
“Bajingan kecil, mereka menuju ke arah sini!”
Monster iblis terbang ke arah kami. Bukan karena Veronica tidak memperhitungkannya dengan tepat. Jumlah dari para monster iblis seperti lukisan abstrak yang menutupi kanvas putih sepenuhnya dengan warna mereka. Dia bisa menyerang dengan para bawahannya, namun segerombolan monster itu mencegah kami untuk bergerak.
Tsu-susususu!
Dengan kecepatan yang dinamik dan suara ledakan yang terdistorsi, pada saat itu juga ada jalan di segerombolan monster iblis yang melubangi di bagian tengah mereka.
[Kalian menghalangi.]
Serangan frontal itu datang dari Dryad, July, sejak kapan dia mengumpulkan energi magis hijau miliknya yang mampu membuat bola pancaran yang sangat kejam yang mana itu bisa menghanguskan monster langsung menjadi debu.
“Bagus!” bersiul, Veronica senang ada celah di antara jalan di depan sekarang.
Saya dan para Party lain langsung menambah kecepatan untuk menyusul July yang sudah lebih cepat di depan kami. Sebelum itu saya melihat ke belakang...
Monster yang keluar sebelumnya membuat hiruk pikuk begitu besar hingga bisa dilihat setengah dari kota hampir terbakar dan runtuh.
“Semoga kalian beruntung.” kemudian saya berkata seperti ucapan selamat tinggal.
Beberapa saat kemudian. Saya dan para Party mendarat tepat di depan gerbang yang begitu besar. Tidak tahu lagi seberapa jauh puncaknya saya hanya bisa mendongak dengan mata yang terbelalak dan melonggar.
Suara datang dari sebelah saya dengan suara penuh kecemasan. “Ini bukan berita baik.”
Itu Veronica. Dia yang berdiri di sebelah saya juga mendongak sampai lehernya tidak mampu lagi untuk bergerak ke atas. Perasaan yang dia rasakan tidak hanya terbatas padanya, melainkan semua orang disini.
Detik itu juga dengan suara yang sangat keras seperti suara lempengan besi di geser dengan sangat kasar. Hingga pintu gerbang tersebut terbuka. Hal itu menyambut kami yang telah berada di depan pintu.
Saya mengamati di dalam, yang dapat di temukan hanyalah... Kosong!
Tidak, bukan kosong. Saya mendekat pada pintu masuk dan mencoba menyentuh ke dalam. Hasilnya adalah tangan saya seperti menembus, ini perasaan yang sama seperti menyelupkan tangan ke dalam air.
“Sepertinya tempat ini dan di dalam sana terdapat distorsi yang memisahkan kedua tempat sekaligus. Jika kita masuk maka dimensinya akan berbeda lagi. Tapi...”
“Tapi apa?” respon Veronica yang langsung memotong ucapan saya.
“Tidak. Tidak ada.”
Lalu segera itu saya menoleh dan menemukan July dengan raut yang sudah tidak sabar ingin menghajar pemilik gerbang ini.
“Kita akan masuk.”
Saya menatap masing-masing party dan tanggapan mereka sama yaitu mengangguk dengan sangat yakin dan telah menetapkan hati mereka. Meskipun kita tidak tahu apakah akan menang atau kalah. Yang disebut sebagai [Queen Night 25] yang tidak bisa di prediksi oleh saya.
Ini adalah saat dimana saya atau yang lain tahu, jika telah menyebrang ke dalam sana, kami tidak akan bisa kembali sebelum mengalahkan pemiliknya.
Saya dan para Party berjalan dan masuk ke dalam gerbang.
Perasaan yang aneh seperti melayang-layang di antara udara lalu mendarat lagi beberapa kali bisa di rasakan. Tidak ada pemandangan yang layak dan hanya asap-asap warna-warni di sekitar yang menghiasi. Dan ketika kami menyadari langkah kami berakhir, kita melihat... Kastil.
“Sepertinya kita berada di dalam kastil.”
“Bagaimana kau bisa yakin akan hal itu?”
“Hanya spekulasi. Dilihat dari luasnya tempat ini tidak mungkin hanya sebatas mansion saja.”
Saya rasa juga begitu, bukan hanya spekulasi dari Heros yang membenarkan suasana pemandangan ini. Sekarang kami ada di dalam sebuah kastil yang besar. Kami menginjak karpet merah yang sama dan hiasan di dinding juga nampak mewah, sedikit perbedaan semuanya terlihat sedikit kuno.
Juga tempat ini sangat luas dan langit-langitnya tinggi.
[Kita bergerak.]
Tidak lagi menghiraukan pertengkaran Yohan dan Heros yang berdebat tentang kastil ini July berjalan terlebih dahulu. Rasanya ada yang aneh dengan July. Tidak seperti biasanya dia nampak sangat terburu-buru.
Menyadari hal tersebut tatapan saya memandangnya cemas.
[Kamu merasakannya? Itu benar.]
Bukanlah kecemasan yang saya rasakan, ini lebih dari sekedar perasaan khawatir, ini adalah pengambilan resiko yang sudah di antisipasi akan terjadi.
“Tapi, kamu tahu, kamu bisa menggunakan—”
[Aku tidak akan melakukannya.]
“Kenapa?”
Dengan senyuman pahit July menjawab. [Kamu akan sakit.] suara itu, wajah itu, semua darinya telah melebihi pemikiran semua individu atau bahkan semua makhluk hidup. Untungnya ekspresinya di gantikan oleh letupan bola kecil magis di sekitarnya.
Sementara saya disini sedikit bingung namun tanggapan July bisa di mengerti. Tanpa monitor yang memberikan kejelasan perasaan July kepada saya, jelasnya itu langsung masuk memenuhi seluruh hati saya.
Beratnya perasaannya sama dengan beratnya apa yang telah dia tanggung selama ini.
Kami yang berjalan sangat panjang dari arah utama tidak menemukan apapun selain koridor lurus tanpa ada belokan sama sekali. Dan pada ujungnya kami menemukan gerbang lagi. Saat itu saya langsung menyentuh ke arah pintu tersebut. Tepat pada saat itu juga perasaan mencekam langsung menusuk dada saya.
Wajah saya menjadi pasi dan tenggelam dalam kenyataan keputusasaan.
“Al, ada apa?!”
Pupil saya berbelok melirik Yohan yang mengkhawatirkan saya. Saya menelan ludah saya dan mencoba yang terbaik mengambil napas dan menenangkan diri.
Menoleh perlahan ke arah July, saya mengangguk ringan.
“Kita... Benar-benar tidak akan bisa kembali.” ucap saya dengan nada sedikit gemetar.
Jauh di depan sana kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Waktu bertemu dengan Gabriel dan juga Samael perasaan akan kekuatan sangatlah berbeda dengan apa yang sekarang terasa. Entah butuh berapa pengorbanan untuk sampai di titik ini.
Monster itu!
“Yang perlu kita lakukan adalah membunuh monster di depan kita, bukan.”
Disitu Veronica tampak tanpa mengkhawatirkan apapun terlihat mencoba menenangkan situasi. Dia mengayunkan pedangnya seperti akan berpesta memotong. Dia sangat tidak sabar ingin segera mengakhiri ini.
“Tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi. Tapi, tetaplah waspada.”
Semua Party mengangguk dan kami mendorong pintu di depan kami dengan tenaga di telapak tangan kami.
Disitu aula luas telah terbuka di mana jendela kaca hanya menampakan warna merah tanpa adanya pemandangan apapun. Seluruh pilar di aula di hiasi bunga merah. Di samping sekitar pilar meja makan dengan makanan dan juga minuman beralkohol ada di atasnya.
Ketika tidak ada yang memperhatikan jauh di depan sesuatu membuka suara.
[15 menit. Kalian membuatku menunggu selama 15 menit. Hm, benar-benar tidak bisa di mengerti.]
Saat suara itu jatuh di telinga kami semua. Hawa mengerikan menekan seluruh konsep di aula ini. Rasanya untuk bernapas saja sangat sulit. Sebagai Apostle dengan segera saya langsung menekan semua aura jahat itu dan membantu yang lain untuk bernapas dengan menetralkan mental pikiran mereka.
‘Sial! Hampir saja aku mengeluarkan darah dari hidungku.’
Karena baik-baik saja sejauh ini saya menahan itu.
Di depan kami sebuah kursi singgasana yang megah di letakan di atas, tidak, entah itu di atas apa namun terlihat seperti dia melayang di udara dengan kursi takhta itu.
Lalu, betis yang pucat dan sangat mulus sampai di pahanya yang telanjang, pakaian yang sedikit tampil eksotis seperti memakai pakaian renang ketat dan ada renda berekor di bagian roknya, kain lengan yang panjang, dada yang terekspos menampakkan tonjolannya yang besar, dagu yang tirus, bibir merah menawan, mata hitam-merah tajam, rambut hitam gelap panjang lurus yang jatuh bagaikan benang sutra, dan dari semua itu yang paling menonjol adalah... Dia memiliki tanduk.
[Raja Iblis ‘Queen Night 25’ melihat anda!]
Ekspresi yang sangat dingin dan tampak bisa melahap apapun dengan hanya diamnya tersebut. Wanita itu menatap kami.
[Aku menyambut kalian di kastilku. Hm...] sebelum dia hendak ingin mengucapkan kalimat-kalimat yang dia susun untuk pembukaan, dia sadar akan sesuatu dan ekspresinya berubah. [Hee... Kebetulan yang langka, ada putri Dryad disini.] dia tersenyum kelam ketika menemukan July.
July menajamkan gigitannya saat bertukar pandang dengan wanita itu. Tanpa bertarung frontal, bisa saya rasakan aura July sedang melakukan konflik dengan musuhnya.
[Pada akhirnya kau datang lagi, Raja Iblis.] suara July di penuhi dengan kesuraman.
[Ya... Sudah berapa tahun sejak waktu itu, hm, sungguh nostalgia Putri yang Terakhir.]
Itu nampak seperti provokasi dasar, tapi wanita ini sama sekali tidak terlihat melakukannya dengan sengaja. Itu hanya sapaan. Jika di lihat dari pandangan orang lain. Namun tidak dengan pandangan orang yang pernah berhadapan dengannya, jauh di masa lampau.
[Tutup mulutmu!]
Gugugugus!!
Wanita itu tersenyum licik.
Dari lantai di bawah July akar raksasa meledak keluar dari tanah dan mengamuk menjalar dengan batang yang sangat kuat, gelombang energi di dalam tubuh akar itu sangat tebal sehingga mampu menembus medan pertahanan Multiple dengan sangat mudah. Sedikit gerakan tangan dari July, batang-batang yang menjalar itu mengenai wanita iblis itu.
Tak mau berhenti di sini ketika debu masih berdesir di sekitar musuhnya, July mengangkat satu tangannya ke langit dan tombak kekuatan magis kuno hijau berjumlah puluhan terwujud. Tanpa menunggu lagi dia mengayunkan lengannya ke bawah dan serangan yang bisa mematahkan apapun bentuk pertahanan di lepaskan dengan kecepatan yang luar biasa.
Suara tembakan yang dahsyat dari tabrakan pada musuhnya. Aula sedang di kacaukan oleh July, hujan serangan masih berlanjut.
Perjamuan tidak ada lagi ketika seluruh makanan telah di sapu habis sampai hancur.
Kami para party hanya menyaksikan kekuatan kuno yang besar.
Ekspresi July tidak berubah dan masih mengecam seperti akan membunuh musuhnya. Lebih dari itu dia memang tidak bisa berlama-lama berada di sini. Itu mengartikan segalanya saat wanita iblis bicara ketika dia masih di sirami oleh serangan July.
[Kau tahu bahwa ini tidak akan bisa membunuhku.]
Meskipun mendengar suara dari monster itu July tidak berhenti menyerangnya. Akar-akar masih mengeroyoknya hingga seperti ingin ******* habis diri monster itu.
Ratusan tembakan tombak energi magis juga tidak luntur.
[Ke~huhu... Meskipun kau tahu namun kau tetap mencoba menekanku, dasar wanita yang sombong.]
Dalam sekejap semua serangan July di patahkan dan di hancurkan, dan itu hanya dengan kepakan sayapnya yang kini telah mekar.
Wanita iblis itu sekarang terbang di atas singgasananya
[Disini adalah dominasiku, tempatku tinggal. Bodoh jika melakukan tindakan sia-sia seperti itu. Kau sama sekali tidak belajar dari masa lalu, putri.]
Wanita itu berdiri dengan kedua kakinya yang memakai sepatu tinggi menapaki punggung kursinya dengan sangat santai. Dia menyeringai mengerikan dan bicara dengan auranya meluap hebat.
[Aku akan melakukannya sambutan pada kalian yang tidak mengetahui diriku. Dikenal sebagai ‘Queen Night 25’, nama asliku adalah Astaroth.]
Wajah wanita itu sedikit kemerahan dengan noda rona di pipinya.
Benar, itulah mengapa dia disebut sebagai ‘Ratu Malam’, atau bisa di artikan hawa napsu itu sendiri.
Dia menyentuh pipinya. [Selamat datang, manusia.] di balut oleh nada suara yang sangat menggairahkan.