
Seorang wanita cantik dengan rambut hitam panjang halus yang mengalir di tengah-tengah pertempuran. Memiliki mata yang tajam, tapi kali ini dia tersenyum elegan.
“Ah, karena aku menggunakan Skill.”
Katanya seolah itu bukan masalah serius.
Tidak, lebih penting lagi. Cedric melihat Reich telah tergeletak tidak bernyawa di atas tanah. Sungguh mengejutkan, bagaimana bisa Reich tidak menyadarinya. Bukan hanya Reich, bahkan sebelum bisa masuk jarak pandang, seorang Wizard Rank-A saja tidak bisa merasakan hawa keberadaan yang disembunyikan dengan sempurna.
Yakin akan satu hal, Cedric tidak tahu bahwa ada kekuatan semacam itu, hingga seseorang yang berpotensi memiliki analisis yang tinggi tidak bisa mencapai tahap bisa merasakan kekuatan Veronica.
Veronica mengangkat belatinya di bahunya dan berbicara kasual.
“Yah, kesampingkan itu. Meskipun aku telah membunuh keparat ini sepertinya Dungeon tidak terpengaruh. Artinya bossnya masih tetap monster ini.”
Cedric melihat. Sebelum dirinya bisa bereaksi, rekan Veronica telah memancing pandangan [Ten Tail Chimera] agar fokus pada mereka.
Bukan itu saja, anak-anak Chimera masih ada sedikit tersisa jadi pertarungan untuk mengalihkan pandangan juga melawan mereka sedikit terdesak.
Kemudian Veronica berteriak ke arah bawahannya. “Hei kalian jika lelah mundurlah. Kita akan pergi.”
Cedric tersentak karena kaget.
“Tunggu? Apa? Kamu akan pergi?”
Dengan tenang Veronica menjawabnya “Ya, tugasku adalah menambang dan juga hanya sedikit membersihkan apa yang diperlukan disini, seperti sampah ini.” dia juga dengan ringan menendang mayat Reich.
“Bagaimana kalian bisa pergi? Dungeon masih tertutup.”
Seolah itu bukan masalah untuknya. “Apa kamu lupa jika aku bisa menghilangkan diriku bersama yang lain?” dia mengatakan itu dengan provokasi.
“Tapi tetap saja—!”
“Apa? Apa kamu berpikir aku akan membantumu?”
“Itu...”
Tidak bisa dipungkiri. Setelah serangan awal tadi, Cedric dan rekannya telah sedikit menguras kekuatan sihir mereka. Ini bukan seperti mereka kehabisan sihir. Namun, jika mereka sendirian melawan monster ini, bahkan tidak menunggu waktu lama pihak Cedric yang akan tumbang terlebih dulu.
Mungkin karena itu dia sempat berpikir bahwa akan ada bantuan besar yang datang. Karena melihat jika Veronica bisa diandalkan dengan sejumlah kekuatannya.
Tetapi sepertinya dia salah dalam mengambil fakta tersebut.
Veronica benar-benar mengerutkan kening dalam-dalam dengan nada marah.
“Apa kamu gila?! Kamu pikir sudah berapa lama aku berada disini dan mengawasi sebanyak 50 tim yang masuk hanya untuk memastikan apakah benar ada masalah. Namun, apa ini... Bahkan kelompok dengan kekuatan besar saja terjebak dalam kondisi konyol ini. Cih.”
Tidak berusaha mengelaknya, Cedric juga tahu. Kekuatannya hanya sebatas ini dan pantas untuk dikatakan bahwa dia tidak terlalu kompeten di bidang ini. Sedikit menyakiti harga dirinya, namun apa yang dikatakan Veronica benar adanya.
Veronica yang melihat itu semakin kesal dan mendengus mengeluh.
“Ini bukan berarti aku tidak punya batasan. Aku telah mengaktifkan skillku untuk membuat perhatian di luar dungeon dan kamu tahu selama apa itu.”
Bisa di bayangkan jika dia terus menerus mengeluarkan kekuatannya untuk mempertahankan skill miliknya. Hanya untuk memanipulasi dirinya dan rekannya sebagai bentuk visual ilusi yang terlihat hidup. Sebenarnya itu adalah bayangan sosok hantu mereka. Jadi karena skill itu di matikan artinya di luar sekarang bayangan hantu mereka telah hilang.
Cukup sulit untuk tetap mempertahankan kemampuan ini. Namun, karena dia memiliki kapasitas sihir yang lebih besar dia bisa bertahan.
‘Jika seperti ini bajingan kecil akan kewalahan.’
Setidaknya dia menyadari itu, bukan karena kapasitasnya besar. Hanya saja dari jauh ada yang mentranferisasi kekuatan sihirnya untuk di bagi kepadanya.
Veronica membuang napas melihat tim Cedric layaknya kehilangan harapan mereka. “Baiklah aku akan membantumu. Tapi, dengan syarat.”
“A-apa?” sejenak Cedric ragu-ragu untuk itu, namun dia tetap bertahan mendengarkan.
“Beri aku senjata yang berguna.”
“...Ya?”
“Kamu punyakan, senjata. Setidaknya yang bisa memberi kerusakan pada monster besar ini.” Veronica menunjuk ke belakang menggunakan ibu jarinya dan matanya melirik bagian bawah pakaian Cedric.
“Bagaimana kamu bisa tahu?” senyum pahit ada di sudut bibir Cedric.
Veronica menggerakan bahunya “Entahlah, aku hanya merasa dingin saja.”
Tapi tiba-tiba sebelum Cedric memberikan jawaban atas penawaran itu. Di belakang Veronica sesuatu berkobar menyala.
- Groaaa!
Dengan suara raungan dari [Ten Tail Chimera] api di atas punggungnya semakin membesar dan ekornya naik ke atas sangat waspada. Kemudian monster itu menginjak tanah seperti menginjak kaca tipis, hanya dengan satu gerakan kaki depannya tanah di atas magma mulai memuntahkan lava kental.
“Cepatlah!” Teriak buru-buru Veronica dengan mengulurkan tangannya.
Cedric yang tidak punya pilihan mengambil senjata di jubahnya yang dia sengaja sembunyikan kemudian dia melemparnya dan Veronica menangkap itu.
Terkejap untuk sesuatu yang telah dia pegang Veronica mengeluarkan ******* sedikit terpukau “Hoo, bagaimana kamu bisa mendapatkan senjata A-Class? Ini pasti barang mahal.”
Cedric hanya bisa membatin dengan itu. Memang itu senjata mahal dan sedikit sulit memberikan itu pada Veronica tapi apalah daya dia harus melakukannya demi menyelesaikan tugas disini.
Veronica menyeringai, “Aku pinjam senjata ini.” dan suara pedang di tarik dari sarungnya mengeluarkan bunyi tajam yang memekikkan telinga.
Saat pedang tercabut dari sarungnya, bilah mengeluarkan hawa dingin yang begitu menyejukkan, seperti bilahnya terbuat dari material pecahan es itu sendiri.
“Aku akan mengulur waktu dan siapkan serangan besar yang kalian bisa, karena kita tidak punya waktu sampai dungeon break terjadi.”
Memeriksa kembali pesan otomatis dengan sebuah tanda peringatan Veronica melihat di depan retinanya jika waktu hitungan mundur, terus berjalan dan kurang dari 20 menit lagi.
Cedric mengangguk dan memberi perintah.
“Kalian siapkan serangan tahap kedua. Kali ini kita tidak boleh ketinggalan momen dan harus menyelesaikannya. Monster itu lemah terhadap es, kita gunakan sihir itu sekali lagi.”
“Baik!”
Mereka mulai mengumpulkan energi sihir mereka dan memusatkan konsentrasi mereka.
Sasasasah!
Skill telah di picu, serangan pertama telah diberikan pada ekornya untuk segera terpotong dan dibekukan dalam sekejap. Veronica memasang ekspresi terkagum menakjubkan. Hanya dengan satu serangan kuat darinya itu bisa memutuskan satu ekornya.
Mudah dikatakan namun sulit di lakukan. Jika dia melakukan ini terus maka dia sendiri yang jatuh karena menyuntikkan energi sihirnya terus untuk memicu pedang ini mengeluarkan efek atributnya.
“Pemimpin apakah ini benar-benar bekerja? Waktunya tidak akan sempat.”
Kira-kira rekannya masih bisa memasang raut tenang meski mereka ada di ujung jurang kematian. Bukan karena khawatir dungeon break akan terjadi, waktu dari aktivasi [Ring's of Heater Control] sedikit lagi menghilang dan hancur.
Jadi ini adalah pertaruhan di antara mereka juga.
Blalalar!
Ekor [Ten Tail Chimera] menggeliat dan menggali tanah, mulut-mulut pemangsa ekornya mulai mencari target dan bergerak menggeliat seperti ular mengejar mereka.
- Wrooaa!
“Bajingan sialan ini!”
Tidak memberikan mereka kemudahan. Veronica menyaksikan monster ini sekali lagi mengumpulkan energi sihir di dalam mulutnya. Dan detik itu juga, napas telah disemburkan dari dalam mulutnya.
Gugugugus!
Pancaran sinar plasma api panas disemburkan seperti muntahan perut, ledakan yang besar sampai menghancurkan tebing dan membuat lubang besar pada perut tebing sampai jauh..
Entah ini keberuntungannya atau tidak. Saat itu seharusnya dia bisa hangus ketika memberi perlawanan sengit, namun Veronica selamat dengan luka bakar dan darah mengalir dari lengan kirinya, kulit putih pucatnya kini di dilukis dengan warna merah darah.
“Sial... Jika saja aku tidak mengaktifkan skillku aku akan mati.”
Pada saat itu dia telah memvisualisasikan dirinya.
Itu membuatnya teringat lagi apa yang dikatakan oleh seseorang untuk dia agar percaya bahwa dia tidak akan dibiarkan untuk mati. Hal tersebut membuat Veronica tersenyum kecut dan menggenggam erat ganggangnya.
[Ten Tail Chimera] menggeram padanya, rekan-rekannya mengalihkan pandangan ekor-ekornya agar dia bisa fokus pada tubuh utamanya.
Veronica meludahkan saliva ke tanah dan dalam sekejap itu menguap.
“Baiklah, bajingan, kamu tidak memberiku pilihan.”
‘Maaf, bajingan kecil, aku akan melewati batas.’
[Skill ‘Speed Reverse (M)’ telah diaktifkan!]
Pemicu sudah cukup untuk membuatnya bangkit.
Sarararak!
Percikan badai petir menguasai dirinya. Veronica bisa merasakan adanya kekuatan yang besar mengalir di seluruh tubuhnya bagaikan dia sedang mengalami kerusakan dan pemulihan secara bersamaan. Mulai dari kakinya hingga ujung rambutnya, gelombang sihir mengalir kuat di setiap inci tubuhnya.
Ketika dia melebarkan matanya, dengan sangat sadar dalam momen yang bisa dikatakan sementara Veronica menginjak tanah, dan seperti kilat menyambar dalam sekejap dia tiba di depan hidung [Ten Tail Chimera].
Monster itu bahkan tidak sanggup bereaksi langsung saat Veronica tiba, matanya baru saja bisa menemukannya.
“Dasar bodoh.”
Veronica tidak menggunakan pedang, melainkan dia melemparkan belati miliknya yang beracun tepat pada mata kiri monster.
Jeritan kesakitan monster menyebabkan riak gelombang besar untuk menjauhkan Veronica dari hadapannya.
Satu matanya telah tertutup tinggal sisa 3 mata lagi. Tapi, dia tidak cukup senjata untuk semua itu. Jadi sekali lagi Veronica tiba di depan mata kanannya dengan kecepatan melawan hukum alam dan tangan kanannya bergerak untuk menancapkan belati satunya pada mata monster ini.
Efek beracun belati mulai menyebabkan kantong mata monster itu menghitam dan membusukkan bagian yang tertusuk.
Swung!!
...Pada detik itu juga, Veronica juga tidak sadar jika satu ekor monster ini tiba dan menampar tubuhnya dengan kuat.
Dengan ledakan kondusif tubuh Veronica terperangkap di dinding tebing dan mengukir seluruh bagian tubuhnya, dia memuntahkan darah dari mulutnya dan juga merasakan jika tulang-tulangnya mulai menjerit kesakitan seperti hancur berkeping-keping.
“Bajingan sialan...”
Dia kesulitan untuk keluar dari posisinya. Tidak, meskipun dia bisa melakukannya. Veronica merasa bahwa dia ingin sekali pingsan dan tidur.
Kesadarannya mulai kabur perlahan-lahan karena kerusakan yang dia terima.
Sekali lagi Veronica memandang ke depan pada satu pesan.
[Jika Penguasa Dungeon tidak dikalahkan hitungan mundur Break Time-Space akan terjadi dalam 30 menit!]
[Waktu tersisa: 00:05:20!]
Sama sekali tidak mempengaruhinya. Masalahnya bukan terletak disana. Namun dia melihat pada rekan-rekannya yang kesulitan dan bahkan sebentar lagi akan tumbang.
Mereka bertahan hanya untuk membeli waktu.
Veronica menggigit bibirnya agar rasa sakit ini menyadarkannya kemudian dia perlahan keluar dari dinding dengan bagian terkecil kekuatannya.
Bahaya ada di depan matanya.
Kemungkinan sekarang di luar gerbang dungeon saat ini keretakkan dungeon telah menyebar.
Dan yang lebih penting dari itu semua adalah di tempat yang sangat jauh dari wilayah dungeon, yang selama ini menunggu berita baik...
“Burgh—?!”
“Saint Alvius?!”
...Tiba-tiba Saint Alvius memuntahkan darah dan wajahnya menjadi pucat.