Stupid Wife

Stupid Wife
Awal Perjuangan Yuga



Ceklek...


Yuga membuka pintu unit apartemennya, "Ayo masuk!" mempersilahkan Naqia masuk terlebih dahulu, hari ini Naqia akan tinggal bersamanya.


"Maaf berantakan, kamu duduk di sini dulu," Naqia menurut duduk di kursi dengan mata mengabsen seluruh seisi ruangan yang menurut Naqia, unit Yuga sangat bagus, emang sih sedikit berdebu.


"Aku akan membersihkan rumah ini, agar nyaman untuk di huni." lanjutnya seraya kemaja ia hela sesikut, siap menjadi kacung di hadapan Naqia, tebar pesona tuh.


Lantas, Naqia kembali berdiri, ia bukanlah tamu yang harus di hormati Yuga, melainkan ia hanya orang numpang yang sebenarnya Naqia itu sudah tergantung kepada Yuga, namun ia tidak menyadari itu.


"Aku bantu ya, Pak Yuga."


"Eh__"Kejut Yuga, kemoceng yang di pegangnya telah Naqia rebut.


"Kamu istrihat saja," Yuga ingin merebutnya, namun Naqia mengelakan komoceng itu kearah belakang tubuhnya, Yuga yang masih berusaha mengambilnya, akhirnya membuat mereka bersentuhan yang seakan-akan sedang berpelukan.


Slow motion on dengan posisi begitu dekat.


Jantung Yuga jedag-jedug tidak karuan, mata mereka saling bersibobrok, Naqia dengan mata tidak pekanya bin hanya datar saja, Yuga dengan mata dambanya mengagumi sosok wanita di hadapannya.


"Pak!" Seru Naqia, ia ingin mundur tapi tangan Yuga menahannya.


Sejurus, Yuga tersadar, menghembuskan nafas pelannya, "Maaf!" Lirihnya, Naqia mengangguk dengan wajah berkeringat dingin, setiap kulitnya di sentuh, bayangan jahat Zaki-lah yang menguasai pikiran kalutnya.


"Aku ke kamar aja, di mana kamarku, pak Yuga?" Tanya Naqia ingin menghindar, Yuga menyadari itu.


Alamak bakalan susah. Batinnya, Naqia adalah tantangan besarnya, lebih susah dari pada beragumen alot di meja pengadilan.


"Tapi belum di bersihkan, tunggu di sini! jangan kemana-mana, oke."


Yuga berjalan tergopoh-gopoh ke arah kamar yang di maksudnya untuk Naqia tempati, ia berniat melakukan tugas berbenah debu di kamar Naqia terlebih dahulu, hari ini rumahnya pasti akan berwarna karena kehadiran Naqia.


"Aneh!" Gumam Naqia yang melihat Yuga tidak seperti biasanya, Yuga seakan-akan salah tingkah sendiri, itulah kesan Naqia untuk Yuga hari ini, ia pasrah, membiarkan Yuga bertingkah semaunya, toh ini adalah rumah Yuga.


"Dapur__nah, mungkin itu!" Telunjuk Naqia membidik arah, menebak. Ia berniat untuk membuat masakan sebagai santapan malam ini.


"Kamu yang membuatnya, Naqia?" Perut Yuga langsung keroncongan di buat harum masakan di hadapannya. Tadinya, maksud masuk ke dapur hanya mau cuci tangan, eh...ada my love yang duduk cantik di table makan.


"Bukan, tapi hantu." Canda Naqia. Yuga tercengir, baru kali ini Naqia melihat cengiran gigi Yuga, biasanyakan hanya mesem, senyum tipis dan senyum kaku lainnya.


"Kenapa menatap ku intens? Aku tampan ya?" Tanya Yuga, ke ge-eran.


Naqia mengangguk spontan, mengakui itu, "Ya, sangat!" Katanya memuji.


Seriously? Naqia memujinya! OMG, Yuga kok mau bersalto-salto ya, napas buatan di mana? hidung Yuga kempas-kempis bak ikan terdampar di pinggir trotoar, awas di injak pengguna jalan.


Naqia menjungkitkan satu alisnya, menatap aneh Yuga lagi, "Pak Yuga sakit?"


Yuga menggeleng dengan mata terus menatap Naqia, tangan itu menumpuh pipinya, ia malah melalang buana indah, ada awan putih di atas kepalanya, dengan gambaran, ada Naqia, dirinya, dua anak mereka saling bercanda ria bak keluarga harmonis dambaan setiap pasangan suami-istri.


"Terus kenapa terlihat aneh? Ada yang anda pikirkan?"


"Memikirkan mu!" Reflek Yuga menyahut, sejurus membungkam mulutnya sendiri saat Naqia mendelik horor, ia tidak mau membuat kesan buruk, bisa-bisa Naqia minta pindah lagi. Naqia 'kan masih dalam tahap penyembuhan batin, ia tidak mau buru-buru, tapi lambat laun, hati Naqia akan bertuan terhadapnya, yakinnya.


Yakin amat lo,Yuga! (Author), Yuga meletin lidah.


"Eh__Cuci tangan dulu!" Naqia memukul pelan punggung tangan Yuga yang berniat menyomot makanan di hadapannya, "Pak Yuga 'kan baru selesai berbenah debu." Lanjutnya.


Yuga tersenyum, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia bak orang bodoh salah tingkah bila di hadapannya adalah Naqia, coba sama wanita lain, maka di pastikan, wajah itu akan miskin ekspresi.


Setelah Yuga dan Naqia selesai mencuci tangan, keduanya pun kembali duduk di table makan, layaknya sepasang suami-istri, Naqia makan dalam diamnya, tanpa tahu Yuga telah menatap rakus wajahnya.


"Andai Pak Yuga belum menikah, pasti aku akan membidik anda sebagai calon mantu ku, tapi ah... hehehe, maaf, anda kan pria hebat di segala bidang, mana mau ya punya istri seperti anak ku yang terlahir Tunagrahita, jangan di anggap serius ya pak, aku hanya bercanda."


Sekilas, Yuga terngiang dengan candaan pak Nugraha selagi beliau masih hidup, dan waktu itu istrinya pun masih dalam keadaan hidup.


"Pak Nugraha, restui aku dari sana untuk mendapatkan hati anak mu yang sudah mati di buat mantan mantu biadab mu." Ijinnya dalam hati.