The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 82: ELDER OF DWARF (2)



Ya, tidak terlupakan, jika ada satu orang Elder yang dari tadi tidak sama sekali berbicara. Daripada berbicara, dia mengobservasi sesuatu dengan kedua matanya melotot tajam, lengan disilangkan, berpakaian dengan penuh zirah baja, ada pedang besar juga di sisinya.


Selain semua Elder yang bisa membuat keadaan tidak berat sebelah. Hanya satu Elder ini yang keberadaannya saja membuat seseorang sadar, bahwa — lihatlah, jangan macam-macam dan jangan lakukan tindakan bodoh. Seperti itu.


Dan orang yang dia teliti itu adalah saya.


“Gruazi, Helgam, Mouris, Vergo, jika kalian bermain keluarlah. Kalian hanya memperlihatkan kebodohan dari para Elder pemimpin di Kota ini dengan tindakan kalian. Wibawa kalian jatuh hanya dengan anak kecil di depan kalian.”


Cukup dengan kalimat itu dan para Elder dibuat bungkam dalam diam yang nyata.


“Katakan nak. Tidak, wahai perwakilan dari negeri manusia apa yang kau maksud dengan kerja sama dengan para Dwarf?”


Apakah ini saatnya serius? Mengesampingkan semua masalah sebelumnya nampaknya yang satu ini akan segera pada intinya dan cepat selesai. Saya lega akhirnya ada yang wajar dari lima Elder Dwarf yang lain.


Tidak hanya itu, dari tatapannya. Jika saya tidak melalukan aksi yang menarik maka saya akan di tendang dari sini.


“Seperti yang saya katakan kepada kalian para Elder terhormat. Saya ingin melakukan kerja sama dengan kalian.”


“Contohnya?”


Saya menyeringai lebar dan mengangkat tangan.


“Saya menginginkan bakat kalian.”


Wajah Elder bisa dikatakan tenang jika itu di luarnya saja. Namun, dari segi pandang pikiran mereka, mereka sangat terkejut dan masih memasang wajah poker.


Seharusnya mereka mempertahankan itu, namun ada satu yang tidak bisa mempertahankan wajah poker mereka.


“Apa yang kau maksud dengan itu wahai manusia kecil?!”


Suara lantang dengan dobrakan meja dan jatuhnya kursi. Di susul dengan suara deritan bilah yang ditarik perlahan sampai suaranya memekikkan telinga. Elder Helgam mengacungkan pedangnya.


“Helgam!” Vergo pun ikut bangkit karena tindakan Elder Helgam.


Sementara saya masih berusaha tenang dan tersenyum sebaik mungkin.


“Mungkin sepertinya anda sedikit salah paham tuan Helgam. Yang saya katakan bukanlah penghinaan melainkan pujian serta kalimat hormat yang aku tunjukkan pada kalian semua para Dwarf.”


Elder Vergo sedikit tertegun dengan peralihan ini sedangkan Elder Mouris dan Elder Gruazi dengan seksama mendengarkan ini bagaikan rapat serius dan penting. Dan satu sisi lainnya, dia yang memandang saya dengan tajam dan masih sama. Itu mengerikan.


“Duduklah Helgam.”


suara yang berat namun tenang, itulah kata Elder yang duduk di tengah.


“Cih!” Elder Helgam masih menggerutu dan memasukkan kembali pedang besarnya pada sarungnya.


“Lanjutkan.” tambah Elder itu.


“Saya mengetahui fakta bahwa para Dwarf memiliki bakat menempa sesuatu menjadi barang yang sangat berkelas. Contohnya adalah pedang milik tuan Helgam dan yang anda pakai Elder. Saya takjub sebagaimana kedua barang itu begitu terlihat hidup di tangan kalian. Jadi saya ingin bekerja sama dengan kalian dalam bidang distribusi.”


“Apakah itu maksudnya kau memonopoli kami hasil kerja kami?” tanya Elder Gruazi.


“Memonopoli?” saya terkekeh kelam dengam tubuh saya sedikit gemetar membayangkan kalimat yang Elder Gruazi katakan. Jika perasaan itu bukanlah kenikmatan, lantas apa namanya. “Ya!”


“Bajingan ini!”


“Helgam hentikan!”


BOOM!


Ledakan yang sedikit eksplosif menimbulkan asap yang mengepul secara konduktif di sekitar kami.


“Anda terlalu terburu-buru tuan Helgam.”


[Skill ‘Resistance All Element (L)’ telah diaktifkan!]


Skill yang bisa di aktifkan tanpa batas yang dapat menolak segala jenis serangan berupa dampak fisik adalah yang bisa dikatakan mutlak. Namun, ini tidak sepenuhnya mutlak dan hanya bisa bertahan dari serangan tertentu. Tidak ada pertahanan yang sempurna.


Namun, karena ini adalah tindakan yang bodoh maka skill akan menanggapi serangan itu sebagai bentuk ancaman.


Saya menyeringai saat serangan Elder Helgam menyangkut di antara pelindung milik saya.


“Geh! Anak sialan!”


Deritan pedang Elder Helgam yang tidak mau menyerah membuat Elder Gruazi, Mouris, dan Vergo bergegas kemari untuk menghentikan Elder Helgam. Namun kekuatan Elder Helgam tidak bisa di hentikan hanya dengan itu dan tiba-tiba sesuatu melayang menuju kami.


Tanpa peringatan saya secara insting meningkatkan dan mengaktifkan lagi skill [Resistance All Element] untuk kedua kalinya dan dengan cepat pelindung terluar saya hancur seketika hanya dengan satu lemparan pedang besar, yang kemudian pedang itu melayang terpental karena tidak bisa menembus pelindung terakhir saya.


Itu mengejutkan kami dan itu datang dari Elder yang sedari tadi duduk diam dan memilih bertindak sebagai seorang yang brutal.


“Diamlah dan kembali ke tempat kalian duduk.”


Saya tidak bisa berkata apapun lagi dan hanya tertegun. Bagaimana jika saya tidak mengaktifkan skill pelindung untuk kedua kali? Saya akan mati hanya dengan satu lemparan pedang itu.


Dugaan saya atas pedang milik Elder Helgam salah. Satu lagi pedang dengan kelas terberat dan luar biasa, bahkan bisa menembus bentuk pertahanan saya yang hampir mustahil di tembus oleh serangan dampak fisik biasa.


Setidaknya yang bisa saya prediksi dari pedang milik Elder yang satu ini. Pedang ini memiliki tingkat yang sangat tinggi.


Saya menatap Elder itu yang dengan angkuh masih duduk di sana. Saya menyeringai licin.


“Anda sangat baik hati Elder-nim.”


Saya tidak ragu menambahkan -nim di belakangnya dan berjalan mendekati meja.


“Bahkan anda tidak ragu untuk mengayunkan pedang terhadap anak kecil seperti saya. Apa karena sikap saya kurang sopan? Kalau begitu saya minta maaf atas itu.”


Dengan jarak saya yang dekat dengan meja saya kembali tersenyum lebar.


“Mari kita ubah rapat ini sedikit lebih tajam dari sebelumnya. Karena keadaan sudah seperti ini jadi akan aneh jika kita semua tiba-tiba tertawa dan bercanda bukan.”


Saya berjalan berbalik ke belakang dan berbalik lagi ke arah mereka.


Sasasasah!


Energi kehijauan yang seharusnya jelas mereka para Elder tahu milik siapa ini muncul dan keluar dari tubuh saya. Di sertai dengan aroma alam dan akar menggeliat di bawah kaki saya. Lalu akar itu naik ke permukaan dan perlahan membentuk sesuatu seperti jaring akar yang besar menggeliat.


Saat akar selesai bergerak, saya dengan lantang duduk di atas akar.


“Mari kita mulai pembicaraan ini sekali lagi, di mulai dari fakta apa sebenarnya tujuan ras Dwarf itu...”


Kekuatan ini, energi ini, bentuk sirkuit dari sihir sejati ini. Tidak salah dan bukan siapa lagi, jika itu asli milik Dryad July Lilyca.


“Bukan begitu, para Elder terhormat.”