
Kesempatan katanya ?
Naqia mencoba memahami perkataan Zaki. apa maksudnya, hubungan kita ? bingung nya mencerna ucapan itu.
"Mas serius ingin hidup dengan mu !"
Naqia tersenyum miring mendengar itu, berdiri dari ayunan, mengabaikan Zaki yang berjongkok di hadapannya. Zaki mengumpat dalam hati, sial dumel nya, yang seakan-akan Naqia menolaknya, sok jual mahal.
Ya....Zaki hanya ingin bermain cantik, ia harus menang dari Yuga, lagian tubuh Naqia begitu nikmat untuk di coba lagi, merendahkan egonya tidak masalah untuk saat ini demi mendapatkan kehangatan Naqia.
"Kamu pikir, aku percaya, Mas ? Tidak !" Naqia menggeleng gelengkan kepalanya, tangannya di lipat ke dada. Yuga yang mendengarnya dari kejauhan, tersenyum tipis.
Zaki yang masih berposisi jongkok, kini bangkit dan berbalik ke Naqia yang memunggunginya.
"Kenapa ? apa karena Yuga ? apa kamu punya rasa dengannya ? itu haram Naqia, kamu harus tahu, kamu masih punya aku sebagai suamimu ! Kamu harus tahu juga, seorang istri tidak boleh punya hubungan lain di luaran sana, kamu akan menjadi pendosa !"
Zaki mencoba mencuil harga diri Naqia sebagai seorang istri, lidahnya bagai dai yang paling mengerti kata pendosa. ingin sekali Naqia menyuapi pupuk kandang ke mulut Zaki.
" Hahaha, Mas, Mas, Mas. Lucu kamu !"
Naqia tertawa meledek, Sebagai suami katanya ? karena Yuga ? jelas bukan karena orang lain, melainkan semerta-merta perlakuan Zaki lah yang membuatnya takut untuk melangkah ke masa depan yang di sebut rumah tangga. Kalau bisa memilih, Naqia lebih memilih untuk berhenti bernafas lagi, dari pada harus berdamai dengan masa lalu, sesungguhnya.... setiap melihat wajah Zaki, maka bayangan demi bayangan kekerasan Zaki selalu nampak di bola matanya.
Bagi Naqia, Zaki itu aneh, sangat aneh ! dulu Zaki mati matian ingin lepas darinya, menghardik dirinya sampai sehina hinanya, mendengar kata suami dari mulut berbisa Zaki terdengar lucu lucu ingin menabok suami kejamnya.
"Apa yang harus aku lakukan biar kamu percaya, eum ?" Lembut Zaki bertanya, mata nakalnya tak bisa lepas dari tubuh indah Naqia.
" Apa ? kamu tanya apa ? tidak ada ! itu jawaban ku__ah, satu yang harus mas ingat, mulut mas yang katanya pintar itu sangat menyebalkan. Mas ingat tidak, kapan mas mengucapkan kata maaf ?"
Zaki mulai paham, Naqia memintanya untuk mengucapkan maaf dalam perilaku kejamnya dari bulan ke bulan berlalu.
Baiklah, kalau keinginan Naqia begitu, ia akan meminta maaf, memohon pun ia akan lakukan.
" Lupakanlah masa lalu, Mas mohon maaf atas semuanya, mas khilaf, hari ini sampai kapanpun, mas akan menjalankan amanah Papa, menjaga mu sampai kita sama sama tua, maaf, maaf dan maaf."
Demi meyakinkan Naqia, Zaki sampai berlutut mohon di hadapan Naqia, Suaranya memang terdengar tulus nan penuh penyesalan, tapi entah kenapa, mata Zaki seakan berkata lain, itu yang di tangkap oleh iris Yuga yang sudah di belakang berdiri Naqia namun berjarak satu meter lebih.
Yuga dan Zaki tidak bergeming di tempatnya hingga Naqia kini berada di antara tengah tengah mereka.
"Sumpah demi Tuhan, Kalau hati ini menghianati otak bodoh ku yang berakibat luluh dengan ajakan rayuan kata manis mu, Mas. Maka di hari itu pun aku akan membunuh hati ku yang sebenarnya memang sudah mati."
Mau di bilang idiot atau dungu dan semacamnya, Naqia sebenarnya wanita pribadi yang pendiriannya kuat. Bila mulutnya sudah berucap A maka harus A tidak bisa di gugat lagi menjadi B, ia bukanlah penjilat ludah sendiri. Naqia sudah pernah bersumpah untuk membuat Zaki berlutut di hadapannya, dan saat tadi Zaki sudah melakukannya, masa bodo akan permintaan Zaki yang ingin rujuk, entah tulus atau hanya bibir manis kebohongan saja, ia sudah tidak sudi lagi.
intinya, Zaki tidak boleh masuk ke dalam hidupnya lagi, dan berujung racun yang di telan nya. Titik penolakan Naqia tegas nan teguh dengan pendiriannya kini terlontar jelas di kuping Zaki dan Yuga.
"Jangan tolak aku, Naqia ! Mas yakin, kamu hanya butuh waktu untuk berpikir kembali lagi kepada ku." Kekeuh Zaki masih berupaya, ia pikir otak lemah Naqia masih bisa di ganggu gugat dengan permohonan pilu nya.
Rasanya, Yuga ingin sekali menghajar wajah tak berdosa Zaki, mudah sekali bertutur kata, waktu ? Ck !
" Naqia adalah korbanmu, Pak Zaki ! Yang butuh waktu di sini untuk berpikir waras itu kamu, anda seakan-akan terbalik, kepala itu di taruhnya di atas agar otak tidak oleng, jangan di pakai berjalan, jelas tumit lah yang ada di dekatnya."
Tajamnya mulut si duda pengacara, membuat wajah Zaki mengeras, Zaki mengepalkan tangannya, masih mencoba bertahan dalam emosi stabil nya demi meyakinkan Naqia terhadapnya, kalau saat ini ia sudah tidak tempramental lagi.
"Sebaiknya orang asing tidak bersuara !" Balas Zaki ketus.
"Kalau begitu, Mas juga harus diam dan jaga lisanmu. Kenapa ? Karena kita sebenarnya sudah menjadi orang asing, Aku sudah berkali kali memberikan mu kesempatan, misalnya...aku bersusah payah merubah penampilan ku sampai modis seperti ini, Aku sudah bersusah payah juga belajar masak di tempo hari itu, tapi kenyataannya, apa ? Mas Zaki tidak pernah melirik secuil debu pun,"
Naqia menjeda, berupaya mati matian untuk mengatur nafasnya agar emosional nya bisa ia tekan, tapi tidak bisa, dada itu berombak menggebu, matanya panas menahan cairan bening, mungkin inilah saatnya untuk mengeluarkan unek-unek sakit hatinya ke Zaki.
"Naqia__"
"Aku belum selesai, " Naqia mengangkat tangannya, menahan Zaki untuk bersuara.
" Apa mas tahu rasa sakit hati ku seperti apa ? saat mendapat tekanan batin dari mu, Mas ? Tidak ! Mas tidak tahu itu, mas hanya sibuk di luaran sana bersenang senang bersama Mayang. Aku di rumah sering kali menunggu kedatangan mu walau pun aku tahu, kamu hanya akan menyiksaku saat sampai rumah, tapi aku masih memaklumi, aku waktu itu masih memberi mu kesempatan, entah sebagai saudara angkat atau suami, aku sedia kala mengharapkan adanya perlakuan lembut dari mu, tapi nihil. Di sini mas, rasanya..." Naqia menekan dadanya, di mana letak jantungnya berada.
"Rasanya sakit, bagai di tusuk tusuk sembilu tapi tidak berdarah, sakit di remas tapi tidak meneteskan setetes pun cairan merah, sakit...sangat sakit." hiks hiks...
Naqia sudah tidak mampu menahan air matanya, air mata itu mengalir demikian derasnya, ia sudah terisak, tapi belum cukup ! ia masih belum selesai mengeluarkan uneg-uneg nya, ia tidak mau lemah karena air mata sialan ini, Tangan Naqia merentang berlawanan, menghentikan Zaki maupun Yuga yang beringsut ingin mendekati nya.
" Jangan ada yang berani menyentuh kulit ku !" Ucap nya dengan air mata segera ia hapus kasar.