The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 60: TEN TAIL CHIMERA (3)



Veronica sekali lagi meraung dengan teriakkan “Haaargh!”


Pedangnya melesat membelah satu ekor [Ten Tail Chimera]. Ekor itu jatuh tanpa daya dan kemudian bekas tebasan ekor membeku di tempat itu juga. Veronica terangah-engah, dia kehilangan napasnya. Sudah berapa banyak dia menggunakan tenaganya sampai sekarang.


Dua rekannya telah tumbang dan tidak sadarkan diri di tempat di dekat bebatuan. Jika rekan lainnya yang masih sadar tidak membantu memindahkannya, mereka akan mati.


“Pemimpin.” panggil rekannya yang lain.


Seperti kilat Veronica langsung tiba di samping rekannya dengan keadaan payah dan mengelap keringatnya yang berlebihan.


“Kalian jangan mengganggu.”


Waktu eleminasi dungeon break akan segera dimulai. Karena itu dia butuh fokus yang besar. Tapi, dia tidak bisa lagi. Bahkan tinggal 2 menit lagi tersisa sampai waktu itu dan lagi cincin yang mereka gunakan telah hancur lima menit lalu.


Antara harus mengakhiri ini atau harus mati. Akibat suhu tekanan disini semakin panas dibuat oleh [Ten Tail Chimera.], lava di tanah dan magma di belakang monster itu mengalir naik seperti gletser.


Mata menyala [Ten Tail Chimera] mencari Veronica dengan tajam dan raungan kuat.


Membuat Veronica mendecikkan lidah dan bergerak kembali, sebelum dia melakukan itu dia berkata.


“Kalian berdua lindungi yang lain dan bawa mereka menjauh dari sini.”


Rekannya langsung memberi ekspresi penolakan ketika Veronica mengajukan itu.


“Tapi bagaimana denganmu Pemimpin, kita tidak mungkin meninggalkanmu, perintahnya adalah—”


Kehilangan ketenangan membuat Veronica membentak.


“Aku tahu itu sialan! Tugas kita hanya mengambil material, namun jika monster keparat ini tidak dibunuh maka kita sama saja akan menggagalkan tugas kita.”


Karena bahkan tanpa penjelasan dari pengikutnya dia tahu apa yang telah dia lakukan.


“Pemimpin...” mereka tidak bisa mengabaikannya.


“Jadi menjauhlah dari sini dulu.”


Melanjutkan dengan mengayunkan senjata di udara Veronica sekali lagi melesat dengan sangat cepat. Rekannya yang tersisa saling menatap satu sama lain kemudian melihat pada arah Veronica bertarung melawan monster itu dengan cakarnya dan hembusan napas apinya.


Akhirnya tidak punya pilihan lagi karena mereka lebih tahu batasan diri mereka sendiri dan membawa rekannya yang pingsan dan menjauh dari tempat ini.


“Bajingan kenapa kamu tidak tidur!”


Badai serangan membuat riak di udara pada tubuh [Ten Tail Chimera]. Berkali-kali Veronica menusuk tubuhnya, saat itu juga langsung menguap dan lukanya tertutup kembali.


Lagi dan lagi, jika di antara para mantan Shadow yang terkuat adalah dirinya. Itu hanyalah klausa yang terlihat. Lalu bagaimana yang tidak terlihat?


Veronica merasa dirinya yang paling tidak kompeten dari yang lain.


Perkembangan fisiknya memang terlambat, tapi setidaknya dia tidak mau potensi kekuatannya ikut melambat. Dia telah mendapatkan kekuatan yang besar dari seseorang yang mengakuinya namun apakah itu masih belum cukup?


Gugugus!!


Tembakan napas sekali lagi mencoba menghanguskan Veronica. Skill [Phantom Fantasy] sejak tadi bereaksi dengan keras dan hampir mencapai batasnya.


“Huft, huft, huft... Ini tidak bisa terjadi.”


Perlahan napasnya mulai runtuh dan tubuhnya goyah siap untuk jatuh. Tapi dia tidak bisa kehilangan rasionalnya disini.


Menghentak tanah lagi.


Jika saja ada celah, apakah monster ini tidak memiliki kelemahan?


“Haaat!”


Api adalah atribut pribadinya, tempat ini adalah rumahnya. Tentu saja ini menguntungkan monster ini dan karena itulah dia sama sekali tidak terlihat terbebani di lingkungannya.


Srarararat!!


Gelombang pedang es menghancurkan dan memotong sisa ekornya. Ekornya yang menggeliat di tanah langsung mati.


Cipratan darah monster menyirami Veronica pada tubuhnya yang telah babak belur.


[Ten Tail Chimera] menjerit kesakitan dan api di tubuhnya semakin kuat dan berkobar.


Percikan ganas api melebihi apa yang bisa di pikirkan.


Veronica berusaha menahan itu dengan segenap kekuatannya. Ketika dia melakukannya dia mendapatkan sedikit penglihatan, bahwa di tempat dimana tim Cedric berdiri, Cedric menatapnya seperti menunggu sinyal darinya.


Veronica langsung terpejam dan melesat menjauh, berhenti dengan gesekkan tanah berdebu Veronica berteriak.


“Sekarang!!”


Cedric dan timnya menepuk tanah dengan kedua tangannya dan melantunkan...


“Prison Ice!” dengan suara keras.


Srararak!!


Pembekuan mulai merambat dari arah tangan mereka hingga mencapai tanah di bawah kaki [Ten Tail Chimera]. Dan dengan meledakkan tanah, penjara es yang luar biasa dingin telah membekukan seluruh tubuh monster ini.


Veronica tidak mau kehilangan kesempatan dan langsung melompat. Lalu dengan bunyi ‘Slash!’ yang keras dan kuat kepala dari [Ten Tail Chimera] berhasil di tumbangkan.


“Apa yang telah aku lakukan yah?”


Veronica sedikit terkikik dan pandangannya naik ke atas.


Meskipun dia sangat kelelahan dan wajahnya memucat untuk hampir dikatakan dia seperti mayat hidup, tetap dia bisa tersenyum di situasi seperti itu.


Hei, bajingan kecil... Ini tidak terlalu buruk untuk pengalaman pertama.


Seringai muncul di bibirnya dan menjatuhkan pedangnya, dengan lututnya dia terduduk. Cedric segera menghampirinya.


“Nona Veronica!?” dia sudah panik.


“Hei, maafkan aku telah merusak pedangmu.”


Cedric melihat pada pedang yang bilahnya sudah hancur. Sejak kapan...? Namun pastinya itu adalah akibat serangan yang besar ketika Veronica membuatnya sampai seperti itu.


Itu adalah pedang A-Class. Mungkin pantas disesali karena itu rusak. Tapi, Cedric tersenyum kecut dan menyatakan.


“Aku bisa membeli yang baru dari uang hasil menaklukan dungeon ini.”


“Begitukah. Haha, sialan. Seharusnya kamu mengatakan itu sejak tadi, aku hampir merasa bersalah.”


Dan kemudian pesan otomatis sebagai bentuk dari pencapaian mereka mulai muncul.


[Dungeon ‘Ten Tail Chimera’ Tingkat-A- telah berhasil di selesaikan!]


[Aktivasi Break Time-Space telah di hentikan!]


Gerbang telah terbuka kembali.


Rekan Veronica datang dan membantunya sementara yang lain di bantu oleh tim Cedric.


Semua berjalan ke arah pintu keluar.


Lalu...


Sesuatu dari atas jurang mengawasi.


[Ini tidak cukup...]


Setelahnya sosok itu menghilang di telan pusaran portal hitam.


***


Dari luar dungeon.


“Apa yang terjadi?!”


“Du-dungeonnya retak! Ini akan segera mengalami Break!”


“Semuanya menjauh dan evakuasi terlebih dahulu!”


Kemudian kesatria dengan moralitas tinggi berkata.


“Tapi Kapten bagaimana dengan yang ada di dalam?!”


Meskipun mereka tahu perbedaan masing-masing dalam kekuatan. Tidak ada yang bodoh untuk mengenali situasi saat ini. Kapten kesatria hanya bisa menggelengkan kepala.


Raut wajah putus asa tertulis di wajah semua orang.


Tetapi, pada saat itu juga gerbang portal dungeon mengalami keretakan yang luar biasa dan pada akhirnya hancur berkeping-keping.


Ekspresi semua orang sama-sama terdistorsi.


Meskipun hendak berpikir jika itu adalah akhir bagi semuanya. Namun, tidak. Seseorang muncul ketika portal dungeon hancur menjadi butiran kepingan debu layaknya pecahan kaca kecil.


Tidak percaya dengan apa yang mereka saksikan ini membuat mata semua orang terbelalak lebar. Satu ada yang saling melirik dan lainnya, segera menjatuhkan senjata mereka.


Kemudian...


“Mereka kembali...” seseorang bergumam.


Diiringi dengan gumaman tidak terduga semua orang bersorak untuk itu.


Woo woo!!


“Kita berhasil!”


“Dungeon telah diselesaikan!”


“K-kapten mereka kembali!”


Tim terakhir dan kelompok Veronica telah berhasil keluar dari dungeon yang membawa bencana tersebut.


Untuk merayakannya mereka saling bersorak riang dan bahagia. Dan disisi lain ada yang harus dilakukan yaitu mengurus mereka yang terluka, setelah itu mereka membawa kelompok Veronica dan tim Cedric untuk melakukan pengobatan.


Veronica melihat, anehnya tadi di tempat ini hutan disini tampak akan mati. Tapi, sejak kapan daun-daun pada pohon menjadi berwarna hijau segar dan cahaya matahari melewati celah kecil dedaunan yang tersedia.


Untuk sekarang dia bisa tenang dan menghirup napas segar.