
Dan pada akhirnya di siang harinya saya tetap datang ke istana.
“Lalu apa yang kamu maksud penting, yang mulia?”
Padahal pernyataan saya dingin dan acuh tak acuh. Tapi, Claude tersenyum ceria dan cerah seakan dia tidak peduli jika besok kiamat terjadi dan membahagiakan dirinya sendiri.
“Betapa senangnya melihatmu datang Saint.”
Itu karena kamu memaksaku melakukannya bajingan!
“Sudah aku bilang yang mulia, jika tidak ada kepentingan tolong jangan gunakan wewenangmu untuk menyeretku kemari.”
“Ahaha, aku mengerti, jadi jangan memasang wajah cemberut dan tajam serperti itu, bagaimana jika ada lubang di wajahku nanti.”
‘Justru itu yang kuharapkan.’
Jika saya tidak datang kemari entah apa yang akan dia lakukan untuk membawaku kemari. Padahal saya pikir dia akan sibuk akhir-akhir ini dengan pekerjaannya. Tetapi, melihat wajah segarnya itu membuat saya menyesal mengira dia pria sibuk.
Apakah benar dia pria yang sama yang semalam membakar rumah lelang dengan apinya.
Saya membuang napas dan merilekskan wajah saya.
“Jadi, apa yang sebenarnya tujuanmu memanggilku?”
“Oh, ada yang ingin bertemu denganmu.”
Langsung saya dibuat bingung oleh perkataannya. Saya hanya sedikit mengira-ngira saja namun tidak mendapat jawaban pasti. Siapa yang ingin bertemu saya sementara saya tidak memiliki kenalan tertentu.
“Bawa dia masuk.”
Setelah perintahnya turun, seseorang masuk ke dalam ruangan dengan pakaian yang lumayan bersih untuk menggambarkan penampilannya yang sederhana. Tapi raut wajahnya yang gugup dan tegang saat menginjakkan kaki kemari saya bisa tahu.
Mengapa dia ada disini?
“Bukankah gadis itu yang kamu cari?”
“Ah, mhm...”
Itu benar saya pernah menyuruh Claude untuk membawanya kemari juga ketika dia menghancurkan penjahat berkedok orang baik dari panti.
Saya berdiri dari sofa dan menyapanya dengan kasual.
“Kita bertemu lagi, nona Ray.”
Raina Yvene, gadis yang saya temui di panti asuhan dimana dia telah melalui banyak kemalangan. Bahkan pernah berkeinginan untuk mati.
Saya mempersilahkan Raina duduk. Dengan canggung dan gelisah tidak tertahankan Raina mencapai sofa dengan tubuhnya bergetar.
Claude yang pertama membuka mulut membuat saya semakin terasa dia sudah bertindak sangat ke depan.
“Aku berencana memberikan sponsor terbaik untuknya dengan atas namamu sesuai yang kamu inginkan. Bukankah begitu?”
“Ya, itu tujuanku. Bagaimana menurutmu nona Ray?”
Saya duduk dan memandang lawan bicara saya yang gugup dengan menggenggam tangannya. Bibir Raina naik turun dengan erat dan kemudian dia membuat pernyataan secara gagap.
“A-aku... Aku s-sangat berterima kasih dengan k-kebaikan yang Saint berikan. T-terima kasih banyak, sungguh!”
Raina menjadi emosional dan air mata jatuh dari kelopak matanya. Entah kenapa ketika melihatnya begitu saya lega. Sepertinya keinginannya untuk mati dulu telah tiada dan menjadi lebih optimis menerima bantuan yang bisa diberikan oleh orang lain kepadanya.
Sejujurnya dia gadis baik. Selain itu anak-anak juga menyukainya dan menganggapnya kakak. Dia panutan bagi semua anak panti.
“Jadi apakah kamu menerima tawaranku dengan sungguh-sungguh?”
“Y-ya!” Raina mengangguk dan mengusap air matanya, tatapannya menjadi serius.
“Kamu akan bekerja untukku di masa depan nanti, kamu yakin?”
“Ya!”
“Aku tidak akan menerima penyesalan di kemudian hari nanti.”
“T-tentu. Untuk membalas kebaikan Saint, a-aku akan bekerja keras!”
Saya mengangguk. Sepertinya keputusannya telah sepenuhnya bulat. Saya mengalihkan pandangan pada Claude, disitu dia masih tersenyum menatap saya.
‘Ada apa dengan orang satu ini?’
“Kalau begitu selanjutnya aku akan menyerahkan pada yang mulia.”
“Ya. Tentu. Nona Raina Yvene akan dikirim di akademi Royal dan di bimbing oleh pembimbing yang berpengalaman dan semua kebutuhannya selama di akademi akan di penuhi karena sponsornya adalah Saint.”
“Ya, terfokus pada apa yang dia pelajari disana nanti. Nona Ray, aku harap kamu bisa menggunakan bakatmu di sana dan membawanya keluar dari sana untuk lebih profesional pada bidang yang aku inginkan. Kamu tahu apa yang aku inginkan bukan?”
“T-tentu Saint. Terima kasih sudah mendukungku. A-aku akan bekerja keras agar tidak mengecewakanmu.”
Ada alasan kenapa saya sangat menginginkan potensinya.
Raina Yvene. Satu dari jutaan orang di muka bumi ini. Berkat Appraisal dan penilaian monitor. Di masa depan jika dia mengasah bakatnya lebih jauh lagi.
Gadis ini akan menjadi seorang alkemis terhebat sepanjang sejarah.
Salah satu kemampuannya yang akan bangkit.
[Skill ‘Tangan dukun ajaib (L)’ sedang terkunci!]
[Syarat: Diharuskan! Mengasah kemampuannya lebih dalam dengan pendidikan tentang herbal dan obat-obatan pada batas waktu pembelajaran yang ditentukan. (129/10.000 jam)]
Kemungkinan waktu-waktu itu adalah disaat dia putus asa dan berkeinginan untuk menyelamatkan anak-anak yang sedang sakit.
Saya bisa saja segera membangkitkan kemampuannya itu. Tapi saya memilih tidak melakukannya.
Raina bisa saja mendapatkan kemampuan ini. Namun belum tentu dia mendapatkan kepercayaan diri. Saya tidak ingin menjadikannya Prophet dan lagi sudah menjadi tugasnya untuk berusaha mengasah kemampuannya sendiri.
Cara instan ini tidak akan berguna pada Raina dan melihat mentalnya...
Maaf Raina, tapi kamu harus berusaha membangunkan potensi bakat kemampuanmu sendiri. Dan aku harap alkemis masa depan, dokter, dan juga apoteker terbaik di masa depan akan bangun di dalam dirinya.
“Apa?”
Ketika menyadari jika Claude terus menatap saya disitu tanpa mengatakan sepatah kata pun saya hanya bisa merengut. Namun dari reaksinya itu, sepertinya dia tahu kenapa saya menginginkan Raina.
Benar, saya butuh gadis ini untuk membuat Potion spesial agar saya bisa mengisi kekuatan sihir saat kehabisan.
Jika saya terus-terusan jatuh ketika kekuatan sihir terkuras, maka di pertempuran di masa depan yang tidak bisa diprediksi bahkan sedetik. Bagaimanapun saya tidak yakin akan berhasil tetap berdiri tegak?
Tidak ada jaminan untuk itu.
Kematian bukanlah keinginan saya karena di kehidupan ini saya berniat membangunkan kinerja agar bisa sukses dan hidup dengan baik dari hasil kinerja tersebut.
Dan sampai saat bahaya itu terjadi...
“Saint kamu benar-benar di luar dugaan.”
...Apakah aku bisa bertahan.
“Apakah nona Ray akan berangkat hari ini?” tanya saya dengan sederhana dan hanya untuk sekedar basa-basi.
“Y-ya. Y-yang mulia telah mempersiapkan semuanya. Jadi a-aku akan berangkat ke akademi hari ini juga.”
‘Uwah, lihatlah pria ini, efisien sekali kerjanya.’
Claude dengan santai melambai pada saya.
Tidak ada posisi yang lebih baik daripada miliknya. Dan jelas dia sengaja mengungkapkannya.
“Jika begitu kenapa kamu tetap disini? Apakah hanya untuk bertemu denganku?”
Raina dengan gugup menggosok tangannya dan mengangguk ketika saya melontarkan pertanyaan.
“Y-ya. Aku dengar Saint akan pergi melakukan perjalanan. Aku t-takut terlambat mengucapkan terima kasih. K-karena saat sudah masuk ke akademi kami tidak bisa keluar.”
Padahal tidak ada yang perlu dia khawatirkan. Dia bisa menitipkan surat terima kasih pada pria yang efisien ini dan dengan tenang pergi ke akademi.
Lalu saya beralih pada pertanyaan berikutnya.
“Bagaimana dengan anak-anak?”
Pada saat itu Claude yang menjadi penjawabnya untuk membalas perkataan saya yang membuat saya sedikit tertegun.
“Aku sudah mengurusnya. Anak-anak akan tetap tinggal di panti asuhan namun pengurusnya aku sendiri yang memilih. Dan keamanan di sekitar distrik juga di perketat, dan lagi akan ada laporan masuk untuk aktivitas yang dilakukan anak-anak setiap hari. Jadi jangan khawatir.”
“Itu bagus...”
Kenapa dia merasa bangga diri saat mengatakan itu tanpa menahan diri?
“S-sungguh terima kasih banyak, Saint, Yang mulia.”
Padahal tidak perlu berterima kasih. Dia bisa mengganggap ini sebagai jaminan untuk dia bisa bekerja denganku. Menjamin keamanan dan kenyamana kehidupan anak-anak bisa membuatnya tenang dan bekerja keras. Jadi kami masih saling menguntungkan. Walaupun itu semua dari Claude.
Toktoktok.
Seseorang mengetuk pintu dan membukanya.
“Permisi, nona Raina waktunya berangkat.”
“Ah, baik!”
Dalam suasana ini Raina mengambil tindakan untuk bangkit dari tempat duduknya dan tanpa berlama dia berjalan keluar, bahkan sebelum itu dia menyampaikan pesan terakhir.
“S-saint, aku harap perjalanan kamu berjalan lancar.”
Saya tidak tahu bagaimana mengekspresikan pesan darinya. Yang saya tahu adalah tidak ada yang lebih baik dari kabar dia telah menerima pekerjaan dari saya. Tapi, kali ini saya bermaksud tersenyum padanya walaupun ini adalah senyum munafik.
“Ya. Sampai jumpa 5 tahun lagi nona Raina.”
Ada noda merona di pipi Raina kemudian dia mengangguk beberapa kali dalam penghormatan lalu keluar untuk berangkat ke akademi.
Di akademi maksimal pendidikan adalah 5 tahun atau paling lama 6 tahun tergantung usia ketika anda memasukinya dan kesenjangan dalam pembelajaran. Jika metode anda bisa tergolong masuk nilai keemasan maka anda bisa lulus dengan cepat minimal 5 tahun tersebut.
Dan sebagai sponsor dari Raina, 5 tahun telah diberikan sejak awal. Jangka waktu itu, mau tidak mau dia harus bisa menggunakannya sebaik mungkin.
Harapan saya tidak terlalu tinggi, hanya... Saya ingin potensinya benar-benar terbuka.
“Kalau begitu Saint, kamu ada waktu?”
Saat mendengar suara Claude saya langsung beralih kontak mata dengannya. Matanya yang menyipit dan tersenyum itu membuat kesan mencurigakan.
“Ya.”
Memikirkan ulang jadwal. Saya rasa tidak ada kepentingan lain yang saya lakukan. Bukankah mulai besok saya harus berangkat? Jadi mulai sekarang adalah waktu yang baik meluangkan untuk Claude.
Di bawah istana ada Paladin Roy dan Paladin Theo yang menjaga Potato jadi saya rasa sedikit lama disini tidak masalah.
“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu, maukah kamu ikut?”
Tanpa banyak pikir jawaban saya langsung memberikannya tindakan dengan langsung berdiri dan mengangguk.
Jika bisa saya tebak kemungkinan ini ada kaitannya dengan rancangan rencana atau setidaknya itu yang menjadi kemungkinan. Tapi, Claude mengajak saya pergi jadi itu tidak terjadi.
Setelah memberikan jawaban, Claude dan saya hanya berjalan menyusuri koridor, lorong-lorong, bertemu beberapa pelayan dan kesatria, tanpa mengatakan apapun.
Sampai saat ini yang ada di pikiran saya hanya satu, sejauh mana dia akan mengajak saya berjalan?
Nah, ini adalah sesuatu yang benar-benar bisa saya tebak sekarang ketika langkah kami mulai terdiam di satu tempat di depan pintu yang dijaga oleh kesatria penjaga tempat ini.
Penjara Bawah Tanah.
‘Kenapa kesini?’