan bicara lagi dan fokuskan kesadaranmu.”
Sejak pertama kali pertarungan di dalam Dungeon di mulai Heros telah banyak menggunakan kekuatan sihirnya sendiri, dan itu bahkan terjadi sebelum dia mulai masuk ke dalam dungeon.
Bisa dikatakan Yohan memiliki keterampilan yang tajam dan kuat, hanya saja dia tidak memiliki terlalu banyak kekuatan sihir. Karena itu potensinya sedikit terbatasi dan tidak mengizinkannya berlebihan. Sebab itu juga, dia membutuhkan Alvius untuk memasok kekuatan sihir.
Tetapi, berbeda dengan Heros. Sebelum dia menjadi prophet dia bahkan sudah memiliki potensi besar. Selain kemampuan bela diri berpedangnya dia juga memiliki kekuatan sihir yang lumayan padahal dia bukan seorang Wizard.
Alvius mengetahui ini dan berkata bahwa Heros sangat seimbang.
Tidak tahu apakah ini karena kutukan di dalam tubuhnya yang membuatnya memiliki kekuatan sihir yang kuat atau memang dia alami dalam bidang tersebut?
Intinya, dia sudah menguras energi spiritualnya sendiri. Meskipun dia tahu itu akan berakibat fatal.
“Cepat pergilah...” mulut Heros terbuka dalam ketidakberdayaan. “Alvius mungkin dalam bahaya...”
Yang lebih dia khawatirkan bukanlah dirinya sendiri melainkan orang lain.
Itu bisa dipahami. Setidaknya untuk beberapa orang saja. Dalam situasi ini tidak ada satu orang yang bisa mengerti apa arti dari kata bahaya itu sendiri. Semuanya dalam keadaan krisis yang besar.
“Apa yang kau katakan?”
Suara itu secara tepat terkemuka dari Yohan. Nada yang di penuhi oleh badai keterpurukan ada disini selama ini dalam kebimbangan.
Sembari menggertakkan giginya dia melanjutkan. “Pikirkanlah keadaanmu sendiri dan jangan pikirkan keadaan orang lain. Kau tidak lihat seberapa...” seolah dia tidak akan pernah bisa tenang.
Heros memahami ini dalam saat-saat terburuknya dan menjawab.
“Tapi... Hanya kau yang bisa pergi... Alvius akan pergi lagi.”
Mendengar itu mata Yohan di penuhi perasaan terbakar. Sesak yang tidak bisa lagi dia tahan membuatnya harus berteriak pada Heros.
“Aku tahu! Aku tahu itu! Tapi...” sekali lagi dia menggertakkan giginya dan kemudian menggigit bibirnya. “Aku tahu... Karena itu diamlah.”
Dia mencoba menahan emosi semampu yang dia bisa. Menyalahkan Heros tidak akan merubah fakta apapun, bahwa dia tidak berdaya sama sekali.
Kemudian Yohan melihat ke arah Heros yang terluka, terutama pada perutnya. Mata yang mengasihani tidak tega melihat darah menetes keluar dari perutnya. Lalu dia telah memutuskannya dan membaringkan Yohan untuk sementara.
“Jangan banyak bergerak.” kata Yohan dengan lembut.
Setelah itu dia merobek pakaian lengannya dari bahu dan melilitkan kain itu ke arah perut Heros yang terluka. Heros juga masih bertahan semampu yang dia bisa, walaupun matanya seperti sangat ingin terpejam.
Dan lagi, setelah melakukan pertolongan pertama seadanya, juga mengambil pedangnya, Yohan mengangkat tubuh Heros dan menggendongnya di punggung.
“Apa yang kau—” gumam lirih Heros kaget dengan apa yang Yohan lakukan ini.
Langsung di jawab Yohan. “Diamlah.”
Tidak punya pilihan Heros pun terdiam dan memasrahkan diri untuk tetap di gendong seperti ini. Tidak terbayangkan jika pria seperti Yohan akan memperlakukan dirinya sangat baik. Heros merasa merinding jika ini dilakukan dengan niat tertentu. Tapi, sekarang dia hanya bisa diam.
Yohan yang kesulitan dalam menggendong Heros di punggungnya dengan luka-luka yang dia derita hanya bisa memaksakan dirinya.
Sesaat keduanya tidak ada lagi yang saling berbicara.
Suara langkah kaki yang terasa berat berjalan menggema di tempat suram ini. Tidak ada yang tahu jika kastil sebesar ini adalah tempat tinggal monster dan mereka yang memasukinya yang tahu fakta tersebut.
Perlahan Yohan terus berjalan dan arah dimana dia berjalan adalah ke arah tempat Alvius berada.
Mengapa dia ingin pergi ke sana sementara dia terluka parah?
Bagaimana bisa dia melakukannya dengan membawa orang yang sudah sekarat bersamanya?
Apakah dia berniat mengorbankan dirinya serta Heros?
Heros melirik pada pemandangan visual Yohan. Kerutan di dahi Yohan memperlihatkan dia sedang berjuang. Napas beratnya yang terengah-engah hampir mencapai batas. Heros tahu, jika sekarang seluruh tubuh Yohan bergetar dan Heros merasakannya.
Itu membuat Heros berpikir...
Ah, dia sudah sangat jauh dalam putus asa.
Benar. Kenyataannya dia sangatlah depresi terhadap persoalan dimana adiknya berada. Dia tidak ingin kehilangan adiknya karena itu dia mengejar cahayanya, semakin terang cahaya maka semakin besar bayangannya.
Kemudian bayangan itu adalah perwujudan dari kegelapan yang hendak menelan semua cahaya itu.
Dengan segenap kekuatannya Yohan mencoba mendorong pintu ini namun jangankan terbuka, bergerak saja tidak ada tanda. Kesimpulannya, itu karena penghalang.
Seseorang sudah memasang medan untuk tidak mengganggu apa yang ada di dalam sana. Tentu saja dia tahu dan itu adalah ulah Astaroth.
Tapi, Yohan tidak berhenti mencoba dan mencari cara lain.
“Maaf...” dia menyuruh Heros untuk merangkul erat pundaknya agar tidak terjatuh dan melanjutkan menarik pedang yang ada di pinggulnya.
Dia ayunkan pedang itu ke atas dan pancaran cahaya bersinar terang memenuhi bilah pedangnya. Menciptakan pusaran energi suci yang tinggi dan membuat riak perubahan udara di dekatnya. Detik itu juga dia menebas pintu aula penuh kemarahan.
“Haaa!!!”
Bilah pedangnya tepat sasaran tapi tidak terjadi ledakan eksplosif atau kondusif. Itu hanya sifat sementara terhadap efek serangannya yang tidak berguna. Seolah serangannya di pantulkan, pintu aula sama sekali tidak tergores.
Menyadari kenyataan tidak berguna Heros menggertak dan berteriak sangat marah.
“HAAA—!!!”
Pancaran energi sihir di dalam bilahnya, aura pedang memuncak dan terus-menerus di ayunkan menggunakan segenap kekuatannya. Berkali-kali, terus terulang hingga tidak bisa di hitung berapa jumlah tebasan pedangnya ini.
Heros hanya bisa menjadi saksi bisu dalam ledakan emosi Yohan.
Saat berikutnya pedang terlepas dari tangan Yohan dan jatuh ke lantai, napasnya berantakan, dia meletakkan tangan kanannya ke arah pintu lagi.
“Al! Jawablah! apa kau bisa mendengarku! Al!”
Tidak ada jawaban sama sekali dari dalam, menyisakkan keheningan yang kelam dan tidak berujung seperti jurangnya dasar neraka menggambarkan kesan pemandangan ini.
Dia terus mengulang perkataan itu lagi dan sambil memukul pintu dengan tangan kosong yang sudah terlihat babak belur. Jika terus seperti ini tangannya akan hancur terlebih dahulu sebelum dia bisa bertemu orang yang dia cari.
“Hentikan...” gumam Heros.
Melihat Yohan seperti ini membuatnya semakin kehilangan dirinya. Dia tahu sepenting apa keluarga itu, dan dibuktikan dengan hubungan kakak-adik dari orang yang dia anggap berharga.
Yohan belum selesai untuk terus mencari cara komunikasi yang tepat setidaknya dia ingin ada jawaban meski itu pesan singkat. Dan dia mencoba cara yang kemungkinan efektif.
Tetapi, dengan sangat cepat jawaban itu juga tidak membawa hasil yang dia perkirakan.
[Tidak ada jawaban dari ‘Monarch of Diligent’]
Dia pernah mendapatkan jawaban yang seperti itu. Kala itu Alvius tidak sadarkan diri seutuhnya dan membuatnya ketakutan — bagaimana jika Alvius meninggalkannya? Itu yang paling dia takutkan.
Tetapi, seharusnya jawabannya lain karena Alvius sudah lepas dari keadaan koma itu. Lalu kenapa jawaban ini terulang lagi?
Firasat buruk merayap di seluruh tubuh Yohan.
Bagaimana jika sesuatu terjadi lagi pada Alvius? Dan mungkin kali ini lebih buruk dari sebelumnya?
Sampai itu terjadi dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri karena tidak bisa melindungi adiknya.
“Al... Al...”
Dia menempelkan kedua tangannya ke arah pintu dan air mata telah mengalir deras dari bendungan matanya.
“Aku mohon jangan lagi... Al... Kenapa? Kenapa ini selalu terjadi? Kenapa harus dirinya? Kenapa!”
Bayang-bayang momen dimana dia pernah kehilangan seseorang yang dia sayangi dan hargai. Seseorang yang hangat dan selalu menasihatinya agar menjaga saudaranya. Ingatan dimana keadaan terpuruk dalam suasana rumahnya mulai menghantuinya.
Itu adalah saat ketika dia kehilangan ibunya. Di masa itu, adiknya yang sakit-sakitan, ayahnya yang bekerja sebagai priest, dan satu-satunya yang bisa menjaga adiknya adalah dirinya. Meskipun adiknya hanya terbaring di atas ranjang dia selalu mengawasinya.
Anak yang seharusnya lebih banyak bermain dan menghabiskan waktu dengan kebahagiaan indah keluarga...
“Kenapa....”
...Semua itu hanyalah mimpi yang semu.
Ada suara keluhan kesakitan dari belakang telinganya, dengan tanggap Yohan melirik ke belakang dan Heros sudah dalam tahap kritis.
Air matanya tidak berhenti terjun dari pipinya, tapi dia harus segera membuat keputusan. Keputusan yang teramat sulit dan besar konsekuensi.
Kemudian dia teringat akan apa yang pernah Alvius katakan padanya ketika marah padanya. Karena pada saat itu Yohan bertindak tanpa berpikir dan egois sehingga membuatnya sangat intropeksi dirinya.
“Hyung, aku ini kuat.”„
Yohan kemudian menutup rapat kelopak matanya sampai dalam dan kembali menggendong Heros di punggungnya. Dia berbalik dan berjalan, dia menoleh ke arah belakang lagi dan berkata.
“Al... Aku mohon bertahanlah.”
Kemudian dia pergi membawa Heros keluar dari Kastil Astaroth dengan berjalan secepat yang kakinya bisa.
Hanya satu orang yang bisa dia pikirkan yang dapat membantu Heros keluar dari situasi kritisnya.
Meskipun keputusan ini sangatlah berat di ambil, Yohan memilih bertindak sesuai perspektif yang ada di depan matanya. Entah itu akan membuatnya menyesal atau tidak, yang pasti dia tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya karena telah membuat orang lain kehilangan nyawa karena kebodohannya.