
Lalu beberapa saat kemudian dari depan kami tepat beberapa puluhan meter di depan kota ada kepulan asap yang menggebu dahsyat seakan itu ombak debu yang berserakan dan menuju ke arah kami.
Lalu itu semakin dekat dan ada suara derekan berisik yang sedikitnya saya kenal. Tunggu, benarkah itu ada di dunia ini?
Tepat setelah pemikiran abstrak saya, itu muncul dari debu ombak dan benda yang saya duga apa yang ada dalam pikiran saya benar-benar muncul.
Suara mesin yang berisik, roda yang berputar tidak seirama dengan jalanan trotoar, moncong hitam logam yang bisa saya prediksi gambarannya, dan dengan corong di atas moncong tersebut mengeluarkan kepulan asap.
Ah... Lokomotif itu...
“Mobil...”
Saya bergumam saat itu juga dengan pahitnya.
Dan di atas tumpangan mobil yang terlihat kuno itu seseorang duduk. Namun wajahnya seperti orang yang gila untuk cepat-cepat ingin sampai kemari dan dia berteriak tidak karuan.
“Minggir! Minggir! Kalian bajingan jangan menghalangi jalan!”
Setelah mobil itu sampai tepat di depan kami pengemudi itu mendadak menginjak remnya dan memarkir secara brutal.
Pengemudi itu melompat keluar dari mobil dan berlari cepat ke arah kami. Tidak, lebih tepatnya di depan July.
“S-salam hormat kepada penjaga dan dewi bagi para Dwarf yang sederhana ini!”
Pengemudi itu berlutut memberi penghormatan pada July. Detik itu juga, akibat suaranya yang besar sampai bergema di seluruh tempat ini, orang-orang yang tadi menjalani aktivitas harian mereka menoleh ke arah sini dengan tidak percaya dan mulai berlarian.
“Eh, tidak mungkin! Putri Dryad!”
“Beliau yang asli muncul!”
“Wah, aku tidak menyangka bisa melihatnya di pagi hari yang indah ini!”
Perasaan bahagia yang tidak bisa dijelaskan. Bentuk penghormatan, kasih sayang, kepatuhan dan rasa taat, yang selama ini mereka dedikasikan sekarang tercurahkan dalam sekejap saat July muncul di depan mereka.
Ngomong-ngomong apa maksudnya July yang asli?
[Terima kasih sambutannya semua, sekarang kembalilah pada kegiatan kalian dan jangan merasa terganggu.]
Ada ******* ‘Wah!’ dimana-mana. Semua orang yang berawal memberi hormat dengan berlutut kembali bangkit dan kembali pada kegiatan mereka lalu keramaian tadi menjadi tenang kembali.
July sendiri nampak tidak bermasalah dengan itu jadi saya juga tidak tahu apakah dia terganggu atau tidak karena ekspresinya hanya tersenyum.
[Bangunlah, Mouris.]
“Baik, putri!”
[Terima kasih untuk sambutannya.]
“T-tidak putri, ini masih belum seberapa. Kami akan menyiapkan jamuan untuk anda sekarang juga.”
[Itu sudah cukup, Mouris. Seperti yang aku kabarkan padamu. Aku membawa mereka yang ingin menemuimu secara langsung.]
“Hm...?”
Mouris berdiri. Pria yang nampaknya cukup dibilang tua namun dia masih memiliki penampilan yang sehat untuk seseorang yang bisa di bilang kakek. Semangat hidupnya masih menyala ketika dia berteriak ketika July muncul.
Dia pria yang menjunjung tinggi kehormatan. Ya, saya tahu. Saya senang ada pria seperti itu. Tapi...
“Geh, manusia...”
“....”
Ekspresinya yang memandang kami saat itu jauh dari kata penghormatan atau lebih tepatnya dimatanya kami hanya sampah yang kebetulan terpungut. Matanya yang menyala bagaikan bara api ketika melihat July, berubah dalam sekejap menjadi tatapan tidak tertarik dengan pandangan hinanya.
Kami semua seketika membeku dengan responnya itu.
[Jangan begitu, Mouris. Sebagai tetua disini tolong beri sambutan hangat pada mereka juga.]
[Tolong.]
Tak bisa membantah ucapan July yang terlihat memohon padanya, Mouris menyerah dengan menghela napas. Kemudian dia menoleh lagi melirik kami dengan tatapan tajam seperti ada suara bilah di matanya.
“Baiklah, putri.”
Apakah tadi itu semacam peringatan untuk tidak macam-macam? Atau kata tidak langsung yang menyuruh kita untuk diam?
Yohan, Heros, dan juga Veronica berbicara menggumam seakan mereka telah kehilangan pita.
“Aku ingin menghajarnya sekali di wajah.”
“Kalau aku ingin memotong tubuhnya kecil-kecil.”
“Tidak, kalian para pria masih muda. Sebaiknya bunuh dulu lalu ambil organ tubuhnya dan gantung di depan gapura ini.”
Tolong jangan sampai rasionalitas saya ikut tercemar akibat ocehan mereka bertiga.
Cepat atau lambat, menduga atau tidak. Saya memutuskan segera dengan menghela napas ringan dan maju selangkah.
“Salam, tuan Mouris. Saya Saint Alvius Raven yang datang dari Kerajaan Suci Harvellion untuk bertemu dengan anda. Saya harap pengertian dan waktunya. Ju— Putri Dryad berbaik hati dengan membawa saya untuk menjadi tamu di kota milik para Dwarf yang besar ini. Dari sini mohon bimbingannya.”
Dengan segenap yang saya miliki saya melontarkan kalimat sesopan dan seramah mungkin. Meskipun itu akan membunuh saya dengan menjual harga diri seperti kehilangan kehormatan. Setidaknya ini sedikit lebih baik karena bagaimanapun kami masih tetap dibilang aman dan tidak diusir begitu Mouris melihat kami.
Dan juga saya hati-hati dalam pengucapan kata, untuk tidak memanggil July dengan sembarangan.
Bagaimanapun July Lilyca adalah wanita yang bagaikan dewi yang dijunjung tinggi oleh para Dwarf sebagai pelindung mereka. Jika saya tidak menunjukkan rasa taat ini, Mouris yang sangat menghormati July akan membalikkan wajahnya dari kami dan rencana saya gagal total.
Untuk sekarang mari tersenyum ramah.
Semua orang di belakang saya yang mengerti sinyal ini berjalan selangkah dan membungkuk seperti yang saya lakukan.
[Mereka anak-anak baik, bukan.]
“...Y-Ya.”
Meskipun Mouris terdengar terpaksa, dia tetap memberi ulasan pada tanggapan July yang santai.
Lihatlah, kami semua berani mengambil resiko untuk menunduk jika ini pada akhirnya memberi kami keuntungan juga.
“Baiklah, kalau begitu mari kita masuk terlebih dahulu.”
Dengan di pandu oleh Mouris yang naik mobil namun dia jalankan dengan sangat pelan untuk menyamai jalan kami dan juga July yang memilih berjalan. Mouris berbicara dengan bangga.
“Kota ini adalah Industri yang kami dirikan sejak ratusan tahun dan dari generasi ke generasi. Satu-satunya tempat yang mencerminkan nama kami sebagai Dwarf murni.”
Karena secara garis besar bangunan di dalam kota tidak hanya rumah beratap tinggi melainkan semakin ke dalam untuk masuk ke kota maka rumah akan terlihat sedikit dan mulai sini adalah bangunan pabrik yang besar.
Memang kota ini pantas disebut sebagai kota Industri dimana tempat di distribusikan item-item buatan Dwarf yang melegenda itu.
“Kota Tenstheon adalah kota biasa pada dasarnya. Kami tidak membentuk sebuah negara atau Kerajaan dan juga tidak berbasis oposisi seperti negara para manusia di luar sana. Bisa dibilang kami Dwarf dengan sistem hukum kami sendiri, hidup dengan bebas.”
Kota Tenstheon tidak memiliki sistem pemerintahan apapun, namun tetap ada hukum yang berjalan disini sesuai aturan yang ditetapkan para pendahulu mereka.
Fondasi disini dilakukan secara turun temurun tanpa menggantinya. Selama itu tidak menjadi tuntutan hidup mereka menjadi buruk, mereka masih mempertahankan hukum fondalisme mereka.
Entah berapa lama kota ini berdiri dan terlihat hanya di atur sebagai, Kota Industri.
Lalu Mouris melanjutkan kembali dengan tatapan ke depan dan fokus mengemudi.
“Kota ini juga tersembunyi di balik lembah yang jauh dari hadapan para ras lain. Itu karena Putri telah melindungi kami semua dan menjaga Kota para Dwarf tetap aman dari ancaman luar.”
Tapi, sampai kapan itu akan bertahan, bukan?