Stupid Wife

Stupid Wife
Menjenguk Naima



Ceklek...


Suara pintu terbuka mengambil perhatian Naima dan Zaki. Naima saat ini sedang menangis sedih di atas brankar itu dengan tangannya di genggam Zaki sebagai tanda prihatin. Dia sudah mengetahui kenyataan pahitnya, kalau dia keguguran dan dampak tak kalah ngenesnya adalah cacat. Siapa yang tidak down kalau sudah seperti itu? Naima ingin mati saja dari pada terus ditopang oleh kursi roda nantinya yang fix.. semua aktivitasnya akan terkendala.


"Ngapain kalian ke sini? Mau menertawakan ku, begitu hah? pergi kalian, pergi!" pekik Naima mengusir. Dia sudah down, dia tidak mau diolok-olok lagi oleh wajah Naqia yang sok polos itu. Buat apa coba datang kemari kalau bukan mengejeknya sebagai wanita cacat tidak berguna. Begitulah pikiran sempit Naima.


Ya... pelaku yang membuka pintu itu adalah Yuga dengan Naqia yang berada di atas kursi roda, padahal Naqia sudah menolaknya agar jangan pakai kursi roda lagi, dia bisa berjalan. Tapi kata suaminya yang bertambah over perhatiannya. Supaya tidak capek katanya dengan alasan baru sadar dari pingsannya.


Naima malah tersinggung dengan adanya kursi roda itu. Yuga dan Naqia seakan-akan meledeknya. Damn it!


"Kami__"


"Naima! Naqia dan Yuga juga berjasa akan hidup baru mu yang terselamatkan dari kecelakaan itu. Terutama Naqia, darah kalian sudah berbaur sama karena Naqia berbaik hati telah menyumbangkan darahnya untukmu, berdamailah dengan keadaan, ada aku bersama mu." Terang Zaki memotong ucapan Yuga.


Mendengar itu, Naima akhirnya diam yang tiba tiba tertunduk malu. Darah kami berbaur sama? Ulangnya dalam hati.


"Karena transfusi darah juga, janin Naqia lemah dan berakhir pingsan. Kursi roda yang di pakai Naqia bukanlah tanda ledek untuk mu, Naima." Terang Yuga yang menebak otak sempit Naima, dia menyadari wajah ketersinggungan itu.


Hening sesaat, Baik Naima dan Zaki tidak ada yang bersuara karena tidak tahu harus berkata apa. Naima masih gengsi untuk mengatakan terima kasih.


"Hust!" Naqia mendongak ke wajah Yuga dari kursi roda itu dengan syarat untuk tidak usah mengungkit transfusi darah. Dia ikhlas, yang penting calon janinnya baik-baik saja.


"Naima! Semangat untuk sembuh ya. Aku yakin kamu wanita kuat. Aku di sini sebagai mantan konselingmu, bukan musuh ataupun saingan hal apapun. Jasa bimbingan mu tentang otak bodoh ku, sungguh terlalu banyak yang aku terima darimu, dan mungkin sekantong darah itu tidaklah cukup__" Naqia menjeda ucapannya. "Ah, maaf kalau aku sok akrab. Bila mana kehadiran kami di sini membuat mu tidak nyaman, maka aku dan Bang Yuga pamit. Cepat sembuh ya!"


Setelah berkata demikian, Yuga pun sigap memutar pelan dan mendorong kursi roda itu menuju pintu.


"Yuga! Tunggu!" Seru Naima, mencegah. Yuga pun berhenti mendorong kursi roda itu.


"Maaf dan terimakasih!" Ungkap Naima dengan suara sangat lirih. Dia malu sendiri apalagi ke Naqia. Obsesi cinta membuatnya buta segala-galanya hingga berujung penyesalan juga zonk yang membuat dunianya berubah seratus persen membawa penderitaan kaki tidak berfungsi lagi.


Naqia pun tersenyum manis mendengar itu. "Aku pamit dan semoga ke depannya kamu selalu hidup bahagia." Kata Naqia dengan suara nan doa tulusnya. Sedetik, ia pun menyentuh tangan Yuga, kode agar kembali berjalan. Dia tidak mau mengganggu lama-lama waktu Naima dan Zaki yang masih canggung dalam bersikap baik.


Toh, Naqia juga tidak ingin di akui pahlawan kesiangan yang memamerkan kebaikan hatinya. Itu sama saja pamrih dan berakhir unfaedah.