The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 31: SAINT YANG TERLELAP



Seseorang pernah berkata bahwa akan ada saatnya penyesalan itu datang. Entah itu di awal kehidupan mereka atau di akhir kematian mereka. Tidak ada yang tahu, tetapi memiliki kemungkinan bisa diprediksi.


Lambang dari cahaya jatuh dari tubuh sosok itu. Seolah harapan meninggalkan dirinya dan menjadi butiran cahaya untuk membantu langit bersinar. Dari jauh mereka bergegas untuk berlari ke arah bintang paling mulia yang akan segera jatuh ke tanah.


Aroma darah dan terbakar masih bisa tercium oleh hidung. Tanah basah dan penuh dengan bekas-bekas pertempuran di lewati begitu saja.


Dia yang memiliki kutukan berselancar di udara dengan kabut hitamnya.


Dia yang sadar bahwa telah lama tidak sadarkan diri berlari secepat mungkin seperti cahaya melintasi jalur kawah berlubang.


Saat berikutnya mereka berdua melompat di saat bersamaan dan menangkap harapan yang jatuh.


“Al!”


“Alvius!”


Sosok Alvius yang pucat dengan keadaan penuh darah bocor di seluruh tubuhnya. Sisa-sisa dari transformasi malaikatnya meninggalkan bekas bulu-bulu putih yang berterbangan seolah menyatakan sebuah akhir kehidupan.


Pada waktu itu mereka bersamaan menangkap tubuh kecil kurus tak berdaya. Tetapi, mengapa...


“Al...”


Tidak ada respon.


“Alvius... Saint Alvius.”


Tangan Heros bisa merasakan betapa pucat dan dingin tangan kecil itu.


Mereka sadar bahkan tanpa harus berbicara lebih lanjut atau menggoyang tubuh kecil ini. Air mata membasahi wajah Yohan dan begitu pula isak tangis datang dari Heros.


Pesan-pesan yang mereka kirimkan untuk penguasa mereka, untuk orang yang selama ini melihat mereka telah dikembalikan dengan respon pendek.


[Tidak ada jawaban dari ‘Monarch of Diligent’]


[Tidak ada jawaban dari ‘Master Faithful’]


Skill seolah-olah mewakili perasaan mereka bahwa sosok yang kini tergeletak sedang dalam masa tidak bisa bangun. Entah itu sementara atau mungkin, tidak akan pernah.


Kekurangan kekuatan sihir bukanlah hal sepele jika dilakukan secara dramatis. Sebagai Saint, sebagai perwakilan dunia. Tidak perlu disebut sebagai pahlawan dan tidak perlu gelar berlebihan. Bahkan dengan satu gelar saja, hidup dan matinya sudah bisa diprediksi.


Tangan Yohan gemetar menggenggam erat tangan milik seseorang yang selama ini dia sebut sebagai adik. Dia pernah kehilangannya. Lalu sekarang apakah dia kehilangan lagi.


Cahaya, sinar, harapan. Bagi Heros itulah Alvius. Tetapi sekarang, mengapa dia terlihat sangat kesakitan lebih dari siapapun. Dia tidak ingin kehilangannya, dia menginginkannya, dia ingin bersamanya. Karena dia baru memulai cerita baru dalam hidupnya.


Heros, tidak yakin bisa bertahan tanpa cahaya itu lagi sekarang.


Orang-orang menyaksikan akhir dari semua itu dan layar pemberitahuan mengapung di atas langit.


[‘Dungeon Sabnock Tingkat-A+’ telah berhasil di selesaikan!]


[Pilar Penghalang akan segera menghilang.]


Ada suara runtuh dan gemuruh ringan dari langit dan tanah. Dinding-dinding gelap yang menyandera mereka semua mengeluarkan suara retakan dan kemudian hancur berkeping-keping. Tanah dimana mereka menginjakkan kaki berubah. Para mayat monster dan kutukan sekitar menghilang seperti penghapusan.


Pemandang segera berubah. Dari tempat bagaikan neraka. Kini mereka telah kembali tepat di tempat mereka awalnya tidak bisa melarikan diri, Gereja Suci Lindon di depan kuil.


“Kita selamat?!”


“Kita selamat! Hore!!”


Orang-orang terharu, menangis, dan juga bahagia. Setelah berpikir hidup mereka akan berakhir mengenaskan dimana keputusasaan dan kehancuran menyertai mereka. Neraka dimana keabadian itu ada tanpa secercah harapan. Sekarang lihatlah, semua orang selamat.


Tanpa memakai Appraisal, bisa dihitung bahwa tidak ada korban sama sekali.


Benarkah itu yang bisa dihitung. Bukankah pihak ini kehilangan satu...


“A-apa, bagaimana bisa?”


Direktur Sarion dan beberapa Priest dan High Priest berlari segera ke lokasi. Mereka tidak percaya bahwa Dungeon yang dibuka secara paksa itu telah diselesaikan. Tingkatan Dungeon itu bukanlah tingkat rendah melainkan tinggi. Direktur Sarion menatap pemandangan para korban dengan ragu-ragu sejenak dan akhirnya dia bisa bernapas.


“Tidak ada korban jiwa... Mereka semua selamat dari tragedi itu tanpa ada yang terluka.” menatap itu dia bisa lega, namun juga dia tidak bisa lengah. “Periksa semua orang dan obati jika ada yang terluka!” dia segera memberi perintah kepada semua Priest yang ada untuk membantu para korban dari trauma mereka.


Namun, Direktur Sarion merasa janggal. Dari tadi dia tidak melihat satu orang yang kadang kala membuatnya kesal dan tidak bisa tenang karena merasa terancam. Pupil Direktur Sarion mencari dan mencari. Dari setiap korban, dari tempat dimana mereka berdiri. Akhirnya dia menemukannya.


Direktur Sarion tersentak. ‘Mengapa kedua orang itu tampak sedih.’ dia perlahan berjalan ke sana. Kakinya gemetar dan dagunya naik turun.


Benar, sejak awal ini aneh. Fakta dimana tidak ada yang terluka adalah fenomena yang mustahil bisa terjadi. Iblis, monster ganas yang tidak bisa dinilai mampu membunuh semua korban di Dungeon lalu kenapa tidak ada korban atau yang terluka meskipun sedikit goresan.


Direktur Sarion berlari ke arah itu, secara pasif pikirannya bekerja dalam kemungkinan buruk.


“Apa yang terjadi—!?” Direktur Sarion yang sampai dengan ekspresi panik semakin terbelalak. “Saint! Apa yang terjadi kepadanya?!”


Dia segera melihat kondisi Alvius lebih jelas dan mencoba mendeteksi detak jantungnya lalu kemudian dengan sihirnya dia mempelajari Alvius lebih dalam. Terakhir, dia tidak bisa tidak tenang san pupilnya bergetar.


“Energinya sangat lemah, detak jantungnya bahkan sangat lemah dan hampir tidak bisa di dengar itu berdetak atau tidak. Segera bawa dia ke ruang kesehatan!”


Dia tidak bisa merasakan tanda kehidupan kuat dari tubuh Alvius. Wajahnya semakin pucat dan penuh luka di tubuhnya. Kondisinya sangat lemah, sistem pertahanannya kemungkinan telah turun drastis dan itu membahayakan. Jika seperti ini terus maka, kemungkinan terburuk bisa terjadi.


Para Priest datang dan membantu mengangkat tubuh Alvius dengan tandu. Yohan dan Heros yang masih tidak bisa melepaskan tangannya dalam kondisi terpuruk.


“Direktur... Apa sesuatu yang buruk akan terjadi!?” tidak pernah dalam hidupnya dia sebegitu terlihat sedih seperti ini. Direktur Sarion tidak bisa menjawab dengan pasti dan beliau menggelengka kepalanya.


Tangan kiri lemas putih Alvius di genggam erat oleh Yohan, dengan nada tersiksa dia menyatakan. “Tolong selamatkan dia. Adikku, dia telah melakukan yang terbaik demi keselamatan semua orang. Saya mohon, saya mohon jangan biarkan dia pergi.”


Setengah jiwanya seolah terkoyak. Hidupnya yang satunya lagi terbaring lemah di tandu, apa yang bisa dia lakukan?


Heros perlahan meletakkan tangan kanan Alvius kembali di antara dadanya dan raut kesedihan masih terlukis jelas. Dia tahu, dia tidak bisa membantu apapun. Karena dia adalah kutukan itu sendiri.


“Senior hanya harus menjadi lebih kuat. Lebih kuat dari sekarang. Jika senior menjadi sosok yang ditakuti maka tidak akan ada orang yang berani mengolok-olok dirimu lagi.”„


“Pikirkan saja bagaimana rasanya mengasah pedang yang lebih tajam menjadi sangat tajam dari yang lain. Jika orang yang berpikir kutukan senior adalah penyakit mengerikan. Maka aku akan menjadi orang pertama yang mengatakan ‘Tidak apa’, bahkan kepada kutukan senior.”„


Heros menggigit bibirnya hingga darah memaksa muncul dari kulit bibirnya. Tangannya membentuk kepalan dan dia menunduk. Air mata semakin mengalir dari kedua matanya yang indah.


‘Seandainya aku lebih kuat lagi... Jika saja aku kuat aku bisa melindungi dan menjaganya. Padahal, Alvius mengatakan padaku bahwa semuanya ‘Akan’ baik-baik saja.’


Seluruh ucapan Alvius telah disimpan dalam ingatannya. Itu seperti mantra baginya untuk tidak lagi jatuh ke dasar jurang penderitaan. Dia memiliki Alvius disisinya, tidak perlu ada yang dia takuti. Selama cahayanya belum redup.


“Direktur.” Heros menggosok kuat matanya dan wajahnya menjadi tegas. Kemudian dia membungkuk di depan Direktur Sarion. “Tolong selamatkan Saint Alvius!”


“Saya tidak bisa berjanji. Namun, saya akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelamatkannya. Kalian berdua terluka cukup parah. Beristirahatlah dan obati luka kalian. Kalian harus menunggu dengan sabar.”


Direktur Sarion memberikan senyuman. Berharap agar kedua anak di depannya bisa melihat bahwa harapan itu mungkin ada, jadi seharusnya mereka juga tidak menyerah.


“Saya Sarion Ulysey, Direktur dari Gereja Suci Lindon, mengucapkan banyak terima kasih atas kontribusi kalian karena telah melindungi semua orang.” dan dia membungkuk rendah hanya di hadapan kedua anak ini. Itu adalah hal yang tidak terduga yang datang tiba-tiba, namun Heros dan Yohan memilih membungkuk hormat.


Detik berikutnya Direktur Sarion dan Priest yang membawa Alvius bergegas pergi ke ruang kesehatan.