
Pada saat saya turun dari kereta.
Saya melihat. Tidak hanya Yohan menunggu saya, Heros yang cerah, Veronica yang dengan canggung mengalihkan perhatian saat tatapan kami bertemu, bahkan ayah saya ada disitu bersama Yohan.
“Ayah...”
Bisa di pastikan kami perlu membicarakan sesuatu. Ayah datang kemari tentu bukan untuk pekerjaan melainkan tujuannya adalah saya.
Yohan membuka jalan antara kami dan membawa kedua orang lain masuk terlebih dulu. Sehingga ada ruang antara saya dan ayah saya untuk berbicara. Ah, tentu Potato ada bersama saya.
Kemudian saya dan ayah saya berjalan bersama dengan jarak beberapa meter dari yang lain.
“Al, besok kamu akan pergi?”
“Ya.”
Sudah lama sejak terakhir kali kami tidak membicarakan masalah selain yang ada di perbincangan keluarga biasa. Untuk pertama kalinya ini terasa canggung. Bahkan saya yang sedang ada disisi ini tidak sempat memikirkan kalimat yang tepat untuk berbicara. Dialog apa yang harus saya bait kan.
Sisi depan kami bahkan tidak berhenti bergerak dan berjalan tanpa memandang ke belakang. Mungkin ini juga canggung bagi mereka bertiga jika di situasi ini.
Ayah saya yang seolah telah menahan diri untuk waktu lama menyatakan dengan ragu-ragu.
“Al... Apakah kamu benar akan pergi?”
Dan sekali lagi pertanyaan itu hampir dikatakan sama. Hanya perasaan yang di berikan di dalam kalimat itulah yang berbeda.
“...Ya.”
Saya juga menekankan kalimat imbuhan saya. Meski berat untuk dikatakan namun inilah pilihan saya. Mungkin sulit di mengerti. Ya, saya memahaminya. Ayah adalah sosok yang selalu memberikan nomor pertama pada anak-anaknya, tentu dia khawatir saya akan pergi ke tempat jauh.
Ayah sebenarnya tahu kemana saya akan pergi.
“Jangan khawatir. Aku akan berusaha yang terbaik. Ini adalah pilihan yang aku inginkan. Demi masa depan terbaik yang bisa aku impikan dan ingin kuraih dengan usahaku.”
“....”
Menyerah bukanlah pilihan untuk bisa memenuhi keinginan ayah saya yang ingin saya menetap.
“Maaf jika aku selalu membuatmu khawatir, ayah. Aku akan berusaha yang terbaik, jadi restuilah perjalananku kali ini agar berjalan lancar.”
Yohan juga memiliki cara yang sama untuk menyakinkan ayah. Tapi dia tidak bisa melakukannya. Yohan bukan tipe yang bisa menentang keputusan ayah jika itu juga yang terbaik menurutnya. Kali ini dia memilih tidak mengatakan apapun dan memberi saya ruang untuk berbicara.
Kemudian ada suara helaan napas ringan.
“Ayah tahu.”
Saya memandang ayah begitu dia berbicara. Raut wajahnya yang melihat saya terlihat sedih dan juga lega pada waktu bersamaan.
“Apapun yang kamu lakukan ayah akan mendukungmu. Karena ini adalah tugas orang tua yang harus mendukung putranya untuk meraih impiannya. Meskipun ayah mencoba menghentikanmu, kamu pasti tetap akan teguh pada pendirianmu.”
Tidak ada kekuatan lagi di dalam kata-katanya seperti dia telah memutuskan dan memilih kalimat itu. Ayah melanjutkan bicara dengan suara mencoba menenangkan diri sendiri.
“Sejak kamu sembuh entah dari kapan kamu menjadi anak yang sudah dewasa dan kuat untuk berjalan sendiri.”
Begitu menyadarinya saya terbelalak dan langsung membalas dengan sedikit panik.
“A-aku tahu jika itu tidak mencerminkan usiaku sama sekali!”
Setelah itu juga ayah pun tertawa ringan dan meraih kepala saya.
“Haha, terkadang anak-anak tumbuh dengan cepat tanpa bisa disadari oleh orang tuanya yang selalu bersamanya. Sekarang ayah paham akan hal itu dan terkadang cemas pada sesuatu yang tidak terlihat.”
Sosok dari ayah memanglah seorang ayah apapun yang dia katakan atau lakukan. Seperti membuka lembaran bab baru yang polos dan mengisi kekosongan itu dengan segala yang dimilikinya dengan keberanian.
“Jadi, ayah akan terus mendukung jalan yang kamu pilih. Apapun itu.”
Baru kali ini suara ayah terdengar kehilangan kelembutan dan agak gelap.
“Saat kamu pergi jangan sampai tidak menjaga kesehatan. Jangan sakit. Dan yang paling penting...” begitu di akhir kalimat bibirnya tertutup rapat, ada angin bertiup ringan dari arah sebaliknya. Kemudian bibirnya terangkat menggunakan segenap kekuatan yang ayah punya. “...Jangan sampai terluka.”
Ada kepalan tinju di tangan milik ayah dan beberapa kali itu terbuka lalu tertutup rapat lagi. Butuh berapa lama mempersiapkan keputusan seperti ini seorang diri. Jauh di dalam dirinya ada ego yang berusaha menolak mengatakan itu semua, namun dia melawannya alih-alih kata-kata ‘Melindungi’.
Ayah melihat. Di samping ada putranya yang paling kecil, yang dulu sering sakit dan paling menderita. Lalu di depan yang berjalan lebih dulu, itu dulunya adalah anak yang rajin mengayunkan pedang kayu yang sudah lapuk bahannya. Entah sejak kapan anak laki-laki yang memegang pedang kayu itu sekarang bahkan mampu mengayunkan pedang baja dengan kuat.
Kemudian ada dua orang lagi di depan yang samar-samar dia kenal setelah di perkenalkan oleh anaknya. Heros De Charita putra haram dari seorang bangsawan Duke, pria berani namun kadang-kadang sifatnya tidak diketahui karena mudah berganti tergantung lawan bicaranya. Jika itu Alvius maka dia akan berekspresi cerah ceria.
Terakhir. Ada wanita yang tidak jauh lebih tua dari putra pertama. Veronica Vrada. Ayah tahu bahwa Veronica seorang shadow. Anehnya dia menerimanya dan tidak melakukan apapun. Baginya asal Veronica sudah jadi sekutu maka tidak perlu di pertanyakan lagi kemampuannya dan sikapnya. Lagipula dia tidak merasakan bahaya dari Veronica.
Bagaimanapun ada orang-orang yang bisa di percaya disini yang bisa melindungi putra keduanya.
Dia sadar. Sejak kapan anaknya memiliki rekan yang bisa diandalkan?
Ayah, juga tahu saya yang bertemu dengan Claude.
Khawatir, hampir mustahil lagi untuk dirasakan. Mungkin dia ingin pingsan karena party yang saya bangun bukan orang-orang biasa. Tapi dia tetap tersenyum bahkan di situasi dimana dia seharusnya lebih takut akan kemungkinannya.
“Kamu punya banyak teman yang bisa di percaya.”
Itu senyuman tulus yang muncul dari sudut bibirnya.
“Ya!”
Tapi ayah... Ini bukan hubungan dimana kami bisa saling mempercayai satu sama lain.
Pada dasarnya hubungan saya dengan party yang saya bangun. Heros, Veronica, juga Claude.
Bahkan mustahil dikatakan berdasarkan kepercayaan dan ketulusan semata jika langsung melihatnya.
Yohan tahu alasannya jadi dia tidak pernah mengatakan itu pada ayah. Apapun itu, yang hanya bisa saya lakukan hanya memberikan tipuan agar terlihat senang dan meyakinkan.
***
"Al, persiapannya?"
"Selesai dengan baik."
Setelah bertemu dan berbincang dengan ayah. Dia berkata ingin pergi ke ruangan Direktur Sarion karena ada urusan dengannya.
Mau tak mau saya mulai memikirkan bahwa memiliki Direktur Sarion sebagai pihak netral yang membantu saya adalah hal yang menguntungkan. Saya harap Direktur Sarion berhasil membuat ayah tenang dan tidak lagi mencemaskan hal yang tidak perlu. Bagaimanapun juga.
"Pangeran? Apakah dia tidak mengatakan apapun? Bukankah kamu ada janji dengannya?"
"Ah, itu... Sudah selesai. Janjiku dengannya tidak begitu penting. Tapi, aku harus tetap mengabulkannya. Dia sudah membantuku sangat banyak, ini bukanlah apa-apa di bandingkan permintaanku padanya."
"Ya, kalau kamu berkata begitu."
Meskipun terkadang sulit untuk mengerti Yohan tetap mengangguk menunjukkan persetujuannya.
Saya, Yohan dan dua orang ini membicarakan persiapan yang akan kami lakukan. Rencananya tidak berubah dan kami tidak membawa begitu banyak orang untuk ikut dalam delegasi ini. Ini hanya hubungan dagang sederhana. Menurutku membawa terlalu banyak orang akan membawa kecurigaan.
Tapi, dalam kewaspadaan saya menyerahkan bagian keamanan pada Veronica dan bawahannya.
"Para Shadow?"
"Mereka dalam kondisi prima."
"Senang mendengarnya. Kita hanya perlu membawa beberapa dari mereka saja tidak perlu membawa semuanya."
"Ya. Edgar sebagai perwakilan akan hadir juga, apa tidak masalah?"
Edgar. Begitu mengingat namanya saya langsung menghela napas. Tidak mungkin saya lupa terhadap pria yang luar biasa bersikap seenaknya namun tetap pada konteks kejujurannya yang mengesalkan. Pria berisik itu akan hadir juga? Memikirkannya membuat punggung saya dingin.
"...Ya."
Dan kemudian tidak ada lagi yang ingin dikatakan oleh Veronica. Dari ekspresinya sama sekali tidak bisa di baca dengan baik.
"Apa kamu sudah istirahat?"
Dalam keadaan ini saya mengatakan dengan nada lembut. Veronica beralih sejenak pada saya dan langsung memotong pandangan ke depan.
"Ya, jangan khawatir."
"Syukurlah."
Karena ini bukan tentang faktor penentuan. Melainkan apa yang menjadi tujuannya. Di masa depan masih ada banyak yang akan dia lakukan, bimbang atau tidak itu dia sendiri yang akan memutuskannya.
Pesan-pesan perasaannya juga tidak datang lagi di kepala saya. Saya pikir dia sudah mengerti jawabannya jadi saya biarkan. Tapi, melihat kondisinya sekarang... Apa bisa dikatakan dia sudah mengerti?
"Lalu senior?"
Suara saya membuat Heros terkesiap dan menatap saya gugup.
Apa? Apa ada yang membuatnya tertekan?
"Ah, ya..." Heros menggaruk-garuk belakang lehernya dan dengan canggung melanjutkan "Dia mengizinkanku melakukan apapun yang aku mau."
Tidak ada banyak yang ingin keluar dari mulut saya yang nantinya akan menjadi bilah bermata dua. Saya tahu ini memberatkan, jadi saya bertanya dengan wajah menatap lurus.
"Apakah senior pulang sebelumnya?"
"...Ya, karena ada yang harus aku lakukan."
...Dia tidak pernah mengatakan tentang keluarganya lebih dalam. Sehingga yang saya tahu, Heros tidak terlalu baik-baik saja bahkan dengan keluarganya.
Kami semua berjalan tanpa ada yang berbicara atau mengeluarkan suara tidak perlu, dan kalimat terakhir saya menjadi akhir dari perbincangan kami semua. "Begitu."
Heros yang menderita sejak kecil karena kutukan dan dihina sebagai aib dari keluarganya, bahkan dia di sebut anak haram walaupun masih ada darah mengalir milik ayahnya di dalam tubuhnya.
Saya, tahu namun saya memilih tidak terlalu ikut campur selama Heros tidak membukanya terlebih dahulu.
Sejak Heros menjadi Prophet, ingatan lama miliknya mengalir deras di dalam kepalaku, pada waktu itu.
Sementara Veronica... Saya meliriknya sebentar dan menggantinya segera.
Dalam kasusnya saya tidak memiliki banyak yang bisa saya lakukan atau membantunya dalam memecahkan masalah pribadinya. Jadi saya diam. Tetapi, sejujurnya perasaan ini memberatkan saya.
Saya mengeluarkan napas berat dari hidung saya agar tidak di sadari orang-orang ini.
Empat Prophet, semua perasaan mereka menyatu di dalam hati saya. Kapan... Kapan waktunya sampai saya benar-benar menjadi gila?