
Satu hal yang bisa saya perkirakan ketika assassin itu dikirim untuk membunuh saya. Ada banyak kecurigaan sehingga hanya memungkinkan apa yang telah saya pikirkan menjadi dalangnya.
Sepertinya para bangsawan yang tidak menyukai saya mulai bergerak.
Jika fraksi bangsawan membentuk sebuah persatuan maka itu akan sedikit rumit. Mengumpulkan kekuatan sebagai sesama royal tidaklah sulit jika mereka mau. Karena prinsip bangsawan tidak suka berbelit, meskipun harus mengambil jalur melawan hukum.
Mereka bisa menyembunyikan kejahatan mereka dengan kekayaan atau koneksi kehormatan mereka. Dan juga saya dengan bahwa hukum di dunia ini terlalu fleksibel bahkan terkadang sidang hakim kebenaran, akan pindah pihak ketika mereka mendapatkan uang.
Itulah bangsawan. Memikirkannya membuat saya mendecikkan lidah. Tidak kusangka di dunia yang busuk ini tinggalah makhluk busuk pula.
Assassin harus segera saya atasi, saya yakin cepat atau lambat dia akan kembali lagi.
“... int—!”
Bagaimana caraku bisa menjebak assassin itu? Dia terlihat sangat tangguh dan keras kepala.
Tapi, melihat Yohan frontal bertarung melawannya, assassin tidak bisa berkutik sama sekali.
Mengapa tidak, jika seluruh Skill miliknya telah di pecahkan oleh Yohan.
“Saint Alvius!”
Kemudian suara itu membangunkan kesadaran saya. Ah, sudah berapa lama saya melamun dalam pikiran saya sendiri.
Hingga saya tidak sadar jika saya seharusnya ada rapat dengan Direktur Sarion di ruangannya.
“Saint apa yang kamu pikirkan dengan serius sehingga tidak mendengar saya memanggil berkali-kali.”
“Maaf Direktur sepertinya saya sedikit kelelahan.”
Tidak ada cara. Saya memang belakangan ini terlalu bekerja keras sebagai Saint dan pelajar. Jika dikatakan lelah, memang sangat melelahkan.
Direktur menghela napas di depan saya. Orang ini sama sekali tidak menyembunyikan kegelisahannya setiap bertemu saya.
“Itu akan sedikit bermasalah jika kamu jatuh sakit nanti.”
“... Kenapa?”
“Apa kamu tidak mendengarkan saya dari tadi?”
Saya tidak punya ide untuk itu. Alih-alih menjawab, saya mengalihkan perhatian saya ke arah lain sambil berpura-pura berpikir.
“Ha... Sudah saya duga.” Direktur menekan sudut tengah alisnya yang berkerut. “Saya berbicara tentang acara besok.”
“Mhm, saya mendengar.”
“Besok adalah hari dimana Upacara Pencerahan. Sebagai Saint tugas utama kamu adalah memberi berkah kepada semua orang yang datang.”
“Eh? Satu per satu?”
Direktur menggeleng ringan. “Tidak harus, gunakan Skill area skala besar saja sudah cukup.”
Begitu. Saya memang memiliki monitor untuk menggunakan Skill jarak area luas. Namun hanya berlaku beberapa radius sebagai saya pusatnya.
“Apakah para bangsawan juga datang?”
“Ya.” jawab Direktur spontan dengan meminum tehnya. “Keluarga kerajaan juga akan hadir kali ini.”
“Ya... Apa?”
Direktur sedikit menurunkan alisnya dan jawaban yang dia berikan, menjadi ejaan kata-kata.
“Ke,lu,arga, Ke,ra,jaan. Akan datang.”
Saya bangkit dari sofa saya dengan raut gelisah dan kehilangan ketenangan, tidak seperti biasanya.
“Kenapa?!”
Malahan jawaban Direktur yang menjadi tenang seperti kebalikan dari saya. “Ya, karena besok hari penting.”
Keuh, orang ini sepertinya dendam pada saya. Cara bicaranya menjawab saya sangat santai seolah meniru saya ketika bersikap angkuh.
Tidak ada pilihan lain selain mendengarkannya, saya duduk kembali.
“Aku mengerti mengapa upacara itu penting. Namun, ini aneh, kenapa mereka tidak datang ketika hari pelantikanku?”
“Kita pihak Gereja tidak punya prediksi untuk itu. Mungkin mereka sangat sibuk atau ada hal lainnya yang membuat mereka tidak bisa datang.”
Dahi saya mengkerut, dan nada saya menjadi marah. “Apa pelantikan Saint tidak penting bagi mereka?”
“Kita tidak ada hubungan dengan mereka sama sekali. Apapun yang mereka lakukan itu adalah urusan mereka. Gereja tidak terikat dengan keluarga royal dan juga tidak membela atau memihak bangsawan manapun. Kami hidup sesuai hukum dan aturan yang telah ditetapkan.”
Itulah yang dikatakan oleh wanita yang telah lama hidup dan orang yang telah menciptakan tempat ini. Rumah bagi para Priest dan tempat dimana bangsawan atau keluarga royal tidak bisa menyentuh mereka.
Meski begitu ada kalanya konfrontasi antara dua belah pihak mendapatkan perlawanan di antara bangsawan. Fundamental mereka dipertanyakan saat Gereja sama sekali tidak ikut serta menjadi bagian dari keluarga kerajaan dan mendukung mereka.
Karena itu Gereja adalah fraksi terkuat yang bisa membungkam keluarga royal jika mau. Namun, seperti yang terlihat, bahwa Direktur tidak main cara kotor sama sekali.
Dia tidak peduli apa yang terjadi dengan keluarga kerajaan atau bangsawan lain. Dia tidak mengikat hubungan dengan siapapun namun tetap bekerja dan mematuhi aturan yang ada di Kerajaan ini.
Dia menunjukkan bahwa Gereja tidak bisa dihancurkan.
“Aku hanya merasa curiga. Namun, jika Direktur punya pikiran sendiri maka aku tidak akan ikut campur permasalahan internal maupun eksternal yang nanti terjadi di antara kalian.”
“Ya, saya mengerti.”
“Dan jangan lupa, aku akan bergerak sesuai prinsip sendiri.”
“Tentu, saya tidak akan ikut campur juga.”
Saya tersenyum kecut dan sedikit memberikan tekanan pada suara saya. “Meskipun nanti aku menghancurkan tempat ini?”
Direktur termenung sejenak disitu kemudian pupilnya merangkak ke atas dan menatap saya.
“Saya harap itu tidak pernah terjadi.”
“Kuhahaha, anda benar-benar serius untuk itu?”
“Karena kamu adalah anak yang tidak terduga maka tentu.”
Setelah tertawa mendengar Direktur mengatakan itu dengan raut wajah geramnya, saya menutupi seringai dengan celah jari saya.
“Anda hanya harus diam dan tinggal menunggu saja.”
Direktur melepas tekanan dengan menarik napas dan mengakhiri pembicaraan kami disini.
Tentang kejadian saya dengan assassin jelas dia tahu. Namun sepertinya dia tidak mengungkitnya langsung di depan saya dan memilih menutup mulutnya.
Dia benar-benar melakukan tugas dengan perjanjian yang telah kita berdua sepakati. Bahwa saya juga memiliki otoritas disini dan masalah apapun yang saya sebabkan, maka dia tidak akan mengambil tindakan selagi saya tidak merugikan atau membuat penghuni lain dalam masalah.
Saya senang bahwa beliau orang yang tidak pernah melanggar apa yang telah dia katakan.
“Senior Heros...”
Saya bertemu Heros setelah keluar dari ruangan Direktur. Heros nampaknya tahu bahwa saya ada disini dan menunggu saya di ujung koridor.
Setelah itu kami berdua berjalan bersama.
Besok adalah hari penting dimana ada Upacara Pencerahan pemberian berkah. Penghuni Gereja sedikit dalam kesibukan mempersiapkan segalanya. Seperti mempersiapkan festival.
“Besok adalah hari penting untukmu, apa kamu tidak apa?”
“Terima kasih karena mencemaskanku senior, tapi aku tidak apa. Bagaimana dengan senior sendiri apa semuanya berjalan lancar?”
Jika diperhatikan baik-baik dia jarang terluka lagi. Melihat itu saya sedikit lega. Heros masih tersenyum ringan meskipun tidak menjawab. Bagi saya itu mudah di pahami dan pastinya tidak secepat itu perkembangannya dalam menjalin hubungan yang sehat.
Saya tidak tahu sebanyak apa musuhnya.
“Senior, jangan dipikirkan.” saya memberinya ibu jari untuk usahanya selama ini.
Heros pun tersenyum puas hanya dengan itu dan kami berjalan sambil berbicara hal-hal diluar konsep pembicaraan yang bisa membawa lukanya kembali.
Saya merasa senang dengan orang yang akhirnya bisa saya ajak bicara sebagai seorang teman.
Saya membantu persiapan upacara dengan para Priest dan High Priest. Meski terkadang sifat mereka aneh dan berbeda-beda ketika saya muncul mereka dipenuhi semangat berapi-api dan menyambut ramah saya.
Hubungan saya dengan Yohan juga membaik pelan-pelan meskipun ada sedikit canggung dan sulit membawa obrolan yang nyaman. Yohan memilih menanyakan pendapat kepada saya dan meminta saran dari saya.
Selama itu sifatnya perlahan juga ikut berubah dalam menerapkan saran dari saya. Namun...
.... Setelah semua itu.
Saya sadar ternyata saya terlalu naif.
Saat itulah keputusasaan semua orang untuk pertama kalinya saya saksikan.
Membawa arti, bahwa inilah sisi terburuk dunia ini.