Stupid Wife

Stupid Wife
Badainya Semakin Indah



Bocil ngumpet dulu di ketek ya, intip sikit boleh kalau mau maksa sih... .


*****


Geudamdum...Gleeeegaaarhh...


Suara alam di luaran sana itu masih terdengar seram di telinga Naqia yang setia bersembunyi di dada polos Yuga.


Petir dan guntur saling beradu, hingga guruh mengelenggar masuk ke dalam gendang telinga penghuni bumi, hujan deras di sertai angin kencang memperlengkap suasana malam ini begitu mencekam.


Karena angin kencang, jendela kamar itu pun terbuka, hingga tempias hujan masuk terbawa angin, mampu membuat Yuga dan Naqia semakin kedinginan.


"Mau kemana?" Naqia menahan tubuh Yuga di atas kasur itu yang mau turun, ia ketakutan suara alam seram itu.


"Nutup jendela."Terang Yuga, Naqia menggeleng, tidak memperbolehkan, sedetik pun ia tidak mau sendirian, suasana ini bagi dejavu untuk Naqia kenang di hari kepergian orang tuanya untuk selama-lamanya.


"Tidak usah di tutup, biarkan!" Naqia semakin erat menahan tubuh Yuga, dengan tangannya itu melingkar erat di perut Yuga.


Tentu momen ini lah yang di inginkan Yuga, di tempel istri tercinta masa nolak sih, mana kulit bagian depan Naqia menyetrum seperti desir-desir gimana gitu.


Siapa sih laki-laki normal yang nahan godaan, bila di peluk oleh wanita yang hanya kain menempel seadanya, ujung dada yang berbentuk boba kenyal-kenyal ujungnya itu sudah membuat kepala Yuga berasap, ia ingin minum tutu milik Naqia.


Harus berhasil! Yuga siap merayu lembut Naqia agar mau melakukan ritual malam pertama yang sebenarnya harus menjadi malam kedua pernikahan.


"Kamu dingin, Naqia?" Tanya Yuga.


Naqia mengangguk pelan, matanya itu terpejam, antara takut dengan adanya suara guruh dan juga takut ke Yuga yang amat dekat di tubuhnya, ia sadar dengan tingkah kurang ajarnya ini, tapi mau bagaimana lagi, hanya Yuga yang ada di sekitarnya untuk di mintai tolong menghilangkan rasa kekacauan perasaannya.


"Kamu mau merasakan kehangatan, Naqia?" Yuga mulai mengeluarkan jurus-jurus silatnya eh salah... jurus rayu-merayu orang tabu yang namanya permainan ranjang, Ding!


Naqia mengangguk lagi, ia tidak melihat senyum devil Yuga, sejurus...Yuga lebih memepetkan tubuhnya ke arah Naqia hingga wajah Naqia sudah menyentuh kulit dada polosnya.


Tubuh Yuga menegang saat nafas panas Naqia menerpa dadanya, di balik sarung... si ikan koi sudah berdenyut sesak, ingin meloncat masuk ke dalam sumur, tentunya sumur dangkal Naqia lebih jelasnya.


"Tidur lah," Modus doang si pak pengacara, mulutnya berkata Tidur lah, tapi tangannya meraba-raba Naqia.


Awalnya, rabaan itu hanya di rambut, sekedar nina-ninain bobo, tapi eum... tangan nakal Yuga berangsur turun ke leher, ke telinga dan daerah tengkuk belakang Naqia, di bagian itu adalah jurus-jurus titik mematikan bagi wanita normal untuk di buat stimulate horn* lebih cepat.


Alhasil... Naqia yang tadinya ingin menepis tangan nakal Suaminya, menjadi terpaku, ada rasa aneh yang di rasakan di dalam tubuhnya, dan rasa itu susah untuk di jabarkan, intinya...ia menyukai tangan nakal Yuga bermain di lehernya.


Naqia menelan ludahnya susah payah, sesekali memejamkan matanya karena keenakan di raba.


Tidak ada respon negatif, Yuga semakin melancarkan aksi nakalnya, ia menyeringai lebar dalam hati, maunya sih bersalto-salto tapi nanti Naqia lepas dari stimulate-nya. Ogah dong...jadi ayo kita lanjut di bibir itu.


Hmmpt...


Naqia terkesiap, bibirnya telah di pagut rakus oleh Yuga namun terkesan lembut.


Naqia yang kaku, hanya diam saja, tidak menolak permainan Yuga yang kian menuntut di bibirnya itu, baginya... ini adalah ciuman pertamanya, Zaki waktu itu hanya memakai kasar nan paksa tubuhnya tanpa mengenal bagaimana sensasi nikmatnya pemanasan globalisasi khusus di kamar itu.


"Uh..!"


Naqia semakin di buat melayang, ketraumaannya entah hilang ke mana, yang jelas...saat tangan Yuga menarik sarungnya sedikit kebawah, dan cepat meremaaas-emmmaas balon ku ada dua itu, ia merasakan hal aneh dalam tubuhnya, ia ingin lebih, tapi apa? ia tidak tahu.. sedap-sedap gurih pokoknya.


"Naqia!" Yuga melepas belitan bibirnya, menatap ijin Naqia, binar matanya sudah di selimuti hasrat.


"Eum," Naqia gelagapan, ia malu sendiri menyadari apa yang sudah terlewat begitu cepat barusan.


Mendapat lampu hijau, Yuga seakan-akan tancap gaspol, mulutnya itu sudah minum tutu di daddaaa Naqia.


"Eh___Aaahhkh!" Naqia sempat terkejut, ternyata tutu itu toh yang di maksud Yuga... iihh, enak! pekiknya dalam hati, tangan itu pun tanpa sadar menjambak-jambak kecil rambut Yuga yang berada di dadanya, meresapi dengan bibir bawah itu telah di gigitnya, takut keceplosan lagi suara aaakhh seperti barusan.


Benar adanya teori itu....bahwa, anak perempuan hanya meeenyus* hingga umur dua tahun paling lamanya, tapi bagi laki-laki, mereka minum susu sampai jenggotan.


Seperti Yuga!


Naqia kehilangan akal jernihnya, Yuga sudah berhasil membuatnya di mabuk kepayang.


Permainan Yuga kian menuntut, sarung yang di pakai Naqia sudah lolos entah di mana, bibir itu setia memilin milin teet boba hitam di ujung gundukan itu, bergantian. dengan tanda drakula cinta, belang sana sini di leher nan gundukan sudah terpatri indah layaknya lukisan cat bibir siap di pamerkan.


Tangan satu Yuga juga sudah bermain di area lembah sumur istrinya, sesekali jari itu menerobos masuk dan mengobarak-abrik di dalam sana.


Baru di masuki jari... Naqia sudah berada di atas awang-awang menari bersama gugusan bintang-bintang.


Kenapa waktu di sentuh oleh Zaki tidak seindah nan nikmat ini? terbesit pertanyaan hati itu, namun sejurus tidak kepikiran lagi, Naqia membalas berani bibir lihai Yuga yang kembali memangut bibirnya, bahkan tangan Naqia sudah berkalung di leher suaminya.


Yuga semakin jumawa, akhirnya...malam ini si ikan koi tidak lumutan lagi, riangnya dalam hati.


"Pa_Pak, Aku mau pi_pis, ahhhhh.." Racaunya dengan suara itu terbata-bata dan di akhiri desahaaaan, di bawah sana seperti ada badai air yang mau tsunami.


"Keluarkan sayang, itu bukan urine. tapi kalau bisa, di tahan dulu!"


Yuga mengeluarkan jarinya, ia tidak mau Naqia banjir dengan rasa sentuhan tangannya, biarkan Naqia merasakan bagaimana sensasi di tusuk-tusuk ah uh ah penuh perasaan dari adik kecilnya.


"Pak, iii_tu, besar sekali!" Naqia menunjuk ke arah ikan koi Yuga.


Membuat, Yuga tersenyum sabit, pipi istrinya merona merah saat si ikan koi jumbo keluar dari jala sarungnya.


"Tenang saja, doi luntur kok, macam squisy, lembut-lembut kenyal." Yuga mau tergelak, saat Naqia menarik bantal dan menyembunyikan wajahnya di balik bantal itu, istrinya malu-malu meong pemirsa.


Membiarkan Naqia bersembunyi, Yuga segera membelah ke-dua jenjang kaki itu untuk terbuka, pemandangan surga dunia ada di depan mata.


Naqia tidak menolak... jujur, di bawah sana juga menginginkan lebih.


Jleb... Sedikit susah, akhirnya ikan koi itu menemukan sumber kehidupannya, Yuga menyingkirkan bantal Naqia, Cup, mengecup kening istrinya dan berkata... Love you, di bawah sana belum bergerak, hanya tenggelam terjepit sumur Naqia, ia ingin menggoda Istrinya dulu, tapi Naqia tidak merespon ungkapan perasaannya.


Tidak kuat lagi menahan hasrat sedari tadi, Yuga akhirnya memajukan tempo nya.


" Ahh..uuh," Naqia menggila, lenguhan demi lenguhan merdu saling beradu bersama suara lenguhan Yuga.


Astaga...enak sekali. Batin Naqia, candu. leher sudah berkeringat gerah, begitu pun Yuga yang bekerja menggali sumur di atas tubuhnya.


"Ahh, Naqia... rasanya__ahh, yes..enaaaak!" Racau Yuga dengan mata merem melek meresapi apa yang sedang di tusuk-tusuknya.


Temponya makin cepat... membuat Naqia menggeliat bak cacing di kerumunin semut.


"Oh, Yes! Ahhhkh..." Racau Yuga, pinggul itu semakin menghajar hentak sumur Naqia.


Aaaaaaargh..


Stoppooo Ah...Otor kurang ngena bikin scene Nganuuuh, bukan skill ogut...