Stupid Wife

Stupid Wife
Keinginan Bercerai



Sampai rumah sakit, Naqia langsung di tangani oleh dokter yang berjaga malam, pemeriksaan detail telah berlangsung.


"Keluarga Ibu Naqia !"


Lama menunggu di ruang tunggu itu, akhirnya sang Dokter yang menangani kondisi Naqia keluar juga dari ruangan.


Yuga sigap beranjak yang tadinya duduk cemas di kursi. Bi Narsi sudah pulang akan titah Yuga untuk mengurus Zaki agar tidak kabur. Yuga belum selesai dalam permainan kasarnya, sebelum melepaskan Naqia dari kata 'istri' Yuga akan membuat Zaki antara hidup dan mati.


"Bagaimana keadaannya Dok ?" Cepat Yuga bertanya ke Dokter perempuan setengah bayah di hadapannya.


"Alhamdulillah, sudah stabil, tekanan darahnya sudah normal, tapi...harus di perhatikan, ibu Naqia tidak boleh mengalami keguncangan mental lagi pak, resikonya bisa kehilangan kewarasannya"


Yuga memijit pelipisnya pusing, seperti penjelasan dokter pribadinya tadi sore, dan malam ini Naqia mengalami severe shock lagi.


"Besok pagi, Ibu Naqia baru akan sadarkan diri karena saya sudah memberi obat penenang." sang Dokter berlalu pamit.


Yuga tidak tahu harus berbuat apa dan berbicara apa lagi, semua kunci ada pada Naqia sendiri, bila ingin bebas dari tekanan batin, maka Naqia harus melepas Zaki begitu pun dendamnya. Itulah kesimpulan Yuga tentang kunci ketenangan Naqia, tapi Naqia batu juga untuk di bilangin. Yuga jadi gemas sendiri akan pikiran pendek Naqia.


Keesokan harinya..


Perlahan, mata Naqia mengerjap, pengendusannya langsung terganggu oleh obat menyengat.


"Selamat pagi !" Yuga segera menyapa dengan senyum lembut nan tulusnya di kursi dekat brankar. Naqia terdiam, mata itu menatap Yuga tidak berkedip.


"Bagaimana keadaan mu, apa ada yang sakit ?"


Naqia belum menyahut.


"Aku Yuga, apa kamu amnesia juga ? Atau kamu mengagumi sosok ketampanan ku ?" Yuga berupaya mencairkan suasana dengan candaannya, kata dokter 'kan hal posesif harus di terapkan, seperti hal kecil membuat Naqia tersenyum, itu salah satunya.


Tapi air muka Naqia masih tegang-tegang serius.


"Naqia ! Jangan buat aku takut, aku tidak suka melihat kamu diam saja, bicaralah__"


" Aku ingin bercerai."


Yuga tidak salah dengar 'kan ?


"Urus surat perceraian ku, Pak Yuga. Bisa ?"


"Sangat bisa ! secepatnya akan selesai di tangan ku."


Bagai sang air yang memberikan dahaga para penghuni bumi, itulah yang di rasakan Yuga saat ini, kelegaan. Padahal ini adalah kabar buruk bagi pasangan suami-istri, tapi bagi Yuga adalah kabar paliiiiiiing indah untuknya.


"Kenapa Pak Yuga amat riang ?" selidik Naqia, ia mendengar Yuga berkata 'Yes'


Mampus ! Mau jawab apa kamu Yuga. (Author meledek mu )


"Ah, mm !" Sang pengacara yang di gadang-gadang pintar mengelak dari segala pertanyaan apa pun, kini mulut itu tergagap, tidak mungkin ia menyahut 'karena aku bahagia melihat mu bercerai' , Rasa-rasanya sangat tidak sopan.


"Apa kamu lapar ?" Pertanyaan bodoh telah keluar dari mulut Yuga, mengelak asal-asalan.


"Aku juga ingin keluar dari rumah untuk sementara waktu, aku ingin membuang seluruh kenangan buruk ku di rumah orang tua ku sendiri."


Naqia tidak menghiraukan pertanyaan bodoh Yuga, niat hatinya ingin melepaskan segala kegundahan, mungkin dengan awal meninggalkan rumah penuh kenangan pahitnya adalah awal baik untuknya, niatnya sudah bulat-bulat untuk mengubah takdirnya, dari yang buruk menuju kebahagiaan. semoga Tuhan memberinya secercah cahaya kebahagiaan, semoga ! doanya dari lubuk hatinya paling dalam.


Sumpah demi apapun, ia sudah tidak sanggup melihat wajah jahat Zaki untuk hari ini dan kemudian hari kedepannya.


"Tinggallah di apartemen ku, kamu akan aman di sana !" kesempatan besar bagi Yuga, tawaran penuh harap telah terucap cepat.


"Apartemen ?" ulang Naqia lirih, berpikir keras.


"Bagaimana, mau ?" Zaki harap harap cemas, semoga Naqia mau. mantranya dalam hati.


"Baiklah !"


Yes !


Yuga terpekik riang dalam hati, maunya sih meninju-ninju udara, tapi takut di pertanyakan kerawarasannya oleh Naqia.


Mama, calon mantu otw. Senyum tipis tersemat di bibir Yuga secara diam-diam.


"Ok, serahkan semuanya kepada ku, satu hari... Proses perceraian mu akan selesai secepat kilat oleh tangan ku, aku permisi dulu ! Nanti akan ada Mbak Yuni yang menemani mu di sini, dia lagi di kantin."


Naqia hanya mengangguk tipis, Yuga pun pergi dengan langkah semangatnya.