
Happy reading...!
" Hallo."
" Mas Zaki, Aku nggak enak badan, Mas ke sini ya, pengen makan rujak, beliin ya Mas !"
" Iya !"
Zaki menjawab datar telpon Mayang agar tidak di curigai oleh Yuga, saat ini ia masih berbincang dengan dokter, masih ada pula Yuga di belakang nya berdiri. Ia berasalan telepon itu dari kantor, Jadi tidak bisa menjaga Naqia saat ini yang memang sama sekali tidak berniat untuk melihat nya di balik gorden itu. Terlalu malas, toh bentar lagi juga mau di ceraikan.
" Apa kantor lebih penting dari istri pak Zaki ?" Pertanyaan Yuga bukan lah sekedar pertanyaan biasa, suara itu tersirat ada penekanan dalam.
" Anda tidak usah sok akrab, urus diri sendiri !" Zaki pergi setelah menatap sinis Yuga. Di balik gorden, Naqia semakin mengepal kan tangan nya. Suami nya tidak memperdulikan nya.
" Dok, apa saya boleh melihat pasien ?"
" Silahkan pak !"
Perlahan pun, Yuga menyilak gorden itu, memperhatikan Naqia yang saat ini menoleh ke arah nya dengan mata sembab merah habis menangis. Yuga tidak mau bertanya kenapa ? ada apa atau pun pertanyaan sensitif yang mampu membuat Naqia bersedih. ia pernah di posisi Naqia, kehilangan anak yang masih di dalam perut almarhum Istri nya, sangat menyakitkan.
" Hai Naqia, kita jumpa lagi." Yuga tersenyum manis. di balas senyum paksa oleh Naqia.
" Bagaimana rasa perut mu, sudah baikan ?" Beberapa kali bertemu Naqia, Kali ini aura Naqia yang di rasakan Yuga sangat berbeda. Naqia sudah tidak terlihat ceria lagi.
" Pak baik ! Apa ke sini mau memberi aku uang lagi ?" Naqia tidak menjawab pertanyaan basa basi Yuga. Naqia tidak tahu atas dasar apa Yuga selalu memberi nya uang tiap bulan sejak kematian orang tuanya. Tapi Saat ini ia harus mau mengambil uang itu, ia ingin punya modal untuk terapi otak lagi yang dulu sempat di larang Zaki setelah kematian dan kebangkrutan usaha Papa nya, biaya nya sangat mahal kata Zaki saat itu.
Kali ini Naqia ingin bersungguh sungguh untuk mendongkrak kekurangan intelektual nya yang katanya bodoh itu, Agar menjadi sedikit pintar atau mungkin bisa saja berubah sangat pintar dengan cara mendatangi langganan terapi nya dulu. Manusia hanya bisa berusaha kan, selanjutnya Tuhan lah yang berkehendak untuk menjabah tidak nya usaha keinginan umat nya. Tuhan maha mampu !
" Eum, Selalu ! Dan kamu tidak boleh menolaknya lagi."
Yuga sigap membantu Naqia yang bersusah ria hanya ingin duduk saja dari brankar. Jarum infus masih tertancap di punggung tangan itu.
" Tidak akan ! Dan pak baik, Apa aku bisa minta tolong ?"
" Katakan !" Welcome Yuga.
Dan mengalir lah cerita demi cerita keinginan Naqia di bibir pucat nya, Naqia ingin Yuga atau sering di panggil nya pak baik mengantar nya ke tempat terapi nya dulu, biasa nya Almarhum Papa nya lah yang rajin mengantar nya setiap jadwal nya, Naqia pun berkata ingin menjadi wanita pintar agar tidak di jauhi oleh orang orang, agar tidak lagi di tindas dan di siksa hina. Agar jeli membedakan mana kucing manis dan kucing garong yang pantas untuk di pelihara di dalam rumah.
Tanpa sadar Naqia menetas kan air mata nya di saat dirinya berkata di tindas dan di siksa hina ! Naqia melanglang buana sentuhan demi sentuhan kasar Zaki yang memilukan hati nya. Selalu perih terasa di remas remuk redam hati nya itu.
"Aku akan menolong mu !" Tanpa bertanya apakah kamu dapat perlakuan buruk dari Zaki, Yuga sudah yakin sendiri kalau itu lah yang di alami Naqia. Yuga adalah pengacara, miris untuk nya melihat orang lemah nan tak berdosa di tindas, Jiwa laki nya bergerak untuk menolong anak dari klien nya ini.
" Ayo !" Wajah antusias Naqia tersirat. Yuga yang jarang tersenyum, kini tersenyum manis di hadapan wanita rapuh itu.
" Nanti Naqia, Biar kan fisik mu sembuh dulu, duduk aja butuh di bantu !" ledek Yuga menggeleng geleng. Wajah Naqia kembali tertunduk diam.
" Iya deh." Pasrah nya kemudian.
Di sisi Zaki, Laki laki yang mempunyai tempramental itu ke Naqia telah sampai di apartemen Mayang dengan membawa pesanan Mayang, Rujak !
" Terimakasih sayang !" Manja Mayang memberi kecupan manis di pipi Zaki. Serasa di cintai oleh laki laki tampan di hadapan nya.
" Apa kamu tahu, di sini.." Tangan Mayang menuntun tangan Zaki untuk menyentuh perut nya. Zaki menjungkitkan sebelah alisnya, bingung.
" Perut mu sakit ? tapi kenapa minta rujak buah, buang aja ya !"
" Eh, jangan ! anak kita ingin makan ini."
Anak katanya ? Zaki terpaku mencerna pengakuan mengejutkan Mayang. Mata itu menatap intens Mayang yang sedang manggut-manggut meyakinkan Zaki.
" Aku hamil mas, anak kita !" Adu nya senang.
" Benar kah ?"
" Eum !"
Grebb.
Lihatlah....Zaki berbinar senang, memeluk sayang Mayang dengan hati bercampur aduk haru nan bahagia, beda ke Naqia tadi... Yang senang mendengar Kematian darah daging nya. di kecup nya seluruh wajah Mayang, Bagaimana tidak senang, ia akan menjadi Ayah dari rahim wanita pintar dan cantik seperti Mayang. Keinginan menceraikan Naqia semakin bulat.
" Terimakasih Mayang, Nanti kita akan menikah setelah aku menceraikan Naqia."
Mayang tersenyum manis mendengar itu, Mayang memang mengetahui Zaki adalah seorang suami, tapi itu tidak masalah baginya. Yang terpenting uang dan kemewahan. Pelakor ? Bodo amat akan cap itu ! Cuek nya.
" Ayo kita ke rumah sakit, kita periksa janin mu !"
" Nanti saja kalau ada rasa aneh, aku__" Mayang mencoba berkelit ajakan itu, Menekan Zaki dengan bibir manis nya untuk saling bertemu di kursi. Jelas Zaki menyambut baik rejeki ah uh ah itu. Mereka melakukan aktivitas terlarang itu lagi. Di dalam hati Mayang tersenyum misterius akan ke naifan Zaki.
Hari telah berlalu, Naqia sudah sembuh. Yuga setia menunggu di rumah sakit. Bukan ada maksud tertentu, niat hati nya ikhlas menolong Naqia yang memang sebatang kara, niat nya sih Yuga akan pulang kalau nanti Zaki datang menjenguk, tapi ternyata nihil...Yuga semakin mencap Zaki laki laki pengecut.
Naqia langsung antusias minta di antar kan ke tempat terapi otak nya. Ia sudah tidak sabar untuk menskakmat Zaki yang katanya orang pintar itu. Naqia sudah tidak peduli kehadiran Zaki saat ini, Justru sebaliknya... Ingin memberi pelajaran berharga ke Zaki kalau orang bodoh nan lemah tidak lah seterusnya akan menjadi bodoh nan lemah. ia ingin membuktikan itu.
" Selamat datang lagi Naqia !" Sambut Wanita anggun yang dulu adalah ahli konseling Naqia.
Wanita anggun itu juga tersenyum manis ke Yuga, Yuga yang terkenal jarang tersenyum hanya membalas sapaan Wanita itu dengan anggukan kecil nya.
Dingin amat ! Tapi tampan ! Wanita anggun yang bertag name Naima Anggunia ini membatin dengan mata terus menatap Yuga.
" Segera lakukan tugas anda, Nona ! Saya masih ada urusan penting setelah ini." Tandas Yuga tanpa basa-basi. Naqia hanya diam tidak peka.
" Ah..iy-iya !" Ahli konseling ini jadi salting sendiri di buat tatapan elang Yuga.
" Mari Naqia, kita mulai sesi awal lagi, karena kamu kan sudah lama tidak berkunjung lagi, tak apa kan ?"
" Tentu !"
Konseling demi konseling berlangsung di depan mata Yuga untuk Naqia serap dari Naima yang mempunyai gelar Ph.D psikoterapi, Naqia sangat serius menjalankan proses nya, selain kebaikan nya untuk sendiri, ini juga demi tujuan tertentu nya untuk hadiah Zaki terima dari serangan demi serangan pembalasan nya. Menghadapi musuh, tak selamanya butuh otot tapi juga butuh kepintaran ! Itu adalah ucapan Yuga di perjalanan tadi. Naqia mengingat baik baik kata kata Yuga. Semangat membara tumbuh di dalam diri nya.
Pertemuan konseling pertama telah usai, Yuga kembali mengajak Naqia ke suatu tempat yang tadinya mau langsung pulang agar Naqia bisa istirahat, tapi tiba-tiba saja Naqia berucap " Rindu orang tuanya "
" Kita akan ke tempat yang mungkin bisa membuat rindu mu sedikit terobati."
" ke mana ? Ke kuburan ?"
" Bukan ! Nanti kamu akan lihat sendiri !"
Hari ini kerjaan Yuga rela ia serah tugas kan ke asisten nya demi mementingkan kepentingan Naqia, toh...Naqia adalah klien nya juga sebagai pengganti Nugraha. Anggap lah ia memang bekerja, tapi lain cerita dari arah pengacara.
Chiiit..
" Ini ?"
Naqia bingung, otak nya yang masih rada rada bodoh tidak sampai berpikir apa yang telah di Lihat nya di depan mobil yang baru saja berhenti. Yuga membawa nya ke pabrik luas yang dulu mempunyai ribuan orang pekerja di dalam sana, Pabrik ini adalah milik orang tuanya dulu, Tapi katanya sudah di kabar kan bangkrut satu minggu setelah almarhum di kebumikan.
" Ini milik mu !"
Naqia melongo dengan pupil mata ia lebar kan terlihat lucu di mata Yuga, wajah itu pun mendongak dekat dekat ke arah Yuga dengan polos. Membuat Yuga merasakan getaran aneh tersendiri.
" Yakin ?"
" eum !" Secepat nya Yuga memundurkan wajah nya untuk menghindari wajah polos cantik itu. Naqia yang tidak peka dengan ekspresi tegang tegang sedap di hati Yuga, Malah semakin memajukan kembali wajah nya, Masih tidak percaya ia nya sih. Meminta keyakinan lebih dalam lagi.
" Kalau kurang yakin, ayo masuk !"
Yuga yang mengajak, Tapi Naqia yang lebih duluan berjalan di mana kantor dan pabrik terpisah tidak jauh di hadapan nya.
Selamat siang pak ! Selamat siang Bu !
Sapaan demi sapaan menyambut Yuga dan Naqia yang sudah masuk ke kantor di mana para divisi sibuk bekerja. Naqia lah yang menjawab ramah, Yuga tetap datar.
" Boleh ?"
" Tentu !"
Naqia segera mendorong pintu yang terbuat dari kaca berwarna hitam setelah meminta ijin Yuga, ruangan ini adalah ruangan kerja Papa nya. Interior ruangan masih lah sama, di mana Papa nya dulu sering mengajak nya kemari.
" Tapi kenapa dulu usaha Papa di nyatakan bangkrut ?" Naqia mendekap erat foto keluarga nya yang di ambil nya di atas meja. ia ingin menangis tapi ia sudah berjanji dalam hatinya tidak mau cengeng lagi.
" Aku juga kurang paham, beliau hanya mentitah seperti itu tanpa memberi tahukan alasannya, tapi menurut ku sih....ada sangkut pautnya dengan suami mu."
" Jangan sebut dia suami ku !" Hati Naqia berubah badmood bila di ingat kan nama Zaki.
Yuga tersenyum tipis melihat amarah di mata Naqia.
" Nanti suatu saat kamu yang akan memimpin !"
" Yeakh jangan, Pak baik hati kan tahu....Aku baru pintar berhitung." Naqia menggeleng lucu, menertawakan nasib nya yang telat ini.
" Naq__"
" Nanti ada saat nya, Aku sendiri yang akan meminta nya di anda pak." Senyum perih Naqia tersirat, ia sebenarnya tidak suka akan nama nya dendam ke orang, tapi Zaki sudah mengubah pribadi tulus nya menjadi pribadi dendam. Naqia mengepal kan tangan nya, ia sudah punya modal materi ruah untuk membuat suami nya itu menyesali perbuatannya.
Tunggu saja Mas Zaki ! Hari ini kabar baik ku, besok kabar buruk untuk mu !