
“Baiklah. Kalau begitu yang mulia silahkan atur dokumentasi kontrak kita. Lalu, ngomong-ngomong, bukankah orang disana sedikit tegang karena kamu, apakah kamu tidak mencoba menghiburnya?”
Saya terkekeh. Jean Jacques sedari tadi menatap ke arah kami dengan perbincangan kami. Raut wajahnya jatuh antara putus asa dalam ketidaktahuan apa sebenarnya yang sedang kami bicarakan. Tubuhnya tersentak ketika Claude dan saya menatapnya.
“Apa ada masalah, Komandan?”
Jean Jacques yang gemetar tidak tahu harus mengatakan apa, bibirnya naik turun, kemudian dia menguatkan dirinya dan menatap sosok pemimpin di depannya.
“Y-yang mulia, tolong katakanlah, apa anda serius menyatakan perjanjian itu?”
“Ya, tentu. Apa ada hal yang mengganggumu sehingga aku tidak bisa melakukan ini dengan Saint?” dan dengan santai Claude menjawabnya. Bahkan ekpresinya saat denganku berbeda, dia tidak pernah tersenyum kepada orang lain yang membuatnya tidak tertarik.
“Anda adalah lambang dari negeri ini. Dan membuat perjanjian seperti itu, bukankah nama anda akan menjadi bahan perbincangan publik. Jika ratu tahu soal ini, maka beliau...”
“Komandan.”
Sasasasah!
Aura keemasan yang indah. Itulah yang terlihat. Tapi saat dirasakan, itu sangat mencekam dan mencekik. Seolah hanya dengan aura yang keluar dari tubuh Claude bisa membuat seseorang berhalusinasi melihat kehancuran diri mereka sendiri. Saya baik-baik saja karena saya tahan terhadap ini, tapi saya tidak yakin dengan Jean Jacques.
Tubuh Jean Jacques semakin gemetar.
“Apa kamu mencoba mengatakan bahwa aku tidak punya hak dalam bertindak? Sebenarnya kamu ada dipihak siapa komandan. Jika kamu tidak suka dengan caraku mengambil keputusan, aku tidak akan menghentikanmu untuk pergi dari sisiku.”
Kasihan sekali saya melihat Jean Jacques seorang komandan namun tidak berdaya di depan majikannya. Itu terlihat seperti penindasan. Tapi penindasan apa? Dia bisa bebas jika mau lalu kenapa dia tidak lari dari sisi orang gila ini. Yah, itu bukan urusanku dalam mengasihaninya.
“Aku tidak akan bermain permainan yang disiapkan ratu. Jangan pernah sebut nama orang itu atau gelarnya di depanku.”
“...Baik, pangeran.” dia tidak bisa melawan, pada akhirnya dia pasrah.
Setelah urusan dengan Jean Jacques selesai, Claude menatap saya dan berbicara dengan senyuman kembali.
“Mari kita lanjutkan pembicaraan. Ah, sampai mana kita tadi...” Claude mencoba berpikir sampai mana topik kami berjalan. Sebelum dia selesai berpikir saya lebih dulu berbicara.
“Yang mulia, tentang keuntungan yang kamu katakan.”
“Ah, benar tentang itu.” dengan lucu dia menepuk tangannya dengan pukulan kecil. “Lalu, bagaimana...?”
“Aku ingin bertanya.”
“Ya, silahkan.”
“Aku— Tidak. Saya ingin berbicara kepada anda, yang mulia pangeran mahkota Claude La Zariel.”
Saat itu juga Claude sedikit kaget dengan perubahan aliran yang terjadi. Dan kata-kata saya berikutnya, membuat guncangan dalam emosional.
“Apakah anda bisa lebih cepat untuk naik tahta?”
Claude terkejut, matanya terbuka lebar. Begitu pula dengan Jean Jacques. Jangan katakan apapun lagi, dia sekarang telah menarik pedangnya.
“Saint! Apa yang anda katakan!? Itu artinya anda menginginkan sebuah pemberontakan pada keluarga kerajaan! Hukumannya tidak hanya sebatas di penjara anda tahu itu!”
Kenapa saya membenci tipe orang ini sepertinya saya bisa langsung tahu. Saya menatapnya dengan pandangan turun.
“Apa yang anda bicarakan komandan. Saya mengatakan hal yang menurut saya adalah suatu keharusan. Ini tentang keuntungan dari perjanjian kami, itu tentu saja. Lalu bukankah ketika yang mulia diangkat menjadi raja, disaat itulah keuntungan saya bisa terlihat. Jika hanya menggunakan namanya ketika yang mulia hanya sebatas ini, apa yang saya dapatkan.”
“Tetap saja itu—”
Saya memotong kalimatnya dengan amarah, “Tolong jangan remehkan saya, komandan. Apa anda pikir saya semunafik itu mengatakan sebuah yurisdiksi yang bisa menghancurkan diri saya sendiri.”
Lalu kemudian saat saya sedang adu konflik dengan Jean Jacques, Claude terkekeh disana.
“Tidak, tidak ada. Hanya saja penyataanmu sangat mengejutkanku sampai aku tidak tahu harus merespon apa.”
Jean Jacques yang terlibat berteriak.
“Yang mulia apa anda akan membiarkannya saja!?”
Kemudian jawaban terdingin adalah sesuatu yang dia dapatkan.
“Komandan, kamu terlalu berisik.”
Kemudian Jean Jacques tidak paham lagi, kenapa seolah dia yang salah disini. Apakah dia hanya bodoh atau hanya tidak bisa mengikuti arah pembicaraan mereka. Benar, sejak awal dia lupa bahwa bukan karena dia yang tidak memahami skenario ini. Melainkan dia tidak cukup gila untuk ikut terlibat dalam adu pembicaraan ini.
Ya, sekarang dia sadar. Mengapa dia merinding, mengapa dia ketakutan, sekarang dia tahu semuanya. Kedua orang yang sedang ada di depannya, terlalu mirip. Keduanya sama-sama kehilangan akal sehat mereka dalam moralitas.
Seolah ada dua iblis sedang mengobrol cara menghancurkan dunia. Kedua iblis itu melihat padanya. Ah, haha, aku tidak akan bisa mengerti jalan pikir kedua orang ini.
“Aku ingin bertanya kenapa kamu ingin aku cepat naik tahta.”
“Bukankah ini demi keuntungan masing-masing. Aku sendiri tidak tahu bagaimana nantinya kamu memanfaatkanku, begitu juga denganku. Karena itu aku ingin melihat apakah itu bisa dibuktikan.”
“Dan bukti itu adalah kamu ingin menggunakan namaku bukan sebagai pangeran mahkota melainkan raja, begitukah?”
“Haha... Aku senang kamu cepat menangkap maksudku, yang mulia.”
“Tidak tidak, Saint hanya yang terlalu cerdas.”
Jean Jacques yang termenung berpikir. Jika lebih lama dari ini mendengar pembicaraan mereka, tak lama lagi waktunya untuk gila akan tiba.
“Tapi, jika itu aku lakukan maka akan timbul konflik perpecahan yang besar antara bangsawan.” Claude menyentuh dagunya seperti sedang memikirkan rencana. “Kamu tahu bangsawan sekarang tidak bisa diatur dengan mudah.”
Mendengar perkataannya saya hanya bisa tersenyum.
“Bukankah itu mudah jika itu kamu, yang mulia.”
Claude berhenti sejenak, dia bahkan menurunkan tangan yang menyentuh dagunya, pupilnya melebar dan ada sedikit getaran. Dia tahu, apa yang di maksud perkataan itu sepenuhnya dia tahu, apa yang sebenarnya iblis licik di depannya ini inginkan darinya.
“Haha, begitu. Jadi itu yang kamu maksud Saint.” Claude memasang wajah gilanya saat dia meremas dan menarik rambutnya ke atas. “Aku tidak tahu jika kamu semengerikan itu, Saint.”
“Terima kasih, pujian dari yang mulia terlalu berlebihan untukku.”
Jean Jacques yang kebingungan tentang apa yang mereka bicarakan hanya bisa membatin keras. ‘Apa? Apa yang sekarang sedang mereka bicarakan dengan senyuman mengerikan itu?!’ dia tidak akan pernah tahu.
Claude terkekeh dan berbicara “Tapi, itu akan membutuhkan sedikit waktu.”
“Aku adalah orang yang bisa sangat bersabar.” jawab kasual saya.
“Wah, kamu sungguh benar-benar...”
“Selama menunggu, akan lebih baik jika kita sering bertemu dan membicarakan pekerjaan lain yang sedikit lebih menguntungkan untuk rencana masa depan.”
“Hahaha, tentu tentu. Aku akan mengundangmu saat aku tidak terlalu sibuk.”
“Terima kasih banyak.”
Pada akhirnya, Jean Jacques, dia tidak bisa memahami apa yang sedang mereka perdebatkan secara ringan dan santai. Tetapi, baginya seperti menunggu sebuah tragedi yang mengerikan akan datang.
“Aku tidak sabar Saint untuk melihat masa depan itu dengan kedua mataku sendiri.”
Hanya sesama orang gila yang bisa saling memahami apa yang sedang mereka pikirkan.