
Aula menjadi gelap seketika, Astaroth menaikkan auranya di tahap yang belum pernah bisa dirasakan oleh golongan manusia biasa. Saya dan para party layaknya orang awam disini. Perasaan mencekam ini membuat saya sadar bagaimana rasanya perang aliansi dimasa lalu, melawan monster-monster sepertinya.
“Al... Aku merasakan firasat buruk akan ini!”
Di party tidak ada yang gila untuk tidak menyadari perbedaan mereka dengan sangat jelas dan sadar sewajarnya. Yohan menekan dirinya semaksimal mungkin meskipun mentalnya sudah saya reduksi sangat baik, tapi tidak menyembunyikan fakta bahwa dia gemetar.
Menyaksikan Yohan, saya melihat sekeliling dan mulai Heros sampai Veronica mereka memiliki ekspresi pucat yang sama.
[Saat matahari terbenam malam akan memberkahi mereka yang bersembunyi. Pesta yang aku siapkan jadi sia-sia. Ya, aku sudah menduga ini akan terjadi dan tidak masalah.]
Kepakan sayap hitam menurunkan volume kelebarannya. Wajah memerah yang panas dari Astaroth yang sama persis seperti wanita yang telah meneguk beberapa botol alkohol menjadi daya pikat.
Lebih anehnya lagi ada kabut di sekitar tubuhnya... Itu lebih mirip feromon yang tipis yang secara tidak sengaja keluar dari aroma tubuhnya yang harum.
Saat aroma itu tercium di lubang hidung saya, rasa manis dan original yang lembut mengikat hidung saya.
Segera setelah itu saya seperti terpikat oleh kesadaran yang mencekam dan berusaha keluar dari ilusi tersebut.
“Semua kuatkan kesadaran kalian!”
Dan pada saat berteriak semua orang langsung pada pikiran mereka kembali.
“Apa yang baru saja aku lihat...”
“Bisakah ilusi terlihat senyata itu?”
Tanpa sadar mereka bisa melihat kematian mereka sebelum bisa merasakannya.
Astaroth duduk di singgasana dengan mengangkat kaki kirinya dan memandang ke bawah sini dengan menyandarkan kepala pada tangannya.
[Sebenarnya kedatanganku kemari adalah untuk mengacaukan Dwarf. Karena aku merasakan adanya kekuatan aneh aku jadi harus merubah rencana. Aku juga tidak tahu jika akan ada banyak hal yang bisa kutemukan disini...]
Dan kemudian dia tidak lagi tertarik pada July dan menunjuk jarinya ke arah lain.
[...Termasuk kau. Energi yang menjadi ancaman.]
Itu saya!
[Aku ingin melihat siapa yang memiliki energi ini dan tidak kusangka itu adalah seorang anak kecil yang manis. Itu semakin membuatku bergairah.]
Wajah yang menatap pada mangsanya menunjukkan taring yang siap untuk menggigitnya. Lebih dari itu, bukan sekedar hasrat yang bisa dipuaskan dengan mudah. Dia bisa lebih dari melepaskan hasrat dan rasa penasarannya disini.
Di dalam diri saya ada perasaan yang sangat begitu bergejolak. Saya yakin ini bukan milik saya, ini seakan ingin memberontak keluar.
‘...Gabriel?’
Kenapa? Kenapa perasaan yang dirasakan Gabriel bisa menjadi milik saya. Seharusnya dia tidur.
Saya langsung mencari penyebabnya dan menemukan alasannya perasaan ini sangat kuat.
“Veronica?”
Secara sederhana saya menggumamkan nama itu. Ekspresi tajam Veronica yang kuat dan di penuhi kemarahan yang mendalam membuat saya merinding dan saya tahu ini bukan ketakutan. Dia tidak terkena efek ‘Tipuan’ dari ilusi Astaroth sebab dia adalah Prophet Gabriel. Tapi, tidak terlepas dia telah melihat sesuatu dari ilusi tadi.
“Bajingan kecil... Aku akan maju.”
“Apa?”
Mengangkat pedangnya ke atas dan kaki yang sudah siap pada posisinya. Hentakan kuat menukik tanah dan Veronica melesat ke depan dengan gerakan lari yang cepat.
“Tunggu—!”
Itu terlambat untuk dikatakan dan saya tahu. Jadi saya membantu mendukung di belakang dengan mengulurkan tangan saya. Bilah pedang Veronica di selimuti energi kekuatan suci yang tebal.
Tsu-sususut!
[Serangga kecil...]
Tidak mungkin sosok kuat sepertinya tidak menyadarinya. Veronica yang melompat di titik terdekat sudut pandang Astaroth mengayunkan pedang ke belakang dan memutar lengannya dengan kuat, gaya vertikal itu hendak menebas leher iblis wanita itu.
“Mati.”
Menimbulkan ledakan yang sunyi, cahaya dari pedang Veronica menyebabkan kerusakan di sekitar takhta milik Astaroth. Seandainya jika itu serangan yang kuat yang bisa diberikan maka akan meninggalkan seberkas luka.
Tidak. Astaroth dengan santai menerima serangan itu dan membiarkan telapak tangan yang menahan serangan Veronica mengalami sobekan kulit yang tipis.
Darah segar mengalir dari telapak tangan kanan itu.
“Cih.”
Cepat menyadari jika itu tidak efektif Veronica melompat dan segera menjauh darinya.
[Hm... Sudah lama sejak aku terluka seperti ini...]
Gumaman yang bisa di dengar semua orang. Itu tidak memberontak sama sekali atau menunjukkan emosi yang kuat terhadap musuh yang akan dia bunuh. Dia memandang pada tangannya yang terluka seolah dia melihat berlian disana. Lebih tepatnya adalah permata, cairan merah semerah permata batu Ruby ada di telapak tangannya.
Astaroth tersenyum tipis melihat darahnya dan menjulurkan lidahnya keluar, mengejutkannya lagi dia menjilati darahnya seperti meminum seteguk bir.
Kami yang melihat tidak merasa jijik, melainkan merasakan kebiasan buruk para monster yang seperti ini.
Setelah selesai menjilati tangannya dengan sangat erotis, bibir yang penuh bercak darah bagaikan lipstick crimson menyeringai senang.
[Ah... Betapa segarnya. Aku ucapkan terima kasih karena telah menghilangkan rasa haus ini. Tapi, bagaimana ya... Ini masih kurang.]
Ada tawa kecil pada dirinya yang sekarang di penuhi perasaan bergairah. Entah bagaimana mengatakannya, dia seperti lebih haus dari sebelumnya.
‘Ini buruk.’
Bukan lagi main apa yang di perlihatkan oleh Astaroth. Sekarang sepertinya firasat tentang skenario yang berubah akan segera terjadi.
“Kita serang dia.”
“Keluarkan semua yang kalian punya dan jangan biarkan dia mengambil kesempatan!”
“Ya!”
Saat semua akan bergerak maju, jawaban datang dari mulut Astaroth secara mengejutkan dan membuat berhenti bergerak.
[Tidak boleh begitu. Setidaknya aku ingin bermain dengan kalian sedikit lebih lama. Jika kalian mengepungku begini ini tidak akan berlangsung lama. Jadi, bagaimana kalau dengan ini...]
Tiba-tiba tanah berguncang kuat secara abnormal dan aula di digetarkan oleh tekanan yang naik ke atas di sertai gemuruh yang mirip tanah longsor.
Kewaspadaan kami meningkat pada titik dimana kami sama sekali tidak diizinkan untuk lengah.
Lalu kami sadar. Singgasana milik Astaroth hancur dan dia sudah ada di atas langit-langit aula dengan kedua sayapnya itu. Asal dari guncangan tanah juga bisa dipastikan dan tidak salah lagi.
Wajah para party memucat pada detik itu juga mereka melihat fenomena ini.
“Apakah itu monster?”
“T-tidak mungkinkan?”
Dari awal aneh jika ada singgasana yang di tempati oleh Astaroth untuk duduk seperti mengambang di udara. Itu karena aula sangat gelap di belakangnya sehingga kami tidak bisa melihat dengan jelas apa yang tersembunyi di balik punggungnya selama ini.
Sisik yang sangat tebal, kulit panjang seperti sebuah lempengan perak, dan monster itu menggeliat di tanah menjadi penyebab tanah bergetar adalah dia.
“Ular apa sebesar itu?”
Ketika kepalanya menabrak dinding langit ular itu mendesis dengan kuat.
- Saaah!!
Ukuran yang lebih dari 50 meter dan besar tubuhnya yang hampir membuat sesak aula di tengah ini.
Saat mata saya membuka penilaian tanda milik ular itu bisa dengan jelas di pastikan:
[Disaster of Serpent]
[———Pet of Demon Queen - Gorgon Snake———]
Bahaya yang lebih tinggi muncul lagi dengan tanda yang tidak bisa di prediksi.
[Keluarlah, Gorgon, bawa putri bersamamu. Sekarang aku tidak peduli jika kau menghancurkan Dwarf.]
Ular Gorgon yang memiliki tanduk tulang menjulang di atas kepalanya mulai menurunkan kepalanya dan menggeliat di tanah atas bisikan manis tapi kejam Astaroth, kemudian betapa mengerikan gerakannya begitu cepat meski tubuhnya besar dan menyeruduk July.
“July!!”
Jika bukan karena dia melindungi dirinya dengan sulur-sulur yang menyelubungi tubuhnya mungkin July akan terluka. Ular Gorgon berusaha keras mendorong July dengan kepalanya dan keluar dari aula.
[Ular ini... Dia berusaha menjauhkanku dari yang lain!?]
Tepat pada waktu itu July tidak lagi terlihat dan dibawa bersama ular Gorgon pergi.
[Karena jika ada dia disini akan semakin sulit nantinya dan aku tidak bisa bermain dengan kalian. Jadi aku menjauhkannya sedikit dari tempat ini. Haa... Aku merasa bersalah karena sudah mengundangnya tadi.]
Jelas dia sangat memprovokasi dengan liciknya. Seringai itu sama sekali tidak mencerminkan perasaan bersalah sama sekali melainkan sangat senang bisa menjauhkan biang masalah terkuat baginya.
Keberadaan July disini bisa mengubah arah pertarungan ini karena mereka berdua adalah eksistensi lama. Saya yakin bahwa dengan adanya July bisa mengalahkannya. Namun sekarang July...
Seolah semua sudah di prediksi oleh Astaroth.
Saya menggertakkan gigi saya dengan sangat kesal.
Spekulasi saya dihancurkan dengan begitu mudah.
[Hm... Aku rasa ini belum cukup. Baiklah kalau begini bagaimana.]
“Eh?”
Dari langit entah sejak kapan datangnya. Bayangan sosok dengan sangat cepat dan sekelebat mata melewati pandangan saya dan wujud itu sangat besar juga.
“Kugh!”
“Sial!”
Pada waktu saya berbalik, Yohan dan Heros di bawa oleh makhluk mirip kelelawar raksasa menggunakan cakar kakinya.
“Hyung!”
Saya tidak bisa membiarkan monster itu membawa mereka pergi dan mengeluarkan kekuatan saya secara maksimal. Mengeluarkan sulur akar dari tanah dan menembakan pedang cahaya di sekitar saya.
Srarararat!!
Astaroth dengan sengaja menghalangi serangan yang datang pada kelelawar itu dan mencegahnya dengan mengambil dampaknya sendiri.
“Veronica!”
Menggunakan [Speed Reverse] dia melewati Astaroth dan melayang di udara dengan pedang yang siap menancapkan diri pada punggung monster kelelawar. Tapi, sialnya serangan Veronica menabrak besi lain dan terpental.
Hanya dengan suara jentikan jari pintu aula tertutup rapat dan Yohan serta Heros telah di bawa pergi oleh monster itu.
“Sial!”
Kutuk saya dengan menatap tajam Astaroth ketika dia menyeringai ke arah saya.
“Aku akan membunuhmu jika kau melukai kakakku.”
[Mari bermain, anak kecil yang ditakdirkan oleh dunia yang kejam.]
Dengan nada yang suram dunia di aula berubah total. Antara menang dan kalah, sekarang semuanya tidak bisa di pastikan lagi.