The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 62: LADANG KEBUSUKAN (2)



Menunggu jawaban dari apa yang saya katakan rasanya mustahil.


Anak ini tidak bisa berbicara lagi dan mengerang kesakitan. Memandanginya hanya akan mengulur waktu, saya menoleh pada Paladin Roy dan dia segera memegangi kaki anak ini.


Tanpa berlama lagi saya mengarahkan tangan saya pada tubuhnya dan memulai ekstra penyembuhan.


Sepertinya yang ini membutuhkan banyak kekuatan lagi. Tidak cukup ketika Veronica menguras tenaga saya kali ini adalah ini. Cukup beruntung untuk memikirkan ini adalah yang terakhir. Jadi saya mengerahkan segala yang saya mampu untuk menyembuhkannya.


Perlahan urat-urat di tangannya yang menghitam seperti membusuk menjadi netral dengan warna yang tipikal membaik hingga merambat ke lehernya yang membuat kerongkongannya seolah di cekik.


Keringat dan nada kesakitan bisa di dengar. Tetapi setelah itu napas tenang mulai di hembuskan. Saya berhasil dan sebagai gantinya saya kewalahan.


“Saint Alvius...”


Paladin Roy memegangi tubuh saya yang hampir jatuh.


“Terima kasih saya tidak apa.”


Segera saya berterima kasih padanya untuk jasanya selama perjalanan kegiatan amal ini dan nanti saya juga akan menyampaikan salam terima kasih juga pada Paladin Theo.


Anak ini sudah membaik untuk ke depannya. Wali dari mereka, yaitu pengurus panti merasa lega dan juga anak-anak disekitar yang tidak lagi melihat anak remaja ini kesakitan senang dan menangis gembira.


Barulah saat itu saya bangkit.


“Sepertinya tugas kita selesai.”


Paladin Roy mengangguk “Ya. Kita akan pergi.” dan Paladin Theo tidak lagi menjaga anak-anak dan mendekat.


Segera dilanjutkan dengan alur dramatis lagi dengan pengurus panti sebagai pembicara.


“Saint saya ucapkan terima kasih banyak! Saya tidak tahu bagaimana harus berterima kasih karena telah membantu anak-anak panti asuhan ini.”


“Benar, kami tidak punya cara lagi untuk mereka. Jadi kami senang bahwa anda datang kemari untuk membantu mereka.”


Saya tidak tahu sebelum benar-benar berpikir apakah mereka tulus mengatakan itu? Yah, mereka meneteskan air mata jadi mari anggap begitu.


“Tidak perlu berterima kasih, ini adalah tugas saya. Saya senang karena bisa membantu mereka.”


Karena jika tidak mereka akan mati. Melihat anak-anak seusia Alvius bagaimana saya tidak tega. Tapi, kemanusiaan ini bukan karena Alvius, melainkan saya sebagai penggantinya.


Melakukan ini juga sebagai bentuk dimana saya bisa menggunakannya sebagai pembuatan imej dan menjaga nama baik agar tidak terjadi kontroversi.


Dan itu saya lakukan karena ada manfaatnya.


“Kalau begitu saya akan pergi.”


“Ah iya, mari saya antar keluar.”


Dengan kedua pengurus itu saya diantar keluar. Sebelum itu saya melihat anak-anak kecil yang berkumpul mengerumuni anak yang saya sembuhkan tadi.


Apakah mereka benar-benar sepeduli itu hingga menempel padanya?


Membiarkannya dan melanjutkan jalan saya ke pintu keluar.


“Sekali lagi terima kasih Saint.”


Saya tersenyum dengan ekspresi dingin untuk ucapannya.


“Ah, ya. Ngomong-ngomong saya akan kembali lagi kemari untuk memeriksa kondisi anak-anak yang saya sembuhkan dan untuk semua panti asuhan yang lain juga.”


Kedua pengurus panti asuhan tersentak, agaknya mereka terkejut dengan apa yang saya katakan.


“A-ah ya... Kalau begitu kapan anda akan datang? Mungkin nanti kami bisa lebih mempersiapkan sambutan yang lebih baik lagi.”


Kemudian saya tersenyum menjadi ramah dan cerah.


“Kalau itu... Secepatnya.”


Melanjutkan dengan naik kereta dan tidak memberikan jawaban yang pasti adalah tujuan saya. Mari kita lihat ekspresi apa yang mereka pasang. Ya, sesuai yang diharapkan...


Mereka panik.


“Kita pergi.”


“Baik, Saint.”


Kereta kuda bergerak dan meninggalkan tempat ini. Saya tidak tahu berapa lama saya telah melakukan ini. Tapi, bisa saya perkirakan mungkin sekitar 8 jam sejak pagi hari hingga sekarang menjelang sore.


Perlahan saya menyandarkan kepala saya dan kereta kuda yang bergerak sedikit berguncang. Itu irama yang tidak tenang untuk bisa istirahat.


Kemudian saya melihat ke arah jendela kaca dengan menyandarkan dagu pada tangan saya.


Paladin Roy yang melihat saya dari luar mendekatkan tarikan kudanya.


“Apa ada yang anda butuhkan Saint?”


Sudah saya duga dia pria yang memperhatikan dengan baik.


“Tidak...” hampir saya mengatakan itu dengan keras namun seketika saya mengubahnya. “Tolong berhenti!”


Itu mendadak dan benar-benar hampir menjatuhkan saya dari dalam kereta untuk terjungkal.


Paladin Roy menghela napas lega dan saya keluar dari kereta kuda.


“Ada apa Saint?”


Mungkin terdengar abstrak karena tiba-tiba meminta berhenti. Tapi saya memiliki alasan mengapa saya berhenti dan turun disini. Itu tepatnya di jalan yang kami lewati tadi di belakang sana ada sebuah gang kecil.


Tidak sengaja saya melihatnya sekilas. Itu pasti disini, pikir saya.


Dan setelah berjalan sebentar ke arah sebelumnya. Ah, benar saya menemukannya.


Paladin Roy dan Paladin Theo memunculkan kepalanya. Paladin Roy yang pertama kali membuka mulutnya.


“Hm... Anak anjing?”


Benar. Anak anjing. Seekor anak anjing yang mungil tergeletak tidak berdaya di gang sempit kecil disini. Sepertinya bukan karena dia tinggalkan atau sebagainya.


Masalahnya adalah...


“Dia terluka.” Paladin Theo mewakili pikiran saya.


Detik itu juga saya mengangkat tubuh anak anjing ini dalam pelukan saya.


Tapi tiba-tiba...


Hendak untuk menyembuhkan anak anjing ini suara itu sedikit mengganggu saya dan memaksa saya melihatnya.


Pria perut buncit memakai topi hitam Oval, seperti dia adalah pemilik dari sirkus abad pertengahan. Dia datang dengan ragu-ragu namun mempertahankan senyumannya yang terpaksa. Yakin karena dia takut melihat pakaian para Paladin.


“Apakah ini anjing anda?”


“Y-Ya! Itu benar. Dia kabur dari rumah dan pergi entah kemana. Saya mencarinya berhari-hari dan tidak tahunya ada disini.”


“Begitu...”


Paladin Roy dengan sekilas nampak menyerah melanjutkan. Saya yang sedari tadi menatapnya membuatnya melihat saya dengan mata sedikit menyipit.


“Apakah itu benar ini milik anda?”


“Ya, itu benar. Anda bisa memeriksa kalung yang dia pakai.”


“Hm, maksudmu kalung ini.”


Melihat kalung yang dipakai anak anjing ini adalah Choker dengan permata ungu kecil ditengahnya.


“Ya, itu adalah tanda kepemilikan saya jadi saya memberinya pada anak anjing kecil yang manis itu.”


Saya telah mempelajarinya. Pakaiannya formal dan rapi seperti seorang bangsawan. Namun tata bicaranya terlalu kaku untuk bisa dikatakan dia bangsawan. Dan lagi dia tidak memiliki pelayan di dekatnya.


“Kenapa dia kabur dari tempat anda?”


Akan perlu waktu untuk sedikit membuatnya bergerak ke arah yang dia benci. Jadi saya memancing dengan pertanyaan-pertanyaan ambigu.


“Itu... Karena dia mungkin tersesat haha...”


“Anjing? Tersesat? Apakah anda bergurau?”


“Ya? Dia tersesat karena terlalu banyak bermain.”


Jadi dia tersesat karena banyak bermain dan anda baru mencarinya hari ini ketika saya menemukannya. Mengapa? Apakah itu bisa dipercaya.


Maka baiklah.


“Tapi, bagaimana ya...”


“...?”


“Saya sudah menyukai anak anjing ini. Tidak bisakah anda memberikannya pada saya?”


Saya menyeringai tipis dengan pandangan menyipit tajam. Dari reaksi yang di keluarkan pria buncit ini dia sedikit terkejut dan berkeringat. Tapi dia tetap mempertahankan raut wajahnya yang samar-samar gugup.


“Itu akan sedikit sulit. Karena dia adalah anjing yang berharga bagi saya.”


“Hm... Kalau begitu bagaimana dengan ini saja.”


Saya menyerahkan anak anjing pada Paladin Theo dan mengambil Kantong Dimensi dari saku saya lalu saya menggali ke dalam Kantong Dimensi untuk mengambil sesuatu.


“Mungkin ini bisa untuk membuat anda mengerti mengapa saya menyukai anak anjing ini.”


Saya melemparkannya. Sekantong penuh dengan isinya adalah koin emas dan beberapa perhiasan yang mahal.


Mungkin kalian bertanya-tanya dari mana saya mendapatkan itu. Itu sedikit memalukan karena...


‘Itu hasil saya meminta pada Claude.’


Yah, karena Claude bilang punya banyak dan mempersilahkan saya mengambil sebanyak yang saya mau.


Haha, harta negara...


Mata pria buncit ini terbelalak lebar dengan ******* napas penuh napsu ketika melihat sejumlah mata uang itu. Mulutnya tersenyum lebar dan sikapnya sekejap berubah 180 derajat.


“Y-ya!! Mungkin baiklah, jika anda benar-benar menginginkannya anda bisa memiliki anak anjing kesayangan saya. Dengan ini saya bisa mencari yang baru yang lebih manis. Kalau begitu saya permisi tuan-tuan.”


Pria buncit itu mengangkat topinya dengan salam hangat dan pergi berjalan ke arah lain.


“Apakah anda yakin ingin merawat anak anjing itu, Saint?”


“Ya, mengapa tidak. Dia manis.”


Paladin Roy dan Paladin Theo sedikit bingung dengan situasi ini. Tapi dia akan mengerti nanti.


‘Seorang anak kecil pasti berpikir untuk memeliharanya dan itu menggemaskan.’


Mungkin bayangan itu ada di kepala kedua Paladin ini sekarang.


Tapi saya tidak lengah dan tidak membiarkan emosi menguasai saya.


“Paladin Theo, ikuti pria itu.”


“Baik.”


Secepat itu? Tanpa berkata apa-apa lagi Paladin Theo melakukan apa yang saya katakan padanya.


Setelah ini saya naik ke kereta lagi dan melanjutkan perjalanan untuk pulang. Anak anjing yang di pelukan saya tertidur dengan keadaan meringkuk kesakitan.


‘Monitor.’


[Melaporkan. Adanya sihir di dalam kalung tersebut.]


Dengan signifikan monitor menjawabnya.


Itu telah saya prediksi. Tidak mungkin anak anjing akan tersesat dan mungkin pria buncit itu pikir saya bodoh.


Sepertinya anak anjing ini kabur.


Kemudian saya melepaskan kalung yang mengikat dilehernya. Sedikit menyengat seperti ada setruman listrik kecil, mungkin karena ini kalung sihir. Jadi saya menggunakan kekuatan saya untuk menghancurkannya.


“Sekarang sudah selesai.”


Sepertinya hari ini adalah hari yang melelahkan untuk saya. Banyak sekali hal yang terjadi dalam satu kurun waktu bersamaan pula.


Memandang anak anjing ini sekarang tidur dengan nyaman karena kalungnya hancur, itu melegakan.


Memandang keluar jendela lagi dan matahari senja perlahan turun.


Ah, apakah kedamaian itu akan terasa seperti ini?