
Tidak selamanya yang pertama akan menjadi hal utama, terkadang hal kedua itu bisa menjadi utama. Begitu pun dalam pernikahan, ada sebagian pernikahan pertama menjadi gagal dan pernikahan kedua adalah bahtera cinta sejatinya.📝
...****...
Sembilan bulan kemudian....
Bulan purnama di malam hari ini nampak indah terlihat bagi penghuni bumi. Sinar cahayanya itu menelisik masuk lewat celah jendela kamar Naqia dan Yuga yang sengaja di redupkan lampunya.
Cup...
"Terimakasih, sayang. Tidurlah!" Yuga segera menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka yang polos setelah ritual kuda lumping. Dia mengecup kening itu penuh rasa kasih.
"Aku belum ngantuk," kata Naqia yang kepalanya berbantal di lengan suaminya.
"Ini sudah malam__oh, atau mau nambah lagi ya?" Goda Yuga. Naqia mendongak tepat jatuh di wajah Yuga yang alis suaminya itu di naik turunkan.
" Kan, uda dua ronde, masa orang buncit kamu makan terus." Protes Naqia seraya bangkit dari rebahannya untuk menggunakan pakaiannya. Bukannya tidak baik tidur sepanjang malam dalam kondisi tubuh yang polos?
Yuga terkekeh geli seraya menarik lagi Naqia untuk rebahan di sisinya. Dia juga menghela daster Naqia demi bisa menyentuh kulit perut istrinya.
"Canda doang sayang. Dan kamu baby? Kamu lagi apa__wah, sayang. Coba sentuh deh, baby kita lagi aktif."
Yuga amat bahagia. Saat tangannya mengelus perut Naqia, dia merasakan ada tonjolan yang bergerak hebat di dalam perut Naqia.
Naqia hanya tersenyum kecil, melihat Yuga begitu antusias meraba terus perutnya. Bahkan Yuga sampai menarik tubuhnya untuk duduk di kasur itu.
"Halo baby! di dalam sana lagi apa, eum?" Yuga segera menaruh telinganya tepat di atas perut buncit itu. Berharap janinnya meresponnya. "Apa kamu masih ingin di jenguk Papa untuk tiga ronde?" Yuga tersenyum mesum.
"Aww." pekik Naqia tiba tiba.
Yuga terkesiap. "Kenapa?" tanyanya seraya menatap cemas Naqia.
"Anakmu main bola di dalam sana." Naqia terpekik memang karena pergerakan bar-bar janinnya yang seakan akan lagi memberontak di dalam sana sehingga ada efek nyeri sampai ke jalan rahim.
"Apa sudah waktunya?" Yuga heboh sendiri, dia bergegas memakai boxernya serta benang lainnya.
Naqia hanya anteng di kasur. Dia malah mengencangkan balutan selimutnya.
"Ayo kita ke rumah sakit__lho, Naqia? kok malah mau tidur sih?"
Yuga tak habis pikir oleh Naqia. Dia-nya kecemasan eh... istrinya santai beut.
"Ini cuma kontraksi biasa. Tidurlah sayang, besok bukannya mau mengunjungi pernikahan Zaki dan Naima?" Naqia berucap dalam mata terpejam.
Yuga menepuk keningnya, konyol. Ini yang kesekian kalinya dia cemas mendadak dan berujung di tanggap santai oleh Naqia karena hanya kontraksi palsu.
"Kalau mau lahir, Nak. Tunggu Papa ya, papa ingin menjadi saksi mata awal dunia mu. Jangan lahir di saat Papa ada di kantor apalagi saat dinas di luar negeri." Yuga berbisik di perut Naqia. Dia pun akhirnya berbaring dan segera mengambil posisi enak di sisi istri tercintanya.
Terimakasih sudah menjadi iman yang baik untuk ku, Bang Yuga. Mata Naqia terbuka di saat mata Yuga sudah nyenyak di alam mimpi. Rakus-rakus dia menatap wajah tampan suaminya. Tangannya pun berangsur menyentuh rahang tegas itu.
Kamu dunia ke-dua ku, Bang. Cup... Naqia memberanikan diri untuk mengecup bibir Yuga. Setelahnya dia akhirnya larut ke dalam mimpi.
Yuga yang malah terganggu, membuka matanya untuk memastikan.
Hais, apa tadi di ganggu setan? Yuga merapatkan posisinya untuk memeluk Naqia. Dia merasakan kecupan, tapi 'kan Naqia sudah tertidur. Siapa coba yang melakukannya kalau bukan setan? " iiihhh. Dampak kagak baca doa sebelum tidur."
...*****...
Mentari cerah, secerah hati Zaki dan Naima yang saat ini sedang melakukan ijab qobul di dalam ballroom hotel mewah. Dekorasi gold itu menambah efek elegan sebuah acara sakral tersebut.
Ada Naqia dan Yuga salah satu tamu undangan yang ikut berbahagia.
Sah...
Tepuk riuh pun menggema di saat kata sah dan doa untuk mempelai telah terucap.
"Selamat ya, Mas, Naima," ucap Naqia yang di rangkul oleh Yuga saat ini. Senyumannya begitu tulus menatap Naima yang masih duduk di kursi roda.
"Terimakasih." Mata Naima berkaca-kaca. Dia berangsur menggerakkan kursi rodanya ke hadapan Naqia untuk lebih dekat lagi. Zaki yang melihat itu, segera membantu Naima mendorong pelan kursi beroda istrinya.
"Naqia." Naima memegang canggung tangan Naqia. Istri Yuga itu sebenarnya ingin berjongkok untuk menyamakan tinggi Naima, tapi apalah daya, perutnya membuat pergerakannya terbatas. Sebenarnya dia pun sedikit aneh dengan kondisinya saat ini. Kontraksi hebat yang kadang datang menerpanya.
"Terimakasih untuk kesempatan ke-dua mu kepada kami. Kalian sudah memberikan bantuan tak ternilai harganya, baik untuk aku dan ke Zaki," ungkap Naima.
Sungguh, dia begitu malu menampakan wajahnya bila mengingat masa-masa jahatnya yang selalu berniat buruk ke Naqia.
"Ayolah, ini hari kebahagiaan kalian. Jangan membuat ku malu terus dengan mengingat pertolongan yang seharusnya tidak boleh di ungkit ungkit." Naqia malas juga jadinya bila topik itu terus yang di bahas. Bibirnya cemberut menatap Zaki dan Naima yang malah tersenyum gaje kepadanya.
"Bagaimana kalau kita berfoto bersama." Yuga mengubah topik. Dia amat pengertian ke wajah malas istrinya. Tapi tunggu? Yuga kadang mendapati raut wajah Naqia yang kadang meringis pelan seperti menahan sakit.
"Wajah mu kian memucat Naqia, apa kamu tidak enak badan?" Yuga menyentuh dahi Naqia, namun di tepis langsung oleh Naqia.
"Aku nggak apa-apa. Ayo kita berfoto."
"Ayo!" sambut Zaki. Naima pun mengangguk seraya tersenyum manis.
"Satu dua ti__"
Aaargh
Saat aba aba terdengar dari fotografer. Naqia terpekik hebat memegangi perutnya yang sigap mencengkeram erat lengan Yuga berharap rasa nyeri di perutnya menghilang.
Jelas, kepekikan Naqia mengundang seisi mata tamu.
"Naqia!" Cemas Yuga seraya memapah Naqia agar tidak terduduk di lantai.
"Astaga... Naqia mau melahirkan, Yuga!" Naima melihat cairan khusus yang sudah merembes sampai ke kaki Naqia.
"Kita ke rumah sakit, aku yang menyetir." tawar Zaki.
"Tidak perlu, kamu di sini banyak tamu. Aku bisa," tolak Yuga dalam langkahnya yang sudah meraup Naqia di dalam gendongannya.
Zaki sempat terhenti. Menatap Naima untuk minta ijin.
"Pergilah!"
Naima mengijinkan. Dia tidak mau egois.
"Terima kasih sayang." Zaki berlari membela kerumunan tamu pestanya.