Stupid Wife

Stupid Wife
Makan siang



Waktu makan siang, Naqia menatap aneh dua pria di hadapannya, Yuga dan Zaki kompak menawarkan lauk, hasil masakan Bi Narsi ke piring Naqia.


"Sayuran ini akan membuatmu sehat." Yuga menaruh dua sendok capcay di piring makan Naqia.


Zaki pun tak mau kalah, Zaki menaruh dua paha ayam goreng di piring Naqia begitu saja tanpa adanya persetujuan Naqia.


Bi Narsi yang berdiri di dekat duduk Naqia, manahan senyum gelinya melihat air muka Naqia yang tidak peka kalau dua Pria di hadapannya telah bersaing secara terang-terangan.


"Mas Zaki, yang benar aja dong, Mas pikir aku guguk kelaparan di beri dua potong ayam besar, nih...satunya buat pak Yuga saja, 'kan pak Yuga belum ada lauk sama sekali."


Paha ayam goreng sudah di piring Yuga oleh tangan Naqia. Satu kosong, batinnya dengan alis itu terjungkit satu, meledek Zaki yang langsung membuang mukanya ke arah lain.


"Dan kalau benar sayuran bikin kita sehat, nih untuk pak Yuga." Dua sendok capcay udang dengan campuran brokoli cs sudah menghiasi piring Yuga dari Naqia yang berpikir polos... tadi 'kan Yuga sudah baik hati memberi dua sendok sayuran yang sama, giliran dong biar tidak ada hutang jasa.


Dua kosong ! Yuga kembali menatap ledek Zaki.


"Mas, juga mau !" Pinta Zaki ingin di perhatikan oleh Naqia, dengan piring yang memuncung isinya, sedikit di angkat agar memudahkan Naqia menjangkau suguhan sayur itu.


"Ck, mau di taruh di mana lagi lauknya, piring sudah penuh makanan, nasi dua centong, ayam goreng, capcaynya juga sudah ada tuh, ikan bakar, dan...mm, kamu sangat rakus, Mas !"


Tiga kosong ! Yuga semakin puas meledek Zaki yang di celetukin oleh Naqia sebagai orang rakus.


"Menyebalkan !" Lirih Zaki mendengus, paha ayam itu di gigitnya kesal, mengunyah pun di buat buat kasar dengan decakan demi decakan keluar terdengar, dulu Naqia lah yang tidak punya etika bersikap baik di meja makan, tapi sekarang Zaki lah yang makan dengan suara dentingan peralatan makan sengaja di buat ribut, biarkan Yuga dan Naqia terganggu olehnya, Zaki memang sengaja.


"Bi, uda makan belum ?" Naqia hampir melupakan Bi Narsi nya yang masih berdiri menyiapkan air putih untuknya.


"Belum, Non !"


"Ya udah, sini duduk, nunggu apalagi ?"


"Lho, Kenapa ?"


"Bibi, Belom lapar Non, mungkin akibat mimpi indah kali ya semalam." Bi Narsi menyeringai ke Zaki, tadi pagi Zaki telah menjahilinya dengan cara masuk ke dalam rumah setelah berkebun dengan kaki di penuhi tanah, hingga menyebabkan jejak di lantai.


"wah, mimpi ? mimpi apa, Bi ?"


"Semalam mimpi sedang duet mesra sama penyanyi dangdut favorit Bibi, lagunya yang kayak gini non... Gula, Gula,Gula,...gula gula gula__"


Zaki tersedak makanan, sukur sekali tulang paha ayam tidak masuk ke dalam tenggorokannya, di pastikan...is dead adalah pertemuannya.


Bi Narsi yang melihat itu, Tersenyum jumawa dalam hati, rasain ! tandasnya mengumpat dalam hati.


" Sialan amat tuh pembantu, membuat ku mengingat kegagalan itu semalam ."


Zaki sudah tidak selera makan lagi, Menatap Bi Narsi dan Yuga secara bergantian dengan mata seolah-olah menandai kalau mereka berdua adalah musuhnya di dalam rumah ini.


" Yaak, makanannya masih banyak tuh di piring, Mas, Kenapa di tinggal, mubazir tahu nggak, nanti bisa mengutuk mu." Seru Naqia, sayang nasinya, bukan perhatian ke Zaki.


"Buat Yuga atau Bi Narsi saja, aku sudah kenyang, mereka kan penjilat di rumah ini." Hina Zaki tanpa menoleh ke belakang, ia terlalu malas untuk berbasa basi baik di hadapan Naqia akan sikapnya ke dua orang tersebut.


"Pak Yuga, Bi Narsi, jangan dengarkan dia ya ?" Naqia tidak enak hati, bangkai rumah tangganya telah di cium oleh orang lain secara hidung terbuka.


"Jangan biasakan minta maaf tanpa berbuat salah, dia yang bertingkah kurang ajar, bukan kamu, ini poin pelajaran lagi untuk mu ! setiap kesalahan, harus di tanggung sendiri, bukan orang lain yang harus menanggungnya tanpa terkecuali, walaupun orang itu adalah orang terdekat kita, Paham maksud ku ? " Ucapan Yuga kali ini bukan semerta-merta menjatuhkan Zaki di depan Naqai secara banci, tapi benar adanya, ini salah satu poin kecil untuk Naqia catat dalam otaknya.


Yuga bukan banci ! Tapi gentleman ! ia tidak mempunyai sifat pengecut yang suka bermain kotor di belakang musuh, Yuga lebih tertantang kalau melawan musuh itu secara terang-terangan.


Naqia hanya diam saja, tapi di dalam hatinya, ia menyerap poin penting dari Yuga untuk membentuk kepribadiannya yang jauh dari kata pintar.