The Saint Class Reincarnator

The Saint Class Reincarnator
BAB 92: DISASTER



Peperangan telah pecah di Kota Industri Tenstheon ras Dwarf. Para monster iblis memporak-porandakan seluruh kota dan menghancurkan apa yang mereka lihat. Kota di selimuti oleh api dan asap yang sama sekali tak berujung padam.


Mereka yang memilih bertempur mengangkat pedang yang mereka tempa demi usaha mempertahankan negeri mereka.


“Tarik pedang kalian! Hadapi mereka dengan segenap kemampuan kalian!”


Langit yang hitam tidak membuat semangat ras Dwarf menurun. Di bawah komando Elder Orlos semua pasukan Dwarf yang dia pimpin berjumlah kurang dari 200 orang. Di samping itu ada beberapa Elder yang ikut membantu di medan perang dengan menggunakan meriam ledakan.


“Hahaha, inilah saatnya untuk anak ini beraksi.”


Dengan memegang ujung pelatuk meriam raksasa yang dia bawa, Elder Mouris memasang wajah gila semangat membara. Anak yang dia sebut adalah meriam yang sengaja dia ciptakan bersamaan dengan model kendaraan yang dia gunakan saat itu. Penuh sekuat tenaga dari tarikan tangan kanannya, bola meriam di luncurkan dengan suara meledak hebat.


Udara memekik dan angin terbelah dan saat bom kecil itu menyentuh tanah di mana para monster berkumpul, di tengah itu hujan mayat monster memenuhi langit.


KA-BOOM!


“Kerja bagus Mouris, terus lanjutkan!”


“Hahaha benarkan ini hebat!”


Merasakan puas dengan ledakan besar yang dia ciptakan semua orang ternganga akan serangan dari Elder Mouris yang mendadak. Elder Vergo memujinya dan merasa jika pihak ini memiliki kesempatan menang.


Melihat serangan ledakan besar itu selain Elder Vergo dan Elder Mouris yang senang dengan perubahan medan. Disitu ada Elder Orlos, Elder Gruazi, dan Elder Helgam memasang raut wajah kecut.


Elder Orlos yang pitanya rusak menjerit.


“M-Mouris... Mouris!!! Bajingan tua! Apa yang kau lakukan, huh!”


“Eh? Tentu saja menghancurkan monster. Kenapa?”


“Kenapa? Kau bilang. Kau hampir menghancurkan setengah kota dengan alatmu itu bajingan!”


“Ya, kita kan bisa memperbaikinya lagi nanti. Asalkan kita menang, ini tidak masalahkan jika hancur sedikit.” Jawab acuh tak acuh Elder Mouris dengan menganggap enteng ini.


Elder Orlos yang sudah tidak kuat dengan nada suara Elder Mouris yang seenaknya langsung menarik pedangnya dengan emosi dan mengacungkan padanya.


“Hancur sedikit? Baiklah, kemarilah dan akan aku hancurkan kau dan alat-alat konyolmu itu!”


“O-Orlos tenanglah.”


Di bawah kemarahan Elder Orlos ada Elder Gruazi yang menolong untuk menenangkan mereka. Elder Helgam menggeleng dengan helaan napas dan menatap medan perang.


Memang benar jika kota bisa hancur dengan serangan meriam milik Elder Mouris namun karena itu juga banyak monster langsung lenyap begitu saja dengan dampaknya yang besar. Untungnya jarak ledakan meriam tidak terlalu besar dan merambat, jadi bagian belakang pasukan tidak terlibat serangan itu.


Tanah pun bergetar dan rasanya seperti semakin dekat maka semakin kuat getarannya tapi tidak tahu penyebabnya.


Elder Orlos menyadari perasaan kuat itu dan langsung menolehkan lehernya ke arah lain.


“Ini...”


Kemudian sebuah ledakan asap keluar dari arah gerbang besar yang ada di depan sana. Elder Orlos mencoba menajamkan matanya dan di sana dia langsung bisa melihat dengan jelas dan berteriak pucat.


“Putri!?”


July yang sedang berusaha berjuang keluar dari mulut seekor ular raksasa agar dirinya tidak di lahap seakan kesulitan disana. Para Elder dengan insting mereka tanpa berlama langsung bergegas ke arah July berada.


[Kugh! Ular ini...]


Di dalam pelindung yang mirip seperti kepompong hijau yang tembus pandang, July sedikit kewalahan menahan kuatnya cengkeraman dari mulut hewan predator ini. Jika dia lengah maka dia akan langsung masuk ke dalam kerongkongan ular ini.


[Haa—!]


Untungnya dia ada di luar wilayahnya. Jika saja dia berhadapan dengan ular ini disaat dia masih ada di wilayah dominasi Astaroth maka dia tidak tahu kapan bisa bertahan. Dengan lembut July menggerakan jemarinya ke udara dan akar belikat berwujud besar mengikat kuat tubuh ular Gorgon hingga dia menjerit.


- Kiiiik!


Kepompong oval yang di dalamnya ada July di muntahkan olehnya.


Disitu kepompong jatuh dengan memantul ringan seperti bola sepak.


Suara-suara keributan terdengar dari dalam kota. Suara sayatan, suara berisik bilah pedang, dan suara jeritan monster. Tepat saat itu para Elder juga sampai dengan cepat dan berada di depan gerbang utama.


“Putri!” Teriak Elder Orlos yang sudah panik melihat kejadian July ada di dalam mulut ular raksasa. Namun dia merasa sedikit tenang kembali karena melihat July tidak apa-apa. Setelah itu Elder Orlos bertanya.


“Putri apa yang terjadi? Kenapa anda ada di luar?”


[Seperti yang kamu lihat, monster ini menyeretku keluar dari dalam sana.]


“Apa?”


Detik itu juga seluruh Elder langsung pucat pasi dan nampak sangat putus asa. Terutama Elder Gruazi yang bicara dengan suara gemetaran.


“L-lalu, bagaimana dengan anak-anak itu?”


July menggertakkan giginya dengan erat.


[Mereka ada di dalam bersama Astaroth.]


Mendengar jawaban dari July, para Elder tak kuasa membayangkan lagi. Anak-anak itu ada di dalam gerbang besar itu bersama dengan monster mengerikan yang pernah membuat mereka sangat putus asa bahkan tidak lagi bisa berpikir bahwa harapan itu ada.


Elder Gruazi dengan kepanikan yang luar biasa tak lagi bisa berpikir dengan jernih dan hendak bergegas maju. Namun, untung pada saat itu Elder Helgam mencengkeram lengannya.


“Apa kau sudah gila?”


“Tapi, anak-anak... Mereka akan...”


“Tenanglah Gruazi, kita pikirkan caranya bersama. Untuk sekarang mari fokus yang disini terlebih dahulu. Setelah itu kita akan menerobos ke dalam dan menyelamatkan mereka.”


Itu masuk akal. Tapi, jika Elder Helgam yang mengatakan itu rasanya agak sedikit...


Tetapi dengan hasil usaha Elder Helgam, Elder Gruazi telah menyadarinya. Masuk ke dalam gerbang juga tidak menyelesaikan semuanya. Jika seluruh Elder bahkan July masuk maka siapa yang melindungi Kota dan penduduknya? Elder Gruazi mengerutkan keningnya.


Berpikir lagi bahwa pertemuannya dengan Saint kecil itu memang sebentar dan tidak menghasilkan kenangan apapun.


Namun, akibat usahanya dalam meyakinkan para Elder dengan sikap dingin dan kurang ajarnya. Elder Gruazi merasa jika kesempatan bisa keluar dari celah antar ras ini ada, dia tidak mau kehilangan itu.


Baginya sekarang, melihat Saint kecil itu malah membuatnya merasa seperti memiliki cucu.


“Baiklah. Kita pikirkan caranya.”


Apapun itu, apapun itu, untuk saat ini dia hanya bisa berdoa yang terbaik agar yang di dalam gerbang setidaknya ada keajaiban yang membuat mereka bisa bertahan sampai yang disini berakhir.


Kemudian di samping para Elder, July yang meremas kepalan tangannya mengungkap kesal.


[Percuma. Aku katakan pada kalian meskipun kita mengalahkan makhluk ini dan mempertahankan kota. Itu mustahil bagi kita menyelamatkan yang ada di dalam sana.]


“Apa maksud anda putri?”


Pandangan July yang menatap ke arah Elder jelas sangatlah teramat sedih.


[Otoritas gerbang tidak mengizinkan lagi siapapun masuk ke dalam.]


Ternyata itu mustahil dan membuat para Elder berekspresi pecah dan harapan mereka untuk menyelamatkan anak-anak telah sirna dalam sekejap.


“B-bagaimana itu bisa terjadi putri?! Bukankah ini dungeon break dan lagi gerbang itu telah terbuka seutuhnya untuk mengeluarkan monster tadi!”


July mengangguk paham apa yang di maksud Elder Gruazi. Nyatanya hal itu tidak seperti yang dia bayangkan. Selama ini tidak pernah sekalipun July atau ras Dwarf menemui fenomena yang seperti ini. Dimana dungeon break tidak bisa di masuki atau terkekang dari dalam. Itu sangatlah tidak pernah di temukan dalam ratusan tahun lalu atau sekarang.


Jadi kesimpulan yang bisa July dapatkan setelah mempelajari semua huru-hara yang terjadi dengan sangat tidak normal sebelumnya, dia memiliki spekulasi yang kuat.


[Ini bukan otoritas Astaroth. Ada orang lain yang bisa membuatnya mengeluarkan gerbang atau portal dengan sangat mudah.]


“Apa itu mungkin?”


“Apakah ‘monster’ itu pelakunya?”


July menggelengkan kepalanya. [Jika itu ‘dia’ maka membuat bencana kecil sangatlah mudah. Tapi kenapa dia tidak langsung mengirim yang lain kemari dan kenapa harus Astaroth? Jelas itu bukan dia. Sepertinya ada campur tangan lain yang memihak ras Iblis.]


Selama di perang aliansi yang terjadi ratusan tahun lalu hal ini tidak pernah terjadi. Campur tangan orang luar? Hampir sangat mustahil bagi mereka membayangkan siapa pelaku tersebut. Faktanya yang kini di bicarakan tidak lain adalah ras Iblis itu sendiri.


Kejadian dimana gerbang atau dungeon break bisa di manifestasikan secara sederhana tanpa menunggu atau mensintesis distorsi ruang jelas pekerjaan ini sangatlah mustahil.


Tidak seperti teleportasi yang sederhana atau portal pemanggilan.


Ini adalah unsur yang menjadi misteri dimana tidak ada yang tahu ulah siapa semua kejanggalan ini terjadi dan bagaimana bisa hak penguasaan spasial bisa sebesar ini hingga menembus dimensi July yang kuat dan tersembunyi.


[Untuk sekarang mau tidak mau kita fokus pada yang sekarang ini. Kalian bisa kembali ke kota dan melindungi yang lain, aku akan menghadang makhluk ini.]


Akar-akar liar yang mengikat ular Gorgon mulai longgar dan dia semakin berontak dengan jeritannya.


Putus asa disini tidak ada gunanya dan memakan banyak waktu. Semua Elder sadar jika pesimis dan menunggu jawaban tidak akan berguna. Semua Elder mengeluarkan Kantong Dimensi dari saku mereka dan mengambil sesuatu.


“Kami akan membantu anda menyelesaikan yang disini putri.”


“Sementara yang di dalam hampir selesai, disini juga harus selesai.”


“... Apapun itu kita harus bertahan.”


“Juga sepertinya makhluk ini sedikit berbahaya.”


“Apa maksudmu, Orlos. Cacing kecil ini tidak ada apa-apanya daripada kadal yang menyemburkan api racun dari mulutnya waktu itu.”


Para Elder, sesuatu yang mereka ambil dari Kantong Dimensi tidak lain adalah peralatan perang mereka. Sekarang mereka semua memakai pakaian perang kuno yang telah lama mereka sembunyikan.


Tingkat legendaris, tingkat mistis, bahkan tingkat kuno yang dikatakan tidak ada yang bisa membuatnya lagi selain pemilik itu sendiri. Senjata-senjata itulah yang membuat ras Dwarf di kenal sebagai angkatan militer bersenjata terkuat dari semua ras yang ada.


“Kelas Disaster? Sepertinya, Raja Iblis juga suka bercanda.”


Elder Orlos mengacungkan pedangnya ke depan, pedang yang berbeda dari yang pernah dia lempar ke arah Saint untuk menghancurkan satu pelindungnya.


Pedang yang dia genggam saat ini di yakini pernah mematahkan satu kepala komandan ras Iblis.


“Stlagernouth, waktunya bangun.”


Ujung pedangnya mengeluarkan kilauan emas masa kejayaannya. Pedang yang sangat kuat yang tidak pernah bisa berkarat atau patah. Alami terbuat dari mineral harapan dan di tempa dengan sepenuh hati.


Stlagernouth, memekikkan suara yang tajam bahkan dengan ayunan lembut dari gerakan sederhana tangan Elder Orlos.