The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 95: DISASTER (4)



“Jika kita ingin menjatuhkannya maka setidaknya serangan yang lebih ekstrem dari ini!”


[Tubuh ular ini memiliki Anti-Poison yang kuat, sebagaimana dia adalah Disaster milik Raja Iblis maka tingkat regenerasi tubuhnya juga cepat.]


Serangan beruntun yang di kerahkan oleh para Elder dan juga July menggoresnya dan bisa memotong tubuh ular Gorgon, tapi itu sesaat. Tubuh ular Gorgon dapat dengan mudah meregenerasi dan kembali. Awalnya kepalanya menghilang, tapi dengan cepat itu utuh kembali.


Riak dalam pertempuran semakin kuat. Badai yang di sebabkan tabrakan antara senjata legendaris ciptaan masing-masing Elder menyebabkan debu guntur yang tidak kunjung berhenti.


Stlagernouth milik Elder Orlos meraung ke udara dan menembakkan pancaran energi keemasan dengan ledakan yang besar. Sisik ular Gorgon mudah di tembus seakan itu tidak sekuat yang dipikirkan.


“Tapi...”


Serangannya menjadi percuma jika ular Gorgon dapat sembuh dengan cepat.


“Sialan. Mouris!”


“Aye!!” Tanggap Elder Mouris dengan mata berbinar menunggu gilirannya dan seluruh perlengkapan senjata di tubuhnya mengeluarkan asap mesin.


Dengan bunyi kebisingan yang luar biasa darinya energi kebiruan dari udara mulai tersedot ke dalam inti armor di dadanya. Elder Mouris mengumpulkan itu semua di satu titik. Lalu dengan wajah bersemangat dia melepaskan pengekang yang mengikat dadanya dan kemudian sebuah tembakan leser yang hebat menyembur keluar dari dadanya.


Gu-dudududu!!


Melihat kilauan cahaya para Elder melompat menjauh dari tempat mereka berdiri dan cahaya sinar penghancur itu menembus dan meledakan ular Gorgon.


Elder Mouris terjatuh, seluruh Armornya berasap hitam dan satu per satu dari perlengkapan tubuhnya runtuh.


“Itu adalah serangan dari senjata ini. Meskipun aku tidak akan bisa menggunakannya lagi, kurasa tidak ada yang lebih baik dari mengeluarkan segenap kekuatannya.”


Walaupun Elder Mouris sudah sangat kelelahan dia masih mempertahankan senyum arogannya disana.


“Kerja bagus Mouris!”


Nama Elder bukan sekedar pajangan semata. Mereka di juluki Elder karena memang sangat pantas menyandang gelar itu. Masing-masing dari mereka memiliki kekuatan yang setara dengan satu pasukan. Jauh dari kata sempurna, mereka tidak pernah sedikitpun berpikir mereka adalah yang terkuat.


Karena di dunia ini mereka tahu, ada makhluk yang lebih kuat dan tidak mungkin bisa mereka kalahkan.


Tubuh ular Gorgon yang lenyap seutuhnya menggelembung di udara, tulang serta dagingnya membengkak dan menjadi satu. Organ di dalam tubuhnya yang hancur kembali lagi bahkan tanpa meninggalkan bekas dari serangan sebelumnya.


- Kiieek!!


Desisan ular Gorgon menyapu gelombang di sekitar. Membuat setiap Elder merasa tidak berdaya dengan semua yang telah mereka keluarkan.


Elder Orlos menatap pada pedangnya yang telah lama bersama dengannya, rekannya Stlagernouth miliknya.


“Bahkan dengan Stlagernouth serangan ini tidak ada apa-apanya jika dia terus hidup.”


[Kita tidak bisa membunuhnya sebelum mediumnya di hancurkan.]


“Dan medium itu adalah Astaroth yang ada di dalam.”


Ular Gorgon adalah anak dari Astaroth. Memastikan ini dari pertama kali melawannya July bisa tahu jika ular ini tidak memiliki daya hidup di dalam tubuhnya. Yang mana dia hanya bisa di bunuh atau menghilang dengan sendirinya jika Astaroth dikalahkan.


Tapi, bahkan mereka tidak bisa masuk ke dalam kastil Astaroth lagi. Itu membuat mereka tidak punya pilihan selain menahan ular Gorgon agar tidak masuk ke dalam pemukiman.


“Apa yang harus kita lakukan, putri?”


July yang berusaha menahan tubuh dan gerakan ular Gorgon, salah satu Disaster juga memiliki batas yang dia punya. July menggigit bibirnya.


Jika harus ada yang bisa dia lakukan maka itu adalah...


[Hanya ada satu cara...] July mengangkat satu tangannya ke langit, pesan-pesan di dalam kepalanya memperingatkannya sangat keras, bahwa itu larangan.


...Sesuatu yang hanya bisa dia lakukan.


Energi kehidupan muncul dari tanah dan berkumpul di telapak tangan July yang dia angkat ke langit. Saat July hendak membuka mulutnya dengan kuat, seseorang berteriak di belakang.


“J-jangan lakukan itu!”


Tubuh July terkesiap dan semua yang dia lakukan menghilang dalam udara. Kemudian July melihat ke arah sumber suara datang dan dia terkejut jika dua orang yang seharusnya sedikit membuatnya tenang dan seharusnya tidak berada di luar ada di situ.


Dua orang yang terluka, satu sudah tidak sadarkan diri dan yang satunya harus terpaksa menggendongnya dalam keadaan payah.


[A-apa yang kamu lakukan disini?]


- Kiieek!!


Ular Gorgon yang merasakan kehadiran Yohan berbalik dan membuka moncongnya yang hendak melahap mereka. Tepat detik itu, July mengikat moncongnya dan seluruh tubuh ular Gorgon dengan sulur akar miliknya sangat erat, lalu dia menghampiri Yohan.


[Kenapa denganmu?]


Yohan menurunkan Heros yang sudah tidak sadarkan diri ke tanah sementara luka di tubuhnya semakin terbuka hingga darah memenuhi pakaiannya yang du penuhi bercak kemerahan.


“Jangan...” Yohan mencengkeram lengan July dengan erat tiba-tiba. Bahkan dalam keadaan yang sangat pucat seolah ini adalah energi terakhirnya dia memutuskan menggunakannya untuk berbicara. “Jangan gunakan kekuatan itu... Jika anda lakukan... Al akan...”


“Nak, apa yang terjadi denganmu?!”


Elder Orlos dan Elder lainnya yang mengetahui ini juga segera bergegas mendatangi kedua korban ini. Para Elder kaget dan ekspresi mereka mengeras, dimana mereka melihat anak masih remaja sudah berlumuran darah tidak berdaya.


“Tolong, selamatkan Heros... Dia...”


[Hah!?]


Menyadari betapa mengerikannya luka mereka, July langsung menggenggam tangan Yohan dan mengangguk paham. Kemudian dengan gerakan tangannya ke atas tubuh Yohan dan juga Heros langsung di bungkus ke dalam sebuah kepompong yang menampung tubuh mereka.


Heros tertidur di kepompong dan tubuhnya bersinar kehijauan, perlahan dia di sembuhkan meski itu tidak secara instan dan lambat.


Sedangkan Yohan yang masih setengah sadar membuka mulut di dalam kepompongnya.


“Setelah anda terseret, saya dan Heros juga ikut terjerat oleh salah satu makhluk milik Raja Iblis, monster yang mirip kelelawar dan membawa kami keluar aula.”


[Tidak mungkin... Lalu jika kalian disini maka yang ada di dalam...]


“Al... Dia bersama Veronica di dalam. Saya berusaha untuk masuk ke dalam lagi setelah mengalahkan monster itu namun tidak berhasil. Saya tahu...”


Tiba-tiba Yohan meneteskan air mata.


“Saya tahu jika setelah keluar maka kita tidak akan bisa masuk ke dalam lagi.”


Dia menggigit bibirnya sendiri dan mengepalkan tinjunya. Semua kekesalannya ada di setiap genggaman tangannya, dia tahu seberapa tidak mampunya dirinya untuk memilih dalam keputusan ini.


July melirik antara Yohan yang seperti berduka dan Heros yang tidak sadarkan diri di dalam kepompong. Tatapannya menjadi pahit, dia paham apa yang dirasakan Yohan sekarang.


“Apa yang harus saya lakukan sekarang!”


[Jangan khawatir. Sekarang kamu harus memikirkan keadaanmu sendiri.]


July berbalik dan berjalan di temani oleh Elder lainnya untuk menghadapi ular Gorgon yang tak kunjung berhenti memberontak untuk terlepas dari ikatan akar yang melilitnya.


“Tunggu! Tolong jangan gunakan kekuatan sihir dari Al!”


[Apa karena itu tadi kamu menghentikanku? Tidak perlu risau, meski tanpa kekuatan sihir dari Saint kecil, aku masih bisa menghadapi makhluk ini.]


Tangan July meremas udara dengan kuat. Itulah kendali dirinya pada akar yang mengikat tubuh ular Gorgon. Semakin dia meremas udara semakin erat akarnya sampai ular Gorgon hancur.


Tidak hanya Elder Orlos, Elder lain tercengang melihat seluruh tubuh ular Gorgon hancur berkeping-keping hanya karena lilitan akar milik July.


[Makhluk yang tidak di undang tidak seharusnya membuat kekacauan disini. Entah itu lima ratus tahun lalu ataupun sekarang semua itu tidak ada hubungannya. Hanya, jika kalian mengusik tempatku aku tidak akan memaafkan kalian.]


Tsu-sususus!!


Akar-akar di dalam tanah, tidak, di seluruh tempat ini dari pohon hingga yang ada di dalam tanah semuanya menggeliat keluar dan menyebabkan getaran yang begitu kuat, memenuhi seluruh tempat dimana July berdiri.


Ular Gorgon yang kembali hidup.


Percikan badai di atas di atas kepala July. Daun dari pohon berhamburan dan gugur menjadi bagian dari angin topan yang menguasai angin.


[Berapa kalipun hidup aku akan terus menghancurkanmu.]


Para Elder tahu apa yang telah terjadi dan memilih berlari dengan wajah panik dan membawa menjauh kepompong milik Yohan dan Heros dari tempat ini.


“Gawat! Putri sudah marah!”


Bahkan bagi Elder Orlos sekalipun yang paling bijaksana dan tegas tidak bisa menyembunyikan ekspresi ketakutan miliknya sembari berlari sekuat tenaga membawa kepompong bersamanya.


Diikuti Elder Helgam di sisinya dan bicara.


“Orlos, apa yang harus kita lakukan pada putri, jika begini tempat ini tidak akan bertahan!”


“Bodoh! Kita tidak ada pilihan, sebaiknya percepat saja langkah kakimu!” itulah jawaban dari Elder Orlos yang fokus untuk menyelamatkan diri daripada memikirkan apa yang akan terjadi, karena ini sudah tidak bisa di perkirakan lagi.


Dan begitu juga Elder Mouris yang saat ini sedang di gendong Elder Vergo di punggungnya, bicara dengan wajah tersenyum pahit.


“Jika putri marah maka tempat ini tidak akan bertahan lama.”


Tidak ada pilihan lain, para Elder meningkatkan kecepatan langkah kaki mereka demi meninggalkan medan ini.


Bledum!!


Kilat menyambar dari langit ke tanah tempat pertempuran dimana July berada lalu seketika sebuah gelombang badai berhasil menerpa dari belakang para Elder dan menerbangkan mereka.


“Uwah—!!”


Status July telah dipaksa untuk muncul. Tempat ini sudah mengikat kekuatannya yang sebenarnya dari otoritas aslinya. Tapi, para Elder tahu, jika July yang marah maka tidak akan ada yang hidup di sekitarnya. Betapa menjelaskannya saat mereka bangkit dari tanah dan melihat ke belakang.


Pemandangan yang tidak akan pernah bisa disaksikan dan seharusnya tidak boleh disaksikan. Percikan kehijauan menari-nari udara sementara bumi dimana kaki July menginjak semuanya menjadi musim gugur selamanya.


Akar-akar yang sehat berubah menjadi hitam, sehitam langit malam.


Lalu tubuh July perlahan terangkat di atas udara dengan sangat anggun dan tanduk akar miliknya tumbuh menjulang. Ketika itu berada di atas udara suara seperti melodi kematian mengiri keberadaannya.


[Jika sesuatu ada untuk hidup, maka apa yang hidup juga akan mati.]


Tidak ada kata menahan diri darinya.


Ular Gorgon menyemburkan lendir ungu dari dalam mulutnya dan menembakkan ke arah July. Namun July di selimuti oleh kubah pelindung sihir miliknya.


Pandangan July rendah menatap ular Gorgon hingga membuat ular Gorgon yang melihatnya tiba-tiba merasakan tekanan yang kuat dari atas kepalanya sampai ke tanah.


- Kieeek!!


Akar-akar tanah mulai tumbuh menjulang melingkar di sekitar ular Gorgon seperti sebuah pilar.


[Terimalah hukuman dari ibu bumi.]


Du-dudududu!!


Seolah menjadi ombak akar yang mengelilingi ular Gorgon menyerbunya dengan ganas tanpa henti seperti akar itu hidup demi tujuan menggerogoti ular Gorgon.


- Kieek!!!


Itu tidak membunuh ular Gorgon, memang itulah tujuannya. Jika tidak bisa membunuhnya maka setidaknya dia bisa menyiksanya dan memperlihatkan sebuah keputusasaan sebagai seekor Disaster.


Kelas Disaster; monster tingkat atas yang paling di takuti oleh para manusia, di hadapan serangan ini menjadi tidak ada apa-apanya.


Wajah para Elder yang menyaksikan serangan pembantaian itu menjadi pucat dan merinding.


“Ingatlah, jangan sampai membuat putri marah, kalian tahu.”


Mendengar ucapan Elder Orlos, Elder yang lain mengangguk pelan dengan menelan ludah mereka sendiri. Ya, itulah gambaran ibu pertiwi mereka yang marah.