
"Biar aku yang menyetir." Zaki merampas kunci yang di pegang Yuga. Suami Naqia itu terkesiap yang baru saja menaruh Naqia di kabin belakang.
"Hais, kamu seperti setan." Yuga berketus ria karena kaget. Zaki tidak peduli itu.
"Aduuhh... jangan ribut! Sakitnya, ya Allah. Ce-cepetan! Aaargh." Naqia menjerit. Rasa mules di dalam sana semakin tinggi, seperti melilit, di remas-remas..ah, pokoknya sakit beut. Dan rasa rasanya ada yang mau merojol di jalan lahirnya.
"Ayo bego!" umpat Zaki ke Yuga yang mematung karena terlalu panik membuat suami Naqia itu terlihat bodoh.
"Ah, i-iya." Yuga naik ke kabin belakang, di mana Naqia sedang ber-ah-uh-ah, mengatur nafasnya yang selama ini di pelajari dari Hani dan juga di kelas kehamilannya.
"Bang__aaarrgh. Sa-kit!"' ringis Naqia. Dahinya sudah di penuhi peluh hingga menetes ke leher.
"Sabar ya, Naqia." bujuk Yuga seraya melepaskan jasnya. Yuga ikutan mules melihat istrinya yang amat kesakitan saat ini.
"Ngebut Zaki. Aku nggak mau anak ku lahir di dalam mobil." Sambung Yuga menatap Zaki yang sedang berkonsentrasi mengemudi.
"Ini juga lagi ngebut__Oh, astaga... macet, bro." Biiip.... Zaki menekan klakson menggebu-gebu hingga suara bising terdengar di pengguna jalan lain di hadapan sana.
"Putar arah!" titah Yuga. Zaki memutar matanya malas.
"Nggak sekalian saja di suruh terbang. Lagian mana bisa. Di belakang kita sudah dipenuhi mobil lainnya." Zaki menggeleng-geleng aneh akan sikap Yuga. Dia paham sih kalau orang yang panik itu akan menimbulkan kebodohan.
"Co-copot, Bang!" pinta Naqia. Suaranya sudah terengah-engah.
Yuga dan Zaki tidak mengerti. Apa yang mau di copot?
"Apanya, Naqia? Baju? Yeah...jangan." Jelas Yuga kesal dalam kepanikannya. Masa iya Naqia mau telanjang sedangkan ada Zaki di kemudi. "AC mobil di nyalakan full, Zak." Pinta Yuga. Dia pikir Naqia minta copot baju karena kegerahan.
"Baiklah." Zaki menurut bodoh seraya melirik Naqia yang sedang memukuli Yuga karena tidak tahan menahan rasa mulas mau melahirkan.
"ah-uhhhh, Bang...duh. Buruan buka ce-ce-lana." Naqia menjambak-jambak rambut Yuga karena tidak sigap memberinya pertolongan. Sumpah...anaknya itu mau merojol saat ini juga. Naqia sebisa mungkin menahan erangannya agar tidak melahirkan di mobil. Mana yang ada cuma laki laki yang tidak tahu apa-apa tentang hal menolong orang lahiran. Taunya Yuga dan Zaki itu adalah bercocok tanam bin membuat anak.
"Apa sih, Naqia? Jangan macam-macam deh minta buka-bukaan segala!" Yuga bertambah kesal. Bukan karena di jambak, di pukuli atau pun di cakar oleh Naqia. Melainkan dia kesal karena permintaan Naqia yang minta di bukain kain bawahnya di hadapan mata Zaki. No, big no no.
"Dan kamu, ngapain malah tersenyum?" semprot Yuga ke Zaki.
"Elaaah, Yug. Mungkin Naqia ingin melahirkan saat ini juga," tebak Zaki. Dia tersenyum tipis karena Yuga saat ini sudah tidak berbentuk rapi ulah keberingasan Naqia yang semakin menjadi-jadi. Naqia sekarang mencengkram kerah kemeja Yuga.
"Apa benar, Naqia?" Yuga bertanya bodoh. Naqia hanya mampu mengangguk. Tenaganya akan dia simpan buat mengejang hebat nanti.
"Buruan lepaskan." Zaki yang ikutan heboh mentitah cepat Yuga tentang buka-bukaan celana.
"Baiklah," Yuga menyetujui. Tangannya bersiap siap menyilak gamis itu, tapi pergerakannyam terhenti dengan mata menatap tajam Zaki.
"Bisa nggak mata kamu jangan melotot ke belakang? Aku colok... buta, tau rasa." Yuga mengoceh ke Zaki yang penasaran proses bersalin itu bagaimana? Pan, dia cuma mau belajar supaya punya pengalaman kalau-kalau Naima ada di posisi menegangkan seperti Naqia saat ini.
"Aku mau belajar__ iya iya, aku konsentrasi ke depan." Zaki tidak jadi melanjutkan ucapannya, di saat Yuga sudah memasang kedua jarinya, siap mencolok matanya.
"Baaaanggg!" kesal Naqia karena Yuga tak kunjung membantunya, malah sibuk berketus ria dengan Zaki.
"Iya, tunggu sebentar!" Sempat-sempatnya Yuga memasang jasnya di antara kabin belakang dan depan agar Zaki tidak bisa melihat proses istrinya melahirkan.
"Pelit," umpat Zaki memutar matanya untuk konsen saja mengemudi yang sialnya masih dalam kemacetan.
"Aku dengar." ketus Yuga seraya menarik kain segitiga Naqia yang sudah basah karena air khusus berbau anyir itu.
Zaki tidak menjawab lagi karena mendengar penderitaan Naqia yang sudah mulai memperjuangkan buah hatinya.
"Uh, aaah, aaargh."
Setiap Naqia mengejang, maka tangannya itu mencari pelampiasan dari rasa nyeri di panggul dan jalan lahirnya.
"Sayang, atur nafas mu. Kamu pasti bisa."
Seluruh tulang-tulang Yuga sebenarnya terasa lemas melihat perjuangan seorang istri di hadapannya. Dia juga sebenarnya ingin kabur dan bersembunyi, tapi kalau itu yang di lakukan? siapa yang akan membantu istrinya? Zaki? enak saja.
Hati Yuga terenyuh sakit, bahkan air matanya tidak sadar sudah menetas ke pipinya. Perasaan Zaki pun sama saja apa yang telah di rasakan Yuga, kasihan sekaligus bangga ke sosok perempuan yang ternyata sangat hebat, melebihi dari seorang laki laki.
"Ayo sayang, sebentar lagi. kepalanya sudah terlihat." Air mata Yuga kian menetes deras melihat ada kepala mungil yang sudah nampak di jalan lahirnya itu.
"Yuga, di bantu Naqia-nya. Kamu harus menarik kepala bayi mu dengan teknik medis. Aku yakin kamu pasti bisa." Zaki mengintruksikan tentang ilmu matanya yang dulu pernah di tontonnya lewat video.
"Kamu betul." Yuga akhirnya tersadar. Dia pun pernah mempelajari ilmu itu dari hari hari sebelumnya sebagai sangu tak terduga. Dan inilah yang terjadi hal tidak terduga itu.
"Aaargh."
Dan saat erangan perjuangan Naqia terdengar lagi. Yuga memberanikan diri untuk menarik pelan kepala bayi itu, sesuai aturan medis dengan tangan satunya mendorong lembut perut bagian atas Naqia.
"Aaargh."
Oee..oee..oeee
Hiks...hiks...hiks..
Naqia terpekik hingga suara itu menjadi serak, seluruh kekuatannya sudah di arahkan, hingga perjuangan itu membuahkan hasil. Suara tangisan bayinya menggemah di dalam dekapan Yuga yang saat ini pamud bin papa muda itu ikut menangis. Katakanlah dia cengeng, bodo amat bagi Yuga yang merasakan bahagia sekaligus cemas karena panggul Naqia di lumuri darah segar.
Ckiit...
Dan tepat bayi itu lahir, mobil pun akhirnya sampai di pelataran rumah sakit.
Zaki segera turun untuk memanggil petugas kesehatan.
"Naqia, anak ki-kita." Yuga mendekatkan bayi itu ke sisi wajah Naqia yang menangis haru.
Jujur, Yuga lagi menahan getaran di seluruh tubuhnya. Dia masih menahan kesadarannya karena mengingat sedang menggendong bayi mungilnya.
"Terimakasih sayang, sudah bertaruh nyawa demi anak kita. Aku mencintaimu, sangat." Yuga menciumi dahi istrinya penuh rasa kagum.
"Aku pun sangat mencintai mu, Bang." sahut Naqia lirih. Yuga kembali mengecup sayang dahi istrinya.
"Muhammad Yusuf Pratama. Selamat datang, Nak!"
Naqia tersenyum lemah. Dia setuju dengan nama yang di berikan Yuga ke anaknya.
Sejurus, ada beberapa petugas medis yang sedang membuka pintu mobil. Zaki pun ada di antara petugas itu.
"Serahkan bayinya, Pak. Biar kami yang mengurusnya."
Yuga menurut ke satu suster itu.
"Ayo angkat cepat." Satu suster lainnya mentitah rekannya untuk mengurus Naqia. Dan sejurus, Naqia sudah di atas brankar, lalu di dorong cepat masuk ke ruangan.
Yuga pun turun dari mobil dengan darah di mana-mana di kemeja putih. Kakinya bergetar seakan akan tidak bertulang.
"Zaki, ini darah Naqia dan bayi aku ya?" Yuga bertanya seraya berpegangan di pundak Zaki.
"Iya, selamat ya bro. Kamu sudah menjadi Papa hebat yang berhasil jadi Bidan sekaligus___ eehhh."
Gedubrak....
Yuga pingsan. Terjengkang seperti kodok mati di lantai itu.
End yaπ
Maaf ya readers, cerita receh ini yang jauh dari kata seru juga jauh dari kata menarik, kagak panjang kayak novel-novel sebelumnya.
Tata hanya bisa berterimakasih kepada kalian yang sudah setia sampai part ini.ππΉππ Dan...ah, sudahlah kagak bisa ngomong lagi..π π
Dan untuk karya Tata yang title "Chip Canggih Sang Mafia (Kurcil Smart)" Insyaallah akan mulai rutin Up perhari. Mampir ya berkenan ya, dan terimakasih semuanyaππΉπΉπΉπΉ salam sehat dan selalu bahagia π