
“Saya dengar anda memanggil saya.”
Saya langsung pada poin utama ketika saya masuk ke dalam ruangan Direktur Sarion. Lalu dia meletakan pekerjaannya dan bertanya.
“Ya, omong-omong, bagaimana keadaanmu?”
“Haha, saya sudah mendengar kalimat itu berulang kali. Saya bersyukur karena di berkati dengan orang-orang yang perhatian terhadap saya.”
“Hahaha... Itu juga sesuatu yang disebut sebagai berkah. Semua orang yang ada di sekitar kamu sungguh menyukaimu daripada yang kamu bayangkan.”
Setelah itu dia menjawab dengan tawa nakal yang mencoba menggoda saya. Tapi, itu tidak benar-benar buruk. Malah saya seperti memang mensyukuri apa yang telah ada di dekat saya.
“Ya, saya tahu, terima kasih.”
Sangat banyak, sehingga saya merasa apakah saya pantas menerima berkah itu?
“Sebenarnya saya ingin menanyakan banyak hal dari sudut pandangmu pada kejadian itu. Namun, sepertinya itu tidak perlu.” Direktur Sarion menatap saya dan menyatakan. “Seperti yang kamu tahu, bahwa hubungan antara Gereja dan Istana tidak cukup disebut hubungan timbal-balik. Bukan berarti saya melarangmu untuk melakukan apa yang kamu inginkan.”
Direktur Sarion meletakkan sebuah surat di atas mejanya.
“Ada surat untukmu. ‘Dia’ berkata untuk memberikannya saat kamu sudah sehat.”
Surat? Siapa? Apa saya punya kenalan sehingga kami bisa kirim-balas surat. Tidak, dipikir sebanyak apapun saya sendiri tidak yakin saya memiliki teman pena. Sejak saya tiba di dunia ini kenalan dekat saya hanya keluarga saya dan Heros sisanya ada Direktur sendiri dan Priest Gereja. Semua itu.
Saya mencoba menatap Direktur dengan penasaran, tetapi tidak ada respon melainkan dia menggerakkan kepala seperti sinyal agar saya mengambil surat itu. Saya lalu mengambilnya tanpa banyak berpikir.
“Kenapa saya mendapatkan surat? Siapa pengirimnya.”
“Jika kamu balik, kamu akan tahu.”
Saya segera melakukan apa yang dikatakan Direktur Sarion.
Saat itu saya terkejut. “Lambang ini...”
“Ya. Dengan sekali lihat kamu sudah tahu lambang apa itu, jadi saya tidak akan memperlambat...”
Saya masih dalam kebingungan melihat antara surat ini kemudian kepada Direktur Sarion.
“Sepertinya, Pangeran Mahkota ingin bertemu denganmu.”
Anak itu...?
***
- “Ada beberapa kemungkinan akan terjadi pergolakan saat berada di sana. Seperti yang kamu inginkan saya tidak ikut campur apa yang sedang dan apa yang kamu kerjakan. Kamu memiliki otoritas sebagai Saint, jadi saya hanya berharap kamu berjalan lancar.”
Mendapatkan undangan dari seorang yang akan menguasai Kerajaan ini adalah sesuatu yang tidak saya harapkan atau bayangkan. Pesan terakhir dari Direktur Sarion sebelum saya pergi di hari berikutnya, seolah dia ingin mengatakan bahwa saya harus berhati-hati atau tidak jangan libatkan orang lain. Seperti itu.
Sekarang saya dalam perjalanan untuk ke istana. Siapa tahu, saya akan menemukan sesuatu yang menarik.
Beberapa menit kemudian saya tiba di depan istana dan turun dari kereta.
“Saya sudah menunggu anda, Saint.”
Wajah itu adalah yang saya ingat ketika saya tidak suka dengan tipe seperti dirinya. Anjing setia.
“Lama tidak bertemu, komandan.” sapa saya dengan senyuman.
“Tolong panggil saja saya Jean, Saint.”
“Baiklah, tuan Jean. Tolong anda juga jangan terlalu kaku di depan saya.”
“Akan saya ingat.” jawab Jean Jacques dengan hormatnya, kemudian dia menyatakan dengan menunjukkan jalan. “Kalau begitu mari saya antar anda ke ruangan pangeran.”
“Ya. Terima kasih.” lalu saya mengikuti Jean Jacques yang berjalan di depan.
Sesaat kemudian saya bisa mendengar suara-suara datang dari segala arah di luar ruangan istana.
“Apakah itu Saint?”
“Lihatlah, bukankah dia terlalu terbuka untuk datang sendirian di sini...”
Ada puluhan mata yang sedang berusaha menjatuhkan pikiran saya. Perasaan iri, cemburu, permusuhan, dan semua tatapan mereka berusaha menindas saya. Mengapa Saint datang sendirian? Kenapa dia tidak membawa pengawal atau pendamping? Bukankah dia terlalu arogan dan sombong?
Mungkin itulah yang saat ini mereka pikirkan.
Tetapi saya tidak menghiraukan. Malahan saya menatap pada mereka semua yang sedang melihat ke arah sini dan mereka adalah seorang ksatria. Apa yang bisa saya lakukan untuk menghancurkan mereka? Tidak, alih-alih bermusuhan, saya tersenyum politik ke arah mereka semua.
Seperti sebuah sapaan hangat, para ksatria atau beberapa dari mereka sedikit terguncang dan wajah mereka memerah.
Saya melanjutkan jalan saya di dampingi oleh Jean Jacques, lalu dia membuka mulutnya.
“Saint, jika boleh saya katakan mengapa anda tidak membawa pendamping?”
“Mhm, mari kita lihat alasannya... Mengapa yah?” jawaban saya sedikit saya tambahkan sebagai candaan dan terkekeh kecut. Ketika Jean Jacques melirik saya dengan ekspresi teka-teki, itu sangat lucu.
Saya melanjutkan sembari menatap ke depan dan mempertahankan ekspresi saya, “Ada alasan mengapa saya tidak melakukannya. Dan ya, mungkin seperti yang anda pikirkan tuan Jean, saya juga memiliki orang yang terpercaya yang bisa saya andalkan. Terutama orang-orang yang anda lihat kekuatannya.”
“...Ya.” ada rasa ragu pada suaranya. Dia tahu siapa orang yang dimaksud.
“Kira-kira apa alasannya menurut anda?”
“Apa?”
Jean Jacques semakin tidak paham kemana arah pembicaraan ini. Dia hanya bertanya, namun jangankan ada jawaban, seolah dia terjebak ke dalam sebuah permainan teka-teki yang tidak tahu kapan dia terperangkap. Jean Jacques berpikir dengan ragu.
“Apakah karena anda yakin anda kuat? Bukankah saat itu juga begitu.”
“Ya, itu juga bisa di katakan sebuah jawaban. Anda tahu benar tentang diri saya, entah kenapa saya jadi merasa malu mendengarnya dari seseorang yang lebih berpengalaman.”
Jean Jacques tidak mengerti. Mengapa rasanya ada sesuatu yang tidak beres. Dia tidak menyadarinya jika orang disampingnya lebih berbahaya dari kelihatannya, sikap dan sifatnya yang sopan hanya ilusi semata.
Saya sedikit menggodanya dengan tertawa ringan, tapi sepertinya itu bahkan terlalu berat untuk dirinya berpikir. Ada banyak alasan mengapa saya tidak membawa Yohan atau pendamping.
“Saya hanya berpikir...” tatapan Jean Jacques teralihkan ke saya. “Apakah jika saya seorang diri berada di tempat, dimana saya bisa saja kehilangan nyawa saya. Bagaimana itu akan terlihat? Jawabannya sudah jelas ada di depan mata saya.” dengan itu saya menatap tajam dengan seringai di bibir saya pada Jean Jacques.
Ada sedikit sentakan mengguncang pundaknya. Dia kemudian membuang wajahnya ke depan dan menjadi sedikit gugup. Dia tidak paham, tidak, dia bahkan tidak tahu mengapa ada perasaan kengerian yang membuatnya merinding.
“Hei, tuan Jean. Kenapa anda tidak menarik pedang anda?”
Karena itulah dia merasakan kenapa dia terus-terusan di tekan dan di dominasi oleh hawa keberadaan yang benar-benar mengancam. Dia tidak yakin apa itu nyata jika semua perasaan ini datang dari satu orang, yaitu anak kecil ini.
“A-apa yang anda bicarakan Saint?”
Dia terlalu gugup untuk melihat ke arah lawan bicaranya. Dia bisa tahu bahkan tanpa melihatnya. Sekarang dia sedang dilihat balik oleh anak itu yang sedang menyeringai mengerikan menunggu jawabannya.
“Anda tahu maksud saya tapi anda berpura-pura bodoh. Sejak awal saya keluar sendirian adalah hal yang aneh, bahkan di mata para ksatria lain saya disini seperti sedang mengantar nyawa di kastil milik iblis. Tapi kenapa di kastil yang bagi saya adalah rumah iblis malah sikap dari penghuninya seakan menipu.”
Jean Jacques merasa tidak nyaman dalam kegugupannya dan pundaknya sedikit gemetar.
“Istana ini, dan seluruh penghuninya seolah seperti ilusi. Saya disini datang sendirian namun tidak ada yang menyerang saya, bahkan anda sekalipun tidak melakukannya. Hubungan antara keluarga Royal dan Gereja tidaklah solid, para bangsawan menginginkan kepala saya apapun caranya. Tapi, dimana semua itu sekarang?”
Sekarang Jean Jacques tahu jawabannya. Dia merasa ini tidak mungkin untuk seorang Saint, tidak, bahkan seorang anak kecil memiliki cukup pikiran ke arah sana. Jean Jacques menutup mulutnya seperti dia menahan untuk tidak muntah.
‘Apa dia sengaja memang memancing pergerakan bangsawan hanya dengan dirinya sebagai umpan?!’
Jika dia mengatakan ini dia bisa mengetahuinya kalau dia bisa saja di dorong ke dalam jurang ketakutan tanpa dasar. Jean Jacques membuang napas dan mengalihkan pembicaraan segera.
“Kita sudah sampai Saint.” karena tujuannya ada di depannya, dia akhirnya bisa bernapas lega.
Jean Jacques mengetuk pintu ruangan. “Pangeran saya membawa Saint Alvius Raven!” lalu dia membuka pintu tanpa mendengar jawaban dari dalam seolah itu memang kebiasaan yang selalu dia lakukan.
Suara pintu terbuka berderit lembut, pemandangan nuansa ruang kerja dan lemari buku bisa diperhatikan dalam sekali lihat. Anak dengan rambut bergelombang warna platinum bersinar dan mata emas keperakan sedang duduk di sofa sendirian memandang kosong ke depan. Ketika saya tiba perhatiannya teralihkan pada saya dan dia tiba-tiba tersenyum tanpa peringatan.
“Saya sudah menunggu anda, Saint.”
Benar, dia adalah orang yang saat ini paling tidak ingin saya berurusan. Entah mengapa perasaan ketika melihatnya saya selalu diliputi oleh hasrat kehidupan yang berat.