
Ekspedisi yang dikirim oleh Claude hari ini adalah keberangkatan mereka. Veronica juga telah berangkat bersama kelompoknya untuk melakukan pekerjaan yang diberikan kepadanya.
Meskipun tampak enggan dan terkadang banyak mengeluh, respon Veronica selalu berakhir menerima tanpa banyak kata.
Seperti saya juga demikian, itu setelah Veronica pergi akitivitas saya hari ini adalah mengunjungi setiap panti asuhan untuk melakukan kegiatan amal.
Ada empat distrik dimana panti asuhan berada itu adalah empat arah mata angin.
Sekarang saya berada di sisi distrik timur dengan menaiki kereta kuda dan ditemani oleh dua Paladin senior yang lebih ahli. Jadi Yohan tidak bisa ikut, karena dia secara pribadi bukanlah Paladin secara sah. Dia harus menunggu untuk lulus.
“Saint Alvius, kita telah sampai.” pengawal Paladin membuka pintu kereta dan menyatakan. Ketika saya turun wanita memakai pakaian biasa namun bersih menyambut saya.
“Selamat datang Saint. Mohon maaf jika tempatnya sedikit kumuh.”
“Tidak, saya disini senang karena telah disambut.”
Untuk melakukan kegiatan amal mari kita memasang ekspresi yang secara bisa memberikan kesan. Harus sopan dan rendah hati.
Kemudian wanita ini mempersilahkan kami masuk, saya dengan dua Paladin di belakang saya tanpa banyak bicara langsung masuk melewati pintu.
Mirisnya tempat ini memang bisa dikatakan sedikit kurang layak. Bangunannya sedikit tua dan kurang direnovasi, interior di dalam adalah barang bekas, namun karena semua disini adalah keluarga, tempat yang saya injak ini adalah tempat yang bersih. Hampir tidak ada debu disekitar.
Disitu saya melihat anak-anak dari usia kecil hingga remaja tengah bekerja.
Saya pertama membuka mulut.
“Apakah anak-anak memang selalu membersihkan tempat ini?”
“Benar, kami menjadwalkan pekerjaan bersih-bersih ini layaknya kegiatan rutin kami. Maaf jika terlihat seperti sesuatu yang kurang berkenan, namun karena kami tidak bisa mempekerjakan pelayan jadi setidaknya kami melakukannya sendiri.”
Dengan di pandu jalan, jawaban wanita ini sedikit kurang enak di dengar. Tetapi itu nyata, berkat rutinitas anak-anak ini tempat ini setidaknya bisa di tinggali dengan baik. Jujur saya kurang setuju jika anak-anak yang masih kecil harus bekerja seperti ini meski ini adalah pekerjaan kecil. Bukankah mereka harus belajar dan bermain.
‘Sudah kuduga ini akan terjadi. Apakah Claude tidak tahu tentang ini?’
Sedikit geram untuk itu saya melanjutkan jalan.
“Disini.”
Wanita itu telah membawa saya di satu ruangan yang lumayan luas untuk aulanya. Dan disana terbaring anak-anak yang sakit, tidur di atas kasur selimut.
Tanpa banyak berlama-lama saya langsung maju “Mari kita mulai.” dan melakukan tugas saya.
Satu anak saja sudah mengalami perasaan sakit yang begitu menyakitkan. Di dunia ini tidak ada yang namanya dokter. Namun, ada seseorang yang mampu menggunakan kemampuan Healing dengan kekuatan suci seperti Priest dan saya.
Tapi, tenaga seorang Priest terlalu berbeda. Mereka tidak bisa melakukan pekerjaan amal seperti ini setiap hari. Itu menyedot kekuatan mereka ketika mentranfernya pada mereka yang membutuhkan
Karena itu, ada lagi seseorang yang bisa menggunakan Healing. Mereka yang disebut Petualang adalah pemilik kemampuan Hybrid.
Jika di gambarkan. Priest menggunakan kemampuannya dari jantungnya. Tetapi, Petualang menggunakan otak mereka. Sel dalam otak Petualang berpotensi terus-menerus menduplikat dan bekerja mengumpulkan kekuatan sihir. Sementara Priest, jika mereka melakukan hal sama kepada jantung mereka dengan mengumpulkan sihir, mereka akan mati.
“Selanjutnya.”
Satu per satu saya menyembuhkan mereka dari keadaan kritis mereka.
“Bantu saya untuk memeganginya.”
Ada yang menderita virus Azmontez dan wabah Racun Udara Croctales yang pernah ada di dalam tubuh saya. Sulit mendeskripsikannya dan menyembuhkan penyakit ini sedikit rumit.
Seandainya saya bukan Saint, saya akan mengambil resiko berupa kematian.
“Apa kamu sudah bangun?” Tanya saya lembut kepada anak yang baru saya sembuhkan.
Perlahan anak itu membuka matanya dan bibirnya naik turun. Bayangan seseorang terlukis di retinanya dan anak itu bicara dengan suara lemah.
“D-Dewa...” kemudian dia tertidur.
Sedikit mengejutkan mendengar ucapan itu. Saya memberinya selimut dan berbisik, “Saya bukan dewa.” dengan pahit.
Setelah itu tugas saya terus berlanjut seperti ini dan terus melakukannya untuk sejumlah anak-anak yang membutuhkan kekuatan suci saya. Dibantu dengan wanita pengurus panti asuhan dan Paladin pengawal, setidaknya pekerjaan saya bisa selesai dengan cepat.
Ketika melihat anak-anak bisa bernapas lega dan nyaman untuk keluar dari masa kritis, ada perasaan kosong dimana saya merasa ini adalah sesuatu yang berat untuk disaksikan.
Lalu saya akan melanjutkan ini di tempat berikutnya.
“Saint saya ucapkan terima kasih banyak.” dengan isak tangisnya pengurus itu membungkuk sampai pinggang dan melakukan itu berulang kali.
“Tidak, ini adalah tugas saya. Setidaknya anak-anak yang sakit sekarang bisa merasakan kedamaian hidup mereka.”
Hidup mereka sudah sulit sejak mereka dilahirkan.
Benar, bagi pengurus wanita ini meminta bantuan pada Petualang untuk menyembuhkan anak-anak setidaknya membutuhkan banyak uang. Panti asuhan tidak memiliki dana sebanyak itu. Jadi siapa yang mereka andalkan.
“Lebih perbanyak waktu mereka untuk bermain dan belajar. Jangan biarkan mereka bekerja terlalu keras dan akhirnya jatuh dalam keadaan akan disesali.”
Saya membungkuk dan mengucapkan selamat tinggal, lalu naik ke kereta dan melanjutkan perjalanan saya.
Sesaat kereta bergerak sesuatu mengetuk jendela kaca kereta.
“Saint, apakah anda butuh sesuatu?”
Mengalihkan perhatian saya ke arah jendela, wajah dari Paladin yang naik kuda sendiri berbicara kepada saya dari luar.
“Tidak, saya baik-baik saja.”
“Apakah ada yang membuat anda tidak nyaman?”
Untuk itu saya tidak langsung menjawabnya. Namun...
“Benar...”
Paladin itu sedikit tegang mendengarnya. Setelah itu saya tersenyum pahit padanya.
“...Ada banyak sekali.”
Bohong jika saya bilang tidak ada. Semua, semuanya yang telah saya saksikan selama ini adalah sesuatu yang membuat saya hidup tidak nyaman. Sampai melihat kehidupan anak-anak seperti itu adalah hal yang tidak pernah bisa saya bayangkan.
Apakah ini era peradaban peperangan?
Nah, jika ini adalah abad pertengahan maka itu artinya iya. Karena ini adalah dunia yang penuh dengan hal-hal tidak terduga.
“Mari kita lanjutkan ini dan kembali, tuan Paladin.”
“Y-ya.”
Pada akhirnya saya benar-benar melakukannya. Distrik pertama, kedua, dan ketiga. Dari semua tempat panti asuhan yang saya singgahi tidak ada kata yang bisa mengungkapkan perasaan bahagia.
Semua kehidupan sama. Sampai disini pun sama, saya tidak melihat ada satu anak yang bahkan tersenyum atau ceria. Semuanya, hanya terlihat murung.
Detik itu juga saya menggertakkan gigi dan berpikir keras untuk tidak terlalu bersimpati. Tapi, saya tidak bisa.
“Saint lebih baik anda istirahat.”
Saya menatapnya, dia adalah Paladin yang membantu saya. Ketika saya hanya menatapnya tanpa merespon balik, dia tiba-tiba memperkenalkan diri.
“Ah, saya Roy. Dan Saint, anda tampak pucat.”
Jadi itu namanya, saya sedikit tidak enak karena merasa tidak sopan karena tidak mengetahui orang-orang yang mengawal saya, kemudian satu lagi Paladin melihat saya dengan tatapan tidak memiliki ekspresi tertentu.
“Saya Theo.” hanya dengan itu, namun dia mengangguk hormat.
Mereka adalah orang baik, setidaknya itu yang bisa saya nilai.
Tetapi, detik itu juga pesan dari monitor muncul.
[Skill ‘Speed Reverse (M)’ telah diaktifkan. Aktivasi ini membutuhkan banyak kekuatan sihir.]
Pada saat sebelum saya bisa mempelajari jelas isi itu. Tubuh saya seolah tersedot oleh sesuatu dan menyerap kekuatan saya dengan cepat.
Ah, hanya satu orang yang bisa melakukan ini.
Tidak lama kemudian efek samping akibat pesan itu muncul.
“Blurgh!?”
Segelas darah keluar dari dalam mulut saya. Itu mendadak jadi pakaian putih saya kotor membercak darah dan tangan saya berlumuran darah.
Wajah saya semakin memucat. Paladin di samping saya panik.
“Saint Alvius!?”
Setelah itu, saya pingsan.
Padahal tinggal sedikit lagi kegiatan amal ini berakhir. Veronica, apa yang terjadi disana?!