
“Haiss... Apa kamu gila bajingan kecil?!”
Sudah berapa lama dia terus mengeluhkan itu seperti dia sedang membuat lagu dasar yang suram.
Setelah selesai memberi berkah pada July Lilyca si Dryad itu. Dia membawa bahan yang dia perlukan untuk dia bawa sebagai contoh marketing yang akan ditunjukkan pada target kami.
Tapi sepertinya itu membuat yang lain kurang puas.
Bukankah kita disini diuntungkan juga. Sekarang hanya tinggal menunggu kabar dari July dan itu akan masuk tahap berikutnya.
Yohan bertanya “Lalu jika benar para dwarf itu setuju, apa yang akan selanjutnya terjadi?”
Tidak seperti Veronica yang sedang berapi-api kesal. Hanya Yohan yang bisa ada di sisi saya. Ya, dia menjanjikan untuk dipercaya. Dan Heros datang di sisinya juga bertanya.
“Apakah kamu memikirkan selanjutnya Alvius?”
“Ya, untuk itu bukan aku yang memutuskan. Untuk sekarang mari kita pergi dengan ini dahulu. Jika itu sukses maka kita perlu memberi langkah dan sentuhan yang diperlukan. Jangan buru-buru, aku juga tidak ingin ini mengalami kegagalan.”
Kapan lagi bisa mendapatkan keuntungan. Inilah mengapa kita harus bisa berpikir panjang ke depan.
Seketika saya ingin meminta maaf pada diri saya di masa lalu.
Betapa pahitnya kehidupanku sebelumnya.
Ya, itu adalah itu. Tidak ada gunanya memikirkan masa lalu.
‘Berpikir untuk itu apakah ini akan berjalan lancar. Aku sedikit cemas dengan Claude.’
Dia akan mendapatkan banyak pekerjaan setelah ini karena saya akan menggunakan namanya. Karena ini kontrak di antara kami jadi ada baiknya jika saya memberi keuntungan padanya, yah ini juga demi dirinya.
Saya harap respon yang keluar dari para dwarf akan baik dan berjalan lancar.
***
Sesudah setelah itu, malam yang gelap kehilangan cahaya rembulan di balik awan hitam.
Malam itu, saya entah bagaimana berada di taman halaman asrama dan sedang berdiri dengan memakai piyama putih.
Ingatan saya masih segar bahwa jelas saya tadi sedang tertidur.
Guguguguh!
Pada detik itu juga percikan bunga bintang dengan ganas membentuk pusaran dan meledak-ledak. Mewujudkan siluet cahaya di mulai dengan sayapnya dan hingga sosok itu menatap saya sangat dalam.
[‘Humility Leader’ — ‘Blossom of Sky Holder’ Samael. Sedang melihat anda!]
***
Di tempat latihan dimana para murid Paladin bertanding dan mengadu pedang untuk mengasah kemampuan mereka. Heros dan Yohan adalah partisipan yang menjadi partner sekarang.
Dentuman pedang mereka bertabrakan dan menghasilkan ledakan samar bunga api pada gesekkan pedang mereka.
Dimana mereka sedang berlatih. Alvius melihat dari kejauhan.
Alvius tidak bisa mengganggu waktu latihan mereka karena di awasi mentor dan senior Paladin mereka. Jadi dia berdiri disisi agak jauh.
Memandang ke arah mereka dan mengikuti pergerakan mereka. Alvius tidak bereaksi terlalu ketara atau dengan antusias yang begitu panas. Dia hanya memandang lurus pada mereka.
Seperti ingatan yang samar-samar membuat pikiran menjadi kosong.
Menyadari jika Yohan dan Heros melambaikan tangan ke arahnya. Alvius tersenyum dan membalas lambaian mereka. Hanya dengan sekecil reaksi ini, Yohan serta Heros sangat senang, terutama Heros yang menjadi ceria dan semangat lagi.
Hanya dengan itu saja mereka bisa begitu bahagia, bagaimana jika dia bisa memberikan sesuatu yang lebih baik lagi.
Lambaiannya turun begitu juga dengan pandangannya. Dia mulai terlihat kosong kembali. Lalu perlahan dia melihat pada kedua tangannya, menggenggam erat kemudian dia lepaskan kembali.
Dia teringat kembali pada malam kemarin, dimana seseorang berbicara padanya. Mengingat bahwa dia telah ditakdirkan untuk ini.
[Akhirnya kita bertemu. Aku tahu bahwa Gabriel bangun terlebih dulu. Aku ucapkan terima kasih untuk sisi kami.]
Sesuatu itu ternyata adalah keberadaan mirip dengan Gabriel beberapa waktu lalu.
Jadi dia malaikat agung...
Alvius hanya bisa bergumam kecil tentang itu.
“Apakah kamu Samael?”
[Ya, itu benar.]
Samael menjawab dengan suara tegas anehnya itu lembut.
Apakah sosok malaikat agung sifatnya memang berbeda-beda? Waktu Gabriel muncul dia terlihat seperti tipe periang dan bersemangat. Sekarang Samael seperti pria paruh baya dengan tipe yang cocok sebagai manajer kantor yang memakai kacamata tegas.
Itu hanya perumpamaan, tapi hanya dengan penggambaran itu dia cocok.
“Apakah ini aku atau kamu yang lakukan? Aku tidak ingat punya gejala sering berjalan di malam hari.”
[Ya, itu aku. Aku ingin bertemu denganmu dan berbicara hanya berdua saja.] Samael tidak mengelak bahkan atau untuk menutupi kesalahan. [Seperti yang kamu lihat, aku sama seperti Gabriel, hanya berbentuk spiritual dan bersifat sementara, segera aku akan masuk ke dalam tubuhmu lagi dan menjadi bagianmu.]
Itu tidak terelakan, bahkan Gabriel juga begitu. Dia hanya mengucapkan sapaan lalu masuk begitu saja. Berbeda dengan Samael, dia terlihat akan ada begitu banyak yang ingin dia katakan.
“Apakah ini ada kaitannya aku memberi berkah pada July?”
[Ya, dia bagian dari wakil milikku karena itu aku bisa bangun.]
“Kenapa bisa? July tidak memiliki pengikut, bukan?”
[Tidak, itu tidak benar.] Samael menggelengkan kepalanya lalu melanjutkan [Para dwarf adalah pengikut setianya. Bagi dwarf, July Lilyca adalah dewi mereka yang menjaga mereka. Karena kepercayaan mereka tumbuh sangat kuat.]
Bahkan itu tanpa persetujuan dwarf? Tidak seperti kasus Veronica. July dengan sederhana bisa membuat menyelesaikan bagian persentase yang kurang dan melengkapinya dalam sekejap.
‘Karena itulah aku bisa membuat Samael bangun dan beberapa bagian diriku terasa segar.’
[Tapi, wahai Saint. Kamu seharusnya tahu. Tanda yang diberikan Gabriel padamu adalah sebuah tanda yang tidak bersifat abstrak. Itu adalah bagian dari sistem mutlak kami.]
“Ya aku sudah mengetahuinya.”
[Jika kamu tahu... Kenapa kamu melakukannya?]
Prinsip yang diinginkan seakan menyegelnya untuk berbicara. Tidak ada ketentuan yang bisa membuatnya menjawab, bahwa ini akan baik-baik saja.
Samael menjelaskan jika terus seperti ini maka akan timbul gejala yang serius. Tapi, Alvius menentangnya. Dia sudah tahu apa yang akan terjadi bahkan untuk waktu di masa depan nantinya.
Mungkin itulah alasan Gabriel hanya muncul sejenak dan tidak mengatakan apapun. Sebab mungkin, Gabriel lebih mengerti Alvius saat dia bangun.
Samael mengangkat mulut dengan ******* ringan.
[Untuk sekarang mari perhatikan langkahnya saja. Aku senang karena setelah Gabriel, aku yang muncul. Jika ‘Strict Order’ yang muncul dia akan menceramahi kamu.]
Ada senyum tipis di bibir melengkung milik Samael. Kemudian dia mendekatkan dirinya pada Alvius dan menepuk kepalanya dengan belaian lembut.
[Kamu masih jauh dari kata sempurna. Sampai kamu bisa membangkitkan kami semua, ketika itulah kamu akan tahu, beratnya takdir kamu.]
“....”
Kata-kata dari Samael mengandung banyak arti. Alvius hanya diam tanpa merespon lagi, reaksinya hanya tanpa ekspresi menatap ke bawah seperti dia telah tenggelam.
Setelah itu, Samael berubah bercahaya dan masuk ke dalam tubuhnya lagi.
Artefak baru telah di dapatkan saat dia bangun.
Tidak terlalu berbeda dengan milik Gabriel.
Milik Samael, adalah tanda berbentuk bintang kecil tepat di telapak tangan kirinya.
Alvius melihat telapak tangan kirinya, tanda ini akhirnya menjadi bagian dari tubuhnya seperti tanda lahir. Tidak sulit untuk mengartikan bagaimana kekuatan ini nanti bekerja. Hanya saja dia paham, semakin lama tubuhnya terasa berat.
Itu karena tanggung jawabnya semakin membebaninya.
Dengan gumaman kecil dia berkata.
“Ini panas.”
Kemudian menggenggam erat tangannya.
Detik itu juga bulan dan bintang di langit menampakkan dirinya. Alvius mengangkat telapak tangan kirinya untuk menghalangi sinar bulan menerpanya.
Bintang-bintang yang memenuhi langit pada malam hari itu, berkedip padanya seolah, ‘Halo’ mereka menyapanya.