
"Surat cerai ! bubuhi sekarang juga !"
Tidak basa-basi, Yuga yang baru datang keruangan rawat Zaki yang dasarnya juga di rawat di rumah sakit yang sama tempat Naqia di rawat pun, melempar berkas perceraian ke arah perut Zaki yang terlentang tidak berkutik di bed itu, satu kaki dan tangan kiri Zaki telah patah di buat kemurkaan Yuga semalam, wajah Zaki juga lebam-lebam membiru keunguan.
"Aku tidak mau!" Tolak Zaki menepis kertas itu hingga terjatuh.
Yuga menunduk ke lantai untuk mengambilnya kembali.
Mudah baginya untuk mengintimidasi laki laki pengecut ini, saat ini ia masih memakai kesabaran untuk meminta baik-baik.
"Jangan bertele-tele, aku tidak suka membuang-buang waktu berharga ku, bubuhi sekarang juga!" Pintanya dengan suara datar.
"Hahaha, Yuga ,Yuga, kamu niat banget ya mendapatkan istri ku, aku yakin kamu pasti menghasut Naqia bodoh itu, supaya setuju mengambil jalan cerai ini." Zaki tertawa meledek, sejurus meringis karena luka sobek di bibirnya terasa nyeri.
"Bahkan tertawa pun kamu tidak mampu." Yuga tersenyum misterius, bodo amat dengan ledekan Zaki, dan percuma juga berbicara baik-baik ke orang yang otaknya tidak dipakai, tidak akan ada ujungnya, ia akan menekan otak keras itu.
"Pergi dari sini! kamu memohon sampai mati pun aku tidak akan menceraikan Naqia." Usir Zaki ketus.
Yuga bukannya pergi, ia malah menaruh bokongnya ke kursi di hadapan bed itu, menumpu kakinya, sombong.
"Tidak masalah kalau kamu menolaknya, tapi lihat ini, di sini hanya dua pilihan mu, penjara atau bercerai?"
Tangan Yuga telah memamerkan sebuah rekaman video, di mana terdapat bukti KDRT Zaki ke Naqia.
Zaki melotot marah, "Kamu!" Tunjuk kasar Zaki.
Yuga membalas dengan senyum jumawanya, ia sudah memegang bukti itu sejak lama, ia hanya butuh waktu tepat untuk menekan Zaki, dan saat inilah waktunya.
"Penjara atau bercerai ?" Ulang Yuga bertanya dengan nada dingin menekan.
Dalam hati, Zaki mengumpat sekesal-kesalnya, satu hal yang paling di benci Zaki adalah kata penjara, ia tidak mau membusuk di tempat seperti itu.
Yuga melempar kertas tersebut lagi ke arah Zaki.
Suami Naqia ini masih ragu-ragu untuk meraihnya, ia tidak tahu jalan pulang ke arah mana bila harus menceraikan Naqia, ia tidak punya uang, rumah dan lainnya pun, ia sebatang kara.
"Ok, pertanda kebungkaman mu itu, pilihannya adalah penjara," Tatkala mendapatkan respon baik dari Zaki, Yuga pun berdiri santai dengan tangan mengambil alih surat cerai, bibir itu tersenyum miring, ia yakin Zaki akan memanggilnya kembali.
"Tunggu, aku mau!"
Apa Yuga bilang! Zaki itu orangnya mudah di tebak, air mukanya seperti buku yang bisa di baca.
Dan kaki Yuga pun kembali berbalik ke arah Zaki berada.
" Bubuhi lah!"
"Aku akan melepaskan Naqia untuk mu, asal aku mendapat harta gono-gini." Zaki bernegosiasi.
Tentu Yuga menolaknya, tanpa kata pun ia menarik kembali surat cerai itu yang belum di tandatangani oleh Zaki, enak saja mau harta, Kesalnya dalam hati.
"Mimpi saja!" Marah Yuga menatap sinis Zaki, "Coba kamu menerawang ke belakang, apa kamu pernah menafkahi Naqia? tidak pernah! dan siap-siaplah, dua jam dari sekarang pasti akan ada polisi yang menjemputmu, aku tidak pernah main-main dalam ancaman ku."
Setelah mengomeli suami Naqia, kaki itu pun berniat menghadap pintu, namun terhenti karena seruan Zaki.
"Aku akan mengalah, berikan surat cerai itu."
Bibir oke, berkata mengalah, tapi dalam hatinya ada seringai busuk-busuk bangkaiii.
Aku akan kembali nanti Yuga, Lihat saja! kamu dan Naqia tidak boleh bahagia di atas penderitaanku.