The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 97: PIECE OF LIGHT



‘Disaster’ ular Gorgon yang terkurung di dalam penjara skala besar yang mengangkatnya hingga ke puncak langit berontak untuk keluar. Berulang kali dirinya mendobrak pagar yang tercipta dari aliran petir dengan kepalanya, dan berakhir dirinya terkena sengatan yang membakar seluruh tubuhnya hingga gosong.


“Putri!!”


Para Elder telah memastikan pertarungan selesai, atau setidaknya hanya satu makhluk yang belum di kalahkan, yah itu sudah di bilang mereka bisa aman dari serangan berikutnya dan menuju July.


Mereka yang mencapai July terlebih dahulu kaget melihat keadaannya dan berekspresi pahit.


Luka di seluruh lengannya berubah menjadi hitam dan melepuh seperti infeksi dari racun yang sungguh berbisa.


“Putri...”


[Jangan menyentuhku. Kalian akan ikut tercemar oleh racun ini. Ini hanya akan hilang ketika monster itu menghilang. Jangan khawatir, ini tidak apa-apa.]


Alih-alih mencari jawaban yang bisa menenangkan diri. Perasaan campur aduk di antara para Elder tidak bisa di jelaskan setelah melihat pelindung mereka tampak tidak berdaya di atas tanah.


Di samping itu, entah karena itu adalah kemampuan alami dari seorang ras Dryad, tetapi gelembung-gelembung hijau yang seperti serangga itu terus berada di dekat lengan July seakan hendak ingin menyembuhkan luka hitamnya.


Melihat cahaya-cahaya itu bersinar, July tersenyum tipis dan menyampaikan.


[Tidak apa. Jangan khawatir, semua sudah berakhir.]


Dan cahaya-cahaya hijau itu gemetar akan kalimat July dan mundur di udara seperti memahami makna dari ucapannya.


[Bagaimana dengan yang di kepompong. Kekuatanku menurun karena mengeluarkan Mirace.]


“Mereka baik-baik saja. Tapi, yang satu masih belum sadarkan diri meskipun lukanya sudah tertutup.”


[Begitu... Tidak mudah membangunkan orang yang terluka secara mental.]


Reaksi para Elder bingung dengan apa yang dikatakan July tersebut.


July melihat ke belakang sedikit tidak bertenaga untuk menemukan Yohan di dalam kepompong. Menyadari apa yang July inginkan, Elder Gruazi mengangkat kepompong milik Yohan dan membawanya ke dekat July.


Pandangan Yohan bertemu July. Disitu, July paham. Ah, dia juga mengkhawatirkan semua orang. Bahwa laki-laki ini tidak kehilangan hatinya untuk satu orang saja melainkan orang yang dia hormati.


[Maafkan akan keadaanku yang menyedihkan ini nak.]


“....”


[Padahal seharusnya kita memikirkan bagaimana cara untuk bisa menerobos ke dalam gerbang lagi. Tapi, aku malah kehabisan kekuatan sihir di situasi seperti ini. Sungguh memalukan, bukan.]


Senyum yang lembut dari July begitu memperlihatkan kasih sayangnya terhadap semua makhluk yang dia cinta. Tanpa menyadari jika dirinya sendiri dalam keadaan yang sudah bisa di bilang seperti orang sekarat dalam pertempuran.


Dia masih bisa tersenyum dalam keadaan ini, apa karena dia adalah makhluk kuno? Apakah karena dia hidup lebih lama sehingga tidak ingin memperlihatkan sosok menyedihkan di hadapan seorang anak muda?


Yohan menerkam bibirnya dengan gigi yang rapat.


“Tidak. Anda sudah melakukan yang anda bisa. Terima kasih banyak.”


Suaranya bergetar seperti akan menangis di dalam, akan tetapi itu di tahannya. Dia tahan dengan begitu eratnya. Karena dia tahu, urusan disini tidak ada hubungannya dengan perasaannya sama sekali.


Semua orang sedang dalam situasi yang kesusahan.


“Terima kasih atas kerja keras kalian.”


Jadi dia memilih memberikan apa yang dia bisa lakukan di dalam keadaannya sekarang.


Sedangkan tentang apa yang selama ini dia khawatirkan sampai membuatnya putus asa, harus menunggu dan menunggu, sampai tidak ada yang tahu kebenaran di balik gerbang tersebut.


Al... Maaf.


***


Entah percaya dengan sebuah karma atau tidak. Di sisi ini, karma buruk sedang terjadi.


“Hei bajingan kecil apa tidak ada cara menghubungi yang di luar.”


“Jika ada kita tidak akan kesulitan seperti ini.”


Aula kosong ini hanya menjadi adu aura yang mematikan dengan kegelapan yang menyesakkan. Tingkat keagungan dari nama Raja Iblis bukanlah omong kosong. Astaroth telah serius ketika dia melepaskan Status miliknya sepenuhnya, sehingga tidak hanya saya melainkan Veronica merasa sesak napas hanya dengan berdiri saja.


Ini seperti kita berenang di laut dalam posisi kita sudah berada jauh di kedalaman jurang terdalam hanya demi mencapai puncak mencari pernapasan.


Astaroth menyeringai dan lengan kanannya menyapu udara, menciptakan energi kegelapan dan menerpa ke arah kami. Pelindung yang saya ciptakan tidak mampu menahan ledakan serangannya dan pecah ketika energi hitam bertabrakan.


“Jika terus seperti ini...”


Veronica mengeluarkan kata-kata basi itu sejak medan pertempuran di dalam aula kastil ini memihak pada Astaroth ketimbang kami. Itu wajar karena kami kehilangan hampir 70% kekuatan yang seharusnya mampu membuat Astaroth kewalahan, perkiraannya seperti itu.


Akan tetapi, dengan begitu mudah wadah yang di balikkan menjadikan Astaroth memimpin dalam kondisi ini.


“Apa kau ada rencana bajingan kecil?!”


Wanita ini memilih melontarkan pertanyaan yang seharusnya dia sendiri sudah tahu jawabannya. Saya bukannya menyalahkannya, tapi bukankah dia mantan Shadow yang dikenal mematikan. Jadi sementara ini saya hanya mencari situasi dimana ada celah yang menguntungkan kami.


Namun, disisi lain saya menyadari hal yang seharusnya saya cegah sejak awal ketika memikirkan bahwa Veronica tidak akan senekat ini. Jadi saya melontarkan pertanyaan juga daripada jawaban dengan dingin.


“Apa yang sebenarnya kamu pikirkan nona Veronica?”


“Apa maksudmu?”


“Jangan kira aku tidak tahu.”


Tidak ada yang bodoh untuk berpura-pura tidak tahu jika keadaan kita sedang di ambang hidup dan mati disini jadi saya kesal ketika responnya acuh tak acuh. Begitu saya memelototinya tajam, Veronica mendesah kesal menggaruk belakang kepalanya.


“Sial, kau sudah tahu.”


Saya sendiri curiga kenapa saya bisa kelepasan kali ini.


Detik itu juga dari belakang Veronica para bayangan muncul secara tidak terduga. Mereka adalah bawahan Veronica, bahkan Edgar dan nona-nona yang menjahiliku juga ada di sisinya.


Melihat mereka membuat kening saya berkerut ke bawah dan menyatakan dengan keras.


Ekspresi Veronica kaku dan menolak memberikan penjelasan. Alih-alih dia menjawab sebagai pemimpin yang membawa pasukannya. Edgar sebagai tangan kanannya mewakilinya berbicara. Seperti biasa dia bicara dengan nada kasual.


“Tenanglah, Saint. Tolong jangan terlalu keras pada pemimpin.”


Mendengar itu saya semakin marah. “Apa kalian situasi ini?!”


“Tentu.” ekspresi Edgar berubah menjadi serius dan jawabannya tegas.


“Kalau begitu kenapa? Apa karena kalian adalah pembunuh yang handal? Jika kalian berpikir situasi ini bisa kalian tangani maka... Kami tidak akan kesulitan memikirkan jalan keluarnya.”


Saya tidak mengeluh atau memberikan kritikan bebas dan menentang pemikiran buruk mereka di kondisi dimana mereka terbawa arus pertempuran ini. Mereka seharusnya tidak disini, itulah pemikirkan saya. Secara medan ini membuat saya berputusan hanya membawa para Prophet bersama saya dan tidak yang lain.


Jika begitu apa artinya meninggalkan Paladin Theo dan Paladin Roy demi melindungi Kota Tenstheon.


Ada hembusan napas dari bibir Edgar dan bawahan Veronica mendekat ke arah saya dengan ekspresi serius.


“Kami berpikir bahwa ini adalah medan perang kami.”


Medan perang kami? Menurut saya itu konyol, maka tentu saja.


“Jika kalian memikirkan keselamatan pemimpin kalian jangan khawatir aku bisa melindunginya.”


Jawaban saya yang penuh keyakinan seolah penuh celah di mata mereka. Bukan karena menentang kalimat itu melainkan saya tidak memiliki kualifikasi dari sekian banyaknya pilihan yang ada di dalam kepala anggota ini.


Inilah yang namanya keloyalitas yang sepenuhnya telah di dedikasikan sejak lama.


Dari mata para anggota Shadow tidak ada keraguan. Mereka tidak melihat kematian mereka sendiri melainkan memilih melawannya meskipun membelokkan takdir.


Raut wajah Veronica berat sebelah di seberang karena tidak memberikan respon apapun untuk meyakinkan krisis ini. Jadi saya berpikir bahwa ini adalah jawabannya hanya dengan melihat wajah antusias dari para anggota.


Kemudian saya melihat pada lengan mereka yang terpasang sebuah gelang perak dengan kristal biru.


“Jadi benda itu yang menghalangi aura kalian sepenuhnya sehingga aku sendiri tidak merasakan hawa keberadaan kalian dengan variasi Skill ‘Phantom Fantasy’.”


Mereka sungguh bajingan sampai ke akar menggunakan item kelas atas hanya untuk alasan bisa bergabung kemari.


“Lakukan sesuka kalian.” bukan hak saya menghalangi keinginan mereka. “Jangan mati.”


Akhir itu saya ragu menambahkannya sebagai kata penutup.


‘Veronica jika ini memang pilihanmu dari awal sampai akhir maka aku tidak punya hak dalam ikut campur urusan kalian. Namun, jangan lupa. Terkadang pilihan kita sendiri juga akan menghancurkan diri kita entah dari dalam maupun dari luar. Lebih buruk lagi, itu akan berimbas pada orang yang kita sayangi.’


[Ara, sepertinya ada penonton yang masuk meskipun tidak ada kursi tambahan. Bagus, bagus, dengan begitu aku bisa dengan puas mencabik-cabik kalian.]


Hawa membunuh yang mencekam datang dari satu orang. Astaroth menjilat bibirnya yang seksual dan eksotis seperti haus akan menyantap hidangan pembuka. Sayapnya mengepak di udara dan dia seperti duduk mengambang dengan anggun.


Kami secara tidak sengaja membangunkan hawa nafsunya menjadi lebih liar dari sebelumnya.


Astaroth menyedot energi hitam dari sekitar ke dalam lengannya yang pucat dan dengan tajam menyapu udara dengan liar seperti hewan buas.


“Menghindar!”


Pelindung skala besar miliknya mudah sekali hancur meskipun saya memasang beberapa lapis sekaligus. Resistensi saya tidak berguna disini karena lawan meniadakan efek milik saya yang memiliki atribut Suci atau cahaya. Bisa di artikan kami saling bertabrakan satu sama lain.


Akibat tidak bisa menahan serangan tipe berkelanjutan milik Astaroth anggota Shadow bergerak dengan intruksi Veronica, dia juga maju.


Menilai keputusannya saya membantu mereka dari belakang sembari melihat keadaan dengan kedua mata saya terbuka lebar. Jujur saya memahami kelemahan saya yang mana pertarungan jarak dekat adalah racun bagi saya.


Tsa-sasasa!


Jadi alternatif saya hanya menguras kekuatan sihir saya sampai batasnya dan menembakkan tombak cahaya pada Astaroth.


[Percuma.]


Astaroth menerpa tombak cahaya dengan serangan energi gelapnya dengan mudah. Kemudian para Shadow yang sudah ada di jangkauan melompat dan menyiapkan pedang mereka di udara.


[Serangga yang menggemaskan.]


Partikel-partikel bola hitam mengambang di sekitar Astaroth dan menembakkan sinar yang memancar.


“Tidak akan kubiarkan!”


Masing-masing dari para anggota Shadow saya menyelimuti mereka dengan pelindung sihir berlapis milik saya dan mencegah serangan itu mencapai mereka. Berbeda dari serangan energi yang besar sebelumnya, yang ini tidak bisa menembus perisai saya.


“Sekarang!”


Ada yang menebas dan juga ada yang memberikan tusukan. Seluruh tubuh Astaroth di langsung penuh dengan luka tebasan dan juga di tusuk oleh bilah pedang.


[Kugh! Seperti yang kuduga, kau sedikit merepotkan Saint kecil.]


Sayap kirinya putus dan tubuh bagian atasnya tertusuk beberapa bilah. Saya yakin jantungnya pasti juga tertusuk. Tapi, perasaan saya tidak enak. Mengapa bisa kami menang dengan mudah?


Begitu cepat, mata Astaroth yang menajam menjadikan medan gelombang menjadi hiruk pikuk yang bengkok.


Ku-gugugus!!


“Semua menghindar!”


Serangan yang mengerikan terjun dari segala arah. Energi eter kegelapan yang tidak berujung terus menerpa kami dalam kehancuran, sinar leser hitam dari partikel hitam semakin membesar ukurannya dan melelehkan apa yang di lewatinya. Saya memasang perisai pada setiap orang hingga berlapis dan terus berulang ketika hancur.


Lantai serta pilar aula benar-benar di hancurkan leburkan.


[Kukuku~ sudah kuduga, masalahnya ada padamu, Saint.]


Dalam sekejap seluruh tubuh telah sembuh tanpa adanya bekas serangan dari kami. Tetapi, yang lebih mengejutkan...


“Bajingan kecil!!”


...Astaroth sudah ada di depan mata sebelum saya sempat berkedip.