Stupid Wife

Stupid Wife
Tamparan Batin



Happy reading....


Bi Narsi berjalan cepat ke kamar Naqia setelah mendapat tamu yang masih di luar teras, Tamu tersebut dari petugas bank, Katanya ingin mencari Zaki Mahase. Bi Narsi tidak berani mengganggu istirahat Zaki yang katanya kurang enak badan.


" Mereka mau apa Bi ?"


" Cari bapak, kata nya ?"


" Mas Zaki ?"


Bi Narsi mengangguk.


Lantas Naqia menuju ke kamar Zaki dengan langkah malas terpaksanya, Bi Narsi di perintahkan untuk menyuruh petugas itu masuk.


" Petugas Bank ?"


Zaki mengulang ucapan Naqia, Sempat tadi Zaki kegirangan, Zaki pikir Naqia mengetuk pintu kamar nya ingin mengurus nya, Tapi salah.


" Eum, Temui sana ?" Datar Naqia berlalu cuek.


Zaki menghela nafasnya, Masalah lagi yang ia hadapi, Sudah di SP kini entah apa lagi. Zaki sadar....Ia belum membayar kredit rumah Naqia yang di gadaikan nya.


" Selamat siang Pak Zaki." Sapa dua orang petugas Bank tersebut, Mereka saling menjabat. Naqia ada di sofa paling pojok, penasaran dalam diam nya.


" Silahkan duduk !" Zaki mempersilahkan, Mata itu melirik Naqia sejenak. Wajah Zaki yang tadinya sudah pucat demam kini nambah pias saja.


" Terima kasih Pak, straight to the point ! Kami dari bank, ingin mempertanyakan kesanggupan anda dalam cicilan kredit yang sebelumnya anda setujui dari pihak kami. Anda pasti sudah paham betul segala konsekwensinya bila anda terus mengelak cicilannya. Anda belum sama sekali membayar sekalipun setelah dana yang anda minta di cairkan. kami menghubungi anda via telepon tapi tetap saja tidak ada etik pengertiannya, Jadi bagaimana pertanggung jawaban anda ?"


Naqia mengerutkan keningnya, masih mencoba memahami ucapan plot formal salah satu petugas di hadapannya.


" Saya minta waktu lagi pak, Bulan depan saya akan menyanggupi nya !" Pori pori Zaki mengeluarkan keringat dingin, Sekali lagi ia melirik Naqia yang masih diam. Pasti Naqia akan marah ! Batin nya was was bila mana Naqia mengetahui inti pembicaraan ini.


" Maaf Pak, Tidak bisa ! Kami hanya bertugas, Kalau anda tidak sanggup lagi dengan terpaksa kami harus melelang rumah ini sebagai gantinya."


" Apa apaan itu ?" Naqia bersuara tegas, Ternyata mereka semua telah membicarakan rumah nya. " Ini rumah saya, anda tidak bisa main lelang saja tanpa persetujuan saya."


Naqia mati matian mengatur nafas nya agar emosional nya bisa ia atur, bagaimana pun... Petugas di hadapannya hanya bertugas, Naqia menahan marahnya untuk Zaki terima nanti.


" Maaf Bu, Sertifikat rumah ibu sudah di tangan kami, kami punya hukum sendiri, bila anda membawa nya ke ranah hukum, Tetap...kami tidak salah, di sini Pak Zaki lah yang salah."


" Mas, Jangan menguji kesabaran ku yang tinggal secuil ini, selesaikan sekarang juga, rumah ini banyak kenangan orang tua ku."


Telunjuk tangan Naqia menunjuk kasar jauh Zaki yang duduk di sofa sana. Rasanya, Naqia malah ingin mencabik cabik wajah menyebalkan Zaki, ia geram tertahan.


" Mas lagi tidak punya uang !"


Semakin kacau saja perasaan Naqia, ubun ubun nya sudah di penuhi kemarahan. ia tidak mau kehilangan rumah nya.


Tahan emosi mu, Naqia !


" Katakan jumlah nya, Pak ! Saya yang akan bertanggung jawab."


Kepala Zaki terangkat yang tadinya tertunduk malu. Naqia uang dari mana ? Ia saja tidak pernah memberi nafkah ? Zaki hanya bisa bertanya tanya dalam hati, Biarkan ia tahan dulu, setidaknya... sampai Naqia selesai melakukan pembayaran ke petugas di hadapannya.


Pupil mata Zaki semakin melebar, Naqia tidak tanggung tanggung menggulung lunas. Lidah itu semakin gatal ingin bertanya perihal uang banyak Naqia.


" Saya mau sertifikat rumah saya secepat nya__ah, hari ini juga ada di tangan saya lagi, Pak."


Selesai, dua petugas itu sudah pergi dengan menyetujui permintaan Naqia.


" Uang hasil gadai rumah ku, kamu kemanain ?" Naqia balik bertanya tak kalah kerasnya, Nada nya sangat terdengar marah. Mata itu sangat tajam menghardik iris mata gelap Zaki. Tatapan sendu mata Naqia yang polos nan bodoh dulu sudah hilang sepenuhnya, Zaki memahami itu.


" Buat lunasi cicilan mobil ku !" Zaki mengaku jujur.


" Sisa nya ?"


inilah yang Zaki takut kan untuk mengatakan secara gamblang kalau sisa nya telah di pergunakan untuk memanjakan Mayang.


" Sisa nya ?" Ulang Naqia membentak, tanpa bertanya pun sebenarnya ia sudah menebak tepat, pasti untuk Mayang.


" Mas pakai buat nanam saham." Bohong Zaki.


" Dan aku percaya ? Tidak !"


" Iya...Buat memanjakan Mayang, Puas kamu ?"


Braaak...


Tangan Naqia sudah tidak bisa di kontrol lagi,tidak terima uang hasil rumah nya telah raup untuk hal unfaeda. Naqia melempar hiasan kecil menghardik kepala Zaki.


Ish... sial nya bidikan itu salah sasaran. Ada Yuga di belakang sana, dada itu terkena hiasan kecil.


" Maaf pak Yuga." Naqia tidak enak hati, Deruh dada nya masih naik turun, emosi nya ke Zaki belum hilang.


" Atur nafas mu." Yuga memperingatkan ajarannya untuk Naqia bisa menekan emosi nya. ia main nyelonong melewati wajah murka Zaki saat melihat nya. Bodo amat ! Cuek Yuga. Yuga di sini akan diam saja, menonton... Sampai di mana Naqia bisa menghadapi masalah.


" Katakan pada ku, Naqia ? Apa uang banyak itu dari laki laki ini ?"


Zaki menunjuk kasar wajah Yuga yang sial nya si topik ini malah duduk santai menyebalkan di mata Zaki, padahal tidak di persilahkan untuk duduk.


" Kalau dari pak Yuga, kenapa ? Bukan nya kamu pun suka memberikan uang ke wanita simpanan mu yang kamu puji pintar itu ?"


Naqia berhasil menguasai emosi nya, ia ingin mencubit harga diri Zaki, Bermain taktik cantik untuk menampar batin Zaki telah ia terap kan saat ini. Zaki harus di beri pelajaran berharga.


" Naqia, aku suami mu ! Kamu tidak boleh berhubungan dengan pria lain, baik itu Yuga atau siapapun di luaran sana."


Zaki salah kaprah, Menyamakan sifat nya dengan sifat Yuga, ia berpikir... Naqia menerima uang banyak dari Yuga karena Naqia telah mau di ajak ngapain saja di luaran sana termasuk meladeni hasrat Yuga.


Bibir Naqia tersenyum miring, ia paham ke ambiguan Zaki.


" Suami ? Suami itu seperti apa sih kewajiban nya ke istri, eum ? Apakah dengan cara menyiksa batin plus fisik nya ? Atau suami berhak bermain api dosa di luaran sana seperti ini ?"


Sekonyong-konyong nya, Naqia memanfaatkan Yuga untuk membuat Zaki tertampar Batin nya. Entah keberanian dan kelancangan dari mana, Naqai tetiba mengikis jarak ke Yuga dan mengecup bibir Yuga di depan mata Zaki yang saat ini membola mata itu seakan-akan mau loncat dari wadahnya. Zaki marah plus cemburu juga.


Yuga ? Jangan di tanya jantung nya, Debaran nya dag dig dug tersetrum, Yuga tidak munafik, Laki laki matang ini pun rindu sentuhan wanita yang sudah lama tidak merasakan kehangatan wanita setelah istrinya meninggal, ia belum pernah dekat ke wanita satupun di luaran sana selain Naqia saat ini. Bukan tidak laku lho ya ? Laku kok... Author aja mau.( piss)


" Naqia !" Marah Zaki menarik lengan Naqia secara kasar untuk memisahkan pangutan istri nya dan Yuga, Yang sialnya si Pria ini sangat menikmati bibir istri nya.


Plakkk...


" PERGI DARI RUMAH KU !!!"


Tamparan Zaki ke pipi Naqia telah di balas usiran Naqia, Yuga saja sampai terhenti lagi bogeman itu yang hampir menghajar Zaki karena sudah bermain tangan.


Naqia memang sudah tidak bisa di tindas lagi. Batin Yuga bangga.