Stupid Wife

Stupid Wife
Terancam Di Sentuh



Di pertengahan jalan pulang ke rumah Naqia, mobil Yuga tiba-tiba mogok.


"Ah, kenapa di saat buru-buru begini malah kempes nih ban mobil !" Keluhnya di saat sudah mengetahui kendalanya, lidah itu berdecak kesal seraya kepalanya celingukan mencari keberadaan bengkel, tapi sayang...ia berada di posisi jauh dari kata bengkel juga dari keramaian di jam malam ini.


Meninggalkan Yuga yang dalam kesusahan di jalan, beda dengan Naqia, ia sudah sadar dari pingsannya yang durasinya sangat panjang karena ada efek penenang dari obat pun yang telah di suntikan kepadanya oleh dokter.


Saat mata itu terbuka, wajah yang pertama kali di lihatnya adalah wajah Bi Narsi yang tersenyum lega kepadanya.


" Alhamdulillah, Non Naqia sudah bangun." Ujar Bi Narsi. Naqia tersenyum paksa demi meyakinkan Bi Narsi kalau ia sudah tidak apa apa, padahal jujur, kepalanya masih terasa pening, kantong matanya seraya bengkak, ia mengingat kejadian sebelum pingsan tadi, kebanyakan menangis histeris.


"Non Naqia butuh apa ? mau makan tidak ? atau apa pun ? Bibi akan ambilkan !" Tawar wanita tua itu, semangat.


Naqia menggeleng, ia nampak kasihan melihat wajah Bi Narsi yang terlihat lelah butuh istirahat, tadi saja Naqia sempat melihat Bi Narsi terkantuk-kantuk dengan uapan spontan efek kantuk, jelas... mata Naqia mendapati ini sudah jam 12 malam.


"Bi Narsi istirahat saja, jaga kesehatan, jangan sampai sakit karena kurang istirahat dan kurang tidur."


"Tapi Non, Pak Yuga-nya belum pulang, siapa yang akan jaga Non Naqia kalau saya ke kamar." Tolak halus Bi Narsi, ia tidak mau melanggar titah Yuga.


Naqia tersenyum tipis, mempererat selimutnya yang memang masih berbaring di kasur.


"Tidak apa apa Bi, ini aku mau tidur lagi, Bibi istirahat aja, jangan sampai sakit."


Bi Narsi mengalah, betul adanya ia sekarang lagi butuh kasur untuk istirahat, toh...di rumah ini si onar Zaki tidak pulang jadi amanlah, pikirnya. Lebih lebih Naqia sudah baikan dan ingin lanjut untuk tidur lagi katanya.


Kepergian Bi Narsi, memang betul Naqia langsung memejamkan matanya, ia masih lemas juga merasa berat kepala itu.


Jam 12:30 malam, Yuga masih di jalan mem-warkshop mobil nya sendiri karena tidak ada orang yang harus di mintai bantuan, jalanan pintas yang ia tempuh memang termasuk sepi, mobil taksi pun tidak ada yang lewat, mau tidak mau ia bersusah payah berjibaku dengan ban mobilnya.


sementara Zaki memasuki rumah begitu mudahnya dengan kunci cadangan yang sudah di bawahnya, ia masuk tanpa mengunci pintu lagi, cara jalannya masih sempoyongan, ia setengah sadar, mabuk. Di taksi tadi pun ia sempat muntah muntah berakhir di marahin sang sopir taksi.


"Naqia, hehehe, kamu di mana sayang !" konyol Zaki meracau.


Sedari club malam dan perjalanan pulang, separuh kesadarannya itu hanya menyebut nama Naqia, Naqia, Naqia dan Naqia. Zaki memang sudah gila dengan nama Naqia, weird isn't it?


"Mas datang sayang !"


Zaki berjalan menuju kamar Naqia, bibir itu menyeringai mesum, malam ini Naqia tidak akan lepas dari pelukannya, separuh kesadarannya telah menyadari mobil si Yuga kaku tidak ada di pelataran parkir, Yuga tidak ada untuk menolong Naqia, ia akan bebas bermain malam ini.


Zaki begitu mendamba kenikmatan tubuh Naqia, suara tangis kepiluan di waktu memperkosa Naqia begitu terngiang ngiang di kupingnya, itu adalah tangisan seksi bagi otak terbalik Zaki.


Ceklek


Entah keberuntungan Zaki, atau kesialan Naqia ? sebelum meninggalkan kamar Naqia, Bi Narsi maupun Naqia sendiri tidak menyadari kalau pintu kamarnya tidak di kunci, memudahkan Zaki masuk begitu saja, Zaki mengunci pintu itu rapat rapat, ia tidak mau gagal malam ini. Naqia sudah menganggap dirinya pembunuh darah daging bukan, maka malam ini ia akan memberi anak lagi untuk Istri nya sebagai tanda penyesalannya, mudah bukan ? Zaki memang pintar kok, segala sesuatunya di buat mudah. (pengen nabok author juga )


Naqia belum sadar kalau ada mata jahat yang menelisik pandang tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki, mata itu masih setia lengket rapat rapat karena memang merasa tubuhnya sangat lemah.


Zaki sudah membasahi bibirnya dengan absenan lidah nakal nafs*nya, menelan ludahnya sendiri, jakung itu sudah naik turun, libidonya sudah mengubun meminta pelampiasan.


"Bahkan, ujung kuku mu saja begitu menggoda seksi di mata ku, Naqia. ah.. kenapa kamu begitu menggoda, harus nya dari dulu kamu menjadi pintar nan cantik bak bidadari." Lirihnya segera menghampiri Naqia yang masih tertidur.


Baju Zaki sudah ia lepas, menyisakan celana bahannya sendiri.


Ketika beban Zaki memenuhi ranjang, tubuh Naqia sedikit melesak membuatnya terganggu, pengendusannya pun terganggu oleh minuman alkohol, hingga mata itu terbuka sedikit.


"Astaghfirullah, setan monyet."


Naqia terpekik, kesadarannya telah kembali seratus persen tepat tubuhnya di timpa tubuh besar Zaki, ia tidak bisa bergerak.


"Minggir, Mas !" Naqia memberontak, namun tenaganya sia-sia. ketakutan telah menguasainya.


"Aku bukan setan, Naqia. Tapi aku adalah bidadara mu."


Kilatan mata penuh gairah telah terpancar di mata Zaki, ia berupaya untuk memangut bibir itu tapi Naqia memalingkan wajahnya, menolak keras, dengan keringat dingin penuh ketakutan sudah menelisik perasaannya, ia tidak mau di sentuh lagi oleh orang biadab ini.


"TOLONG !"