The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 84: ELDER OF DWARF (4)



“Ini merupakan cerita yang sudah lama sekali terkubur bagaikan berita yang tidak pernah ada seorangpun yang ingin mengetahuinya.”


Kemudian Elder Orlos memulai ceritanya yang berujung pada kisah dimana semuanya di mulai.


Sekitar 200 tahun yang lalu, itu adalah masa dari para Elder Dwarf sebelumnya dan dimana Elder sekarang masihlah sebatas seorang kesatria pengrajin biasa. Masa dimana perpecahan masih belum ada di antara berbagai ras murni.


Pada waktu itu kerja sama dan bukti ikatan yang tertulis dalam perjanjian telah sepenuhnya memberikan kedamaian bagi seluruh ras di benua ini. Dalam satu kesatuan termasuk menjalin hubungan dengan ras manusia.


Jika dikatakan ras lain iri dengan manusia, maka katakan saja itu adalah mereka yang cemburu oleh bakat alami manusia. Hanya itu, namun di kalangan ras lain masih baik-baik saja menerimanya.


Namun, semakin berjalannya waktu dan semakin peperangan di tanah kegelapan semakin tidak menentu, dimana kami bahkan tidak bisa melihat atau memprediksi letak kemenangan kami semua.


Disana kami melihat, sepenuhnya keputusasaan.


Monster itu, iblis itu, atau lebih tepatnya sumber dari inti kejahatan tersendiri muncul dan membawa kehancuran pada pasukan aliansi hanya dengan jeritan suarannya. Dia membawa malapetaka di matanya, membawa kehancuran di mulutnya, dan membawa kiamat di setiap hembusan napasnya.


Kami menyebutnya sang kemutlakan.


Karena hanya berada di hadapannya, semua aliansi di buat tunduk tanpa daya.


Kemenangan atau kekalahan sangat tidak mungkin untuk kami pikirkan saat itu. Lebih tepatnya, kematian kami sudah di perlihatkan sejak kemunculannya.


Dan itulah kekalahan sepenuhnya seluruh aliansi di benua ini. Bisa dibayangkan ratusan juta pasukan, dikalahkan semudah itu hanya dengan kemunculannya saja.


“Saat itulah seluruh aliansi menyadari bahwa tidak ada satu pun dari kami bisa menggoresnya dengan pedang kami atau memberinya luka dengan kekuatan eksplosif dari sihir. Tidak ada yang bisa menyentuhnya.”


Jeritan hati Elder Orlos bisa di sampaikan dengan baik melalui kata-kata dan kisahnya. Menyadari kisah tanpa umpan itu Elder lainnya menundukkan kepala. Sekarang tahu, bahwa di masa itu mereka bukan apa-apa dan hanya sebatas pecundang.


Mengerti perasaan itu, bahkan saat saya berada di dungeon untuk pertama kali yang saya rasakan bukanlah semangat juang melainkan gemetar hebat akan kematian.


Padahal saya pernah mati, namun ketika berpikir kematian sudah dekat untuk kedua kalinya itu sedikit merapuhkan batin saya.


“Kami yang merasa bahwa kekalahan kami sudah di depan mata kami para ras lainnya berpikir untuk mengaktifkan lingkaran sihir besar teleportasi anti-distorsi. Namun, tidak dengan ras manusia.”


Saya berkedip sekali untuk itu dalam sesaat dan ketertarikan saya dalam ceritanya sedikit bertambah menjadi antusias. Yah, karena ini bagian dari wawasan.


Dan saat itu Elder Orlos menyatakan dengan ekspresi murung dengan senyuman pahit di bibirnya.


“Manusia... Mereka tidak mengenal arti kata dari menyerah sama sekali.”


Seperti mendapatkan apresiasi atas kerja keras padahal bukan saya, namun perasaan merinding ini nyata membuat tubuh saya menggigil dalam ketakjuban semata.


“Tiga Kerajaan yang di pimpin manusia termasuk tiga Raja, mereka bahkan memberi perintah pada pasukannya untuk tidak lari dan bersiap untuk pertempuran berikutnya. Alih-alih kabur, raut wajah mereka di penuhi teriakan penuh semangat dan perjuangan.”


Nada dari Elder Orlos sedikit bengkok untuk beberapa saat dan kemudian dia tetap melanjutkan meski dia merasa malu pada saat menceritakan kisah kelamnya itu.


“(Mengapa mereka tidak menyerah?) Pada saat itu, itulah yang semua ras lainnya pikirkan. (Apa mereka gila?) Pertanyaan mudah di jawab seharusnya namun tidak ada yang bisa mengenali artinya di kala itu. Kemudian mengabaikan semangat dan perjuangan ras manusia ras lainnya memutuskan untuk tetap melarikan diri. Hingga saat itulah ikatan kami semua menjadi terputus. Raja dari masing-masing Kerajaan tidak menyalahkan kami, malahan mereka memberi tanggapan bahwa jika itu adalah pilihan kami maka jalan itulah yang benar menurut kami dan berbalik dalam peperangan lagi.”


Lalu pada saat itu kalian dengan beraninya kabur tanpa mengatakan apapun dan meninggalkan ras manusia sendirian di medan tempur?


Entah mengapa saya mengingat cerita dari ayah saya dan meremas erat genggaman tangan saya.


Apakah ibu Alvius juga seperti itu pada waktu tragedi tersebut?


Membuat saya berpikir dunia ini sangatlah kejam pada setiap makhluk yang terpilih.


Dan mengapa harus ibunya?


Tanpa sadar emosi saya menguasai saya dan saya menggertakan gigi saya dengan rapat.


“Lalu?” ucap saya dengan dingin.


Di jawab oleh Elder Orlos dengan nada lirih yang menyakitkan.


“Ras Dwarf iri pada hati baja para manusia, Ras Elf iri pada bakat sihir dan potensi mereka yang mana seharusnya merekalah yang dicintai oleh sihir, Ras Barbarian Beast, iri bahwa kenyataannya entah itu dalam pertempuran maupun tekad, mereka kalah pada saat itu juga oleh ras manusia. Semua itu yang tidak kami miliki, namun ada di dalam diri manusia.”


Para Elder lainnya menundukkan wajah mereka. Mereka tahu bagaimana rasa malu itu merambat dari ujung rambut hingga ujung kaki mereka. Fakta bahwa mereka hanya memperdulikan hal kecil seperti namun, sifat patriotisme mereka telah hilang sepenuhnya.


Ah, apa perasaan ini? Kenapa dada saya seolah terasa panas dan menggeliat sakit?


Karena kebodohan mereka dan sifat labil mereka, akibatnya adalah hal yang terjadi dalam sejarah. Seandainya mereka tidak melakukan itu dan memilih bertarung maka sejarah akan berubah.


Tetapi sesuatu tidak bisa lagi terbendung.


Sasasasah!!


“Lalu, kenapa kalian kabur?”


“Ini!?”


“Luapan energi sebesar ini!”


“Keuh!!”


Tidak, saya sadar pada apa yang saya pikirkan itu adalah salah. Jika sejarah bisa di ubah maka di dunia saya sebelumnya maka perang dunia tidak akan terjadi jika para pejabat tertinggi tidak memikirkan egoisme mereka sendiri.


Semua itu sudah terlambat dan setiap penyesalan pasti akan ada di akhir setiap cerita. Dan emosi saya ini adalah yang mewakili jutaan nyawa dari setiap korban yang telah hilang di medan tempur. Pada akhirnya saya sama saja dengan menyalahkan itu kepada mereka.


Swuwut!


Energi yang keluar dengan deras layaknya arus air terjun kembali saya tarik ke dalam tubuh saya. Saya pun berbicara dengan setenang mungkin.


“Yang terjadi sudah tidak bisa diubah lagi. Mungkin itulah pepatah yang bisa dikatakan dari jika nasi sudah menjadi bubur. Tapi, bukan berarti saya tidak menilai bahwa kalian serta tindakan kalian benar pada waktu itu meskipun kematian kalian sudah berada tepat di bawah hidung kalian. Saya tahu para aliansi kuat dan mungkin saja kalian memiliki nilai kemenangan sekitar 3,14%. Meskipun kecil, bukankah artinya kalian masih memiliki kesempatan untuk menyalatkan dunia ini.”


Dari raut wajah mereka penyesalan datang di akhir adalah pilihan bijak.


Saya tidak ingin bersifat kontemplatif atau provokatif disini dengan sifat-sifat saya yang buruk.


“...Semua sudah terlambat.”


Menyadari jika setiap orang masing-masing memiliki kesempatan. Namun, alih-alih berdamai mereka menjadikan itu alat untuk saling menusuk dari belakang dan tidak ingin disalahkan. Jadi peran penjahat ada di tangan para ras lainnya.


“Namun, bukan berarti itu berakhir.”


Ungkap saya dengan menatap langsung semua mata para Elder.


Benar, terpuruk dalam masa lalu bukanlah pilihan. Saya tidak boleh lupa tujuan asal saya berada di tempat ini dan melupakan sejarah secara sementara.


“Saya masih membutuhkan jawaban kalian disini. Apakah kalian ingin membentuk kerja sama dengan saya, tidak, dengan kami.”


Para Elder saling melirik dan menatap satu sama lain, setelah itu mereka menatap saya dan ekspresi mereka berubah menjadi serius kembali.


“Mari kita mulai negosiasinya.”


Jadi inilah yang terbaik untuk saat ini, untuk ke depannya entah itu buruk atau baik kita hanya bisa menunggunya saja dengan lapang dan sedikit merubah alirannya.


Kemudian rapat dimulai kembali di awal.


“Saya tidak mengatakan bahwa saya akan memanfaatkan kalian. Saya ingin kerja sama dalam bidang pendistribusian dalam pembuatan produk dari kualitas milik tangan seni kalian. Sehingga kalian hanya bisa menjualnya hanya pada saya.”


“Lalu apa yang bisa kami para Dwarf dapatkan sebagai keuntungan?”


Elder Orlos yang pertama kali hanya berusaha menguji saya sekarang tanggap dan serius dalam hal ini. Itu membuat saya senang dan meneruskan.


“Tentu ada keuntungannya, malahan bisa dikatakan keuntungan kalian sama besarnya dengan keuntungan kami.”


“50:50 huh?” Elder Orlos sedikit tertarik dan menggosok janggutnya yang lebat.


“Ya bisa dikatakan seperti itu, namun mungkin bisa lebih besar.” Kata saya seolah menyeruput kalimat saya sendiri.


“Apa maksudnya itu?”


Dengan sedikit penasaran dan sedikit curiga akan adanya hal yang tidak dia inginkan, setidaknya yang paling rasional adalah dia, Elder Gruazi.


“Kerja sama kita tidak hanya di bidang produksi. Melainkan secara saya ingin kita membentuk kembali aliansi secara hukum yang tertulis.”


“Apa?!” Elder Helgam berdiri dengan emosi.


Pak tua ini, tadi diam dan tenang seperti anak anjing yang patuh sekarang kembali lagi menjadi serigala galak.


Lalu Elder Orlos mengangkat tangannya dan menghentikan tindakan ceroboh Elder Helgam. Dia pun berbicara.


“Apakah itu maksudnya para Dwarf akan membentuk aliansi kembali dengan ras manusia?”


“Eh?” jawab kosong saya.


“Eh?”


Namun semua Elder ikut bingung dengan respon saya yang kosong itu.


“Apakah saya mengatakan untuk membuat aliansi dengan ras manusia?” saya menyeringai lebar dan berdiri mengangkat tangan saya. “Tidak, kalian salah. Cukup buat perjanjian dengan Kerajaan Suci Harvellion tempat saya tinggal saja.”