The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 71: KEBODOHAN YANG SELALU DI INGAT



Tidak hanya Yohan atau Heros yang pernah mengalami hal serupa. Veronica yang menjadi bagian dari Prophet sekarang menunjukkan kondisi dimana dia sedang dalam masa penurunan mental.


Pesan-pesan yang datang di depan mata saya adalah suatu hakikat yang tidak pernah dia pahami.


Sekarang Veronica di tahap keterpurukan. Mungkin dia akan jatuh lebih dalam jika dia tidak menanganinya segera.


Perasaan lelah itu mungkin telah menggerogoti pikirannya secara terbatas.


Tetapi, yang bisa saya yakini sekarang adalah bahwa ini tidak akan berangsur lama.


di antara Prophet saya ada July yang tertua dari semuanya. kedua adalah Veronica, pengalamannya akan membangkitkannya. Dia hanya butuh waktu mencerna dan membuka cerita yang akan dia rangkum ulang.


Itu sulit dan saya memahaminya. Namun, itu sangat di perlukan.


Yohan dan Heros yang mengalami kejatuhan mental menangani dengan cara mereka sendiri. Jadi saya percaya Veronica bisa mencapai konsepnya sendiri.


Jika saya ikut campur yang ada penghancuran mental akan semakin naik drastis dan saya tidak mau mengambil resiko dimana rasio depresi Veronica semakin bercabang hingga lebih dalam tidak bisa diperbaiki.


Pada saat itu... Dia sadar, karena Shadow sudah berakhir, bukankah lembaran baru dapat di buka.


Menggunakan prinsip lama tanpa mendaur ulangnya. Revisi seperti itu tidak akan bisa membantunya melainkan semakin menjatuhkan.


Setelah dari lantai atas keadaan di bawah memang sudah membaik. Namun, satu orang masih murung.


Saya akan bersabar menanti dimana dia bisa mencerna kesimpulannya sendiri.


“Veronica kamu istirahat saja. Sir Edgar, antar aku ke depan gerbang.”


“Y-ya!” dia ragu-ragu dengan melihat antara saya dan Veronica. Tapi dia tetap berjalan dengan mengimbuhi ‘Apa perlu saya gendong?’


Dan saya menghiraukannya.


Tepat saat itu saya berbalik.


“Setelah kamu membaik temui aku. Aku memberimu dua hari.”


Ini karena pada hari itu adalah hari dimana kami memutuskan untuk ke negeri para dwarf.


Kemudian saya pergi di dampingi oleh Edgar melalui pintu depan. Sesekali saya melihat tanda reklame di atas dan merengutkan dahi, lalu detik berikutnya menggelengkan kepala.


“Apakah tidak ada nama lain...?”


***


“Al, kamu dari mana?”


Yohan yang datang ketika saya baru turun dari kereta mendekati saya dengan keadaan seperti habis mandi. Ya, mandi keringat tepatnya.


Memandangnya sejenak dan mempelajarinya. Yohan jika habis berlatih maka seperti ini keadaannya.


“Hyung jika selesai latihan kenapa tidak mandi dulu.”


“Hehe maaf aku menunggumu.”


Jawaban itu sama sekali bukan yang menentukan. Yohan mengelus kepala anak anjing dan bisa di lihat respon anak anjing yang tidak ramah kepadanya. Membuat Yohan bergumam dengan tawa bimbang.


“Dia selalu saja begini... Dia hanya menyukai Al. Hmm...”


Yohan melihat ada yang tidak benar dengan anak anjing. Seolah memandang rival yang tidak pernah dia duga akan muncul di depannya dan menantangnya secara eksplisit.


Kemudian saya dan Yohan berjalan bersama ke asrama dan menelusuri koridor, di sepanjang jalan Yohan berbicara.


“Wanita itu memberikanku Kantong, dia bilang itu pesan darimu untuk menyimpannya.”


“Umm, benar.”


“Apakah dia menemui kamu? Bukankah dia baru saja kembali dari dungeon mengapa tidak istirahat.”


“Tidak, aku sudah menyuruhnya istirahat.”


Dengan mengguncangnya.


“Kurasa dia akan kembali dua hari lagi, jadi selama itu dia tidak akan datang kesini. Apakah Hyung meletakkan barangnya di Lab?”


Ada nada suara gembira yang tertahan dari dalam mulut Yohan. Begitu dia menjawab pertanyaan ada suara riang seperti dia mendapatkan kebahagian tertentu.


“Ya, Lab yang sedang kosong. Priest Seria memberikanku kunci Labnya dan bilang untuk mengembalikannya petang nanti di ruang guru.”


Kunci ruangan Lab Yohan lempar ke atas dengan ringan lalu menangkapnya lagi. Dia seperti bangga karena telah melakukan pekerjaan yang baik.


“Ya, terima kasih Hyung.”


Tentunya saya harus berterima kasih untuk kerja kerasnya dan tersenyum.


“Lalu kenapa Hyung menungguku diluar?”


Setelah latihan yang intens kebanyakan orang akan pergi untuk rehat. Dan di area lapangan latihan Paladin anda hanya disuguhkan oleh mereka yang sedang mengasah kemampuannya dengan cara yang luar biasa.


Tentunya sebagai seorang Paladin itu tugas yang keras.


Tidak mudah untuk melatih antara mengeluarkan aura dan mencocokan energi magis ke dalam seni berpedang. Itu menguras banyak tenaga.


Bahkan orang yang berpengalaman sekalipun — sebagai contohnya adalah Paladin Roy dan Theo yang lebih berpengalaman juga bisa merasa lelah jika mereka merasa energinya terkuras.


Jadi kesimpulannya kebanyakan dari mereka selesai latihan akan menjernihkan pikiran dengan makan, istirahat, dan mencoba menemukan ide-ide baru.


Sebelum bisa menjawab dengan benar Yohan menggaruk dengan jari di pipinya.


“Itu, tentang kita akan berangkat dua hari lagi.”


Maka tentu dua hari itu akan menjadi hal yang di tunggu. Bukan karena kita bersemangat. Tapi, kita semua mempersiapkan semua itu dengan benar-benar harus sebaik mungkin agar tidak merasa tertinggal.


Dan ini jawaban saya.


“Hyung... Sebaiknya Hyung mandi dulu.”


“Eh?? Apa aku bau keringat?”


- Woof!


Potato tentu merespon negatif.


“Tidak, hanya saja itu mengganggu karena Hyung terlihat berantakan. Jadi berikan kuncinya.”


Tangan kanan Yohan bergerak pelan untuk menjulurkan kuncinya. Ada ekspresi sedih di matanya.


Saya mengabaikannya dan mendorong punggungnya untuk segera pergi.


“Cepatlah dan kembalilah ke Lab.”


Lambaian tangan Yohan sedikit rendah karena dia sedang terlihat sedih. Saya mendengus dan tersenyum kecut.


“Dasar Hyung...”


Kemudian tak lama setelah Yohan sudah tidak menampakkan punggungya lagi, ada suara langkah kaki ketika saya ada di depan Lab untuk membuka ruangan.


“Wah, lihatlah siapa yang kita punya disini.”


Hanya dari nada suara yang sombong dan penuh kearoganan saya bisa mengerti bahwa yang berbicara tak layak untuk di dengar. Namun saya memutar pupil saya ke samping untuk melihatnya.


“Bukankah ini Saint kita?”


Tentu saja itu saya, apakah dia buta?


Ada seringai angkuh di bibirnya dan alis tebalnya yang terangkat membuat saya sedikit berkedut.


Saya rasa ini akan sedikit memakan waktu.


“Apakah kalian selesai berlatih?”


Itu hanya formalitas ringan yang bisa saya katakan sejauh ini untuk membuka prolognya.


“Ya. Kami berlatih sangat keras. Tidak seperti seseorang yang hanya berkeliaran kesana-sini dengan tujuan tidak jelas. Ah, tentu itu niat baik. Seperti melakukan pekerjaan amal...”


“Kekeke, apa-apaan itu?!”


“Sudah kuduga rakyat biasa memang sepantasnya bergaul dengan rakyat yang jatuh.”


Tiga orang ini benar-benar tertawa dengan riang dan gembira seperti mereka meneguk wine manis di bibir mereka tanpa menuangnya di dalam cangkir terlebih dahulu.


Sebagai referensi kalian. Mereka adalah anak-anak yang dulu mengganggu saya sebelum waktu ujian.


Benar, mereka bertiga selalu bersama dan mengekor seperti sebuah perkumpulan anak-anak pembully tertentu. Dan pemimpin mereka...


“Penerus keluarga besar Marquess Jade, Jordan. Apakah kamu perlu sesuatu dariku?”


Menanggapi anak-anak seperti mereka bukanlah hobi saya. Ya, ini adalah pengalaman bagi mereka yang senang merundung. Namun setiap kali kami bertemu maka dia akan selalu mengeluarkan bibir pahitnya. Seperti ada racun di lidahnya.


“Tidak. Kami mendengar rumor. Bahwa dua hari lagi Saint akan melakukan ekspedisi tertentu ke negeri gelap.”


“Ya, itu benar. Seperti yang kuduga rumor itu berjalan sangat cepat seperti wabah.”


Ada raut tidak senang ketika Jordan menerima kritis saya.


Jordan dan kelompoknya di awal mengikuti ujian tertulis mereka tidak diterima untuk afiliasi kecocokan sebagai Priest. Jadi mereka bertiga jatuh ke dalam kelompok menjadi Paladin.


Mungkin mereka kesal karena rakyat rendah seperti saya dapat terpilih dan mendapatkan gelar kedudukan yang tinggi. Tapi itu masih belum cukup untuk mereka menjadi tidak senang bahkan akhir-akhir ini mereka merundung anak dari kelas Paladin untuk jatuh dan melakukan kekerasan untuk melampiaskan kekesalannya.


Bagi bangsawan mereka bisa menjadi Knight Kerajaan. Tapi, di kasus Jordan yang hendak menjadi Priest, malah jatuh menjadi Paladin.


Kehormatannya sebagai penerus di pertanyakan.


Dia tidak bisa keluar dari Gereja. Jika dia melalukannya maka publik akan mengecam keluarganya sebagai sosok tidak tahu malu.


Saya rasa ini juga adalah skema dari kepala keluarganya agar dia bisa menjadi Priest. Dia dikirim di sini untuk menjadi batu loncatan untuk menghancurkan Gereja.


Tapi apa... Saya tersenyum kecut.


Rencana mereka gagal bahkan sebelum di mulai.


“Aku tidak tahu jika yang terbuang bisa mengatakan pekerjaan yang aku lakukan buruk.”


Kepala keluarga Jordan tidak punya pilihan selain membiarkannya disini sampai lulus. Pada dasarnya dia di abaikan keluarganya sendiri.


Jordan menggertakkan gigi dan tubuhnya gemetar. Pakaian latihannya memang dari bahan mahal tapi jika dia menjadi Paladin itu tidak berguna karena akan kotor juga pada akhirnya.


“Bajingan ini!”


Ketika Jordan akan menarik pedangnya rekannya menghentikan tangannya.


“Cih. Ya, lupakan itu. Aku dengar di ekspedisi kali ini akan terdengar sulit. Apakah kau yakin tidak akan mati disana?”


“Mati atau tidak itu bukan sesuatu yang aku putuskan.”


Ekspedisi itu benar. Tapi tujuannya salah. Rumor itu sengaja di sebarkan untuk membiarkan Saint keluar melakukan tugasnya tentu dalih itu sudah di persiapkan matang oleh petinggi tempat ini.


Padahal tujuan kami akan pergi ke negeri dwarf.


“Bahkan para Paladin tidak di kerahkan dan tidak ada bantuan dari istana. Kau sendirian bersama rekan kecilmu. Bukankah kau terlalu sombong?”


“Keputusan itu sudah bulat. Seperti yang kamu dengar itu adalah tugas Saint bukan berarti kami akan pergi berperang.”


Tatapan Jordan jatuh ke bawah dengan tidak tertarik dan sudut bibirnya semakin tertarik ke samping membentuk seringai gila.


“Tidak berarti disana tidak ada monster.”


Dia tidak lupa bahwa saya terkena tragedi di insiden dungeon dan sengaja mengatakan itu.


Kemudian dia mengangkat bahunya dan pergi berjalan lebih lanjut melewati saya. Dia menepuk pundak saya.


“Ya, aku harap ada hal yang menarik ketika kau kembali. Seperti kematianmu. Kekekeh.”


Meninggalkan itu dengan lambaian tangan. Saya menjadi datar dan mengikuti emosi saya yang telah memudar saya membersihkan bagian yang dia sentuh tadi.


Bagaimanapun saya menahan diri dengan baik untuk tidak semakin memancingnya. Setelah itu saya membuka pintu ruangan dan masuk ke dalam Lab.


‘Ya, yang dikatakan Jordan tidak sepenuhnya salah. Kemungkinan bahayanya ada jadi aku selalu waspada dan memikirkannya setiap saat ada kesempatan.’


Tapi saya lupa untuk memberi dia sedikit peringatan atas apa yang telah dia katakan pada saya.


Sesuatu yang benar-benar penting untuknya agar mengerti dimana posisinya untuk nanti.


“Yah, itu bukan urusanku. Lagi pula itu akan berakhir ketika aku kembali dari perjalananku.”


- Woof!


Potato kecil bahkan seolah mengetahuinya, semua kebenaran dari mata bulatnya yang menggemaskan. Saya menepuk dan mengusap kepala lembutnya.


“Ya. Walaupun ada tragedi dimana aku akan pergi nanti. Disini juga akan ada tragedi lain yang tidak terduga.”


Pada saat itu peringatan Jordan akan selalu ada di benak saya. Sebagai ringkasan kecil rumus yang perlu untuk di ingat.


“Karena itulah dunia ini dikatakan akan kiamat.”


Selalu dan selalu konflik dan sebuah fenomena peristiwa tidak akan pernah berakhir.