
Tombak sulur yang tumbuh dari tanah berhasil menembus tubuh monster iblis dengan sekali tusukkan dan menghentikan pergerakan mereka. Tapi, kebanyakan dari mereka yang berada di udara memiliki mobilitas yang berbeda dan datang kesini.
“Hyung!”
Dari samping Yohan melompat. Saya sedikit bingung sesaat disitu. Anehnya baru pertama kali ini Yohan tidak mengeluarkan skillnya, melainkan...
Yohan berteriak ke atas. “Heros!”
Kemudian asap hitam mengepul di bawah kakinya dan berhasil membuatnya melompat tinggi di udara. Mencegah monster iblis menguasai udara, Yohan menyapu mereka dengan ayunan pedang yang cemerlang dan gerakan tangan yang gesit.
“Kalian tidak pernah tahu kapan harus berhenti, dasar serangga!”
Seketika tubuh monster iblis pun menjadi bagian terkecil yang bisa di potong Yohan. Bagaikan pemburu, darah hitam monster menempel di pedang dan di kulit wajahnya.
Heros yang membantu melempar tubuh Yohan ke udara menangkapnya kembali dan mendaratkannya lembut, kemudian tak berhenti disitu dia mengumpulkan energi eter hitam di bilah pedangnya dan menebas ke depan.
Tsu-rururut!!
Udara pun di tindas dengan percikan eter hitam yang mampu menghancurkan apa yang di lewati dalam sekejap.
“Kau payah. Kau terlalu banyak menggunakan energi sihir untuk hal yang tidak penting.” kata Yohan dengan tatapan meremehkan dan menyeringai seolah bangga dia bisa unggul dengan Heros.
“Huh?!” pita Heros naik akibat provokasi dari Yohan. Tapi dia juga tersenyum meremehkan disana dan tak mau kalah. “Aku tidak menggunakan skill. Ini adalah hasil dari latihanku dengan kekuatanku sendiri. Tidak seperti seseorang yang aku kenal yang selalu bisanya melatih ototnya seperti seekor gorila.”
“Apa kau bilang?! Gorila? Siapa yang kau sebut gorila? Bajingan.”
“Hah?! Mungkin kau salah dengar, aku bilang babi hutan dan bukan gorila.”
Semakin mereka berdebat semakin terprovokasis satu sama lain. Percikan listrik tervisualkan dari tatapan tajam mereka yang saling memandang geram. Yah, selagi ini berjalan dengan baik maka saya tidak mempermasalahkan.
Selanjutnya adalah Veronica dan bawahannya yang berlari ke arah masyarakat Dwarf dan membantu mereka yang berdiri di tengah jalan dan menghadapi para monster untuk pertahanan. Dia angkat bicara.
“Jangan biarkan satu dari mereka menyusup lebih dalam dari tempat ini!”
“Baik!”
Para bawahannya langsung melesat dan menahan serangan para monster iblis sekuat yang mereka lakukan. Ini bukan soal Dungeon atau bukan, masalahnya monster iblis sedikit sulit untuk ditahan oleh para bawahannya Veronica tanpa kekuatan yang besar seperti miliknya.
Para masyarakat Dwarf yang menyaksikan aksi para manusia yang membantu mereka terheran.
“Kalian mundurlah ke tempat yang aman. Tempat ini sekarang menjadi medan tempur. Jika kalian tetap berdiri disini kalian akan mati sia-sia.”
Wanita pemberani itu memberikan pernyataan yang menusuk. Tapi masyarakat Dwarf disitu tidak tersinggung dan mampu menggambarkan situasi ini. Akhirnya berkat uluran waktu dari Veronica mereka yang terjebak berhadapan monster dapat melarikan diri.
Detik itu juga, cakar asing hitam menuju padanya dengan ketajaman yang akurat. Perasaan dan insting tajam Veronica yang mematikan mampu membuatnya mengacungkan pedangnya yang biasa dan menebas lengan monster iblis dengan kaki yang merayap.
“Cih! seandainya ini belatiku yang dulu, akan mudah menebas bahkan leher bajingan ini dengan mudah.”
Memang ketajaman dan berat tumpul pedangnya sama. Hanya yang membedakan adalah sifat dan keunikan kemampuan dari senjata yang dia miliki dulu. Nah, dia kehilangan belatinya di Dungeon sebelumnya melawan [Ten Tail Chimera].
Ketika membuatnya teringat tentang masa itu Veronica sedikit kesal dan meledakkan pijakannya, bilah pedangnya langsung menerjang kepala monster iblis itu dan memotong tubuhnya menjadi dua bagian sempurna.
“Mereka hanya kecoak yang merangkak.” dengan tangannya dia mengelap darah yang ada di sekitar dagunya.
Lalu kemudian Veronica merasa dirinya terpanggil dan dia paham tentang perasaan itu dan lari segera ke tempat dia terpanggil.
“Kamu sangat cepat datangnya...”
Veronica mendarat dengan sangat halus setelah lompatannya dari bangunan-bangunan lain.
“Ya, layar yang tidak asing terus-menerus muncul di depan mataku menyuruhku untuk datang.”
Ya, saya sudah bisa mengerti tingkat kemampuannya yang gesit dan lincah itu jadi saya tidak terkejut. Ada alasan kenapa saya memanggilnya kemari dan membuat para Party tidak bergerak dan disini bersama saya. Sampai para Elder yang membawa persenjataan datang.
Itu Elder Mouris dan juga Elder Vergo, dengan kendaraan beruap milik Elder Mouris beberapa senjata telah di angkut disitu.
Saya tanpa ragu langsung mendekat pada kendaraan ketika itu berhenti.
“Kau bisa memilih senjata yang —!”
Terlalu banyak bicara. Sementara saya langsung menggeledah semua persenjataan yang Elder Mouris bawa di kendaraannya seperti membongkar muatan hingga membuat matanya terbelalak. Ya, saya minta maaf karena menyentuh kendaraan tercintanya.
Tanpa ragu saya yang meraih beberapa senjata yang telah saya pilih terbaik langsung melemparkannya, terutama pada Veronica.
“Ini untukmu.”
Veronica menangkap senjata pedang dengan sarung yang dilapisi perak. Pedang bermata dua itu sedikit berat dari senjata yang selama ini dia gunakan. Namun itu sepertinya bukan masalah, karena wajahnya sekarang seperti sangat menyukai itu.
... Bahkan dia membuang pedang yang ada di tangannya dengan cepat dan menggantinya yang baru.
Lalu satu per satu saya membagikannya pada yang lain, Yohan, Heros dan anggota lain yang ada. Tetapi, senjata yang saya pilih untuk para Prophet saya sedikit unik mengikuti atribut pribadi mereka.
Terkecuali July. Dia tidak perlu senjata material. Dia sendiri sudah kuat.
Setelah itu, kelima Elder akhirnya berkumpul disini dengan persiapan mereka untuk bertempur dan di belakang mereka ada pasukan yang telah mereka kumpulkan.
Elder Orlos mendekat ke arah saya dan angkat suara.
“Nak, apa rencanamu?”
Dengan dirinya yang memilih bertanya kepada saya dengan kata itu. Membuat kontradiksi yang tidak diinginkan. Saya tidak tahu apa alasannya dia berkata seperti itu. Memilih saya daripada yang lebih tua dari saya untuk berdiskusi perihal rencana ini.
Maka biarkan, saya sendiri tidak peduli tentang hal konyol semacam itu dan menjawab dengan jelas.
“Cukup pertahankan tempat ini Elder. Kita tidak punya banyak kekuatan untuk hanya sekedar bertahan disini. Saya dan party saya akan masuk ke dalam dan mencoba yang terbaik untuk mengalahkan pemicu masalah ini. Tapi...”
“Jika kami tidak berhasil... Maka itu adalah akhir dari tempat ini.”
Pandangan semua orang, semua party tertuju pada saya. Perasaan seakan mereka tahu artinya.
Lalu dengan bunyi ‘BANG!’ yang sangat kuat. Itu adalah ujung bilah yang di tancapkan ke tanah oleh Elder Orlos.
“Serahkan yang disini kepada kami.”
Kemudian dia berbalik dan memandang ke arah pasukannya. Dia menyatakan deklarasinya dengan suara yang tinggi.
“Kita akan mempertahankan tempat ini apapun yang terjadi! Jangan biarkan mereka memporak-porandakan kota kita!”
UOHH!!!
Sorakan melanda seluruh balai kota ini hingga mencapai ke atas langit. Tidak ada sorot mata yang redup atau pantang menyerah dari setiap pasukan yang ada. Mereka telah bersiap mengerahkan semuanya.
[Saint kecil, apa kamu yakin?]
“July, lain kali tolong rubah unsur kalomat seperti itu. Terkadang kalimat itu adalah sumpah yang tidak semua orang ketahui akan menjadi kenyataan. Yah, ragu pun tidak akan mengubah segalanya.”
Saya berjalan di mana gerbang raksasa itu ada. Menghirup napas panjang dan mengeluarkannya dengan kelegaan.
“Hanya berharap saja ini bukan akhir.”
Tanggung jawab July adalah dengan menjadi pelindung bagi ras Dwarf. Meskipun dia entitas terlama dan tidak tahu perubahan era sekarang. Setidaknya ada makna tentang kehidupan yang selalu dia ingat dan ketahui benar.
Mata itu adalah mata yang penuh perjuangan seolah di dalam pupil bulat itu ada ratusan kehidupan yang pernah dia lewati.
Membuat July sedikit tersenyum.
Saya berbalik untuk menemukan Paladin Roy dan Paladin Theo yang dari awal menemani saya sebagai pengawal yang sangat berjasa bagi saya.
“Sir Roy dan Sir Theo, tolong jaga tempat ini dengan para Elder.”
Sontak dengan kalimat saya Paladin Roy tergelagap cemas.
“Apa? Tidak, Saint, tugas kami adalah untuk melindungi anda.”
“Kalau begitu ini adalah perintah. Tetaplah disini dan lindungi orang di kota ini.”
Kata ‘perintah’ adalah yang tidak pernah saya pernah ucapkan. Bagi mereka saya memiliki kedudukan dan kewenangan yang layak untuk menggunakan otoritas tersebut dan memberikan mereka berdua perintah.
“T-tapi...”
Lalu di samping Paladin Roy, Paladin Theo menepuk pundaknya dan menggeleng pelan. Paladin Theo berbicara dengan suaranya yang tenang dan lembut seperti biasanya.
“Saint, apakah ini perintah dari anda?”
“Ya.”
Paladin Theo memejamkan matanya lalu dengan cepat membukanya lagi. Saat itu juga dia tiba-tiba berlutut di depan saya.
“Saya, Theodore, sebagai Paladin dan juga sebagai pelindung disisi Saint agung, akan melaksanakan perintahnya.”
“Theo...”
Merasa bahwa tidak ada pilihan lain. Maka sejak itu juga telah di tentukan jika dia tidak bisa menolak atau berargumen dengan itu. Paladin Roy pun yang merasa berat akan perintah tersebut, akhirnya ikut berlutut dan menyerahkan kehendaknya pada orang di depannya.
“Terima kasih.”
Bagi mereka berdiri di sisi saya adalah tugas yang menjadi kewajiban bagi mereka. Itu bersifat mutlak. Keamanan dan keselamatan Saint adalah yang utama bagi mereka.
“Tolong kota ini.”
“Baik.”
Selesai dengan kedua pria ini. Para Party mendekat pada disisi saya, lebih tepatnya para Prophet. Elder Orlos dan Elder lain yang di sebelahnya ada di belakang.
“Kembalilah dengan selamat.” itu bagaikan kata selamat tinggal dari pria yang lebih tua kepada mereka yang masih muda.
Elder Orlos dan juga July saling memandang, kemudian mengangguk seirama.
“Hei, kita akan pergi?”
Tanya kasual Veronica yang merasa biasa-biasa saja dengan suasana ini dan dengan santai meletakkan pedang di atas pundaknya.
“Ya.”
“Al setelah ini selesai aku akan mengajarimu tata krama lagi yang benar.”
Tentu Yohan juga disamping saya. Kasih sayangnya sangat besar sehingga dia terlihat sangat takut jika terpisah dari saya. Meskipun dia begitu dengan sifatnya yang sedikit ketat, sebenarnya dia sangat khawatir dengan keadaan ini lebih dari siapapun.
“Terima kasih pedangnya Saint Alvius, ini pedang yang sangat bagus. Aku tidak akan pernah menggantinya selamanya.”
Dan disini ada pria yang lebih tertarik pada pedangnya daripada pada medan pertempuran di depan kita. Yah, selagi dia bisa tenang dengan itu maka tidak masalah.
Tapi jika pedangnya rusak tolong gantilah!
“Kita berangkat.”
Tsu-susususut!
Dengan kata saya selanjutnya. Detik itu juga, saya dan para Prophet melesat ke depan dengan cepat. Mengendarai atribut masing-masing. Saya memilih kecepatan Veronica.