The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 66: SATU YANG PERLU DIPERHATIKAN



Untuk beberapa alasan saya kadang-kadang duduk di kursi taman di Gereja dan melamunkan hal-hal yang tidak penting. Contohnya — akankah urusan diplomatik saya dengan dwarf berjalan lancar? saya pikir itu karena saya memiliki kepercayaan diri.


Tetapi, berhadapan dengan mereka mungkin akan menyebabkan konfrontasi perpecahan yang semakin dalam.


Itu hanya pikiran negatif saya, tentu saja saya tidak bermaksud mengambilnya sesuai perasaan. Hanya memikirkan kemungkinan itu datang...


- Woof!


Anak anjing yang saya pungut dari jalanan hari ini sangat sehat dan memiliki bulu coklat karamel yang bersih. Akhir-akhir ini dia juga ceria dan makannya lahap.


Anehnya, dia tenang. Tidak seperti kebanyakan binatang... Anjing ini punya sopan santun.


Sekarang dia sedang menjulurkan lidahnya dan mendengus di depan saya seperti ingin berbicara bahwa dia senang. Saya menanggapinya dengan senyuman dan tanggapannya menjadi gembira dengan lompatan kecil riang.


Apakah dia senang di ajak jalan-jalan? Mulai sekarang aku akan sering mengajaknya.


Tak lama setelah itu ada satu yang mengganggu ketenangan saya namun saya biarkan untuknya diam.


“...Ada apa? Jika kamu kembali seharusnya kamu menyapaku daripada bersembunyi, bukan?”


Udara dingin yang menggeliat di depan saya berubah menjadi udara yang mengeluarkan embun dan asap samar di udara. Ini pasti sesuatu yang memanipulasi faktor disekitar dan sejak tadi itu terus mengeluarkan keterkejutan.


Jadi mungkin dia pikir saya tidak sadar.


Saya mengedipkan mata dengan helaan napas dan mengatakan wewenang dalam pikiran saya.


[Skill ‘Phantom Fantasy (M)’ secara paksa di nonaktifkan!]


“Ack!” kemudian suara keluhan yang menggerutu itu menyebabkan kemunculannya terbuka dengan cara yang menampakkan wujudnya tanpa meninggalkan kesan visual lagi.


Dan dengan tatapan yang seperti biasa adalah ciri khasnya, dia mendesah kesal.


“Hei, bukankah itu curang menutup kemampuan orang secara paksa?”


Apakah dia lupa aku juga punya hak untuk memutuskan apakah dia bisa memakai skill atau tidak. Semua orang yang menjadi Prophet saya tahu, jadi tidak ada yang bodoh.


Veronica mengalihkan pandangannya dan meletakkan tangan kanan di lehernya. Pikirannya seperti pergi entah kemana namun dengan ekspresi tidak puas dia memiliki masalah sendiri.


“Kamu baru sampai?”


Ada sedikit keterkejutan di bahu Veronica.


“Y-ya...”


Dia merasa aneh dengan menjawab pertanyaan itu. Secara, dia tidak pernah menjawab hanya seperti itu.


“....”


Saya melirik diam-diam berpikir kenapa dia menyembunyikan hawa keberadaannya menggunakan kemampuannya dan memanipulasi sekitarnya dengan ilusi. Tapi, ada satu hal yang bisa saya pastikan.


“Jika ini tentang kamu yang ada di dungeon maka tenanglah dan bersikaplah seperti biasanya.”


Dengan itu tebakan saya benar. Ekspresi Veronica sedikit kacau tapi dia masih mempertahankan kecantikannya yang murni tanpa riasan apapun dan merasa tidak enak disini.


“Kamu tahu... Itu karena...”


“Ya, aku tahu. Kamu terdesak bukan. Tidak apa, aku paham.”


Ketika saat itu terjadi bahkan saya tidak ada di dekatnya adalah yang tidak akan pernah bisa saya terima juga. Tapi, dia pasti kepikiran bahwa tugasnya telah berganti jalur saat itu. Jadi dia merasa bersalah.


Jujur hebat mengakui kesalahan yang telah dilakukan. Saya sendiri tidak yakin apakah sanggup melakukan demikian nanti dimasa depan.


“Aku yang mengatakan akan menanggung beban yang sama denganmu dan tidak akan membiarkanmu mati. Jadi tenanglah dan istirahatlah. Kamu melalui banyak hal hanya dalam sekali pengalaman itu.”


Setidaknya dia pantas menerima pujian yang bahkan lebih baik dari ini. Saya tersenyum menatapnya.


“Aku senang kamu kembali dengan selamat. Di masa depan juga mohon bantuannya.” segera itu saya menganggukan kepala.


Ada unsur ekspresi tegang di sudut pelipis mata Veronica, tidak percaya dengan apa yang dia dengar dan lihat. Lalu disitu juga ada senyum di bibirnya tipis.


Kemudian itu berubah menjadi wajah sombong dan arogan.


“Ya, kamu tahu cara memuji orang dengan benar. Yah, setidaknya kamu juga tahu bagaimana aku bekerja keras dan kamu beruntung aku ada disini bekerja denganmu.”


Saya senang. Dia kembali seperti semula.


“Jadi jangan tidak puas nanti, bajingan kecil.”


Mata Veronica menyipit dengan senyuman arogan yang unik dan rona merah muda dipipinya nampak jelas, untuk saat itulah di sekitar dia baru ada penggambaran.


Ah, bagaimanapun dia juga seorang wanita.


Jika ini bukan karena kerja sama. Jika bukan karena umur Alvius masih muda. Maka, bisa dipastikan kecantikan Veronica bisa membuatnya jatuh.


Ngomong-ngomong itu yang saya pikirkan. Sesaat saya menyadari jika saya tidak bertindak seperti diri saya dan menggelengkan kepala untuk menyadarkan diri segera dan mendapatkan anak anjing duduk di paha saya dan melirik saya penasaran.


- Woof!


“....”


Lalu suara barang berat di letakkan di atas kursi sebelah saya langsung melihatnya. Kantong Dimensi lebih dari selusin ada di depan mata saya.


Veronica berbicara. “Itu semua adalah material yang kamu butuhkan.”


“Kantong Dimensi tetaplah Kantong Dimensi. Setidaknya ruangan di dalamnya berjumlah stok 30. Jadi apakah semua Kantong Dimensi ini penuh dengan batu?”


Veronica mengangguk seperti dia bangga dengan itu.


“Ah...”


Sejauh ini saya tidak bisa membayangkan apa yang lebih baik dari itu dan memberikan senyum pahit.


“Mh, baiklah.” jadi saya membiarkannya dan menerima ini.


Bagaimana juga dia sudah berjuang menyelesaikan tugasnya sebagai tim Penambang.


Di selingi dengan nada lirih Veronica yang menatap saya mengelus kepala anjing bertanya.


“Aku baru pergi beberapa hari dan sepertinya ada yang baru disini. Makhluk kecil ini apa?”


Lalu dengan jarinya dia beberapa kali menyentuh perut anak anjing yang terekspos seperti memeriksa sebuah bola bulu.


- Woof!


Itu juga membuat anak anjing menggonggong ke arahnya dan menggertakkan gigi tidak nyaman olehnya. Membuat Veronica sedikit antisipasi terhadapnya.


“Hm?”


Aku tidak tahu jika anjing ini sensitif terhadap Veronica.


“Aku menemukannya di jalanan dan membelinya.”


“Huh? Apakah ini dulunya milik orang lain?”


“Benar.”


“Tidak mengejutkan lagi jika itu kamu yang melakukannya.”


Apa maksudnya itu?


Dia juga begini dengan Yohan saat tidak ada saya di dekatnya. Mungkinkah ini yang disebut ingatan trauma? Sesuatu akan membuatnya ketakutan dan memasang peringatan waspada terhadap seseorang yang tidak dia kenal.


Ya, saya bisa memahaminya. Itu membuatnya takut. Fakta bahwa dia tidak diperlakukan dengan baik di masa lalu dan dianggap alat.


Saya mengelus kepalanya dan menghentikan erangan kemarahannya.


“Siapa namanya?”


Ketika Veronica membawa kosakata itu saya menyadarinya.


Fakta bahwa saya juga tidak memahami siapa anak anjing ini apalagi namanya. Bukan karena itu tidak penting. Hanya saja tidak terpikirkan.


Veronica dan anak anjing menatap saya ketika topik ini di bawa. Mata anak anjing berkilau seperti ada bintang dari angkasa luas di retinanya. Itu membuat saya sedikit menegang dan mengeluarkannya dari mulut saya dengan lepas.


“Potato.” serius mengatakannya membuat saya percaya diri jika itu nama yang baik.


Tapi mengapa respon Veronica dan anak anjing ini seolah sama persis? Jatuh tak berdaya dan menjadi datar seakan menyesal telah menddngar jawaban itu.


“Haa....” Veronica menghela napas bahkan itu adalah yang terpanjang yang bisa saya dengar.


Mengapa? Bukankah itu nama yang bagus?


Maksudku lihatlah bagaimana bentuk anak anjing ini; Mungil dengan warna karamel kecoklatan, telinganya turun disertai kepala bulat yang sedikit oval dan tentu saja karena dia mirip seperti Kentang secara keseluruhan.


Lalu apa yang membuatnya tidak puas?


Ekor dari anak anjing jatuh ke bawah dan dia menunduk sedih.


“Hm, ya... Itu nama yang bagus.”


Seolah terpaksa namun itu tulus keluar dari bibir Veronica. Saya mengangguk dan setuju dengannya juga.


Detik itu juga Veronica berdeham kecil dan berbicara. “Tahukah kamu jika anjing ini...”


Langsung saat itu saya menatap tajam dirinya seperti peringatan kecil.


“Ah, tidak...” lalu dia menghentikan kata-kata berikutnya dengan canggung yang akan keluar dari bibirnya seolah itu perlu.


“Aku tahu.” kataku dan memutar bola mata ke arah lain.


Yang terpenting adalah waktu yang tepat dimana seseorang bisa membuka kata ketika dibutuhkan. Masing-masing punya yang ingin di katakan dan tidak. Dan semua itu tidak selalu hal yang bagus.


Ada baiknya untuk tidak mengungkit luka milik seseorang. Terutama dia yang memiliki trauma besar.