
Zaki menerobos masuk ke apartemen milik Naima begitu saja setelah sang empu unit membukanya. Zaki memang numpang di rumah Naima sedari keluar dari rumah sakit dengan embel-embel sebagai partner merocoki Yuga dan Naqia.
"Bagaimana? berhasil? Naqia sudah di buat kapok 'kan?"
Zaki belum niat menjawab, membanting bokongnya ke sofa, Naima yang penasaran hasil kerja Zaki, ikut duduk di sisi Zaki.
Ya...Naima memang berencana ingin membuat Naqia ketakutan, syukur-syukur Naqia itu bisa gangguan jiwa bin kena mental gila. Kalau Naqia gila 'kan, Hani dan Yuga auto menolak keras Naqia menjadi bagian keluarga mereka, siapa yang mau menikah dengan orang gila? Tidak akan ada! pikirnya licik.
"Jawab dong!" ketus Naima menatap malas Zaki yang hanya diam saja.
"Gagal!"
"Tidak becus!"
Zaki memutar matanya, malas. Naima sialan, umpatnya dalam hati, kupingnya berdengung karena sentakan Naima tepat di telinganya.
"Kenapa bisa gagal sih? kamu memang tidak berguna, juga__"
"Sekali lagi lisan tajam mu itu menghinaku, maka aku akan mencium mu ganas."
Zaki memegang kasar dagu Naima dengan cara menyudutkan Naima ke punggung sofa, ia sengaja mengancam Naima yang seakan-akan matanya itu tertarik mencicipi tubuh seksi Naima.
"Jangan macam-macam Zaki, kamu sekarang hidup di bawah ketekku, jangan sampai aku membuang mu ke jalanan dan berakhir menjadi pengemis."
Mulut Naima bisa saja berkelit tidak takut dengan cara menekan suara gugupnya, tapi di dalam hatinya, Naima sudah was-was, ia tidak mau di sentuh intim oleh laki-laki macam Zaki.
Jijik! ujarnya tidak bisa membayangkan malam indahnya berakhir buruk bila mana Zaki lah yang menindihinya, tipenya itu tinggi, setinggi langit, macam Yuga gitu.
"Menjauh dari ku!" Dorong Naima ke dada Zaki, ternyata ia memelihara benalu kampret.
Zaki yang di dorong malah terkekeh geli, menertawakan wajah panik Naima, kaki itu pun berdiri mengikuti langkah Naima menuju ke mini bar.
"Aku juga tidak doyan wanita ular seperti diri mu, Naima! wajah kayak kucing manis, tetapi aslinya punya kelakuan rubah."
Zaki merebut gelas wine Naima, meneguknya dengan mata itu menatap wajah Naima yang terlihat kesal kepadanya.
"Rubah teriak Rubah." Sengit Naima membalas umpatan Zaki, tangan itu pun kembali merebut gelas wine-nya yang ingin di teguk Zaki.
"Tentang Naqia, bagaimana?" Naima masih kepikiran posisinya di mata Hani, kemarin-kemarin ia masih santai karena Hani ada di pihaknya, tapi kini...Hani terlihat berbeda, seakan-akan orang tua Yuga itu berada di tengah-tengah pihak, seimbang, ia kepinginnya Hani tetap di sisinya untuk mendukung misi merebut hati Yuga.
"Santai saja, Naima. Semuanya akan beres, lebih baik kita berpesta wine malam ini."
Zaki menarik satu botol alkohol, menyesapnya tanpa ia tuang ke gelas terlebih dahulu.
Naima pun meminum minumannya tanpa ragu, sesekali mengobrol tentang rencana busuknya, mereka terus menegak minuman yang selalu membuat orang melayang enteng tanpa beban.
"Hahahaha." Naima sudah mulai meracau kehilangan kesadaran jernihnya, ia menunjuk wajah Zaki yang amat jelek di matanya, kabur dan seakan akan wajah Zaki ada tiga dimensi.
"Aduhai, Naima... suaramu seperti kuntilanak yang lagi terbang ngikik-ngikik." Zaki pun sudah meracau akibat pengaruh alkohol tinggi itu.
"Pantas saja Yuga tidak melirik mu, kamu kuntilanak!" Zaki menghela rambut panjang Naima yang tergerai.
Naima menepisnya.
"Hei, lepaskan tangan mu." Tepisnya ke tangan Zaki, berdiri dari kursi bar yang tinggi cantik itu, ia terjatuh masuk ke dalam dada Zaki yang sedari tadi memang berdiri di bar tinggi sepinggang itu.
"Menggoda dari mananya? di lihat dari lubang hidung mungkin iya, Hahahaha."
Bugh...
Naima memukul kepala itu, karena Zaki tidak mempercayai bahwa ia serba the best.
Sekonyong-konyongnya pun, Naima menghela bajunya, meloloskan kainnya melalui leher, ia memang mabuk...jadi ia tidak sadar apa yang ia perbuat di depan mata Zaki yang sama-sama gilanya.
Kini, penampilan Naima begitu seksi, hanya thigh shorts dan tanktop hitam ketat sewudel yang membalut kulit putihnya.
Jelas, Zaki menelan ludahnya berkali-kali, ada ikan bahenol di depannya, mangsa yuk, di pancing, terus di bakar bolak-balik tapi bukan di atas bara api, melainkan di atas tempat empuk-empuk panjang, apa hayooo? Ya....di kasur, let's go go go go.
Otak Zaki yang gelap semakin gelap saja, di depannya itu Naima berwajah Naqia, ya...matanya telah buta, Naima berasa Naqia, bukan tongseng eh tong sampah lagi.
"Lihatlah goyangan ku!" Kata Naima bangga, sejurus rambut itu berkibar-kibar aduhai, karena Naima bergoyang bak pedangdut yang memutar-mutar kepalanya, Naima ngebor euy!
Lantas, Zaki jadi mundur satu langkah lagi, wajahnya terkena sabetan rambut panjang Naima yang masih berputar-putar gaje.
"Aduh, kepala ku pusing!" Kata Naima berhenti bergoyang seraya memegangi pelipisnya.
"Saridin saridin saridin, pusing? minum saridin!"
Zaki menyahut dengan dendang layaknya di tipi-tipi ntu, namun ia mempelesetkan produknya.
"Eh, Yuga tersayang!"
Mampus! Mata Naima pun buta sekarang, Zaki or Yuga kah di hadapannya, kok Yuga manis sekali menawarkan obat saridin kepadanya, so sweet, cuit cuit! pusingnya auto hilang, ada Yuga ini yang menjadi pelipur pusingnya.
"Sayang, ah.. Love You!"
"Love? entahlah, tapi aku ingin tubuh mu." Gamblang Zaki ke Naima berasa Naqia, libidonya itu cepat naik ke ubun-ubun kalau melihat wajah Naqia.
Naima dan Zaki saling berpelukan, sejurus bertatapan mesra, tersenyum satu sama lain, dan akhirnya... ehemm, adegan plus-plus di mulai, kekenyalan bibir itu saling bergulat, lidah mengobrak-abrik isinya satu sama lain membelit bak patukan ular, tangan nakal kesana-kemari melaba seperti dagangan, mereka sudah polos dengan kegilaan mereka yang di bawah pengaruh alkohol.
"Tumben kamu tidak menjerit, Naqia? apa kamu pun merindukan sentuhan ku?"
Zaki sudah memposisikan Naima di atas sofa panjang, siap mem-bor sumur wanita yang sudah terlentang aduhai di matanya.
Naima yang di panggil Naqia tidak protes sama sekali, ia mendengarnya, tapi jujur....pemandangan alat bor Zaki yang berdiri sombong, mengalihkan pendengarannya, ia sudah tidak sabar ingin di buahi oleh Yuga, pikirnya itu masih Yuga.
"Ayo sayang, lakukan!" Pinta Naima, gatel! (garuk woi)
Hayooo lah, sigap Zaki antusias dan jleb... tidak ada selaput apapun yang menghalangi jalan bor Zaki, itu tandanya apa readers? (Semoga readers Tata tidak ada laki-lakinya, malu coeg)
Dan ah uh ah pun mengemah di sofa itu tanpa ada gangguan, Nganuuuhnya.. bebas hambatan, belok sana sini ok saja, naik delman ku duduk di muka pun ok menggelora hasrat terlarang mereka, bakar sate bolak-balik tubuh Naima pun di buat oleh Zaki telah terlaksana saat ini.
Permainan Zaki memang kasar, tapi bagi Naima yang sebenarnya sudah berpengalaman, menyukainya, sesekali bahkan Naima yang memimpin permainan keringat itu.
Aaargh, sudah tiga kali lolongan panjang keenakan itu terdengar, mereka kecapean main bor-borannya sehingga kedua tubuh mabuk itu tidur bak kodok korban tabrak lari.
Nggak pppulgaaaaar kan? Tata kan bukan author pintar scene Nganuuuh 🤣🙏 jadi di maafkan ye😜😜🤫😁