The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 78: NEGERI RAS DWARF (2)



Saat matahari esok akhirnya terbit semua persiapan berangkat telah selesai dan kereta kuda yang akan membawa kami sudah di parkir di depan gerbang Gereja.


Sebelum kami berangkat saya berjalan mendekat ke arah Veronica yang sedang rapat terbuka dengan para bawahannya yang setia. Edgar menyadari saya mendekat melambaikan tangan dengan senyuman dan menyapa.


"...Saint."


Itu ciri khasnya dan saya berlalu mengabaikannya.


"Veronica, kita hanya akan pergi bukan berperang, tidak usah membawa banyak orang."


Entah sengaja atau tidak, Veronica yang biasanya tidak terlalu ketat kali ini dia benar-benar sedikit disiplin. Dia membawa hampir semua lebih dari setengah bawahannya untuk ikut pergi bersama, termasuk Edgar.


Pembicaraan kemarin saya pikir dia akan membawa beberapa anggotanya saja, tapi...


Tentu sebagai yang menjalani misi kali ini saya tidak mempermasalahkan. Masalah yang sebenarnya bukan datang dari saya namun ketika kami berada di tempat tujuan, kemungkinan kita sebagai tamu tidak akan disambut jika membawa banyak orang. Itulah alasan saya meminimalisir anggota yang harus ikut.


Sedangkan bisa saya hitung ada 15 lebih Shadow disini.


Paladin Theo dan Paladin Roy tentu saja mereka ikut. Lalu rekan saya para Prophet. Kemudian Veronica dan para Shadow. Setidaknya seperti itu.


"Tidak. Aku tahu itu dan tidak membawa mereka ke dalam dimana tujuan kita. Namun, aku meminta sebagian dari mereka berjaga di perbatasan untuk jaga-jaga."


Jawaban penuh perhitungan dari Veronica. Sekarang saya tahu mengapa semua anggota Shadow mengikutinya. Dia berpikir lebih ke depan dan selalu memasang antisipasi dimanapun dia berada. Saya mengangguk akan keputusannya.


"Baiklah aku serahkan padamu. Sekarang kita akan berangkat."


"Yang lain akan mengikuti dari belakang dan menyamarkan hawa keberadaan mereka jadi jangan khawatir."


Claude juga pernah mengatakan hal yang sama.


- Tidakkah kamu butuh seorang mata-mata. Paling tidak, jika bawahan Ratu mulai bergerak mengikutimu.


Tentu saja saya menolak kontribusinya kali ini. Karena alasannya adalah kami sudah memiliki Veronica. Juga, jika Claude terlibat dalam hal ini maka penjagaan Ratu dan bangsawan terhadap aktivitas saya hari ini akan semakin ketat.


Oleh karena itu, Veronica dan para Shadow akan menjaga bagian belakang dan menjadi mata pengawas.


Saat itu, seseorang mendekat ke arah kami.


"Al, semua sudah siap, kita berangkat."


Sepertinya rekan dan anggota yang lainnya juga sudah bersedia untuk berangkat. Saya mengangguk pada Yohan dan yang lainnya di belakangnya. Kemudian kami berjalan dan naik ke dalam kereta kuda. Sebelum giliran saya sempat naik, ayah dengan Direktur Sarion di sebelahnya berbicara.


"Al, hati-hati dan kembalilah."


"Semoga perjalananmu lancar."


Saya percaya bahwa hari dimana saya akan pergi jauh dari tempat asal saya akan datang tak lama kemudian.


Dan yang paling saya takutkan adalah dimana hari itu terjadi, saya tidak bisa berjanji bahwa saya akan bisa kembali lagi.


Tetapi kali ini tidak. Saya berjalan dan memeluk ayah.


"Aku akan berusaha."


"Ya, semoga beruntung dan juga jaga kesehatanmu."


Saya melepas pelukan ayah dan berjalan ke arah kereta. Yohan memanggil dan mengulurkan tangannya membantu saya naik, saya berbalik dan berkata.


"Kami berangkat."


Kereta kuda pun bergerak. Tujuan kami adalah dimana July menunggu di tempat yang telah kami jadwalkan dengan baik. Sebelum hari keberangkatan July berkata bahwa hanya dialah yang mampu mendeportasikan kami ke tempat dimana para Dwarf tinggal.


"Kita akan menuju Hutan Cravet tepat di dekat kawasan sungai di sekitar perbatasan Kerajaan jadi itu tidak akan memakan waktu lama. Dimana Veronica?"


Heros membuka peta kecil yang dia gunakan sebagai perangkat kertas untuk menunjukkan arah yang kami tuju sesuai rute terdekat. Disini yang termuda dialah yang tahu daerah-daerah di dekat Kerajaan ini dan menjelaskan pada saya dan Yohan yang tidak terlalu mengerti struktur kawasan dan daerah di sekitar Kerajaan Harvellion ini.


Sementara itu Veronica dan bawahannya mengikuti kami dari belakang. Potensi Veronica benar-benar bukan main, entah sejak kapan dia melatih kemampuan dari skillnya. [Phantom Fantasy] miliknya kini tidak berbasis individu, dia juga bisa menggunakannya dengan dominasi kelompok.


Curang mengatakannya tapi itu adalah skill yang menguntungkan.


Saya hanya berharap satu hal, jangan sampai kehabisan kekuatan sihir itu saja.


"Dia ada di belakang."


Heros mengangguk ringan dan melanjutkan penyampaiannya. "Juga ini tentang rute yang akan kita lewati, dari sungai kita akan berhenti, benarkan?"


"Benar, July menunggu disana."


Yohan yang mendengarkan kemudian angkat bicara dengan ragu-ragu.


"Al, bisakah kita mempercayainya?"


"Tentu, jika tidak maka July sendiri tahu akan ada konsekuensinya. Jangan khawatir Hyung, ini tidak seperti kita akan ditipu. Sebaliknya jika dia menipu kita dia juga tidak diuntungkan apapun, kita juga tidak kehilangan apapun."


"Bagaimana jika dia memanfaatkanmu hanya untuk kepuasannya saja?"


Saya berpikir sejenak menutup mata kemudian membuka lagi. Ada seringai kecil di bibir saya.


"Tidak, aku pastikan itu tidak akan terjadi."


Tidak seperti Prophet lainnya. Sepertinya July lebih mengerti kata menjadi 'Prophet' yang sebenarnya dari yang mereka pikirkan. Dan lagi Samael sampai datang berbicara padaku tanpa peringatan tentang July jadi tidak ada masalah untuk membuat dia sebagai rekan baru.


Bahaya atau tidaknya membuat penghuni kuno dunia ini bekerja sama itu akan kita lihat ke depannya. Meskipun itu bahaya sekalipun saya akan tetap mengambil sedikit jalan pintasnya. Yaitu memanfaatkan kekuatan mereka sebaik mungkin.


"Tidak ada yang gratis di dunia ini..." gumam saya menatap keluar jendela.


"Alvius ini yang menjadi pertanyaan. Apa pangeran tidak mengatakan apapun padamu?"


"Tidak ada surat datang darinya. Yah, aku yakin sekarang dia sedang melihat kita berangkat dengan seringai aneh di wajahnya yang mengerikan itu."


Pasalnya kami semua tahu, jika tidak ada satu orang pun dari kami yang benar-benar menyukai Claude, bahkan saya.


Ada tawa kecil datang di antara kami bertiga di dalam kereta. Secara kesepakatan saya dan Claude sudah di pastikan. Jadi apa yang perlu ditunggu lagi darinya?


Singkatnya, orang yang tertawa pertama adalah orang yang mampu melihat akhir itu sendiri.


***


Di saat Claude sedang mengerjakan dokumennya seseorang mengetuk pintu ruangan kerjanya dan masuk.


Pria yang masuk dan tengah menghadap di depan Claude bahkan tanpa mendengar jawaban darinya ketika harus masuk memiliki senyum di bibirnya yang sedikit enggan dan memakai baju jubah.


Claude yang menghentikan gerakan jarinya pupilnya terangkat ke atas.


“Kau sudah sampai? Laporannya?”


Tawa kecut datang dari pria berjubah tersebut.


“Yang mulia, aku bahkan belum sempat duduk dan kamu sudah menyuruhku memberi laporan, jahatnya.”


“Aku tidak ingin berlama-lama melihatmu disini dan secepatnya pergilah dari hadapanku.”


“Jahatnya... Yah, itulah pangeran yang aku kenal.”


Kemudian dia menyerahkan seberkas kertas yang berisi laporan serta data-data yang selama ini telah dia kumpulkan. Tak tahu kapan dia meringkas semua itu di satu lembarnya. Namun sudah dipastikan bahwa butuh waktu panjang untuk merangkum semua laporan hanya untuk diberikan pada Claude.


Dia tidak menyesal karena bekerja terlalu keras. Hanya saja, Claude hampir tidak memberikan pria ini istirahat dan perhatian.


Bahkan ketika dia berada di dalam Dungeon tingkat-A-.


“Kerja bagus Cedric.”


Cedric Alphine, Wizard Rank-A. Sebagai bawahan langsung dari Claude dia di kenal sebagai seseorang yang hampir berpotensi naik tingkatan. Tentu saja Claude tahu Cedric adalah pria berbakat namun potensinya masih belum berkembang.


Tidak hanya Cedric saja. Claude diam-diam secara sengaja mengumpulkan pasukan dengan golongan afiliasi seorang Wizard murni.


Cedric sebenarnya takut pada Claude namun karena dia sudah lama mengenal Claude, malahan, dialah yang mengajari Claude sihir sejak dia kecil.


Sayangnya Claude tidak pernah memanggilnya guru atau menganggapnya demikian.


‘Sejak kecil, aku bahkan tidak tahu apakah anak yang akan masuk pubertas ini menjadi pria yang baik.’


Perlakuan Claude padanya seperti bawahan dan atasan. Tidak ada jenjang di antara mereka meskipun Cedric adalah seorang guru baginya.


Tidak heran jika Cedric sangat terbiasa ketika masuk dan tidak takut Claude marah atau semacamnya.


“Menurut yang tertulis disini tidak hanya satu melainkan banyak. Perbatasan Odore hampir sepenuhnya tumpang tindih dengan negara tetangga, seberapa besar kerugian yang akan di alami kita?”


“Sesuai yang kami selidiki. Dalangnya adalah Marquess Zarpelinus dan bawahannya. Selain itu tidak hanya dia yang masuk dalam kategori Blacklist.”


Dalam catatan tersusun rapi tulisan serta garis laporan tentang isi dan kasus yang didalami. Cedric mencoba mengungkap penyelidikan dan berujung dia mendapatkan semua bukti tersebut dari satu tempat.


“Ya. Sepertinya negara ini benar-benar harus di tata ulang.”


Jawaban langsung Claude membuat Cedric tak tahu apa yang harus dia katakan. Kalimat itu saja cukup untuk mendesaknya ke sudut pikiran kelam.


Tujuannya melakukan investigasi tidak hanya harus melaporkan situasi tertentunya.


Tetapi, dia juga melaporkan pada Claude tentang Wizard lain yang hampir kehilangan nyawanya akibat rencana ini. Bodohnya dia berpikir akan mendapatkan respon baik dari Claude untuk tambahan waktu demi menyelamatkan rekannya.


Yang artinya Claude tidak segan membuang bidak yang tidak berguna. Jika Wizard lain mati itu bukan kesalahan Claude, itu kesalahan mereka sendiri karena terlalu lemah.


Dan Cedric hanya bisa menerima apa yang menjadi keinginan Claude.


Mengapa?


Tidak ada yang tahu, mungkin hanya dirinya yang tahu, karena dia pernah melihatnya.


Dalam tubuh Claude ada sesuatu yang tidak seharusnya orang lain ketahui.


Cedric takut, sangat takut. Apa yang akan terjadi jika dia menyentuh sisi itu dan membuat Claude kehilangan akal?


Dia tidak berani memikirkannya lagi.


“Besok malam akan ada pesta perjamuan untuk para bangsawan. Pastikan semua bangsawan dalam daftar juga hadir. Kita akan menyambut hangat mereka.”


Hanya berhadapan dengannya saja, rasanya sulit untuk bernapas.


Dia tidak tahu apa alasan Claude hingga memiliki posesi seperti ini.


Dan kemudian itu terungkap begitu Claude berbicara lagi dengan seringai tipis di bibirnya dan mata merah menyala yang nampak terpuaskan.


“Asalkan Saint Alvius senang maka aku juga senang.”


Pada detik itu Cedric hanya bisa terbelalak kosong. Dia tidak tahu maksudnya, namun dia mengerti artinya meski singkat. Mengapa? Mengapa dari sekian banyak ungkapan dia harus berkata bahwa keadaan ini hanya demi orang lain.


‘Sebenarnya, apa yang dilakukan Saint pada orang ini?!’


Dalam waktu sangat lama, Cedric tidak akan pernah tahu alasannya. Tidak, Saint Alvius yang disebut Claude juga belum tentu tahu apa alasan Claude melakukannya demi dirinya sampai sejauh itu.


Cedric merinding tidak menentu.