
Satu bulan kemudian...
Bila mana ada pernikahan dan berakhir perceraian maka ada pasal perceraian untuk di patuhi oleh orang yang mengalami kegagalan dalam menikah, dan hukum pasal KHI baik dalam agama maupun hukum pengadilan yang tertulis di sebut masa iddah.
Masa iddah dari bahasa Arab yang artinya masa menunggu, mempunyai kategori waktu masing-masing, tergantung cerai seperti apa? cerai hidup or cerai mati dan sebagainya, itu mempunyai waktu masa Iddah tersendiri.
Dan satu lagi... hukum masa iddah pun ada waktu tertentu bagi si wanita penggugat, dan waktunya itu cuma satu bulan menjalankan masa iddahnya... inilah yang di alami Naqia, masa iddah-nya cuma satu bulan, dan tepat dua hari yang lalu masa iddahnya itu sudah berlalu.
Masa Iddah yang berlalu inilah yang di tunggu-tunggu Yuga, di mana tepat hari ini, Yuga akan menghalalkan Naqia sebagai istrinya.
Hanya ada pernikahan sederhana yang sedang berlangsung saat ini di kediaman Naqia, kenapa sederhana? itu karena Naqia tidak suka dengan khalayak ramai, dan ia juga tidak mau nanti bertemu Zaki di hari sakralnya, dengan itu mereka tidak mengundang perhatian banyak orang, tapi tetap...Yuga akan mengirimkan rekaman ijab qobulnya ke Zaki maupun ke Naima yang amat gencar mengejarnya, biar Zaki dan Naima tahu kalau ia dan Naqia sudah resmi.
Ya...hari ini mereka menikah secara diam-diam, bukan karena Yuga takut, tidak seperti itu! ia hanya ingin menghormati keinginan Naqia.
Mengalah demi kedamaian tidak ada salahnya!
Tadinya Yuga sempat menolak, tapi ia berpikir panjang lagi, benar usul Naqia... tidak mengundang keramaian, tandanya juga bebas dari drama yang akan muncul bila mana Naima kumat ketidaksetujuannya.
Dalam satu bulan yang lewat, harinya itu sangat terganggu dari kegencaran Naima mendekatinya, Yuga bukannya luluh malah semakin ilfil, dia tidak suka wanita yang frontal, menurut Yuga.. wanita itu harusnya di perjuangkan cintanya, bukan dia yang di perjuangkan, dan tantangan Yuga sampai saat ini belum ada hilalnya, Naqia masih rapat-rapat menutup pintu hatinya.
Tidak masalah, seiring waktu berjalan, ia akan meluluhkan hati wanitanya itu, Yuga masih punya kesabaran sebesar gunung kok, tidak akan mudah habis kesabarannya bila menyangkut hati wanitanya, dia adalah tipekel laki yang garang-garang kiut sweet madu, legit-legit gimana gitu?
"Saya terima nikah dan kawinnya Naqia Qhamila Nugraha binti Muhammad Nugraha dengan mas kawin emas 250gram dan seperangkat alat sholat di bayar tunai."
Sekali tarikan Yuga mengucapkan ijab qobulnya dengan suara lantang dan tegas, jujur...ia sebenarnya nervous sendiri sedari tadi, keringat dingin pun telah membanjiri punggung di balik kemejanya saking gugupnya, tapi ia berhasil menekan kegugupannya saat setelah Naqia duduk di sampingnya beberapa menit sebelum mengucapkan kata sakral.
Wajah anggun nan cantik teduh itu membuat hati Yuga adem, seperti vitamin tersendiri.
Dan suara kata sah pun menggema dari para koor yang menghadiri acara pernikahan tertutup itu.
Hani tersenyum lega, ada anak bungsunya pun di sampingnya yang tersenyum bahagia melihat kakaknya kembali beristri, dia--Yugi Pratama.
"Selamat ya sayang!" Hani memeluk hangat Naqia, mantunya ini sedari tadi tertegun datar-datar saja, hati Naqia benar-benar di landa kebingungan, antara takut ke Zaki di tambah takut juga ke Yuga, ia belum siap menjadi istri seutuhnya, yang ehem-ehem itu lho, pahamkan?
"Terimakasih!" Naqia tersenyum paksa ke Hani, Hani dan Yuga serta Yugi juga Bi Narsi melihat keraguan Naqia.
"Kamu apakan mantu Mama, hah?" Hani mendrama, tangan entengnya itu memukul lengan Yuga yang tidak tahu apa-apa.
"Eh, jangan di pukul, Pak Yuga tidak melakukan apapun kok." Naqia membela suami barunya, Yuga tersenyum tipis ke Mamanya yang ia tahu mamanya itu hanya becanda.
Bi Narsi dan Yugi ikut tersenyum diam-diam, Naqia belum tahu sifat asli si Mama kece badai itu, si ratu dramatis.
"Terus kenapa kamu hanya diam saja, sebagai pengantin baru 'kan harus mesem mesem tersipu gitu, fix... pasti ini karena Yuga kan? ayo anak kaku katakan, apa yang kamu perbuat?" sarkas Hani ke Yuga yang ikut memasang wajah teraniayanya, mengikuti drama Mamanya.
"Tidak ada Ma? pak Yuga tidak nakal dan tidak mengatakan apapun." itu suara Naqia yang sudah kayak emak-emak belain anak bujangannya, karena Naqia reflek melindungi Yuga dari kepura-puraan Hani yang ingin mencubit lengan Yuga.
Yuga di belakang tubuh Naqia, berkedip-kedip lucu ke Hani, Bagus Ma, goda aja terus. Batinnya yang ke asyikan di bela Naqia, ternyata Naqia begitu peduli padanya. Yuga senang akan hal kecil itu, kemajuan! pikirnya dan lambat laun Naqia akan jatuh hati pun kepadanya melalui perlakuan lembutnya.
Bi Narsi dan Yugi semakin kuat menahan tawanya melihat ketengilan Hani yang menggoda kepolosan Naqia.
"Sudah lah sana bawa suami mu ke kamar, Mama bisa darah tinggi nanti di buat kesal wajah kaku Yuga." Dramanya sungguh luar biasa, demi membuat pasangan suami-istri baru itu ke kamar cepat-cepat, Hani sampai meringis layaknya orang sakit kepala.
"Tapi__maksud ku, kamarku? berdua?" Naqia tergagap, itu tandanya ia dan Yuga satu kamar, mengejutkan bagi Naqia, hoki untuk Yuga.
"Terus kamar siapa, masa kamar Bi Narsi? nggak mungkin kan?" tangan Hani sudah mengibas memaksa Naqia untuk masuk ke kamar, padahal ini masih siang bolong, para tamu saksi pun sudah pulang.
"Baiklah, ayo pak Yuga, bapak boleh memakai kamar ku untuk istrihat." pasrah Naqia menurut, hati yang pernah trauma ia lawan di dalam benaknya.
Keduanya pun berjalan masuk ke kamar, ketiga wanita beda umur yang masih di tempat, kompak terkikik geli bersama, apalagi saat Yuga berbalik sejenak, dengan kissing jauhnya.
Lebay! Geli Hani dan Yugi.
"Bi Narsi, kamar pengantin uda bereskan?" Tanya Hani ke Art setianya.
"Banget, Nyah! pokoknya kelopak bunga sudah di atas tempat tidur, biar mereka terbuai!"
Hani mengangkat kedua jempol ke Bi Narsi, penginnya sih empat jempol tapi kakinya masih mager untuk mengacung memuji Bi Narsi.
"Mudah mudahan siang bolong pertama terlaksana, semoga anak kaku ku pintar merayu hati wanita trauma, awas aja gagal, beeh! ku cubit ginjal mu nanti." Hani berbicara sengit sendiri seraya menatap intens daun pintu kamar Naqia yang sudah tertutup rapat-rapat.
Bi Narsi dan Yugi hanya geleng-geleng kepala.
"Ma, Pasang kuping yuk!" Ajak Yugi menggoda Hani, bukannya dapat respon baik, Hani sigap mensentil bibir anak gadisnya.
"Anak gadis diam aja, kalau kepingin, beehh Mama nikahin kamu sama kucing."
Mama lebay, huuu!