
Veronica membuka matanya kembali dan melihat wilayah dipenuhi dengan pohon-pohon hijau, tapi itu tidak akan lama lagi akan layu dan mati.
Dan disana seseorang mendekat pada pasukan yang baru sampai.
“Apa ada pesan dari Pangeran?”
Lalu sebagai perwakilan seorang kesatria maju dan angkat bicara.
“Ya, ini dari beliau.” kesatria itu memberikan secarik kertas pada pria yang memakai jubah itu dan membacanya.
“Hm... Lalu dimana? Ah, kamu yang dia maksud.” tak lama setelah itu pria yang mengenakan jubah biru ini menemukan Veronica dan wajahnya menjadi cemerlang dengan senyum tawa.
Veronica tidak tahu harus merespon apa dan menatap pria ini hanya dengan tatapan curiga.
“Haha, yah. Memang Pangeran selalu saja memikirkan strategi yang aneh. Lalu siapa nama kamu nona muda?”
Pria ini mengulurkan tangan. Sejenak Veronica melihat tangan itu dengan suram. Pedoman dalam hidupnya saat itu bereaksi, bahwa jangan pernah percayai siapapun dengan senyum yang mencurigakan dan lagi orang yang ingin mencoba akrab di suasana seperti ini.
Tetapi, Veronica menjabat tangan itu dan tersenyum.
“Namaku Veronica, salam kenal.”
Itu adalah poker miliknya. Kali ini dia harus menahan hasrat itu.
Pria itu mengangguk senang dan menjawab dengan menggoyangkan tangannya, “Ya, namaku Cedric Alphine, Wizard Rank-A. Walau berbeda dengan yang mulia Pangeran, begini-begini aku cukup berbakat, jadi mohon bantuannya.”
Seketika pemahaman masuk di kepala Veronica.
‘Jadi dia Wizard yang menginvestigasi di dalam dungeon yang disebut pria keparat itu.’
Setelah melepas jabat tangan, ekspresi Veronica jatuh dan muncul tatapan yang mempelajari dengan tajam sosok di depannya.
‘Pria ini, aku akan mengawasinya.’
Dengan canggung Wizard Cedric berbicara. “Bagaimana itu bisa terjadi?” itu aneh untuk menjadi pertanyaan.
Veronica spontan menjawabnya seperti memang dia paham apa maksudnya.
“Tidak sulit. Aku hanyalah seseorang yang butuh pekerjaan. Tentunya aku akan jatuh dalam skenario yang dia siapkan.”
Setidaknya Cedric tertawa kecil “Haha Pangeran memang sedikit ketat dengan itu. Tapi percayalah Pangeran bukan orang yang buruk.”
Mendengar itu, raut wajah Veronica jatuh menjadi datar.
‘Sampah apa yang dikatakan idiot ini!?’
Kemudian tatapan Cedric pada Veronica berubah menjadi sedikit cemas.
‘Apakah benar Pangeran mengirim seorang wanita di Raid kali ini?’
Setelah itu dia mengejamkan mata sejenak dan menerimanya.
“Apakah kamu sendirian, nona Veronica?”
Cedric memandu Veronica ke tempat kemah di dirikan, tempat dimana semua kekuatan sedang siaga sekarang. Di depan gerbang besar dungeon.
“Tidak. Mereka sedang pergi bersama kesatria lain untuk bersiap-siap untuk tahap pertama kami.”
“Itu yang tertulis di catatan. Tahap pertama adalah kelompok ‘Penambang’ akan masuk terlebih dahulu.”
“Ya.”
Jawaban singkat Veronica membuat Cedric sedikit tegang dan berpikir, benarkah semua orang yang bekerja dengan Pangeran adalah orang yang dingin?
Dia tidak akan terbiasa dengan itu.
“Apakah kamu butuh bantuan?” ragu-ragu Cedric memberi penawaran secara percuma. Di tanggapi Veronica hanya dengan meliriknya kemudian ******* napas bisa di dengar.
“Tidak perlu, seperti yang kamu katakan tuan Cedric, begini-begini aku cukup berbakat di bidang pertarungan jika perlu. Jadi terima kasih atas tawarannya.”
Kemudian Veronica berjalan terlebih dulu dan berkumpul dengan kelompoknya lalu memulai rapat kecil.
Cedric terdiam sejenak melihat Veronica yang secara dia adalah wanita yang terlihat polos dimatanya. Dia sedikit khawatir jika wanita sepertinya akan masuk ke dalam medan yang mengerikan itu.
Seseorang mendatangi Cedric dan mengeluarkan suara berat.
“Cedric, apa yang kau lihat?”
“Eh!?” mendengar itu Cedric tersentak dan wajahnya menjadi sedikit merah, “Tidak, tidak ada!”
“Hm? Kau bertingkah aneh...” mencoba melihat kemana Cedric menatap tadi, pria yang bicara dengan Cedric berdeham dengan godaan. “Hmm~ apakah akhirnya Cedric si pria pendiam bergerak?”
“A-apa yang kau katakan?! Itu tidak seperti itu, jujur. jadi hentikanlah...” Cedric hanya bisa mendesah mengeluarkan keluh kesahnya.
“Hahaha, baiklah, baiklah.”
Lalu kemudian suasana sedikit berubah yang awalnya candaan kini berganti.
“Jadi, apakah kau akan tetap pada pendirianmu?”
Tanpa melirik sumber bicara Cedric sangat paham dan pandangannya sedikit suram.
“Ya. Maaf saja Reich, apapun yang kau rencanakan, aku akan menghentikanmu.”
Reich Wizard Rank-A yang sama dengan Cedric berbalik dan menepuk pundak Cedric sebelum akhirnya pergi dan meninggalkan kalimat.
“Haha, berusahalah menghentikanku Cedric. Setidaknya kau sadar. Apapun yang kau lakukan kau tidak akan bisa menghentikanku, ingatlah nyawa rekan-rekanmu.”
Menggertakkan giginya, meremas kuat kepalan tangannya hingga luka dari kukunya membuat kulitnya sobek dan berdarah. Cedric memasang raut putus asa.
Seandainya dia bisa sedikit kuat maka kejadian ini tidak akan mungkin terjadi.
Rekan-rekannya menjadi sandera dan nyawa mereka dalam bahaya.
Yang paling penting dan yang tidak pernah bisa dia laporkan kepada pihak pusat Kerajaan karena ancaman itu...
Antara dia bekerja sama atau memilih mengorbankan nyawa rekannya demi ratusan nyawa yang akan melayang jika dia melakukannya.
Tubuhnya yang hampir tenggelam dalam keputusasaan kembali mencoba rasional.
‘Setidaknya aku harus bisa menghentikan ini apapun yang terjadi.’
Memang tidak bisa jika harus memilih di antara dua syarat itu. Namun, dia memutuskan untuk mengambil keduanya.
Sampai rencana dari Reich untuk membuat Dungeon Break akan gagal!
***
Sudah sejak tadi Veronica dan para kelompoknya berdiri di depan portal gerbang dungeon.
Seorang membawa alat Pendeteksi masih mengatakan bahwa tidak ada pergerakan atau abnormalitis yang terjadi sehingga tingkatan dungeon masih tetap stabil.
Dengan alat penambang Veronica mengangkatnya di pundaknya. Cedric di sebelah berbicara.
“Apakah kamu yakin untuk masuk dengan hanya membawa 5 anggota kamu?”
“Ya. Itu tidak seperti aku dan kelompokku akan melakukan fase kedua atau ketiga. Melanjutkan apa yang telah di informasikan bahwa kami hanya bisa masuk dengan jumlah 5 orang, bukankah begitu.”
Menjawab Cedric, Veronica hanya memasang wajah tidak tertarik, dia menggerakkan alat penambangnya dengan bosan.
“Ya, itu benar, tetapi...”
Seperti tidak mau kalah dengan ini, Cedric memberi Veronica waktu yang sulit untuk mengikuti jejak bicaranya.
“Kamu... Apa kamu khawatir akan sesuatu?”
Cedric terkejut. Wajahnya sedikit pucat dan berkeringat.
Itu cukup untuk membuat Veronica mengambil kesimpulan, bahwa memang ada sesuatu.
Ini seperti dia telah melihat bahwa sejak tadi hanya pria ini yang tidak terlalu tenang. Sementara pasukan lain menunggu giliran mereka dengan tenang dan tetap pada konsistensi mereka. Hanya Cedric yang terlihat sangat mencemaskan akan sesuatu.
Seolah dia perlahan melihat kematian di depan matanya.