
Di tempat latihan yang tenang dan gelap satu orang ini selalu menebas dan menebas udara. Dia membayangkan target di depannya entah itu monster atau bahkan... Manusia. Dan terus menebas pedangnya ke depan tanpa celah.
Aku harus melatih pedangku dengan demikian aku bisa melindungi keluargaku.
Kemudian dia terhenti pada satu ayunan pedang lurus ke depan.
Keluarga...
Seharusnya kalimat itu tidak asing namun kenapa perlahan itu seperti kabur dan menjadi kata yang tidak bisa di artikan lagi.
“Hyung, kamu terlalu naif. Kamu tidak cocok bermain peran.”„
Hanya kalimat itu yang terus dia pikirkan sejak beberapa hari lalu bahkan sampai sekarang. Demi mencari arti kebenaran dalam hidupnya dan alasan mengapa dia mengayunkan pedang ini dia terus melakukan seninya.
Apa gunanya ini? Bahkan tidak bisa berdiri di depan ketika adiknya membutuhkannya.
Apa orang seperti itu bisa disebut sebagai kakak?
Beberapa hari ini dia telah mengabaikan untuk bicara dengan adiknya, Alvius. Dia tidak bermaksud demikian, namun kerentanan dalam hubungan mereka sedikit demi sedikit membuatnya takut, untuk membuka bibirnya.
Bagaimana jika aku salah bicara dan pada akhirnya mengatakan sesuatu yang...
Dia tidak bisa memikirkan hal yang lebih buruk lagi dari itu. Kemudian dia melanjutkan mengayunkan pedangnya. Kini dia mencoba mengeluarkan auranya dan menggunakan skill [Sword Master Legendary]. Skill inilah yang diberikan oleh adiknya kepadanya yang mempercayainya.
Yohan menggertakan giginya dan masih tetap menggunakan teknik ini. Dia menebas, mengayunkan pedangnya dengan gerakan yang dipenuhi emosinya. Dia melampiaskan semuanya pada genggaman tangannya sekarang.
Kekesalan, kemarahan, perasaan bersalah, kegagalannya selama ini. Semua menyatu dan membentuk dalam setiap lintasan pedangnya yang membekas uap ekor garis akibat gesekan kuatnya pada udara sekitar.
Yohan terengah-engah dan tubuhnya sedikit membungkuk, tangan kirinya mengelap keringat yang menetes sampai di dagunya.
“Apa yang salah denganku?”
Dia semakin membungkuk ke bawah dia mendesah beberapa kali dan mengerutkan kening serta menguatkan gertakan giginya.
“Apa aku tidak berguna?”
Emosinya perlahan seperti memakannya.
Dia melirik pada bilah pedangnya. Pedang ini adalah dirinya, menjadi pedang itu artinya dia memiliki tanggung jawab untuk mengayunkannya. Tidak hanya mengayunkan melainkan melindungi sesuatu dengan bilah itu.
Yohan pelan-pelan menenangkan pikiran dan visinya untuk kembali pada kenyataan. Benar, selama ini dia telah berjuang. Lalu apa yang salah dari itu? Dia paham maksud yang dikatakan Alvius kepadanya.
Tidak, sejak awal dia memang berusaha menutupi itu agar dia sendiri tidak termakan. Namun...
Yohan tegak kembali dan menggenggam erat ganggang pedangnya. Kali ini bukanlah pedang yang berkarat ataupun pedang yang sudah usang yang dia gunakan saat berburu di hutan di dekat desa Avlon.
...Alasan dia menggenggam pedang ini adalah jelas dimana arah hidupnya berjalan.
Sekarang yang harus dia lakukan adalah melakukan tanggung jawab, serta sumpah yang telah dia lantunkan.
Aku harus menemui Alvius dan mengatakan perasaanku.
Itu tidak berlangsung lama setelah dia membuat keputusan dan telah yakin pada setiap arah jalan yang dia pilih. Sebuah jendela pesan tiba-tiba muncul tepat di depan matanya.
[‘Monarch of Diligent’ sedang dalam bahaya!]
Alvius?!
Mendengar pesan itu sangat mengguncang hatinya dan membuatnya memasang raut wajah putus asa.
Dia bergegas berlari dari ruang latihan. Dari setiap koridor yang dia lewati dari setiap jalan yang selama ini dia pilih untuk melangkah.
Kenapa? Kenapa ini harus terjadi?!
Dia selalu teringat dimana satu keluarganya, satu saudaranya, yang dia panggil adik. Dalam keadaan sekarat dan akan meninggalkannya sendirian.
Di masa itulah dia yang paling putus asa selalu berusaha menghibur dirinya sendiri ketika melihat adiknya terbaring lemah di ranjang tanpa bisa menjalani hidupnya.
Terkadang dia tertawa sendiri, tersenyum sendiri, lalu menangis sendiri.
Dia tidak bisa melihat adiknya lemah di ranjang yang kesakitan hanya menunggu ajalnya tiba.
Al! Al!
Keringat membasahi tubuh dan wajahnya. Demikian juga napasnya yang tidak teratur dan berat yang dikeluarkan.
Dia akan melakukan apa saja asal tidak adiknya yang dalam masalah.
...Sekali lagi, dia tidak ingin itu terjadi.
***
Seluruh skill saya telah di padamkan dengan segera. Tangan saya yang akan meraih ke atas kehilangan kekuatannya dan jatuh tanpa daya.
Pelindung saya telah pudar satu per satu dan kehilangan kekuatan untuk membuat dinding pertahanan pusat saya.
Ratusan kali monitor memberitahu saya jika saya membatalkan skill saya maka saya akan dalam bahaya. Monitor tidak bisa menjamin meskipun saya memiliki [Recovery Body Sculpture] skill, itu tidak akan berpengaruh.
Karena element utama assassin adalah korosi. Pembusukan Alami. Itulah item belatinya yang dia katakan memiliki efek khusus.
Saya terdiam, saya tidak bisa melakukan apapun bahkan pada target saya. Apa yang membuat saya jatuh lemah hanya karena pesan itu.
Yohan sedang menuju kemari, saya seolah menunggunya dan tidak ingin melakukan apapun sekarang. Saya telah jatuh dalam emosi saya.
Assassin di depan saya melihat kesempatan terbuka dengan jelas dan melompat ke arah saya hingga kami jatuh. Saya tergeletak di tanah dan assassin menodongkan belatinya di atas tubuh saya.
“Kau akan mati.”
“Aku tahu.”
“Kau... Kemana kesombongan dan rasa percaya dirimu ketika mengatakan itu semua?”
“Aku kehilangan itu...”
“Jangan bercanda!”
Saya menjawab secara spontan tanpa meliriknya dan melihat ke arah lain kepala saya jatuh. Kehilangan. Benar, itu kata yang tepat bagi saya sejak awal. Menjawab semua pertanyaannya dengan nada biasa saja meskipun kematian saya ada di depan mata saya.
“Kau mengatakan semuanya dengan sangat arogan namun, lihatlah. Sudah kuduga anak kecil tetaplah seorang anak kecil.”
“Aku tahu. Tapi, kenapa kau yang terlihat menderita daripada diriku yang akan mati.”
Dalam setiap kata yang di keluarkan assassin ini kepada saya, dari hinaan sampai kebencian setiap katanya mengandung nada kesedihan yang begitu mendalam.
Saya menggerakan kepala saya ke tengah dan menatap ke arah mata itu. Lihat mata itu meskipun wajahnya tersembunyi, matanya terlihat yang paling menderita seolah akan menangis.
“Diamlah!” dia menancapkan belatinya tepat di sebelah kepala saya. Kenapa dia tidak segera mengincar kepala saya. Saya tidak punya ide.
“Padahal kau hanya anak kecil. Padahal kau tidak tahu apa-apa. Lalu kenapa, kenapa kalimatmu berdengung di kepalaku.” kemudian dia mencabut kembali belati itu dari tanah. “Sial!”
Saya menaikkan tangan, saya meraih ke arah wajah assassin yang menderita ini. Begitu saya mencapai bisa menyentuh wajahnya, assassin hanya tersentak dan tidak menepis tanganku sama sekali.
“Berat bukan hidup di dunia ini sendirian. Karena itu aku ingin mengulurkan tangan kepadamu.”
“Apa aku terlihat semenderita itu di matamu?!”
“... Sangat.”
“Keuh... Dasar bocah sialan...”
Kemudian itu datang. Dengan percikan gelombang energi kuat.
Tepat di depan matanya dia melihat dengan mata terbelalak dan pupilnya bergetar hebat. Dagunya yang bergetar tetap terangkat dan bicara.
“Apa... Apa yang kau lakukan? Beraninya kau—!”
[Skill ‘Sword Master Legendary (M)’ telah diaktifkan!]
[Skill ‘King of Light (M)’ telah diaktifkan!]
Ledakan kekuatan yang sangat besae terjun pada bilah pedang Yohan. Dia bergegas maju ke depan, ketika melihat saya tergeletak di tanah dan segera akan ditikam oleh assassin.
Aura menyelimuti pedangnya dan segera tebasan mirip bulan sabit melayang menembus udara dan menerjang assassin. Assassin yang sadar tidak akan bisa menghindari jumlah kekuatan dan kecepatan tidak masuk akal itu mengunakan [Stealth] dan menghilang.
“Keuhk!”
Entah karena skillnya atau memang instingnya tajam. Yohan dengan cepat menemukan dimana assassin itu berada dan menebas udara kosong dan membuat assassin itu muncul kembali.
“Bajingan, apa yang kau lakukan kepada adikku!”
Ledakan energi meraung pada bilah Yohan. Assassin itu beruang kali menggunakan [Stealth] namun selalu di temukan oleh Yohan. Yohan bertubi-tubi menebas udara dan pancaran energi pedangnya melesat dan meledakkan seluruh tempat yang di singgahi oleh assassin
“Bajingan gila, bagaimana dia menemukanku setiap saat?! Apakah kau memiliki mata dewa atau semacamnya?”
Yohan mendengus pada kemarahannga yang tidak bisa dia kontrol dengan benar. “Huh! Apa yang kau katakan bajingan? Bagi seorang pemburu, insting adalah sebagian dari nyawa kami.”
Itu adalah potensi asli miliknya yang telah lama dia bangun selama bertahun-tahun ketika dia memburu di dalam hutan desa Avlon. Instingnya secara alami tumbuh semakin tajam dan semakin tajam, layaknya makhluk buas.
Pandangan yang selebar elang, pendengaran yang sangat sensitif seperti pemangsa, dan penciuman yang tajam seperti serigala.
Itu semua ada dalam diri Yohan.
Jika mengatakan siapa pemburu lebih baik. Maka, jawaban saya sudah pasti Yohan.
“Hyung...”
Saya bangkit dari tanah dan pakaian yang putih harus kotor penuh noda tanah. Yohan buru-buru mendatangi saya dengan cemas.
“Al, Kamu tidak apa?”
“Iya Hyung aku tidak apa.”
“Tunggu disini Al, aku akan segera membereskannya.”
Pancaran sinar sekali lagi meledak kekuatan energi mitos yang tidak pernah dibayangkan oleh siapapun dan seberapa cemerlangnya cahaya yang dikeluarkan itu bahkan mirip seperti bulan yang membuat pandangan menjadi silau.
“Hyung, cukup. Hentikan Hyung.”
Mendengar suara datang dari saya energi luar biasa besar terserap kembali dan hilang dalam sekejap. Yohan melihat kepada saya, alisnya naik turun. Dia menatap saya yang selama ini berusaha dia hindari untuk menatapnya.
Dia merasa sangat bersalah dan perasaan terguncang ini tidak akan pernah bisa dipadamkan.
“Al, aku...”
“Hyung...”
Namun, sepertinya dia terlalu mencemaskan hal yang tidak perlu. Saya mengelus kepalanya tanpa dia sadari. Sekarang adiknya yang ingin dia hindari karena takut melihat respon apa yang akan keluar saat dia nanti berbicara. Tetapi, kini saya tersenyum lembut seperti biasanya.
“Hyung kita harus pergi dari sini.”
“Tapi, orang itu...”
“Karena tekanan yang kau lakukan aku yakin dia akan mundur. Jika kita tidak pergi maka kerumunan orang-orang di asrama akan datang kemari dan kita dalam masalah.”
Yohan melirik antara saya, kemudian berpindah ke arah assassin itu dengan raut ekspresi sangat marah.
“Jika aku melihatmu lagi aku akan membunuhmu.”
Saya segera membawa Yohan keluar dari masalah ini dan menggandeng lengannya. Saya khawatir akibat suara ledakan berkali-kali itu mengakibatkan orang-orang bangun dan berlari kemari.
Saya melihat ke arah assassin yang nampaknya masih memperhatikan saya dari sana.
Saya hanya berharap dia tidak gegabah kali ini, karena Yohan ada disini.
Jelas bisa dilihat perbedaan mereka, meskipun Yohan adalah daun muda. Namun, saya yakin bahwa Yohan mampu menjatuhkan assassin itu jika serius.
“Sampai jumpa, nona.”
Mata assassin terbelalak lebar dan pupilnya bergetar hebat. Dalam pikirnya hanya satu...
Bagaimana dia tahu?
...Identitas yang selalu dia sembunyikan dengan sempurna.