
“Yang mulia kita juga sebaiknya kembali ke istana.”
Komandan Jean Jacques sadar jika sedari tadi pangeran mahkota hanya melihat ke arah dimana Saint itu berada. Matanya tidak bisa lepas bahkan semenit dari Saint. Namun, anehnya Jean Jacques tidak merasa merinding seperti biasanya.
Pangeran mahkota yang dia kenal adalah tenang, tidak bisa diprediksi, dingin dan cuek, intelektualnya tinggi, bahkan bagi Jean Jacques dia tidak akan pernah ingin terlalu membuat marah pangeran mahkota.
Dan orang seperti gambaran bayangan Jean Jacques sekarang malah seperti sedikit mengeluarkan emosi saat menatap Saint yang tidak sadarkan diri.
“Komandan.”
“Ya, pangeran.”
Yang disebut tanpa perasaan itu membuka mulutnya.
“Selidiki apa yang telah terjadi. Bagaimana bisa ada aktivasi dari item iblis yang mampu memindahkan objek target secara paksa. Aku akan memberikan surat penyelidikan, jadi lakukanlah dengan baik. Direktur Gereja mungkin berpikiran sama, kita beri mereka bantuan.”
“Baik pangeran. Namun, bagaimana jika permintaan kami ditolak karena menjelajahi Gereja seenaknya. Gereja dan Keluarga Royal tidak terlalu terikat dan itu bisa membawa kontroversi.”
“Tidak akan.” udara di sekitarnya menjadi dingin dan hawa keberadaannya meningkat menyebabkan uap dingin mengembun di udara. “Permintaan dari Raja dan Ratu mungkin ditolak olehnya. Namun, tidak denganku. Tidak ada alasan bagi Direktur Gereja menolak permintaan ini. Lagipula ini juga menyangkut nama baik Gereja miliknya.”
Jean Jacques terkejut serta merinding. Inilah perasaan mengapa dia tidak ingin terlalu membuat pangeran mahkota terlalu memainkan perasaan. Dia hidup seperti boneka tanpa hati. Perasaan kelam merayap di seluruh tubuh Jean Jacques.
Pada saat itu. Orang yang seharusnya berhati dingin dan tidak pernah memiliki emosi pada wajahnya. Pada hari ini dia tersenyum dan itu sangat aneh. Tidak. Jean Jacques tahu. ‘Dia akan membuat skema baru.’
“Kita berikan bantuan padanya, dan juga kita akan membungkam semua mulut orang yang menjadikan insiden ini sebagai senjata untuk menjatuhkan Gereja.”
Jean Jacques tidak paham mengapa pangeran mahkota sampai melakukan hal yang bahkan tidak pernah dia lakukan sebelumnya. Sejak awal pangeran mahkota adalah seorang introvert yang hanya diam di ruangannya saja.
“Mengapa anda melakukan ini? Pihak bangsawan tentu tidak akan tinggal diam dan akan memanfaatkan situasi ini.”
“Tidak.” dengan suara yang jatuh itu menjadi kengerian tersendiri. “Mereka tidak boleh menyentuh tempat ini.”
Teror menyelubungi alam kesadaran Jean Jacques. Itu adalah monster tanpa wajah dan tanpa emosi yang telah lama jatuh dalam neraka.
“Tidak akan kubiarkan mereka menyentuh sesuatu yang menarik bagiku.”
Monster itu berbicara ke arahnya dengan mata mendidih penuh obsesi yang tak terbatas.
“Aku menginginkannya. Saint itu.”
***
Pada hari 1 ketidaksadaran yang lama.
Felix bergegas berlari dari koridor awal hingga utama dia tiba di depan pintu ruang kesehatan. Keringat membasahi wajahnya dan ekspresinya menjadi kelam. Felix melihat Yohan lengannya dililit perban dan wajahnya di tambal plester, dia sedang duduk di kursi panjang sendirian dan melamun seperti sedang berharap sesuatu.
Yohan sadar Felix tiba dan dia berlari untuk memeluknya. Tangisan mulai mendramatisir keadaan. Felix menggigit bibirnya. Dia tahu ini akan terjadi. Bahaya yang tidak pernah ingin dia bayangkan selalu menghantui dirinya.
Bagaimana jika dia kehilangan lagi?
Perasaan gelap menyelimutinya. Namun, kali ini berbeda. Tidak, dia harus yakin bahwa harapan tidak akan meninggalkannya. Begitu pula salah satu cahaya miliknya yang sekarang sedang redup.
Direktur Sarion keluar dari ruangan kesehatan. Kamar tempat pasien utama dibaringkan.
Ketika dia melihat Felix yang menggigil cemas, dia berbicara. “Anda dilarang masuk. Pasien sedang dalam pemulihan. Dia memang melewati masa kritisnya, namun kita tidak bisa lengah. Jadi sebaiknya kalian tidak masuk. Karena [Crystal Mana] yang ada di ruangan sedang menyebarkan serbuk mana untuk di serap oleh tubuhnya.”
Begitulah cara kerja di bidang kesehatan di dunia ini. Tidak ada infus atau anestasi. Namun, [Crystal Mana] yang berfungsi membantu memulihkan mana yang hilang dari tubuh utama. Untuk gejala luka dalam hanya perlu ditangani dengan kekuatan suci penyembuh.
Kemudian Direktur Sarion menepuk pundak Felix. “Saya akan melakukan yang terbaik. Jadi tolong bersabarlah dan berdoalah. Anak anda hanya sedang mengalami mimpi panjang yang sementara. Saya pastikan dia akan kembali ke pelukan anda.”
Felix menjatuhkan kepalanya dan membentuk raut wajah muram. Yohan mencoba menenangkan Felix dan membawanya duduk. Meski dia sendiri juga berat menerima ini dan ingin melihat kondisi pasien, Alvius.
Hari 5 ketidaksadaran.
Karena waktu untuk menjenguk pasien masih ditangguhkan. Yohan selalu mengasah dan melatih ilmu bela diri berpedangnya. Itu sudah dari beberapa hari lalu dan lukanya juga mulai membaik serta staminanya pulih dengan cepat.
Yohan menebas pedangnya dengan gerakan bervariasi. Dia tidak menggunakan [Sword Master Legendary]. Alasannya sungguh sederhana. Dia berpikir. Ada baiknya tidak menggunakan skill ketika mengasah pedang.
Kala itu dia sadar pada saat di Dungeon, dia terlalu berpacu pada skillnya sehingga membahayakan Alvius yang terus membantunya.
Dari hari itu, dia menjadi Yohan si pemburu di hutan desa Avlon.
Hari 15 ketidaksadaran.
Terkadang Heros berada di depan pintu ruang kesehatan dan ingin membuka pintu yang ada di depannya. Dia ingin, sangat ingin melihat pasien itu apapun juga. Dia telah menahan selama ini sampai sekarang dan rasanya seperti ada sesuatu yang akan meledak dalam dirinya jika dia tidak melakukannya.
‘Aku hanya ingin tahu, dan bertanya... Apa yang sekarang sedang kamu mimpikan?’
Perasaan yang tidak tertahan itu membuatnya tertekan. Pada akhirnya dia kalah oleh perasaan yang berusaha menahan hasratnya, Heros meletakkan kepalanya di dinding pintu. Dia berharap isi hatinya mencapai sosok di balik pintu ini.
Hari 18 ketidaksadaran.
Sejak keluar dari dungeon iblis Sabnock, kedua orang ini menjadi sedikit dekat, bahkan saat istirahat dari latihan bersama mereka akan duduk bersama.
“Apa kau tahu latihan apa yang bisa membuat seseorang bisa lebih kuat? Aku hanya bisa menggunakan skill itu saja yang sama seperti yang kau lihat waktu itu namun, dengan itu saja aku tidak yakin apakah bisa menjadi lebih kuat.” Heros bertanya pada Yohan dengan ekspresi suram yang perlahan teringat wajah Alvius dan ekspresinya menjadi sedih.
Yohan tidak paham dengan orang satu ini. Dia dikatakan sebagai pemilik kutukan namun sejak kekuatan Alvius menyegelnya dia terlihat seperti orang yang berbeda. Alis Yohan naik dan dia menghela napas. “Apa ada cara untuk mendapatkan skill baru?”
“Tidak.”
“Lihat, kau sudah tahu jawabannya tapi masih bertanya. Jika seseorang mudah dalam membuka potensi mereka tanpa bantuan Alvius seperti kita, itu artinya orang itu memiliki potensi yang besar. Kita hanya pengecualian, tidak lebih.”
Heros diam sejenak memikirkan kalimat itu. “Menjadi kuat itu tidaklah mudah. Aku ingin menjadi kuat bagaimanapun caranya, meski itu sulit sekalipun. Pasti ada suatu cara dimana skill yang masih tertidur di tubuh kita akan bangkit dengan sendirinya secara bertahap. Kita hanya perlu mencari caranya.”
Yohan diam-diam melirik Heros yang terlihat sangat serius dan dipenuh motivasi menjadi kuat. Itu tidak salah, dia juga demikian dan berpikir. ‘Cara lain?’. Sebuah alternatif yang kemungkinan itu ada.
“Itu sulit.” kata Yohan tiba-tiba.
“Mengapa begitu?”
Pada detik itu juga Yohan menunjuk ke atas langit dimana lanskap pemandangan langit terbuka luas dan disana adalah tempat semua hal bisa terjadi. “Dunia ini tidak akan semudah itu mempermudah jalan kita.”
Jika orang bisa mendapatkan berkah dari sebuah skill semudah itu maka peradaban antara kekuatan yang paling mendominasi akan menang, akan menjadi yang pertama menghancurkan dunia ini. Yohan beruntung karena yang memiliki potensi membuka kekuatan adalah adiknya. Dapat di bayangkan, seandainya itu bukan Alvius...
Heros merengutkan dahinya dan bergumam. “Seperti halnya kutukanku.”
Semuanya seolah di tentukan, mereka hanya seperti menjalani hidup dengan bayang-bayang ketakutan di belakang mereka. Dan tidak tahu, kapan bayangan itu sirna.
Hanya cahaya yang bisa membantu menghilangkan itu semua.
Tetapi, kini cahaya itu sedang berhibernasi entah kapan dia terbit lagi.