
Naqia meminta Yugi untuk mengantarnya ke kantor, di mana Yuga sedang bekerja.
Mobil itu sudah berhenti di hadapan pabrik Nugraha yang masih di pimpin oleh Yuga karena Naqia sang pemilik perusahaan tidak mau turun tangan dengan alasan takut pabrik itu merosot.
"Kak, luka tangannya di obati dulu." Yugi menahan lengan Naqia yang tidak sabar untuk turun dari mobil, Sedari tadi kakak iparnya itu mengabaikan luka beling itu.
"Tidak usah, darahnya sudah berhenti, sudah kering juga, kamu pulang duluan aja, kakak akan pulang naik taksi nanti."
Lekas, Naqia pun turun, mulutnya itu sudah gatal ingin meminta penjelasan Yuga tentang pengakuan besar Naima, hatinya sakit lho.. sumpah kagak pakai bohong, rasanya ituuuuu....macam di sikat sikat pakai sikat baju, terus di remasss-remasss kayak baju basah yang di buang airnya, sakit tak berdarah pokoknya.
Brakkk...
" Arin! Apa kamu sudah bosan kerja?" Yuga salah sangka, ia pikir staffnya lah yang masuk keruangan kerjanya tanpa keformalan, mata itu hanya sibuk menatap work-nya. padahal Naqia lah yang membuka pintu itu secara kasar juga tanpa ketuk pintu.
Dada Naqia sudah berombak ingin mengeluarkan uneg-unegnya
"Apakah Abang juga sudah bosan dengan wanita bodoh ini?" Tandas Naqia, lantas Yuga mendongak mendengar suara istimewa itu, dahinya mengkerut bingung dengan kalimat tidak enak di dengar itu.
"Naqia! Maaf, Aku pikir staff ku! dan apa maksud pertanyaan mu?"
Yuga beranjak dari kursi kebesarannya, mengikis jarak, di mana Naqia masih berdiri di depan pintu yang masih terbuka lebar.
"Duduk sini!" Setelah menutup pintu, Yuga menarik tangan Naqia ke kursi.
Terkesiap, Yuga mendapati tangannya sedikit basah.
"Darah?" Yuga menatap tangannya, sejurus menatap tangan Naqia yang kembali berdarah karena tekanan tarikan Yuga, anehnya... Naqia hanya datar tanpa meringis sedikit pun.
"Jangan hiraukan luka kecil ini! coba ceritakan padaku, hubungan pak Yuga sama Naima sudah sampai di mana?"
Wajah Naqia betul betul tidak bersahabat, bokong ia hempaskan secara kasar ke sofa itu.
Panggilan Abang pun kini berganti lagi menjadi pak. Dingin sekali.
Yuga belum paham permasalahannya apa hingga Naqia terlihat kacau nan marah seperti itu.
"Kamu tahu sendiri, tidak usah di tanya." Malas Yuga mendengar nama Naima, ia menarik lembut tangan itu untuk di obati, bahkan Yuga sudah menekuk lututnya di hadapan duduk Naqia.
Naqia, dalam hati nya berharap suami nya tidak lah sebajingan itu.
"Apa yang sebenarnya terjadi, aku tidak suka melihat mu terluka, ceritakan semuanya." lembut Yuga bertanya dengan tangannya membersikan luka Naqia pakai alkohol medis supaya bebas dari bakteri jahat.
Naqia pun menceritakan semua pengakuan Naima.
Shiiiit....sialan! Yuga mengumpat dalam hati, Naima sudah kelewat batas, minta di kasus apa.
"Itu tidak benar, sumpah demi apapun, kamu harus percaya kepada ku! aku dan Naima sama sekali tidak pernah berbuat apa-apa, kontak fisik secara umum pun aku tidak pernah, please Naqia, kamu tidak boleh termakan oleh gosip apa pun." Pintanya dengan suara nan wajah memohon, tangan yang sudah ia obati, kini di taruh tepat di dadanya, berharap Naqia merasakan degup jantungnya, hanya istrinya itu yang mampu membuat jantungnya berdebar-debar, Bukan Naima ataupun wanita lain di luar sana.
Awas saja sampai hubungan ku renggang bersama Naqia, aku tidak akan memberi mu ampun Naima.
Emosi Yuga tertahan dalam hati, ingin rasanya saat ini ia menghampiri Naima dan memberinya pelajaran.
"Kamu tidak bohong kan?" suara Naqia merendah, hatinya terasa ada kelegaan.
"Tentu saja, aku hanya mencintai mu!" Yuga mengelus pipi Naqia, dan di tepis tolak oleh Naqia.
"Anggap saja aku percaya, tapi ini sudah melewati batas!"
"Ini urusan ku, Naima akan aku urus secepatnya, bila mana masih nekat, aku tidak akan memberinya ampun." Yuga duduk di sisi Naqia, tadinya melengos tidak mau menatap matanya.
"Tapi Naqia, kenapa kamu sangat marah,eum? Apakah kamu cemburu?" Yuga menggoda, dagu Naqia ia toel, senyum gelinya terlihat.
"Apa sih, ah!" Rajuknya tidak mau di goda saat ini. Naqia memanyunkan bibirnya.
"Wajah mu jelek tahu nggak kalau lagi cemberut!" Cup..Yuga jadi gemas melihat bibir itu yang seperti memanggil untuk di kecup.
"iih, Bang! Nanti ada yang melihat bagaimana?" Naqia memukul kecil pundak Yuga.
"Biarin." Cuek Yuga, "Ngaku nggak kalau kamu cemburu?"
"Tidak ada!" Elak Naqia, " Aku hanya tidak suka ada wanita yang mau merebut mu dari ku." jujurnya tidak mau menyembunyikan apapun.
Itu cemburu miminnnn....Yuga komat kamit, ia Yakin kalau Naqia sebenarnya, punya rasa terhadapnya cuma tidak bisa saja membedakan rasa cinta itu seperti apa, Istri nya memang masih payah dalam hal kepekaan.
"Oh ya, kalau begitu katakan dong begini.... Abang, aku mencintaimu!" Konyol Yuga, Naqia ia sebut Abang dengan bibir di manyunkan, menggoda, agar Naqia Kemabli tersenyum, pengin nya.
Naqia ikut tersenyum, menepis wajah Yuga yang sengaja bermimik jelek sebagai hiburan untuk nya.
"Nah gitu dong, senyum. Bagaimana kalau kita makan di luar sekalian mengurus masalah ini ke Naima." Ajak Yuga, ia masih menunggu pernyataan hati Naqia.
Naqia mengangguk, "Lebih cepat lebih baik, aku ingin hidup damai" Naqia bangkit dari duduknya, namun kembali terduduk, bukan di kursi melainkan di atas pangkuan Yuga akan ulah Yuga sendiri.
"kenapa harus buru-buru, mungkin dapat vitamin saat ini lebih seru!"
Cup... Di atas sofa itu, Yuga bermain lembut di bibir Naqia. Mereka memadu kasih kembali, biar cepat jadi kecebongnya, itu yang di katakan Yuga, mensugesti Naqia agar mau di ajak Nganuhh.
Lagian siapa suruh datang kekantor, ya.... di hajar deh.