The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
104: HAL YANG PERLU DILAKUKAN (2)



Setelah pertempuran besar Break Dungeon dari serangan Astaroth yang menanti adalah perbaikan besar.


Banyak hal yang harus di rekontruksi ulang, kerusakan yang timbul tidak hanya menghancurkan setengah Kota Tenstheon namun juga merusak tempat yang menjadi ciri khas kota industri tersebut.


Tetapi, di samping semua orang memikirkan keresahan masing-masing, saya tenggelam dalam pemikiran.


Janji yang saya tetapkan pada Claude masih berlaku, meskipun saya tidak pernah menyetujuinya dengan yakin. Hanya, jika ia mau bahkan berbahaya jika harus berurusan dengannya setelah acara disini selesai.


Yohan yang melihat wajah murung saya memanggil. “Al...?”


Sementara dia memanggil bahkan saya tidak bisa merespon dengan jelas. Walau begitu saya tidak menjawabnya dan mengabaikannya sejenak, berbalik dan bicara.


“July, bisakah kamu membuka portalnya sekarang?”


[Ah, ya, tentu sekarang bisa karena otoritas tempat ini tidak sedang dikacaukan. Kenapa?]


“Bagus, buka portal keluar sekarang.”


Veronica mengerutkan dahi ketika mendengar itu dan mengomel. “Apa?! Hei Alvius lihatlah dirimu, kamu sendiri sudah terlihat berantakan. Dan sebenarnya kamu mau kemana?”


Benar, keadaan saya tidak berbeda dari yang lain, namun sedikit parah. Saya tidak menanggapi Veronica yang berteriak dan melirik July seperti memberinya sinyal penting dan dia mengerti sembari menghela napas. July mengulurkan tangan kanan ke udara dan membuat pusaran, sebuah portal muncul di depan saya.


“Maaf, aku sedang buru-buru, kalian tetaplah disini dan menerima pengobatan dari July.”


[‘Transformasi Archangel’ telah di aktifkan!]


Saya bersyukur kekuatan dari Cassiopeia masih tersisa meski saya sendiri tidak tahu berapa lama akan bertahan. Jelas ini melanggar aturan hidup saya sendiri, walau begitu saya memekakan sayap dan melesat ke dalam portal.


“Tunggu, Alvius!”


Tidak ada yang bisa menghentikannya, Yohan yang terlihat tak berdaya memilih diam dan melihat apa yang diinginkan selanjutnya oleh Alvius. Tentu dia tidak bisa lepas dengan keterkejutan jika adiknya dalam keadaan terluka.


“Sebaiknya kita juga pergi...” dia ingin bersama Alvius, tidak lebih. “Bisakah kau mengeluarkanku?” seolah pertanyaan itu adalah racun baginya, ketika dia bergerak sedikit, tubuhnya merasakan sengatan yang luar biasa. Dia masih belum pulih.


July menggelengkan kepala. [Tidak boleh, kamu dengar sendiri apa yang dikatakan Saint Alvius, kamu dan lainnya harus tetap disini untuk pengobatan. Jika kamu pergi, maka luka kamu tidak bisa disembuhkan.]


“Aku tidak peduli, yang penting adalah adikku sekarang. Dari wajahnya dia seperti merencanakan sesuatu lagi. Jika itu berarti dia akan menghadapi situasi buruk lagi, aku tidak mau tetap diam disini.”


[Itu hanya alasan.]


Saat July menyebut itu, tubuh Yohan bergejolak kecil seolah dia tersengat setruman listrik. Wajahnya membeku dimana melihat pandangan July yang seolah melihat langsung ke dalam dirinya.


[Kamu hanya takut sendirian.]


“Sampah apa yang kau katakan?!” Yohan tersulut dan mengerutkan dahinya, ekspresinya terlihat seperti monster yang berontak dari kurungannya. “Jangan katakan hal yang tidak perlu seolah kau mengerti diriku dan cepat keluarkan aku dari sini, sebelum aku merobek mulutmu itu.”


Tatapan mata yang tidak memperlihatkan tipuan atau hanya alasan semata untuk menggertak. Dia benar-benar akan bisa melakukannya jika dia mau, saat ini, di detik ini juga. Itu mengerikan.


July tidak terprovokasi dan bersikap tenang seperti dia memang sengaja melakukannya dan bicara dengan nada sedikit dingin.


[Benar, itulah dirimu yang sebenarnya. Monster ada di dalam dirimu. Kamu benci orang-orang yang dekat dengan Saint Alvius. Selain Saint Alvius, kamu tidak peduli apa yang akan terjadi pada dunia, bahkan jika dunia hancur, hanya Saint Alvius yang akan kamu selamatkan.]


“Karena dia adikku!”


[Jika adikmu, maka seharusnya kamu tahu apa yang akan dia lakukan. Tapi, kamu hanya ingin mengurungnya agar dia aman dan terus melindunginya. Dan kamu sadar, jika perbuatan itu, malah berbalik kepadamu.]


Setelah semua pidato itu selesai, biasanya Yohan akan melompat dan menghunuskan pedang pada mereka yang mengatakan omong kosong. Ekspresi kelam itu, suram dan gelap, menguasai dirinya dalam kemarahan. Alasannya dia tahu, sekarang dia tidak bisa melakukan perlawanan. Tetap, dia memilih memprovokasi dengan berkata.


“Berikutnya aku akan membunuhmu.”


Dan menanggapi tantangan itu, July tersenyum lembut seolah mengejek.


[Jika kamu bisa.]


Yohan menggertakkan giginya kuat. Situasi yang tidak dia ketahui seolah menjadi pedang bermata dua baginya. Benar, dia ingin memonopoli Alvius. Tapi apa yang salah dengan itu. Alvius adalah adiknya, saudaranya, keluarganya. Namun, July mengatakan — bahwa itu hanya alasan.


Dia membenci semua orang yang selalu berada di sebelah Alvius. Bukan berarti dia menolak itu karena Alvius sendirilah yang melakukannya, membawa mereka seperti memungut kucing yang kehujanan. Dia ingin berontak dan menghancurkan jalan yang membuat Alvius menderita.


Kemudian, memilikinya sepenuhnya dalam genggamannya dan selalu melindunginya, dan menjaganya, dan, dan...


Itulah perasaannya yang sebenarnya.


Kemungkinan besar, July tahu. Fakta bahwa Yohan sangatlah terobsesi pada Alvius lebih dari siapapun.


Hanya dengan melihat mata pria itu, mata yang seperti seorang Beast yang siap menerkam mangsanya. July hanya bisa tersenyum kecil dan pahit.


Akan seperti apa masa depan di sekitar Saint Alvius?


Dia malah semakin penasaran akan cerita di masa depan.


[Bawa mereka ke dalam dan sembuhkan orang-orang yang terluka.]


***


Dua jam sebelumnya.


Inilah pesta yang disiapkan oleh mereka dimana menyambut kemenangan besar dalam menaklukan dungeon-dungeon yang muncul belakangan ini. Yah, mereka telah berhasil mengeksploitasi dungeon dan menaklukan banyak. Jadi ini bentuk perayaan dan upaya penghormatan besar.


Anehnya kali ini tamu undangan sangat banyak sampai Pasukan Divisi pimpinan Jean Jacques kewalahan dalam menangani hal ini. Ingin sekali mereka mengeluh, nyatanya tidak bisa, karena mereka seorang Knight.


Waktu berlalu dan semua tamu undangan di pindahkan dalam aula perjamuan, pesta besar.


“Lihatlah, Baron Serio bahkan diundang dalam pesta kali ini.”


“Benar, dan juga Machioness Heliam dan juga Count Isidore juga hadir.”


“Hmm, aku tidak tahu apa yang dipikirkan Ratu dengan mengundang mereka semua.”


“Eh? Tapi yang kudengar mereka di undang oleh Pangeran Mahkota.”


“Benarkah?”


“Jika diperhatikan, orang-orang yang netral dan juga mereka yang tidak pernah muncul di pertemuan juga datang. Pejabat-pejabat yang memilih menyerah dalam urusan politik juga ada.”


“Ada apa sebenarnya?”


Dari yang dilihat dalam melakukan pekerjaan ini jelas yang menjadi dalang adalah yang mereka sebut Pangeran Mahkota. Siapa tahu, bahkan mereka tidak ada yang tahu.


Sebagai informasi, sejak awal faksi bangsawan telah pecah, sejak penguasa mutlak yaitu Raja mereka telah meninggal. Setelah itu satu per satu pengikut Raja mulai merasakan firasat jika akan ada suatu perpecahan, sebab itulah kontroversi di antara mereka yang bertahan dan mereka yang menyerah dalam berpolitik menjadi renggang dan saling bermusuhan.


Namun, di semua aspek itu, ini disebut keajaiban. Semua yang saling membenci ada di satu ruangan yang sama sedang memegang segelas wine dan jus, menikmati pesta seolah tidak pernah terjadi permusuhan.


Itu karena mereka saling mengawasi satu sama lain dan tidak memperlihatkannya.


Dalam dunia politik musuh mereka selalu bisa menipu mereka, mereka ahli dalam bidang itu.


Justru karena inilah, faksi bangsawan yang bertahan bingung, kenapa ini terjadi?


Di tengah keributan yang senyap, suara pemberitahuan penting muncul untuk menyambut kedatangan bintang utama pesta.


“Yang mulia Ratu Evanolia Zariel Harvellion dan Pangeran Mahkota Claude La Zariel, memasuki aula!”


Pintu aula terbuka lebar dari arah tangga, dua orang yang saling bergandengan muncul. Wanita berambut pirang emas keriting membawa tongkat kemuliaan tersenyum dan pria yang menjadi pasangannya adalah anaknya, Pangeran Mahkota, Claude. Dengan jubah merah, pakaian mereka sangatlah royal daripada yang lain.


Saat kedatangan mereka berdua satu isi aula terdiam senyap, tidak ada lagi dari mereka yang memegang gelas wine dan jus, detik nama mereka muncul di telinga bangsawan, sejak itu juga mereka semua sudah menekuk lutut mereka di hadapan penguasa.


Keheningan yang paling di benci Claude.


Di antara mereka berdua, orang pertama yang membuka mulut memberi sambutan dengan suara lembut yang unik saat mengangkat tongkatnya.


“Aku ucapkan terima kasih kepada semua bangsawan yang bersedia hadir di malam ini. Tidak perlu kaku, malam ini adalah pesta besar yang disiapkan oleh putra kesayanganku untuk menyambut kalian semua.” dengan suara yang bisa menenangkan hati seorang iblis, dia tersenyum. “Mari kita mulai pestanya.”


Semua bangsawan bangkit seperti mereka mengabaikan keheningan dan musik dari semua instrumen telah di mulai untuk di mainkan. Semua orang bersenang-senang dan aula menjadi ramai.


Claude dan Ratu Evanolia duduk di kursi mereka masing-masing, pelayan membawakan mereka minuman, Claude mengambil jus sedangkan Ratu Evanolia mengambil wine merah kental.


“Ara, putraku kenapa kamu tidak minum?”


“Yang mulia, umurku masih belum cukup untuk itu.”


“Ya ampun, maafkan Ibu ini. Padahal kamu tidak perlu terlalu kaku dan nikmati saja semuanya. Tapi, mau bagaimana lagi jika kamu masih kecil.”


Mengabaikan fakta anaknya masih belum cukup umur meskipun itu hanya satu tahun. Menolak perbedaan dan mengatur semuanya sesuka hatinya. Seperti yang di harapkan oleh Claude. Ibunya tidak pernah melihatnya tumbuh melainkan bagaimana dia bermanfaat.


Meskipun dia menikmatinya, Claude berhati-hati dalam ucapannya. Aneh, jika Alvius tahu mungkin akan tertawa dan meliriknya dingin.


Membayangkannya membuat Claude bisa tersenyum kecil.


“Apa akhir-akhir ini ada yang membuatmu senang putraku?”


Sekejap ekspresi Claude berubah kembali menjadi tidak ada apa-apanya dan menjawab setelah meneguk sedikit jusnya. “Tidak ada.”


“Hm, benarkah. Lalu bagaimana dengan Saint yang kamu bawa itu? Bagaimana kabarnya?”


Iris Claude segera bergerak ke arah Ratu Evanolia yang sekarang tersenyum padanya seperti ada kabut di wajahnya, senyum yang penuh tipu muslihat dan observasi ada menatapnya.


“Kenapa Yang Mulia tertarik? Apa itu penting?”


“Tentu saja, apa yang dilakukan putranya, bagaimana kabarnya, dan siapa yang bermain dengannya. Sebagai Ibu aku pasti penasaran, kan?”


Penasaran? Itu menjijikan. Jus yang dia telan terasa sangat hambar dan tidak ada bedanya dengan air kosong, kerongkongan yang tadinya ingin dia segarkan sekarang terasa kering kembali setelah telinganya tercemar oleh kata-kata itu.


Claude mendengus tersenyum dan memandang Ratu Evanolia, saat matanya terlihat mati dan tidak ada perasaan yang tinggal disana.


“Yah, bukankah untuk itulah alasan kita berdua berkonflik, wahai Ibu yang agung.”


Ratu Evanolia menanggapi dengan ekspresi yang lembut dan senyuman, saat rahangnya sedikit terbuka, senyumnya dan wajahnya melebar.