The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 57: WANITA BAYANGAN (3)



Kemudian di luar dungeon, Veronica dan rekannya lain telah berhasil keluar tanpa cedera atau bahkan memperlihatkan tanda-tanda mereka kesulitan.


Cedric sedikit lega melihat kelompok Veronica keluar tanpa cedera yang berat atau luka-luka. Mereka tidak lecet sedikitpun, bagi Cedric yang tidak terlalu menghiraukan penampilan mereka setelah memasuki dungeon tidak menerka apapun lagi.


Tapi, kelompok Veronica berjalan tanpa mengatakan apapun lagi dan bergerak ke arah tempat istirahat. Tatapan mereka juga tidak terganggu dan hanya memandang lurus ke depan seperti boneka.


Tidak ada respon tertentu.


Memikirkan ini, Cedric hanya bisa menduga bahwa mereka mungkin kelelahan. Yah, itu pantas saja, bagaimana pun pengalaman memasuki dungeon bisa membuat orang merasa trauma berat.


Setelah itu tahap selanjutnya dan utama akan dimulai setelah tim penambang selesai.


Tim pertama yang dipimpin oleh seorang kesatria kapten dengan bawahannya yang ahli dalam bidang atribut jarak jauh masuk ke dalam dungeon.


Setelah beberapa lusin menit mereka keluar dengan keadaan kewalahan.


Unit itu sepertinya mengerahkan tenaga mereka dengan keras. Dan lagi para Paladin yang kehilangan napas berusaha menguasai diri.


Di susul dengan tim berikutnya.


Sejauh ini Cedric berpikir bahwa ini berjalan lancar dan tidak ada masalah. Namun, karena dia masih belum masuk dan menunggu giliran, dia tidak tahu apa yang terjadi di dalam sana ketika tim lain masuk.


Divisi dengan jumlah 250 orang dan dibagi dengan masing-masing 5 orang per tim. Butuh berapa banyak waktu?


Waktu untuk tim yang ke-20 maju.


Kemudian tim ke-35 masuk.


Setelah mereka keluar, tim ke-40 bergiliran.


Cedric masih tetap tidak paham dan dia diliputi oleh perasaan yang semakin lama semakin membuatnya jatuh ke dalam sesuatu yang tidak bisa di prediksi dan itu menakutkan untuknya. Cedric menelan ludah saat kali ini adalah tim ke-48.


Dan waktu berlalu hanya dalam kurun waktu lebih dari dua jam.


Cedric melihat ke sekeliling dan mengobsevasi. Tidak ada korban jiwa, tidak ada yang terluka, hanya mereka kehilangan kekuatan sihir jadi butuh istirahat untuk waktu sedikit lama dalam memulihkan tenaga dalam mereka.


“Tuan Cedric giliran kita.”


Itu membuatnya terkejut sampai pundaknya tersentak. Hanya dengan kalimat dari kesatria wajah Cedric sedikit memucat.


Dia mengambil napas dalam dan perlahan mencoba menguasai dirinya untuk tenang. Ya, benar. Sekarang adalah giliran tim yang paling penting, yaitu penyihir tingkat atas akan mengakhiri ini.


Jika benar, maka setidaknya tim terakhir lah yang memberikan sentuhan terakhir berupa serangan besar mematikan.


Cedric beserta kelompoknya, dan lagi dengan Reich yang juga akan ikut masuk. Melihat Reich berdiri di sana Cedric bisa merasakan jika udara kali ini terasa sangat dingin. Kemudian dia berada di depan gerbang dungeon, dan satu langkah darinya telah membawanya masuk ke dalam dunia yang berbeda untuk sekali lagi.


Setelah dia membuka mata, tepat di depannya adalah medan yang telah dia lihat, detik itu dia memberi arahan.


“Segera bergerak.”


Bergegas dengan mengendarai udara, Cedric dan kelompoknya tidak ingin kehilangan momentum ini dan ingin segera mengakhiri ini.


Jika yang dikatakan oleh strategi Pangeran benar maka hanya tinggal melakukan tugas terakhir dan semuanya akan selesai.


Tunggu, apakah benar begitu?


Cedric menggeleng kuat dan tetap pada lajunya.


“Disana!” rekannya berteriak dan mereka terhenti tepat di depan para monster.


“Siapkan serangannya.”


“Baik!”


Seluruh skill diaktifkan dalam satu waktu yang sama. Kali ini karena elemen milik [Ten Tail Chimera] fokus pada tipe api, maka sihir mereka kali ini adalah bertipe es dan air.


Karena hanya Wizard yang bisa menggunakan skill bertipe All-Rounder. Itulah sihir di dunia ini.


Tapi...


“Kau tidak boleh melakukan itu, Cedric.”


Mata Cedric terbelalak lebar dan dia berteriak terkejut karena tidak sadar bahwa...


“Sejak kapan—!”


Reich telah menyeringai sejak tadi dan dia berada tepat di depan Cedric dan yang lain dengan membelakangi [Ten Tail Chimera] seolah seorang Tamer.


Tamer?


“Jangan bilang—!”


Terlambat menyadari. Kehadiran Reich di sekitar monster itu membuat pesan peringatan otomatis muncul.


[Dungeon telah tertutup!]


[Kalahkan Penguasa Dungeon untuk membuka pintu keluar.]


[Jika Penguasa Dungeon tidak dikalahkan hitungan mundur Break Time-Space akan terjadi dalam 30 menit!]


Cedric yang menggertakkan giginya dengan gertakan kuat berteriak murka.


“Reich!!”


Sihir yang dia kumpulkan selama ini telah di lemparkan ke arah Reich dengan suara desiran gelombang yang kuat.


Srararak!


Jarak yang tidak terbayangkan bisa dilihat, badai es yang hebat menerjang kuat dan membekukan sekitar dengan membentuk tebing-tebing pilar yang kokoh. Di bantu dengan rekannya kini radius yang bisa di capai sampai membekukan sisa-sisa dari anak-anak monster dan melenyapkan mereka.


Asap erupsi menguap dengan kabut yang sangat tebal sampai bisa mencapai langit.


Cedric terengah-engah, itu adalah serangan yang memakai kekuatan sihir yang besar. Dia mengelap keringat dengan kuat.


‘Apakah itu cukup untuk menghentikannya?’


Pandangannya tertutup oleh ketebalan asap eksplosif ini jadi dia tidak yakin dengan itu.


‘Sial!’


Mengutuk keras dalam batinnya, Cedric berpikir paling tidak hanya dia yang merasakan ini dan segera melihat ke arah rekan lainnya.


“Kalian semua pergilah ke gerbang dan tetaplah diam disana, jika mungkin gunakan sihir untuk menerobos keluar!”


“Tunggu tuan Cedric, bagaimana dengan anda?!”


“Aku tidak apa! Kalian cepatlah pergi!”


Selagi sudut pandang musuh telah tertutup oleh kabut yang sementara dan sebentar lagi akan menghilang, setidaknya cukup untuk mengulur waktu. Cedric tahu, jika ini masih belum cukup.


“Tidak boleh begitu, jika mereka lari itu akan sangat gawat.”


Lalu suara datang saat kabut telah berhasil di netralkan dengan sempurna.


Tidak, bukan hanya itu.


Retina Cedric bergetar hebat dan wajahnya sedikit pucat. [Ten Tail Chimera] telah membuka mulutnya di depan mereka yang telah dipenuhi oleh energi sihir besar yang siap di tembakkan.


‘Ini tidak akan sempat—’


Saat dia memikirkan keputusasaannya, sebuah suara datang dan kali ini bukan dari semua orang yang ada disini. Tetapi...


“Sudah kuduga kamu adalah dalangnya, bajingan keparat.”


Itu datang tepat di belakang mata Reich dengan menghunuskan belati beracun di lehernya.


“Kau bagaimana—!”


Sebelum Reich benar-benar bisa berteriak histeris, suara leher terpotong bisa terdengar dengan sangat baik dan darah dengan deras keluar dari kerongkongannya.


Reich telah mati. Sementara Cedric tidak percaya dengan siapa yang dia lihat.


“Bukankah tadi, kamu...”


Sosok itu menatapnya dan penampilan yang menyerupai pria cantik dan dengan suara yang basah “Ah...” darinya, berikutnya sebuah pop up biru muncul di retina ungunya.


[Skill ‘Phantom Fantasy (M)’ telah di nonaktifkan!]