The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 34: JATUH TANPA DAYA



Hari 50 ketidaksadaran.


Heros yang tidak pernah ingin kembali ke kediaman Duke Charitas memutuskan meminta izin pada hari ini dan pergi untuk kembali ke tempat yang seharusnya dia sebut sebagai rumah.


Tujuannya hanya satu, dia langsung bergegas pergi menemui Duke Charitas di ruangannya tanpa banyak basa-basi.


Meskipun Heros tidak disambut hangat dan tidak di pedulikan, dia tidak masalah dengan itu. Dan dihadapan sosok penguasa tempat ini, Heros berbicara.


“Apakah tidak ada cara yang lebih cepat selain membuat orang yang kehilangan banyak mana sadar? Apakah hanya [Crystal Mana] saja yang bisa melakukannya?”


Duke Charitas membalik dokumennya kemudian dia meletakkan penanya dan melihat ke arah putranya yang menatapnya dengan arogan.


“Kenapa? Apa kau sakit?”


“Tidak.”


Kemudian Duke Charitas membuat ekspresi seolah berkata, 'lalu mengapa bertanya hal seperti itu?' Dan membuang napas.


Dia juga tahu tentang insiden itu jadi dia tidak perlu lagi bertanya tentang apa dan siapa yang sedang dibicarakan anak kecil yang naif ini dan membuka mulutnya.


“Selain [Crystal Mana] satu-satunya adalah [Concentrate Branch Life].”


“Dimana aku bisa mendapatkannya?”


“...”


Duke Charitas hanya diam-diam menatap ke dalam retina Heros. Anak itu dulu tidak pernah melihatnya seperti itu, sekarang tatapan itu seketika berubah dalam kurun waktu yang terpaut sebentar. Apa yang membuat anak ini berubah dan mengapa di dalam mata yang hanya bisa membawa malapetaka, sekarang sedang berteriak meminta adanya harapan.


Beberapa detik kemudian Duke Charitas menjawab. “Walaupun itu ada, kau tidak mungkin bisa mendapatkannya.”


Heros langsung mengerutkan keningnya dalam-dalam. Dia berpikir kali pasti Duke Charitas sedang mempermainkan salah satu dari trik konyolnya dan membuatnya terlihat seperti orang bodoh. Sejak dulu seperti itu, orang yang dia anggap ayah tidak pernah menjadi sosok dalam makna itu sendiri. Heros mengepalkan tinjunya kuat-kuat.


“Apa? Kenapa?”


Tapi tidak seperti itu. Duke Charitas meletakkan kaca mata baca miliknya dan mengeluarkan ranting yang sudah sangat kering yang dia keluarkan dari laci mejanya.


“Itu...”


“Benar. Item itu ada, namun mendapatkannya yang mustahil bahkan bagiku. Ini adalah item yang telah lama berada disini sejak masa pendahulu sebelum diriku. Jadi aku sendiri tidak tahu darimana beliau mendapatkannya. Namun, sesuatu yang pasti. Item ini hanya dimiliki oleh ras Spirit.”


Heros terkejut. Kata ‘Spirit’ bisa sangat mudah dia artikan dan menemukan maknanya. Namun, untuk mendeskripsikan segala teori tentang kata itu, itu bagaikan milyaran rumus yang tidak pernah dia ketahui seolah berusaha untuk dipecahkan metodenya. Tidak, itu suatu kemustahilan. Wajah Heros berubah menjadi putus asa.


“Jadi...”


“[Concentrate Branch Life] hanya bisa didapatkan dari [Tree of Life] ras spirit. Sedangkan, kita para manusia tidak ada yang tahu dimana mereka berada atau apakah mereka masih ada hingga sekarang. Di dunia yang telah lama ditinggalkan ini.”


Tanpa mencari tahu lagi Heros tahu, dari ekspresi Duke Charitas, itu semua bukanlah kebohongan untuk menipunya atau memberinya trik untuk mempermainkan emosinya. Duke Charitas juga tahu bahwa melakukan itu pada Heros sekarang tidak akan menguntungkan. Anak ini telah kehilangan harapannya sejak beberapa hari, Duke Charitas tidaklah sekejam yang dia pikirkan untuk mempermainkan emosinya.


Karena tidak menjadi sosok ayah baginya, sudah cukup untuk membuat anak ini kehilangan harapan.


[Concentrate Branch Life] dikatakan bisa memulihkan mana dalam keadaan dimana seseorang sebelum mereka kehilangan mana. Hanya dengan setetes cairan intisari dari rantingnya, itu bisa membantu memulihkan tubuh yang akan hancur. Namun, mendapatkannya layaknya mencari emas di dasar laut.


Heros menurunkan pandangannya. Dia tidak akan bisa menemukan cara tercepat untuk membangunkan Alvius.


‘Apa yang harus aku lakukan sekarang? Saint Alvius...’


Hari 56 ketidaksadaran.


Malam itu adalah malam dimana dia tidak pernah berpikir untuk pergi ke tempat ini.


Melewati jendela yang terbuka lebar. Angin bertiup menghembuskan napas dan membuat kain gorden menari-nari. Dia sedang berdiri tepat di ujung dinding pagar balkon.


Yang bisa dia lihat dari keadaan tempat yang dia masuki; aroma yang bisa membuat nostalgia, interior yang sedikit memiliki nuansa kekunoan, ranjang besar, dan beberapa [Crystal Mana] diletakkan di dekat tempat tidur.


Dia melihat, dia melihat sosok anak kecil tidur dengan keadaan tak berdaya. Jika di pikirkan mungkin bisa dikatakan dia sedang melihat sosok terlemah yang pernah ada di dunia ini. Dia mendekat ke sana.


Untungnya [Crystal Mana] sudah selesai bekerja, dimana serbuk mana telah diserap ke dalam tubuh kecil itu untuk memulihkan mana. Berharap agar dia bisa cepat bangun.


Dia berjalan mendekat dan berdiri di dekat kaki kecil itu. Sosok anak yang memakai pakaian putih pasien sedang tidak berdaya. Ini adalah kesempatannya.


“Padahal dengan sombongnya kau mengatakan ingin membuatku bekerja denganmu. Apa yang aku lihat ini? Kau sama sekali tidak berdaya layaknya anak itik yang baru lahir. Sungguh malang.”


Kejadian dimana dia harus memenuhi tugasnya yang diberikan klien padanya. Sosok anak ini adalah targetnya dan dia gagal. Setelah kegagalannya dia pergi dan pergi untuk mencari dimana klien itu berada. Kemudian dia memerintahkan semua pengikutnya untuk membunuh para kliennya yang selama ini hanya memandang mereka sebagai alat pembunuhan massal.


Tidak berbeda dari yang lain, dia juga begitu. Dia telah kehilangan banyak hal sejak lama. Itu telah dibuktikan dari pandangan matanya yang sangat kelelahan seperti dia ingin mengakhiri semua takdir hidupnya sekarang juga.


Tapi, dia tidak bisa. Dia terus teringat dengan anak ini, dia tidak bisa melepaskan bayangan anak ini dari kepalanya.


Anak yang berkata akan menanggung semua dosa bersamanya. Hanya anak kecil. Namun, kenapa itu begitu mengganggunya. Dia bisa saja berpikir bahwa itu mungkin candaan anak kecil atau kata-kata kosong.


Tidak, tidak begitu. Sejak awal dia tahu. Anak ini... Bukan anak biasa.


Yang paling menakutkan baginya adalah dimana dia akan kehilangan kemanusiaannya.


“Apa yang akan terjadi jika kau mati?” dia bertanya. Sekali lagi dia menatap wajah pucat anak itu. “Hei, katakan. Jika kau mati apakah dunia ini akan hancur? Apa sebaiknya sejak awal dunia ini hancur saja.”


Manusia ditinggalkan sejak lama oleh dewa. Mengirim Saint itu masuk akal. Namun, apakah Saint itu bahkan mungkin setara dengan dewa? Sulit mengetahui bahwa akan ada harapan di dunia yang akan segera berakhir. Mungkin tidak sekarang, tapi besok. Entah itu 5 tahun ke depan, 10, 20, 50, 100, bahkan 1000 tahun ke depan. Yang kenyataannya dunia ini akan tetap hancur.


Kemudian dia menyadari bahwa ini semua tidak berguna. Dia tertawa pahit. Seolah dia berbicara pada mayat. Benar, dia membunuh banyak orang dan mereka menjadi mayat. Hanya saja... Dia tidak pernah sebegitu emosional seperti ini.


Setelah tertawa, matanya, memperlihatkan dimana hanya ada kesedihan dan penderitaan.


“Sungguh bodoh. Sungguh bodoh jika aku membiarkan seorang bocah membuatku terguncang.” Dia berjalan ke samping melewati [Crystal Mana] dan berdiri di dekat tubuh anak kecil ini, kemudian dia mengangkat belatinya ke arah bawah. Hingga aura beracun belatinya semakin melimpah kuat.


“Selamat tinggal, aku harap tidak ada penyesalan karena telah membunuhmu.”


Dia telah menetapkan dirinya. Tangan yang menggenggam belati bergerak ke arah target.


Gugugugu!!


“Apa yang—!”


Dia terkejut. Ketika tangannya jatuh ke arah target belatinya tidak bisa sampai pada jantung target seperti tangannya hanya menggantung di udara. Tidak, itu seolah di cegah oleh sesuatu untuk bergerak lebih.


Percikan listrik emas menyambarnya dengan ringan sampai dia harus mundur ke belakang.


“Apa yang sedang bajingan—!”


Ketika dia melihat tangannya yang terbakar lalu dia melihat lagi ke arah tubuh anak kecil yang saat ini sedang diselimuti oleh badai listrik emas yang seperti melindunginya.


Pada saat itu, petir-petir kecil itu bergerak di udara. Menjadi ganas dan seperti membentuk sebuah jaring-jaring aneh.


Setelahnya, sesuatu berbicara kepadanya. Jaring-jaring itu membuat kalimat sendiri seperti benang yang merajut dirinya sendiri.


[‘Guardian of Charity’ memperingatkan anda!]


Saat dia melihat ke kalimat itu dia tidak bisa untuk tidak gemetar hebat. Bukan karena kalimat itu melainkan...


Melainkan sosok yang dirajut oleh benang petir itu sedang menatap tajam ke arahnya.


[‘Guardian of Charity’ memberikan ancaman!]


“Apa yang sedang terjadi?! Bajingan, aku harus—!”


Ketika dia hendak ingin melarikan diri jendela tertutup dengan sendirinya dan terkunci rapat. Bahkan ada sebuah sihir yang membuatnya agar tidak bisa keluar dari tempat ini. Sihir yang mengurungnya dari dunia luar.


Bahaya apa yang dia rasakan ini tidak sebanding dengan apa yang pernah dia alami sendiri. Seolah ada badai mengerikan sedang menatap ke arahnya. Keringat dingin membasahi punggungnya.


[Skill ‘Shadow Walking Stealth (U)’ telah diaktifkan!]


Dia yang putus asa segera mengaktifkan skill miliknya dan menghilang bersama udara sekitar. Tetapi...


[Skill anda di batalkan secara paksa!]


“Apa?!”


...Skillnya telah di batalkan saat itu juga. Sosok petir sedang menatapnya dengan tajam dan memberikan tekanan mental yang tak tertandingi oleh siapapun dan membuatnya kewalahan dalam kurun beberapa detik.


Dia tidak bisa melawan kehendak yang bahkan bukan manusia. Tunggu, apakah dia memang kehendak dari manusia? Dia berpikir keras, tidak mungkin skill memiliki pikiran sendiri, bukan?


Lalu jika skill tidak punya pikiran sendiri maka itu satu hal yang pasti.


Segera dual belati memekik dan aura kabut beracun berkumpul di kedua bilah tersebut. Jika tidak bisa menggunakan [Shadow Walking Stealth] maka dia bisa menggunakan keterampilan lain. Yang adalah bakat alaminya. [Speed Up].


Gerakan kakinya menjadi cepat dan dia melompat antara dinding ruangan kesehatan seperti seekor kadal. Hingga kamar seolah terguncang oleh gerakan kakinya yang berayun di sana-sini sekitar dinding.


“Jika bukan karena skill memiliki pikiran sendiri. Itu artinya, bajingan! Kau sudah bangun brengsek!”


Kedua belatinya bergegas menuju kepala anak kecil itu dengan gaya seperti seekor belalang pemangsa.


Sasasah!


“Gaaah!!”


Petir menyambarnya. Gerakan petir menjadi tidak normal dan sekarang seperti itu memiliki pikiran sendiri dan menerjangnya. Badai petir yang ringan perlahan memberikan dampak besar. Asap bakar keluar dari kulit-kulit orang ini dan begitu dia tergeletak di lantai dia hanya bisa pasrah.


[‘Guardian of Charity’ berkata itu sia-sia!]


Percikan listrik menari di udara di depan matanya.