The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 103: HAL YANG PERLU DILAKUKAN



Setelah beberapa saat setelah Veronica selesai menangis, situasi di dalam dungeon menjadi berbeda, aula bergetar, saya menduga bahwa kastil ini akan segera runtuh.


Dan benar, pemberitahuan yang terlambat datang menjadi bukti.


[Dungeon ‘Kastil Ratu Astaroth’ tingkat-SS telah berhasil di selesaikan!]


[Anda mengalahkan ‘Demon Lord of Lust’ para iblis menetapkan anda sebagai musuh berbahaya!]


...Sebelumnya saya rasa pernah mendapatkan hal yang seperti itu. Jadi saya mengabaikan peringatan itu. Serius.


Tapi pemberitahuan selanjutnya menjadi hadiah utama bagi orang yang paling berperan utama dalam pertarungan ini.


[Skill ‘Demon Slayer (Pasif)’ telah di dapatkan!]


Veronica tertegun melihat notifikasi yang tiba-tiba muncul itu. Itu miliknya, tapi dia terlihat tidak terlalu senang akan pendapatan ini.


Padahal itu adalah kemampuan berbahaya yang pernah saya lihat sebenarnya. Seandainya saya bisa menyalinnya... Tapi, saya tidak bisa menyalin Skill yang baru saja di dapatkan, jadi saya pasrah tentang itu.


Kemampuan yang hampir mirip dengan pemakaian sihir suci. Ketika dia berhadapan dengan ras iblis, maka yang diuntungkan adalah Veronica, karena serangannya akan tetap menimbulkan dampak besar bagi ras iblis meskipun tanpa memakai kekuatan sihir suci.


Nah, itu sangat cocok di gunakan dalam pertarungan jarak dekat, sementara saya tidak bisa melakukannya. Melepaskan adalah hal terbaik.


[Kastil akan segera di runtuhkan!]


Itu membuat saya terkejut, memindai lokasi dengan akurat semua yang ada di tempat ini bergetar seperti ada gempa yang menyerang, saya buru-buru berbicara pada Veronica yang mengusap air matanya.


“Hei, kita harus segera keluar.”


“Aku tahu.” jawab nada sedikit kecut Veronica. “Apa kamu bisa berjalan?” dia berdiri dengan linglung sementara menodongkan tangan ke arah saya. Entah dia naif atau apa kami berdua sama-sama sudah mencapai batasnya.


“Ya. Aku tidak apa.”


Ketika di perhatikan lagi dia memang masih sedih, tapi dia memilih untuk mengakhirinya disini dan tidak ingin membuang waktu lagi.


Saat saya dan Veronica berjalan cepat menuju pintu keluar saya tanpa sengaja melihat di atas udara ada benda yang terlihat seperti terbang bebas. Bola hitam. Sebuah bola hitam kecil aneh itu tiba-tiba bergerak cepat menembus apapun yang di lewati seperti di tarik oleh sesuatu.


“Apa itu tadi?” gumam saya dengan nada bingung.


“Apa?”


“Ah, tidak.”


Mungkinkah hanya ilusi?


“Kita harus cepat.”


Kastil mulai runtuh dan langit-langit bongkahannya jatuh satu per satu bersama dengan pilar yang hancur dan lantai yang rusak akan retakan. Kami melanjutkan langkah kami.


Tidak ada yang tahu, bahkan dari semua orang yang ada disini, bahwa kemungkinan bahaya masih mengintai semua orang.


Sebuah bola hitam gelap murni dengan tanda kemerahan sebagai lambang unik dimana lambang itu adalah tanda kepemilikan hawa nafsu tinggi.


Terbang menembus atmosfer tanpa memperlambat lajunya meski sedikit, hingga keluar dari gerbang.


Bola hitam itu seperti memiliki pikiran sendiri namun itu tidak benar. Sebaliknya, itu seperti di tarik oleh medan yang kuat yang memang menariknya. Tempat yang di tuju adalah sebuah tempat luar di dekat pintu masuk Kota Industri Tenstheon dan ada sebuah kepompong hijau yang di dalamnya, seorang laki-laki remaja berkulit gelap tertidur.


Ekor yang bagaikan komet hitam dengan cepat masuk ke dalam tubuh laki-laki itu.


Tidak ada yang mengetahuinya bahkan makhluk kuno sekalipun.


- Kieeek!!


Ular Gorgon menjerit di atas penjara langit yang di bangun oleh July. Jeritan bahkan bisa di dengar orang-orang yang ada di bawah. Mereka semua berpikiran sama — ada apa dengan ular itu?


July yang menyadarinya langsung menurunkan penjara langit dan mengubur kembali ke tanah. Ketika dia melihat jika di dalam sangkar penjara yang mengurung Ular Gorgon tersebut, sudah tidak ada, lenyap, dia terkejut serta kebingungan.


[Disaster itu... Menghilang?!]


Tidak tahu bagaimana harus menyikapi ini, July benar-benar kebingungan. Kemudian dia menggerakkan kepalan tangannya dan merasakan dengan jelas jika otoritasnya sebagai pelindung tempat ini bisa dia rasakan kembali.


“Putri, mungkinkah ini...”


Elder Orlos yang juga merasakannya juga menyadari kejanggalan ini. Tapi, ini bukan kejanggalan aneh yang bisa menjadi salah paham.


[Ya, ini...]


Setelah itu gerbang raksasa di depan mereka semua bergetar kuat dan perlahan-lahan mulai runtuh. Guncangannya membuat tanah sedikit mengalami gempa. Lalu gerbang perak itu benar-benar lenyap menjadi debu halus tanpa tersisa.


Semua orang yakin tentang ini.


Perang bencana ini telah usai sepenuhnya. Tapi, dari mereka masih tidak ada yang berteriak kemenangan. Mengapa? Ada yang ingin mereka pastikan dan itu semua lebih penting dari sebuah kemenangan yang terasa tidak nyata ini.


Yohan yang ada di kemompong bicara cemas. “Apa mungkin Al menang melawan iblis itu?”


[Tidak tahu, tapi...]


July mencoba untuk terhubung dengannya, tapi tidak ada jawaban apapun sebagai hasilnya. Seperti suara komunikasi yang rusak dan beberapa kali di sambungkan lagi.


Kekuatannya telah kembali, hanya saja sedikit terasa hampa.


Kemudian dari kepulan asap yang tersisa bekas gerbang dungeon menghilang, siluet dua orang muncul berjalan dengan linglung.


Yohan yang sedari tadi memperhatikan semua medan meskipun keadaannya sendiri cukup serius dia tetap mempertahankan kesadarannya demi situasi ini. Air mata mulai tergenang di kantungnya dengan wajah bahagia.


“Sudah kuduga kamu pasti kembali, Al.”


Lalu semua orang disana, Elder Orlos dan Elder lainnya, berlari menjemput kedua sosok yang muncul itu. July juga menghampiri mereka dengan senyuman di wajahnya.


“Bocah, kamu kembali!” teriak meriah Elder Mouris yang kini di gendong Elder Vergo.


Elder Helgam yang tersipu, terbatuk dan angkat suara. “Y-yo, kamu berhasil.”


Yang terakhir masuk tiba-tiba melompat dan memeluk keduanya. Saya dan juga Veronica.


“Nak, terima kasih sudah berhasil keluar. Selamat datang kembali.”


Itu tidak terduga, bahkan semua Elder yang menyaksikan Elder Orlos melakukan tindak mengharukan ini tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Kenapa tidak. Melihatnya melakukan itu membuat semua Elder berpikir bahwa mereka sedang melihat seorang kakek sedang memeluk cucunya di saat sedang merindukannya.


Lalu July menambahkan kalimatnya. [Selamat datang kembali, anak-anak.]


Ketika kalimat itu di ucapkan. Dulu kata itu tidak pernah terpikirkan jika makna dan kegunaannya itu memiliki arti yang berbeda dengan makna yang sama. Saya tersenyum. Merasakan di sambut seperti ini adalah hanya saat bersama keluarga.


Tetapi, ini tidak terlalu buruk bersama orang lain. Tangan saya menepuk punggung lebar Elder Orlos.


“Ya. Aku berhasil kembali.”


Dimana waktunya tiba, perang telah usai, banyak kerusakan yang di timbulkan. Namun setidaknya, setelah badai usai, ada secercah harapan yang datang.


Veronica merengut kesal dan cemberut mulai menggerutu dan mengomel.


“Hei, cepat lepaskan aku kakek tua kau membuatku sesak napas.”


Kata-kata sarkasnya pun datang seperti badai, hanya untuknya, agar dia bisa kembali meraih secercah harapan bahkan jika badai tidak kunjung usai melanda perasaannya.


Elder Orlos tertawa dan melepaskan pelukannya. Dan disitu saya terkejut melihat ada dua kepompong hijau dimana ada dua orang yang saya tidak duga ada di dalamnya dengan keadaan terluka parah.


“Hyung?” mata saya terbelalak dan kaki saya bergerak mengikuti naluri berlari menghampirinya. “Hyung! Ini, kenapa?! Apa yang terjadi—!”


Di pikir lagi, dimana saya dan Veronica kesulitan melawan Astaroth hingga melupakan orang yang tidak ada di tempat pertempuran itu, saya mengingat jika selain July, Yohan dan juga Heros terseret oleh monster terbang.


Meskipun mereka adalah Prophet saya. Namun saya sebagai Apostle juga memiliki kewajiban melindungi para Prophet seperti yang mereka lakukan pada saya. Ini adalah ketidakberdayaan saya.


“Akan aku pulihkan kalian berdua sekarang!”


“Al—”


Yohan yang hampir mengatakan sesuatu terhenti, sebuah tangan langsung meraih pundak saya dan saya berbalik melihatnya.


[Saint Alvius. Dari semua orang yang ada disini yang paling membutuhkan istirahat dan penyembuhan adalah kamu. Jika kamu mengeluarkan kekuatan sihir lagi untuk menyembuhkan mereka berdua, kamu akan dalam keadaan dimana... Adalah keadaan terburuk.]


saya menjawabnya seperti membuat sebuah alasan mengelak. “Aku tahu keadaan itu, jika itu aku pernah mengalaminya jadi tidak perlu khawatir. Yang terpenting sekarang adalah luka kedua orang ini hilang. Aku masih memiliki cukup kekuatan sihir.”


July menggelengkan kepalanya seolah dia benar-benar tidak percaya dengan ucapan saya.


[Jangan khawatir. Sekarang otoritas kekuatanku disini tidak terganggu jadi biarkan aku mengurusnya.]


July mengangkat rendah kedua tangannya. Kemudian dari bibirnya dia mengucapkan sebuah kalimat seperti sebuah sihir.


[‘Life of Nature’.]


Butiran-butiran cahaya kehijauan muncul dari tanah. Tanah yang tadinya hancur dan berlumpur berubah menjadi tanah yang sumbur di tumbuhi dengan rerumputan panjang. Seperti sebuah gelombang yang berdesir, mencapai titik luas dimana mencakup area yang telah di tentukan.


Bukan hanya itu, butiran-butiran hijau yang menyelimuti kami seperti benang sutra membuat luka di sekujur tubuh menghilang dalam sekejap tanpa bekas.


“Lukaku menghilang?”


Bahkan Veronica tidak percaya dengan apa yang dia lihat. Semua orang telah di sembuhkan dari keadaan kritis hanya dengan kemampuan ini. Luka saya memang hilang, tapi kekuatan sihir saya masih...


Jadi inilah kekuatan seorang Dryad kuno.


[Meskipun hanya sebatas menyembuhkan luka secara fisik dan menjauhkan seseorang dari keadaan kritis. Tidak bisa memulihkan kekuatan sihir kalian, karena kekuatan sihir itu pulih secara alami seperti metabolisme dalam setiap tubuh makhluk hidup.]


Itu bukan omong kosong. Yang dikatakan July benar adanya. Kekuatan sihir pulih secara alamiah dari waktu ke waktu, ada yang pulih dengan cepat dalam beberapa jam dan ada yang sedikit lama. Tergantung pada setiap individu yang berpotensi, dan dalam kasus saya itu berbeda. July pasti menyadarinya dan mencegah saya melakukan tindakan itu.


“Tapi, Hyung masih di dalam...”


[Ya, dia dan Heros itu harus tetap di dalam kepompong sampai benar-benar pulih maksimal. Luka mereka sangat berbahaya, jika mereka keluar sekarang takutnya itu tidak benar-benar memulihkan mereka. Lalu untuk Heros...]


Benar, kata-kata July yang ragu-ragu di akhir itu membuat saya juga berpikiran aneh dan bicara sedikit cemas.


“Kenapa senior belum sadar?”


July tidak menjawabnya. Alih-alih itu semua, saya tahu tanpa melihatnya lagi bahwa semua orang yang disini juga tidak tahu apa yang terjadi dengan Heros yang tidak kunjung membuka matanya. Dia masih bernapas, tapi tidak ada tanda-tanda dia akan sadar.


Perasaam saya mengatakan, apa mungkin ini ada hubungannya dengan kutukannya?


Karena sebelumnya, pertama kali kami bertemu Heros mengatakan hanya sihir suci saya yang bisa menyembuhkannya. Tapi, jika saya melakukannya July dan Yohan akan menghentikan saya.


Langit cerah ini masih tetap menjadi badai bagi masing-masing orang.


Tunggu, langit cerah?


Saya segera menyadari sesuatu dan bicara buru-buru.


“Sekarang sudah berapa hari waktu terlewat?!”


July pun kaget saat saya tiba-tiba menanyakan hal itu, Veronica dan Yohan, bahkan Elder juga bingung dengan reaksi saya ini.


“Eh, jika mengatakan waktu di sini... Dari penyerangan dungeon itu artinya waktu di luar adalah hampir dua hari sudah terlewat sejak kalian datang. Jika disini cerah, itu artinya di luar malam.”


Itu artinya jika disini cerah maka di luar malam! Sedangkan disini matahari sudah akan tenggelam!?


Saya menelan ludah dan menjadi gugup tanpa alasan, telapak tangan saya juga menjadi dingin.


‘Gawat! Aku akan mati jika aku tidak kembali. Orang gila itu pasti sudah menungguku di istana.’