Stupid Wife

Stupid Wife
Hotel Prodeo Untuk Mayang



"Hahaha....!"


Di dalam apartemen, Mayang tertawa jahat sudah berhasil membuat Naima cacat.


"Rasakan Naima! Itu akibat dari kelancangan mu yang sudah berani menampar pipiku dan mengancam ku ingin membuat kaki ku patah. Kamulah yang patah kaki saat ini... Hahahah!"


Mayang terus saja tertawa girang seraya duduk di sofa itu dengan tangan memegang gelas berisi wine.


"Aku yakin tidak ada yang melihat ku melakukan kejahatan itu. Zaki pun tidak melihat ku. Ya...Zaki tidak enggeh kalau aku pelakunya."


Mayang menenangkan dirinya sendiri yang sebenarnya takut ketahuan. Dia menepis segala dampak kejahatannya.


Ting tong...


Sejurus, suara bel mengganggunya. Dia enggan untuk beranjak takut takut perasaan cemasnya itu nyata adanya kalau Zaki sebenarnya mengetahui aksi jahatnya yang fix.... mantan suaminya itu pasti marah karena secara langsung calon bayi mereka pun telah di bunuhnya.


Ting dong...


Bel masih berbunyi makin menggebu-gebu terdengar tidak sabaran.


"Paket!" Pekik dari luar pintu.


Akhirnya Mayang bernafas lega.


"Hu, ternyata makanan ku!" Lirihnya seraya beranjak cepat dari sofa itu.


Ceklek...


Setelah pintu terbuka, Mayang segera menarik paket makanan itu tanpa basa-basi dan braakk...pintu terbanting keras membuat sang kurir jadi terperanjat kaget.


"Orang kaya mah selalu sombong, gue sumpahin ketiban sial." Gerutu sang kurir seraya beranjak dari hadapan pintu itu.


Kepergian sang kurir, Zaki datang langsung menekan bel unit itu.


"Ah, ada apalagi sih si kurir itu? Bukannya aku sudah bayar di aplikasi? Kurir begini nih yang tidak amanah, selalu minta tips." Mayang menaruh makanan itu di meja secara kasar dan kembali beranjak ke arah pintu.


Ceklek...


"Apalagi hah? Mau di timpuk___Za_ki?"


Tadinya Mayang langsung mengoceh ketus, tapi setelah sadar kalau Zaki pelaku belnya berbunyi. Suaranya pun tergagap dengan wajah seketika memucat.


"Ada apa, Mas?" Mayang segera menekan rasa cemas ketahuannya. "Ayo silahkan masuk__Aaarghrr."


Zaki tiba-tiba mencekik lehernya seraya berjalan mundur karena dorongan Zaki di sela cekikikan itu.


Zaki sudah muak dengan tingkah basa-basi Mayang yang nampak tidak berdosa, mati-matian air muka itu mengelak dari aksi jahatnya, tapi Zaki sudah tau sebelumnya...mau apa lo?


Rasakan lah cekikan itu yang saat ini Mayang sudah disudutkan ke tembok.


"Ma_Mas__"


"Gara gara kamu, anak ku berakhir meninggal dan membuat Naima cacat." Zaki semakin kuat mencekik leher itu. Dia ingin sekali menskakmat Mayang saat ini juga tapi tidak semudah itu. Dia masih ingin memberi Mayang pelajaran berharga dengan cara menerima nasehat Yuga untuk tidak gegabah bertindak. '


Boleh marah tapi jangan bodoh yang berakibat membuat diri dalam masalah besar, ingat! Membunuh orang itu ada pasal hukumnya yang akan di ketuk di meja hijau.' Itulah ucapan Yuga lewat pesan sebelumnya yang Yuga menasehati dirinya tentang pasal hukum.


"Ma_Mas! A_aku ke_ke_habisan nafas!" Mayang tergagap karena oksigennya di ujung tanduk. Tangannya berupaya keras melawan Zaki dengan cara memukul mukul tangan Zaki yang di lehernya itu.


"Zaki!" Sentakan keras itu terdengar dari arah pintu...Yuga lah orangnya bersama Naqia dengan tiga polisi yang belum sempat melihat kekerasan Zaki di leher Mayang karena Yuga belum membuka lebar-lebar daun pintu tersebut. Benar kata Naqia, Kalau Zaki pasti melakukan kekerasan. Makanya dia dan Naqia kini berada di tempat Mayang yang sebenarnya mobilnya itu hampir sampai di perkomplekannya. Mau tak mau Yuga pun membelokkan setirnya akan perintah Naqia yang notabenenya sudah khatam betul perangai Zaki yang tempramental itu.


Sontak Zaki menoleh dan reflek melepaskan tangannya di leher Mayang.


Uhuk uhuk uhuk


"Gila kamu Zaki!" Geram Mayang terbatuk batuk, terdengar sudah tidak adalagi embel-embel 'Mas' di depan nama Zaki.


Zaki hanya diam saja karena kode dari Yuga agar tenang sesaat. Sejurus pun pak polisi masuk setelah Naqia pun masuk ke ruangan itu.


"Dia pak yang saya ceritakan tadi!" Tunjuk Yuga ke Mayang. Dia dan Naqia sudah membuat laporan. Ingin memberi kenangan buruk untuk Mayang terima akan aksi stupid-nya yang bermain-main dengan nyawa orang. Sejahat-jahatnya Zaki dan Naima dalam kehidupan istrinya, tapi ke-dua orang yang lagi proses tobat itu tidak pernah berniat untuk membunuh Naqia.


Sempat Zaki sudah menjadi pembunuh janin Naqia, tapi itu lain kategori yang notabenenya Zaki tidak sengaja melukai janinnya di waktu pemerkosaan nya ke Naqia karena tidak tahu kalau Naqia dalam keadaan hamil.


"Apa-apaan kamu Yuga? Ada apa ini? Pak polisi, apa yang saya perbuat hingga di borgol begini, katakan? Saya tidak melakukan aksi kejahatan." Elak Mayang tidak mau di beri hotel prodeo. Damt! Dia mengumpat kesal dalam hati karena pak polisi sudah membelenggu tangannya yang terbuat dari besi itu.


"Sudahlah Mayang, kamu tidak bisa mengelak lagi, mobil merah yang kamu sewa untuk menabrak Naima sudah di tangani polisi sebagai salah satu tanda bukti. Bahkan asisten ku pun sudah mendapatkan bukti rekaman pelataran di cafe itu, dan satu lagi...mata jeli__ah, tidak jadi." Penjelasan Yuga tentang kejelian mata Naqia yang sempat melihat Mayang saat menabrak Naima di telan kembali. Dia tidak mau menyangkut pautkan nama istrinya dalam bahaya karena mungkin Mayang bisa menaruh dendam pun ke Naqia.


"Maaf ibu Mayang! Anda kami tangkap karena sudah terbukti melakukan kesalahan yang fatal bagi nyawa seseorang." Jelas salah satu polisi itu.


"Tapi pak__Pak polisi! saya tidak tahu apa apa. Naqia, Naqia tolong jelaskan ke mereka, kamu kan baik hati." Mayang berhenti sejenak di hadapan Naqia yang tadinya sudah di paksa berjalan oleh sang polisi.


"Maaf!" Lirih Naqia menggeleng kecil.


"Kamu akan membusuk di penjara, Mayang!" Pekik Zaki terasa puas.


"KALIAN JAHAT! AWAS KALIAN!" Pekik Mayang di sela jalannya yang di paksa oleh pak polisi sialan itu.


"Aku mau pulang, capek!" Naqia langsung mendahului Yuga dan Zaki yang nampak ingin mengobrol. Sungguh, dia juga tidak tega melihat mata Mayang yang memohon kepadanya untuk minta di bela. Tapi bagaimana lagi, segala tindak kejahahatan pasti ada hukumannya.


"Aku duluan!" Pamit Yuga ke Zaki.


"Terimakasih sekali lagi!"


Yuga hanya mengangguk dan segera mengejar langkah Naqia yang sudah berada di lorong unit tiap unit gedung itu.


"Mau di gendong, Naqia?" Godanya di belakang tubuh Naqia yang masih berusaha menyamakan langkahnya agar bisa ber-sisi-an.


Naqia berhenti dan berbalik seketika. Jelas Yuga segera me-rem kakinya. Hampir saja menubruk Naqia yang tanpa lampu sein main berhenti. Kalau di tilang bagiamana coba?


"Mau! Dan berjongkoklah!" Titah Naqia seraya berjalan ke belakang Yuga. Dia ingin di manja saat ini, kebetulan Yuga menawarkan punggung gratis...ya, hayook.


Yuga tersenyum seraya menurut perintah sang nyonya hatinya. Dia pikir Naqia akan tersipu di goda begitu. Eh...di jabanin ternyata. Oke... punggung! Kamulah korban manisnya.


" Ini lebih nyaman dari kendaraan berbesi. Bagaimana kalau sampai rumah, Pak pengacara?!" Naqia ngelunjak ledek sang suami yang berucap di sisi telinga Yuga.


"Boleh... hahaha!" Yuga malah tertawa di sela langkahnya menuju lift. Naqia ikut tersenyum seraya menaruh dagunya di pundak Yuga.


Zaki di belakang sana tersenyum tipis melihat Naqia yang sudah menemukan sejati hidupnya.


"Maafkan sekali lagi kebodohan dan kekejaman ku di masa lampau, Naqia!" Ucapnya sendiri dan memilih arah jalan lain menuju lift berbeda pun. Dia tidak mau mengganggu Naqia dan Yuga yang masih bercanda gurau di hadapan lift yang masih tertutup rapat itu.