
Dua energi yang teramat kuat saling bertabrakan. Veronica dengan pedang yang dia gunakan sebelumnya di tahan hanya dengan tinju Astaroth yang hitam. Menyebabkan guntur badai hingga langit-langit seakan segera di runtuhkan.
Status Veronica sekarang berbeda dengan sebelumnya. Dengan dirinya yang bertransformasi sebagai Archangel, dia sekarang memiliki kekuatan yang sama besarnya seperti yang saya miliki. Kekuatan sihir meluap di dalam dirinya hingga menyebabkan gelombang fluktuasi yang tinggi.
Gesekan bilah pedang yang di sirami sihir suci menghasilkan percikan ganas ketika setiap tebasannya di ayunkan.
Meskipun di landa oleh sebuah kemurkaan dan keinginan kuat balas dendam, rasionalitasnya tidak berubah. Demi mencapai itu dia terus mengayunkan senjatanya semakin cepat hingga Astaroth sendiri tidak bisa mengikuti kecepatannya dan terpojok.
Darah hitam mengalir dari sekujur tubuh Astaroth. Yah, meskipun dia memiliki tingkat regenerasi tinggi, namun dia tidak bisa melakukan apapun untuk bisa menjaga jarak dari Veronica.
Veronica mengikuti Astaroth kemanapun dia melompat untuk berusaha menjauhinya. Kecepatan dari Skill [Reverse Speed] sama sekali berbeda dari sebelumnya, itu lebih cepat bahkan dari cahaya.
Slash!
Pedang biasa milik Veronica menebas lengan kanan Astaroth dan jatuh ke tanah dengan bunyi yang lumayan keras, jadi itu berakhir disana? Tidak, daging yang jatuh maka akan jatuh, sementara lukanya akan mendidih dan kembali utuh.
Tampaknya kali ini Astaroth tidak merasakan rasa sakit sama sekali dan mengabaikannya. Pedang darah merah menebas udara secara kasar berkali-kali, dan meraung penuh murka.
[Graa! Matimatimati!]
Veronica tidak bergeming sedikitpun dan menghindari setiap serangan dengan baik. Mencapai tingkat ini, butuh pengalaman yang maksimal jika tidak dia akan di telan kekuatannya sendiri. Namun, saya mungkin berpikir berlebihan, sebab dia tampak baik-baik saja dalam pergerakannya.
[Gaze of Wisdom] masih tidak saya padamkan dan terus mengikuti arah pertarungan mereka.
Saya minta maaf karena hanya ini yang bisa saya lakukan, selain tidak memiliki kekuatan lagi untuk banyak bergerak, hanya Veronica yang masih bisa aktif di pertempuran jarak dekat.
Saya mengakuinya, pertarungan jarak dekat adalah bencana buruk bagi saya ketika Astaroth telah masuk dalam mode tipe bertarung seperti itu.
Lalu di depan pemandangan saya adalah wanita yang sedang berjuang membalas dendam kematian rekannya.
Ku-guguguh!!
Berapa kali pun Veronica menebas dia akan mencapainya di tempat yang di tuju oleh insting yang berbicara.
“Pemimpin, meskipun pilihanmu salah, aku akan tetap mengikutimu. Jadi, jangan salahkan dirimu sendiri.”„
Kesimpulan yang dia dapat, serta Variabel yang tidak bisa di prediksi menjadi hadiah yang mencekam.
Percikan pedang semakin ganas, retakan dalam bilah mulai terlihat dan terjadi, ketika dua pedang yang saling menolak bertabrakan dan bengkok.
“Edgar...”
Meskipun pada akhir hayat kehidupannya pria itu tetap tersenyum dalam pengorbanannya.
Kematian yang tidak ada satupun yang tersisa, dia tidak pernah membayangkan itu sebelumnya. Baik tubuh, maupun wasiat yang tersisa tidak lagi ada.
“Kapten, terima kasih karena dulu menyelamatkanku.”„
Di selamatkan dari tindakan menjijikan para bangsawan, hanya membuat Veronica melihat kemalangannya sendiri di masa lalu. Dan kemudian itu menjadikan dirinya yang sekarang.
Seorang gadis yang dulunya pernah banyak mengalami siksaan hingga mencapai titik dimana takdir merubahnya menjadi seorang pembunuh, dan membunuh bangsawan yang merantai lehernya dengan kejam.
“Tetia...”
Satu demi satu dan perlahan-lahan pasukan Shadow penguasa [Underground] terbentuk setelah dia memungut dan menyelamatkan mereka yang kesulitan dalam hidupnya. Dalam penderitaan akibat di tindas.
Itu tidak sulit untuk terjadi, mengingat dunia seperti apa ini.
“Mimpi? Hm... Mimpiku adalah menikahi wanita yang seksi dan bisa memasak!”„
Dalam perjalanan yang penuh lika-liku kehidupan, para Shadow yang dia bentuk tidak lain adalah keluarganya, juga mimpinya.
Meskipun identitasnya tersembunyi di waktu itu, dia tidak pernah sekalipun tidak mendengarkan curhatan isi hati para bawahannya.
Hingga akar mimpi-mimpi mereka yang ingin di wujudkan. Bahkan jika itu hal konyol sekalipun.
“Carl... Semuanya.”
Goresan-goresan kecil akibat tabrakan dua pedang berdampak di kulit Veronica yang pucat.
Dia tidak peduli dengan luka yang di terimanya secara sukarela, dia memang berniat melakukannya.
“Luka seperti ini tidak akan bisa membunuhku.”
Keheningan yang sekejap mematahkan sayap Astaroth. Tanpa disadari Veronica sudah melaju dengan kecepatan dan menebas kedua sayapnya yang tertekuk itu. Dia menghentakkan pedangnya ke bawah dan cipratan darah dari bilahnya menghilang.
“Masih belum.”
Astaroth berbalik dan menghancurkan lantai dengan teriakan.
[Raaa!!]
Ledakan ranjau hanya menyerang tempat yang kosong. Tidak ada jejak orang berdiri di situ.
Slash!
Kedua sayap yang belum sempurna di regenerasi berhasil putus kembali. Astaroth mengerang kesakitan dengan ekspresi marah. Sementara ekspresi Veronica tenang dan kosong.
“Para bawahanku memang adalah orang-orang yang tidak tahu sopan santun. Tapi, mereka memiliki mimpi yang tinggi. Sebagai ketua mereka aku menghormati pilihan mereka. Karena itu, kematianmu sekarang tidak hanya mimpi bagiku, melainkan semua bawahanku yang kau lenyapkan.”
Seakan berbicara dengan benteng yang bergerak, Veronica tetap bertahan dengan baik.
Saya yang mengamati sedikit jauh memastikan arah pertarungan ini berjalan sesuai rencana. Retina saya melihat jauh di dalam tubuh Astaroth yang susunan tubuhnya benar-benar memanas akibat berkumpulnya sihir secara abnormal ke dalam aliran tubuhnya.
Saya sedikit merengut. Walaupun dikatakan dia adalah bangsa Iblis tetap saja struktur tubuh itu... Menjijikan.
Dari dalam bagian organnya berdetak seperti setiap organnya adalah makhluk hidup. Dari semua yang saya cari adalah Jantungnya!
Ketika saya mendapatkannya dengan segera saya berteriak dengan tegas.
“Jantungnya ada di perut sebelah kiri di dekat lambungnya.”
Arah lengkungan bilah pedang langsung tertekuk meskipun tangannya harus terpelintir akibat penolakan serangan pedang besar Astaroth. Pedang Veronica menebas perut bagian kiri yang tebal dengan daging busuk.
Kemudian itu setiap kali bilah pedangnya menggali ke dalam daging tebalnya yang memuntahkan darah hitam, Veronica tampak kesulitan menembus ke dalam yang dia bisa untuk mencapai titik dari koordinat yang diberikan.
Saya terkejut dan buru-buru berteriak.
“Itu gagal! Menjauh darinya terlebih dahulu.”
Arah perpindahan yang tidak terduga. Sedalam apapun saya berusaha untuk berenang ke dalam tubuh Astaroth saya tidak terbiasa jika melihat jantungnya yang asli bergerak dengan sendirinya seperti itu hidup.
“Sekarang itu bergerak lagi...” ucap saya dengan nada suara bingung.
Veronica telah menjaga jarak yang dia bisa. Tapi kegilaan Astaroth tidak bisa di redam lebih lama lagi. Veronica tidak akan memiliki banyak waktu.
Mengaktifkan lebih lama [Gaze of Wisdom] membuat mata saya mulai memerah dan seakan bisa keluar dari rongganya. Pupil saya bergerak mengikuti Astaroth dan juga mengikuti gerakan aneh dari jantungnya, itu terus berpindah.
Tidak perlu terburu-buru, namun, kesempatan kami tidak berpihak baik bagi kami jadi saya terus memberi Veronica arahan yang tepat tanpa bisa berkedip.
“Di dekat kerongkongannya di belakang tengkuk lehernya!”
Tepat saat itu Astaroth kehilangan kepalanya. Tapi itu masih belum berita baik. Jantungnya kembali tenggelam ke dalam tubuh tengahnya. Lalu kepalanya kembali lagi.
“Di paha kanannya di atas lututnya!”
Kaki kanan hilang. Kehilangan keseimbangan adalah hal bagus membuat musuh lepas kendali atas tubuhnya. Tepat setelah itu Astaroth melompat keluar dengan kaki yang tersisa dan menyembuhkan kaki yang hilang. Kami masih gagal.
Di pendaratannya, Veronica sudah menunggu di belakangnya dengan pedang yang akan menusuknya seperti jarum.
Saat itulah arahan benar-benar sesuai dengan rencana yang saya terapkan.
“Di sebelah paru-parunya!”
Sesuatu yang bersembunyi di dalam diri Veronica, meraung, di dalam bilahnya. Energi suci menyelimuti lapisan bilah pedangnya sangat kental.
Perpindahan arah letak jantung, memancing dimana dia akan memindahkan jantung, dimana dia melompat, semua prediksi itu sudah saya pastikan tingkat keberhasilannya, karena Veronica yang maju.
Astaroth tidak memilih waktu untuk bisa membuka sayapnya apalagi mendaratkan kakinya di lantai, sebab Veronica sudah ada di situ menunggu momen besar ini.
Tsu-sususut!!
Pedang perak berkilau memekik dengan kasar, gelombang ombak menyapu, dengan kekuatan lengannya pedang itu berhasil menusuk dari punggung Astaroth seperti sebuah tombak yang di hujamkan padanya, menembus pada paru-paru tengahnya.
Tubuh Astaroth akhirnya berlubang.
Ketika kami yakin pada kesimpulan ini, variabel lain tidak terduga muncul. Dan saya yang menyadarinya dengan jelas segera berteriak pada Veronica yang hampir mencapai titik kepuasaan.
“Jantungnya keluar dari tubuhnya! Veronica!”
Veronica tersentak sedikit. Tapi dia tidak terkejut pada perubahan itu dia yakin akan itu dan memang sengaja menyimpan untuk saat terakhir.
Senjata milik Gabriel.
[Artefak Suci Kuno ‘Annihilation Sword Purification’ telah di aktifkan!]
Gumpalan daging sebesar kepalan tangan manusia dewasa keluar dari tubuh Astaroth dan menggeliat di udara, menciptakan resonansi kembali untuk regenerasi tingkat tinggi.
Angin di sekitar berubah, sebuah bulu putih jatuh di atas gumpalan daging itu, Veronica yang mengepakan sayapnya telah memasang posisi kedua tangan ke atas yang menggenggam pedang suci kuno.
Gumpalan daging menggeliat mulai bergelembung seperti asam dalam lumpur.
Tsa-sasasa!!
Aura status dari seorang malaikat naik dengan kuat. Itu benar-benar kekuatan dari seorang malaikat yang pernah mengalahkan kejahatan absolut.
“Mati.”
Slash! Yang lembut.
Senjata [Anihillation Sword Purification] di ayunkan sampai titik paling bawah, menciptakan garis lurus yang sempurna, dan dalam keheningan dari pendaratannya yang mengalir indah, cahaya mulai memancar dari garis lurus itu dan meledak hingga ke langit luas.
Cahaya suci memusnahkan gumpalan daging dari jantung Astaroth, sampai menjadi partikel terkecil di alam semesta.
[‘Transformasi Archangel’ telah selesai.]
Sayap menghilang dari punggung Veronica, pedang Gabriel juga hilang dan tanda kekudusan kembali pada saya.
Langit-langit bergemuruh bertanda sebuah akhir.
[Artefak Suci Kuno ‘Authority of Constellation’ telah di matikan.]
Artefak milik Samael juga di padamkan. Angkasa lepas yang memperlihatkan milyaran bintang yang indah sudah perlahan-lahan tertutup dan kembali menjadi dinding aula yang hancur.
Saya menggelengkan kepala saya seolah ini adalah mimpi karena kemenangan tidak terduga dan secepatnya sadar dan melihat Veronica telah bersimpuh di tanah dengan tatapan kosong serta merenung.
Kaki-kaki saya gemetar tidak karuan dan migrain kuat menyerang kepala saya, ini adalah [After Effect] akibat penggunaan kekuatan sihir berlebihan, tapi saya bertahan, sangat berusaha.
Pelan-pelan saya berjalan ke arah Veronica, dan juga di telapak tangan kanan saya kerlipan cahaya berkumpul dan saya membuat sekuntum bunga dari cahaya keemasan, lalu bicara saat berjongkok di dekatnya.
“Yang bisa aku lakukan hanyalah ini.” saya meletakkan sekuntum bunga di lantai di hadapannya. “Nyawa semua orang pada akhirnya akan kembali ke dalam cahaya dan menemukan tempat baru. Termasuk kamu dan aku. Aku ingin mengatakan terima kasih kepada pria itu karena menyelamatkanku, dan hanya ini yang bisa aku berikan padanya sekarang.”
Saya berdiri lagi dan berbalik, di sisa-sisa pertempuran ada kursi takhta milik Astaroth telah menjadi puing-puing dan di dekat itu ada sebuah kain, saya mengambilnya dari debu.
[Reflector Coat (Relic)]
Mantel hitam yang sebelumnya di gunakan Astaroth hanya sebagai aksesoris di dekat takhtanya saja.
Lalu pemikiran pahit muncul di kepala saya. Seandainya Astaroth mengenakan ini apakah kami bisa menang? Bahkan dengan semua fungsi dari item ini saya ragu kami akan menang. Keberuntungan memang terkadang adalah berkah. Saya mengangguk ringan dan bersyukur lega.
Sepertinya item ini adalah hadiah penyelesaian Dungeon ini. Saya diam-diam melihat mantel yang saya pegang lalu melirik Veronica.
“Kita akan kembali.” saya memasangkan mantel hitam pada Veronica. “Meskipun mereka tidak ada di dekat kita, kenangan mereka akan selalu berada di benak kita. Karena itu, menangis juga bukanlah sebuah kesalahan sekarang.”
Veronica mendongak menatap saya, ekspresi kosong itu, berubah tertekuk menjadi raut wajah hancur penuh kesedihan dan air mata tangisan dari seorang wanita yang ditinggalkan rekan-rekannya yang lebih dari keluarga baginya.
“Uwaaah! Sial! Sial!”
Dia memeluk dirinya sendiri dengan bunga cahaya yang dia genggam kemudian itu berubah menjadi butiran cahaya yang melebur bersama di langit-langit.