
Veronica membantu saya untuk duduk bersandar di dekat dinding. Saya sama sekali tidak tahu apa yang sekarang dia pikirkan, tapi setelah dia membantu saya dia berdiri dan mengambil pedangnya lagi.
Saat itu perasaan saya menjadi sangat khawatir.
“Tunggu Veronica kamu tidak bisa—”
“Tetaplah disana dan diamlah.”
Kemudian saya hanya dibuat terdiam dan membisu tanpa bisa mengatakan apapun lagi. Langkah kaki pertama yang dihasilkan Veronica mengeluarkan percikan kilat samar-samar, lalu setiap gerakannya berikutnya kilat itu membuatnya menghilang dari tempatnya berdiri.
Serangan pusing melanda kepala saya saat Veronica menghilang dari hadapan saya, nama Skill terlukis di dalam kepala saya.
Gerakan Veronica di luar persepsi seseorang, seluruh aula bercampur dengan badai petir yang menyambar di setiap gerakan kakinya yang mendistorsi sekitar. Pedang di ayunkan tidak dengan elegan lagi, bahkan jika dia berniat menarik perhatian aggro itu sangatlah mencolok.
Tebasan pertama memotong lengan monster Astaroth tanpa peringatan.
[Gyaaa!!]
“Berisik ******.”
Seperti namanya dari Skill yang dia gunakan [Speed Reverse] dia bisa bergerak sangat cepat dan mudah baginya berpindah layaknya mendistorsi celah ruang dan waktu. Jujur saya takut ketika kekuatan itu jadi miliknya dan berpikir dia akan menjadi musuh saya.
Veronica tidak berpikir rasional lagi, dia dengan kemarahannya menebas entah itu secara garis diagonal, vertikal, atau horizontal, semua gerakannya bervariasi. Itu tidak indah lagi, bahkan seorang Swordmaster tidak akan seperti itu dalam mengayunkan pedang.
Tsa-sasasasa!!
Astaroth tercabik-cabik tanpa henti. Bilah yang memekik di atas udara menciptakan percikan api yang meledak-ledak bagaikan bunga api yang tersayat dari tubuh rusak Astaroth.
[Gyaaa—!!]
Astaroth menjerit. Darah memenuhi sekujur tubuhnya, meskipun dia kehilangan lengan monsternya, Astaroth melompat keluar dari zona bahaya yang bernama Veronica dan mencoba meregenerasi lengannya lagi.
Tapi, Veronica tidak mengabaikannya dan bicara dengan kelam.
“Berapa kali kau menyembuhkan diri aku akan terus menebasmu hingga kau mati. ****** busuk sepertimu tidak layak hidup disini. Tidak... Bahkan kau tidak layak dilahirkan.”
Di akhir kalimatnya Veronica menghilang dan berada di punggung Astaroth. Astaroth tidak menyembunyikan kemurkaannya dan menyemburkan energi eter hitam dari telapak tangannya sembari menjaga jarak.
Ledakan eksplosif mendarat bebas. Kemudian tanpa bisa memastikan musuhnya, Astaroth langsung kehilangan sayap kirinya.
[Gyaa—!!]
“Sudah kubilang, aku tidak akan melepaskanmu.”
Energi sihir Veronica meningkat pesat dari waktu ke waktu. Lebih tepatnya dia di kuasai oleh sihir yang perlahan melahap tubuhnya sendiri karena terlalu banyak menggunakan Skill untuk melawan Astaroth.
Dan kemudian pertarungan tidak bisa dihentikan dan tabrakan antara Astaroth dan Veronica berbentur di udara hingga menyebabkan badai.
Pertarungan sengit terjadi, Veronica tidak memiliki kemampuan spesial selain [Phantom Fantasy] dan juga [Speed Reverse] jadi bilahnya hanya berisi energi suci yang memiliki tingkatan yang tidak bisa mengalahkan Astaroth dan hanya bisa membuatnya terpojok.
Sementara Astaroth di berkahi energi kegelapan yang besar!
Berkali-kali menembakan energi eter tidak membuatnya kehabisan sihir dan lagi dia masih bisa regenerasi.
Ini adalah pertarungan siapa yang akan kehabisan tenaga lebih dahulu. Dan yang bisa saya pastikan dan yakini adalah Veronica akan kalah.
“Wanita itu... Ugh!”
Sengatan listrik mencegah saya untuk bangkit dan membuat kepala saya sangat sakit, seakan lebih dari sekedar migrain menggerogoti kepala saya. Monitor tidak bisa bekerja dengan baik seperti sistemnya sedang diluar kendali.
Saya kesal dan hanya bisa mengepalkan tangan. Veronica bisa bertahan, tapi bagaimana dengan bawahannya.
Astaroth tidak melihat satu musuh saja di depan matanya, ruang di sekitarnya terbelah dan darahnya naik ke atas dengan pengerasan dan gumpalan yang sangat kental.
Gu-gugugu!
Gemuruh besar melanda aula, ruang di belakang Astaroth terbelah dan darah yang berkumpul lalu menggumpal menjadi bola sempurna yang besar, setelah itu gumpalan darah itu di konsumsi oleh ruang yang terbelah dan di telannya.
Veronica tidak memalingkan wajah dari itu sama sekali begitu juga saya. Ini seperti ruang itu sendiri melahap lalu menelan darah kental Astaroth.
Kemudian itu bukanlah akhir, saat tubuh Astaroth secara mengejutkan menggeliat dan semakin membengkak besar seperti dia akan segera di telan oleh otot dagingnya sendiri dengan cara menjijikan.
Dengan suara deritan yang mengacau, ruang di belakangnya terbelah kembali dan memuntahkan sesuatu dari sana. Itu adalah darah mendidih yang bahkan satu tetesnya melelahkan apapun hingga ke akarnya.
Dan Astaroth menjadikan darahnya itu menjadi sebuah senjata pedang besar.
Jadi bengkak dagingnya adalah menjadikannya bisa mengubah dan memanipulasi zat energi sihirnya menjadi kekuatan fisik.
Itu langsung di buktikan saat kedipan mata kami berikutnya, Astaroth turun dan berada di sekitar para Shadow.
“Menghindar!!”
Jeritan seseorang tidak bisa menciptakan sebuah kenyataan. Bagaikan mengangkat ranting pohon, Astaroth yang mengayunkan pedangnya sangat ringan langsung membunuh beberapa Shadow yang gagal bergerak.
Mereka kehilangan tubuh bagian atas mereka dan bercak bekas darah dari pedang Astaroth menyebabkan korosi yang melahap tubuh bagian bawah sisa mayat mereka.
Hingga tak tersisa sama sekali!
“Sial! Apa-apaan dengan monster ini!”
“Larilah sekuat mungkin! Ini tidak bisa—”
Orang itu langsung kehilangan kepalanya.
Astaroth mengejar mereka yang berusaha melarikan diri dengan gerakan kecepatan yang tidak masuk di akal bahkan dengan tubuh yang mungkin lebih dari satu ton itu.
“Hentikan!”
Tangan saya bergerak ingin mencapai mereka dan memberikan perlindungan berupa Shield. Tapi, itu tidak melindungi sama sekali dari tebasan Astaroth.
[Graaah!!]
Sudah benar-benar menjadi seekor monster tanpa akal sehat daripada seorang Raja Iblis.
Tidak hanya di telan dalam kegelapan dia memilih menjadi monster demi mengalahkan musuhnya.
Veronica yang kehilangan ketenangan di udara bersiap dengan langkah berikutnya dan saat itu juga saya menghentikan Skillnya.
“Hen-Hentikan!”
Veronica terkejap dan mencari saya, tatapannya yang kacau seolah memberitahu saya untuk tidak ikut campur lagi dalam perangnya.
“Sial, wanita bodoh itu.”
Saya segera melompat dari duduk saya, tapi tidak ada kekuatan di kaki saya dan membuat saya jatuh di lantai. Pergerakan saya sudah mencapai batas akibat penggunaan kekuatan sihir berlebihan dan banyak kehilangan sihir.
Melihat Veronica masih berlari dengan cara putus asa melihat bawahannya dibantai satu per satu membuat tangan saya bergerak ke arahnya dan mengurungnya dalam kubah pelindung.
Sekali lagi dia terkejut.
“Hentikan... Tolong mengertilah dan berhentilah.” gumam saya tanpa bisa mengatakannya untuk menenangkannya sementara pemandangan di depannya adalah genre berat yang tidak pernah dia bisa bayangkan.
Bisa saya pastikan Astaroth tidak mengincar Veronica untuk sekarang jadi saya tidak bisa kehilangan dia. Sedangkan Veronica berontak ingin keluar dari kubah dengan segala cara.
Jika seperti ini cepat atau lambat target selanjutnya adalah Veronica. Kemudian saya.
Waktu pembantaian terus berlanjut. Penurunan angka kematian meningkat dan terus bertambah, dari 1,2,3,,,6,7,8, hingga mencapai angka akhir dimana tidak ada lagi bawahan Veronica yang tersisa bahkan anggota tubuh mereka.
Veronica jatuh dalam keputusasaan dan merenung. Ketika saya melihat itu pandangan saya sangat pahit untuk menyaksikan betapa terkoyaknya hatinya.
Perlahan saya menggerakan tangan saya dan akar di tanah di bawah Veronica keluar dan mengikat kubah miliknya untuk menyeretnya pada saya. Berikutnya kubah pelindung bulat jatuh di dekat saya, dia berbicara.
“Kenapa kamu menghentikanku?”
Saya tidak bisa menjawabnya.
Seolah suaranya di penuhi dengan ketidakadilan yang besar dan dia tidak mendapatkan pembenaran sama sekali oleh seorang hakim.
“Apa kamu pikir melihat mereka mati di depanku membuatku bisa dengan tenang mengembalikan pikiranku?”
“Maaf, aku harus melakukannya untuk membuatmu selamat.”
“Tidak ada gunanya jika yang lain mati.”
Jadi, dia akan menerima hukuman meski telah melanggar peraturan yang sudah di tetapkan demi orang lain.
Saat itu perasaan dingin merayap di sekujur punggung saya. Ini bukan karena Astaroth, melainkan hawa ini adalah kehadiran dari Veronica. Kemarahannya serta kehancuran batinnya membuat dampak visualisasi yang mengeluarkannya dari jeratan seorang Pembunuh.
“Aku harus membuatmu selamat apapun yang terjadi!” dengan panik saya berteriak padanya, ini adalah tanggung jawab saya.
Bajingan, kalau begini dia akan jatuh dalam kegelapan?!
[‘Guardian of Charity’ menekan individu ‘Veronica Vrada’]
Bahkan tanpa sepengetahuan dan kehendak saya, sesaat itu keluar dari dalam kepala saya sendirinya.
Sekarang hawa dingin yang merayap itu sudah hampir menghilang sepenuhnya. Apa ini ulah Gabriel?
“Dengarkan aku, aku tahu kamu marah, kesal, dan ingin melampiaskannya. Tapi, untuk sekarang tolong maafkan aku dan dengarkan aku. Kita harus menyelesaikan ini sekarang.”
Di saat pemikiran saya tentang Gabriel muncul, saya terpikirkan sebuah cara yang kemungkinan bisa berhasil, namun yang menjadi kuncinya bukanlah saya melainkan wanita ini.
Saya tidak tahu apakah ini akan berhasil, dan saya bertaruh dengan itu meskipun taruhannya sangat besar.
“Jika paham mengangguklah.”
Veronica mengangguk ringan.
“Baiklah, kita mulai.”
Saya melepaskan kubah pelindung yang mengurung Veronica, sebelumnya saya telah meringankan beban dirinya dengan menyembuhkan luka-lukanya. Veronica berdiri dengan mengangkat pedangnya lagi meskipun ekspresinya masih tampak berduka, saya harus memaksanya.
“Samael, tolong.”
Saat-saat berikutnya adalah giliran kekuatan yang akan memandu jalannya keberhasilan ini.
Tanda bintang di telapak tangan kiri saya bersinar terang dan berkas cahaya dari tanda ini menyambar ke langit. Di sertai dengan suara gemuruh hebat langit-langit aula terdistorsi dan terbuka dengan gaya megah menjadikan itu pemandangan luar angkasa yang luas.
Pada detik itu suara-suara yang tidak dikenal merasuki kepala saya.
[Halohalo!]
[Kamumemanggil!]
[Mastermaster!]
[Adayangbisakamibantu!]
Dengan perkataan yang sangat sulit untuk bisa di cerna karena tata bahasa yang kemungkinan bukan gaya manusia melainkan makhluk astral. Saya dengan yakin itu berasal dari angkasa lepas dimana di langit gelap itu milyaran bintang bersinar terang menyapa saya.
“Tolong berikan aku kekuatan.”
[Pilihpilihpilihpilih!]
Saya menatap langit dengan kosong, seperti terhipnotis oleh keindahan mereka saya tanpa banyak berpikir menyebut dalam bibir saya.
“Aku memilihmu, Cassiopeia!”
[Konstelasi ‘The Queen of Anteroid’ menyukai panggilan anda!]
Bintang di langit bergejolak sangat cemerlang satu-dua bintang membentuk garis-garis yang mengorbit secara koordinasi hingga membentuk yang dinamakan konstelasi.
Lalu bintang itu jatuh, saya bisa sekilas melihat penampakan wujudnya yang tersenyum. Dan kekuatan bintang itu masuk ke dalam tubuh saya, atau lebih tepatnya mengisi kekuatan sihir saya dalam waktu yang di batasi.
“Veronica.”
[Apa anda mengizinkan penggunaan ‘Transformasi Archangel’ pada individu ‘Veronica Vrada’?]
“Ya.”
Tubuh Veronica di selimuti oleh gemerlapnya cahaya. Sebuah sayap mekar dari punggungnya meskipun itu tidak merobek langsung belikatnya hanya sebuah visual yang nyata dan berikutnya...
“Maaf Gabriel, tolong pinjamkan kekuatanmu padanya sebentar.”
Karena kekuatan dari konstelasi Cassiopeoia tanda milik Gabriel bisa menyala lagi. Yah, dan itu tidak gratis, karena menggunakan dua Artefak Suci milik kedua Archangel memberatkan tubuh saya jadi durasi waktunya sangat singkat. Tanda kekudusan pindah di tangan Veronica.
Napas saya terengah-engah karena tubuh saya terasa sangat berat.
“Sisanya serahkan padaku.” ucap saya sembari membuka lebar mata saya dan mengaktifkan [Gaze of wisdom] sampai penampakan tidak mengenakan yang mana memperlihatkan jauh ke dalam tubuh seseorang bisa terlihat di retina saya.
Seolah menanggapi saya tanpa jawaban, perburuan Veronica di mulai!